NovelToon NovelToon
Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Romansa
Popularitas:61.2k
Nilai: 5
Nama Author: megatron

Mengapa harus Likta yang mengandung calon penerus keluarganya?

Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah terlena oleh sentuhan wanita. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama dengan Likta, benteng pertahanannya goyah. Hancur lebur oleh tutur laku wanita yang menyebabkan adik perempuan Tiarnan mengakhiri nyawa. Alih-alih membalaskan dendam, Tiarnan dan Likta malah tidur seranjang.


Akankah rumah tangga Tiarnan dan Likta bahagia setelah buah hatinya lahir ke dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 006: Ssttt

Ponsel Likta berdering beberapa kali, Tiarnan hanya melihat sebentar karena saat ini wanita itu sedang ke toilet.

“Sorry, Sorry, aku terlalu lama, tadi mampir beli minum,” kata Likta seraya menyerahkan kopi dalam kemasan botol. Kemudian, mendengar ponsel yang sedang di isi daya berdering. “Brielle? Ya, hallo Bri ... iya lusa aku masuk kerja ... jangan, aku masih dalam perjalanan dari Malang ke Jakarta ...” Dia berusaha membuka pintu, lalu keluar dari mobil, takut mengganggu Tiarnan.

Di dalam mobil Tiarnan tidak bisa mencuri dengar, dia penasaran Brielle ini pria atau wanita. Mengapa bukan Arfid yang menelepon, kalau memang mereka punya hubungan serius. Ini sulit dicerna, dia pun mengeluarkan ponsel dari saku celana. Hendak menghubungi salah satu orang kepercayaannya. Supaya mencari tahu lebih detail siapa saja orang terdekat Likta.

Niat gagal, Likta sudah kembali ke mobil. “Pacarmu, ya?” tanya Tiarnan.

Likta sedikit mengerucutkan bibir sembari menggeleng geli. “Aku masih normal, Brielle juga.”

Tiarnan makin bingung dengan jawaban nyeleneh Likta, tetapi berhasil menguasai mimik wajahnya tak terbaca. “Oh, kamu mau aku antar pulang atau gimana setelah sampai nanti?”

“Sayang sekali sudah terlewat,” ucap Likta, beraksen masygul.

Tiarnan pura-pura tidak tahu maksud ucapan Likta dan bertanya, “Terlewat gimana?”

“Asalku Surabaya, ke Jakarta cuma main-main aja, silahturahmi ke rumah—” Likta menggigit ujung bibir bawah sebelum melanjutkan kalimatnya. Sinar matanya menyorotkan kerapuhan yang amat kentara. “Saudara.”

“Kenapa tidak bila dari tadi, tau gitu aku bisa sekalian antar kamu pulang.” Tiarnan masih mempertahankan sikap pura-pura tak mengetahui identitas lengkap Likta, sehingga bertanya, “Sekarang gimana?”

“Kembali ke awal, dari sana aku bisa balik pakai kereta,” kata Likta, lalu memasang sabuk pengaman. “Nanti mampir ke rumah makan, ya.”

“Oke,” sahut Tiarnan, tetapi ketika mengoperasikan kemudi rasa pening di kepala yang sedari Malang di tahan makin menjadi-jadi dan tanpa sadar kaki menginjak rem.

“Astaga,” seru Likta. “Ada apa?”

“Sepertinya aku—” Tiarnan menunduk sebentar lantas menyentuh kening sambil menyandarkan punggung. Mata terasa panas sekaligus berair.

“Panas sekali,” ucap Likta penuh simpati usai menyentuh bawah telinga Tiarnan dengan punggung tangan. “Harusnya ada klinik yang bukan jam segini, pindah sini, biar aku yang mengemudi.”

“Tidak, mungkin sebentar lagi pusingnya hilang. Kita istirahat lima menit lagi,” ucap Tiarnan lemah.

