Arjuna atau yang biasa dipanggil Juna karena kegemarannya bermain dan mendaki gunung membuat ARJ Adventure.
Juna tidak mau bekerja di Dewa Corp Company atau DCC perusahaan milik sang kakek. Dia lebih suka menekuni hobinya, karena hal itu dia dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Namun berbeda dengan sang ayah, Dharma membebaskan apa saja yang akan Juna lakukan selama itu positif. Mendapat dukungan ayah dan ibunya membuat Juna bersemangat walau selalu diremehkan oleh sepupunya Dante Dewantara yang begitu obesi menjadi pemilik DCC.
Gendis seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di negeri ini DIS Dewantara International School yang mempunyai cita cita keliling Indonesia selalu mendapat perlakuan buruk dari Maylin, teman SMA nya yang sekarang menjadi kepala HRD di DIS.
Bagaimana Juna dan Gendis menghadapi masalah mereka, dan bagaimana mereka saling berhubungan?
Ikutin terus kisah Juna dan Gendis ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTMGT 06
Hai readers, sebelum lanjut kisah Juna dan Gendis otor mau mengingatkan jangan lupa like dan komentar nya ya.
Kalau mau ngasih bunga atau kopi juga sangat boleh sekali.
Terimakasih.
Matursuwun.
*
*
*
Hari berganti, weekend menjadi hari favorit bagi para pekerja tak terkecuali Dharma. Pria paruh baya yang usianya sudah kepala lima itu nampak duduk-duduk di halaman samping sembari menikmati kopi dengan sepiring pisang goreng buatan istri tercinta. Walaupun Dharma merupakan pemimpin kerajaan bisnis Dewantara namun ia memilih gaya hidup sederhana. Rumah yang ia bangun pun terbilang tidak besar, namun terasa nyaman. Selain security yang berjumlah 2 orang ada tukang kebun 2 orang, dan art sekitar 4 orang, mereka semua tinggal di rumah tersebut.
Dharma menanam banyak pepohonan di sana atas permintaan Anjeli. Seperti di halaman samping rumah, ia membuat sebuah kebun yang ditanami beberapa sayuran, semua ini ditujukan untuk sang istri, karena memang Anjeli suka berkebun. Di halaman depan ia membuat sebuah taman bunga lengkap dengan kolam ikan hias, selain bisa menikmati hamparan sayur, ia dan sang istri juga senang mengamati bunga yang warna-warni .
"Hah...." Dharma membuang nafasnya kasar. Suryo yang duduk di samping sang tuan pun paham betul apa yang tengah tuannya pikirkan.
"Maaf tuan, bukannya saya lancang. Menurut saya perkataan tuan Dorman tempo hari di ruang rapat mengenai tuan muda jangan terlalu di pikirkan. Saya punya keyakinan bahwa tuan