“Kamu kecapaian, butuh istirahat lebih dari lima menit. Ayolah, ini bukan saat yang tepat untuk berdebat apalagi membantah.” Likta bergegas keluar dari mobil, berjalan ke sisi tempat duduk Tiarnan, membuka pintu setelahnya memapah tubuh jangkung pria itu.

Kesadaran Tiarnan hampir menipis, tidak sadar dirinya mulai menggigil. “Yakin bisa?”

“He'eh, aku akan kemudikan pelan-pelan, jangan khawatir.” Likta mendudukkan Tiarnan, lalu berjalan memutar ke sisi kemudi. Menghidupkan mesin, melaju lambat kala melintasi jalan raya.

Badan Tiarnan serasa remuk redam, suhu di dalam mobil sepuluh kali lipat lebih dingin. Dia menggigil, bergumam lirih, seperti merintih. Aroma manis nan segar menyusup ketika menarik napas, jaket Likta menyelubunginya saat ini.

Samar-samar terdengar suara menguatkan. “Kamu harus benar-benar istirahat, jangan paksakan diri tetap terjaga.” Mata Tiarnan mulai berat, tetapi masih bisa mendengar gerutu bernada halus. “Klinik oh klinik, kenapa enggak ada yang buka, sih.”

“Aku butuh tempat istirahat yang nyaman itu saja,” gumam Tiarnan seraya membetulkan posisi duduknya.

“Oke, setelah kita beli obat di apotek,” tutur Likta.

Tiarnan dapat merasakan mobil berbelok, mesin dimatikan dan pintu mobil terbuka-menutup pelan. Tidak sampai lima menit terjadi pergerakan serupa, Likta telah duduk di posisi semula. Menyempatkan diri memeriksa suhu tubuhnya.

“Kita cari rumah makan dulu, ya?” Likta meminta persetujuan.

“Iya, tapi dibungkus aja.”

Mobil kembali melaju, tidak lama berhenti lagi, Tiarnan memaksa mata supaya terbuka. Likta sedang berjalan memutari kap depan, berhenti tepat di sisinya.

Likta berujar, “Menginap semalam di tempat ini enggak apa-apa, kan. Semoga ada layanan kamar, buang waktu kalau mampir-mampir beli makan.”

“Tidak masalah.” Tiarnan turun dari mobil perlahan, mencoba menyesuaikan keseimbangan.

Sepertinya Likta sudah melakukan reservasi, sehingga mereka bisa langsung masuk ke salah satu kamar yang ada di sana.

“Maaf, hanya ada satu kamar tersisa,” sesal Likta saat membantu Tiarnan berbaring ke tempat tidur. Tidak lama terdengar pintu diketuk. “Sepertinya pesanan kita sudah datang, bentar, ya.”

Menit berikutnya, Likta meletakkan nampan di atas nakas dan menarik kursi di samping tempat tidur, menyuapi Tiarnan secara berkala lalu meminumkan obat juga. “Bagus, sekarang kamu bisa tidur lagi.”

Mata Tiarnan separuh menutup, merasakan sentuhan lembut jari-jari Likta yang sedang mengompres keningnya dengan handuk kecil.

Sementara itu, peningkatan iritabilitas pada sel-sel otak saat demam membuat Tiarnan berhalusinasi. Kecepatan proses metabolisme membuat tubuhnya lebih aktif dan sel-sel otak menjadi lebih peka terhadap rangsangan.

Lampu ruangan begitu redup dan sunyi, Tiarnan bisa mendengar napas berat dan teratur. Dia ingat saat ini sedang bersama Likta, percikan-percikan ketertarikan menjalari hatinya. Bara hasrat pun meretih. Khayalan sensual cukup menggiurkan, tetapi kondisi tubuh tidak memungkinkan.

"Emmm, kamu sudah bangun?” Karena berbarengan dengan menguap suara Likta terdengar parau. Dia melihat jam di pergelangan tangan, memastikan jeda yang diperbolehkan setelah mengonsumsi obat sebelumnya. “Panasmu belum turun, sebentar kuambilkan—”

“Aku membutuhkan mu, bukan obat atau apa pun,” ungkap Tiarnan serak. Menahan gejolak yang sengaja ditekankan kala bersentuhan dengan Likta.

“Kamu ngelindur, ya,” ucap Likta disertai senyum simpul sambil lalu, gerak cepat jemari Tiarnan menarik pergelangan tangan hingga menipa tubuh panasnya. “Ini enggak lucu, ja—”

Bibir keras Tiarnan memotong ucapan Likta, menyapu dan menggoda dengan indra perasa yang belum begitu mahir. Terus mengecap sampai kedua telapak tangan ramping terasa mencengkeram kuat kedua bahunya. Tubuh kecil di atasannya yang semula tegang mulai rileks.

Perlahan, Tiarnan mengubah posisi, tanpa memutus tautan bibir dia meraba, jarinya mencari-cari ujung baju Likta. Detik kemudian, merasa senang karena tangannya bersentuhan dengan kulit selembut satin.

Kini, nurani Tiarnan terombang-ambing di antara dua keinginan—menghentikan kegilaan penuh damba ini atau berhenti teratur dengan rasa ngilu pada titik inti tubuh.

Namun, dorong ingin segera merasakan kehangatan berada di dalam tubuh Likta membutakan pikiran. Menit berikutnya sudah tidak ada lagi penghalang di sekitar dua pasang kaki yang saling berdekatan.

Dan, telah tiba di atas puncak yang manis dan memabukkan. Hingga tanpa sadar mendesak Likta dalam hubungan yang seharusnya dilakukan setelah menikah. Tiarnan merasa kedinginan, padahal tubuhnya begitu panas saat disentuh. Dia samar mendengar bibirnya berkata, “Maaf, tolong maafkan aku.”

“Ssttt.” Dengan lembut Likta menyentuhkan telunjuk ke bibir Tiarnan.

Secara istingtif kedua lengan Tiarnan merengkuh tubuh Likta, membelainya lembut, memainkan rambut wanita itu begitu mesrah. Dia pun merasakan ujung jari Likta membentuk pola di dadanya.

Sambil saling menikmati sentuh manis, Tiarnan tersenyum. Matanya kembali terasa berat, tenggelam dalam buaian kantuk. Kalau terasa senikmat ini, mengapa bertahun-tahun dia menutup diri dari sentuhan wanita.

1
Iza
/Facepalm/
Miu.Nuha
waahh.. perkembangan ceritanya sampe dari tahun ke tahun,, pasti hebat banget perjuangannya 🤗🤗 ,, semangat authorr...

ramainya moga nular juga di karya aku. bantu dukung ya di 'aku akan mencintaimu suamiku'
Mega: untuk mengumpulkan kata perkatanya lumayan sulit, Kak.
total 1 replies
Lia Mulyanti
kapan up date Author? ceritanya bagus ini...
Mega: Terima kasih sudah support tulisan recehku, Kak.
total 1 replies
Leonora
🐱
Leonora
menguras emosi
Leonora
amit-amit jngn smpe
Leonora
seddiiiihhh
Leonora
kecewa sedih
Leonora
setuju bri
Leonora
Nah lo
Leonora
Nah bnerkan
Leonora
Lucky adik Tiarnan?
Leonora
Fixs Seysan bukan suruhan Viola
Leonora
Tiarnan gak jelas gitu gak usah dipertahankan
Leonora
Diihhh
Leonora
Gk hbs fkri sama bapaknya
Mega
😁
litaacchikocchi
Komen judul: tpi ini novel /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
Mega: Yah begitulah, Terima kasih sudah mampir
total 1 replies
Leonora
wajib baca wajib baca
Lia Mulyanti
kapan up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!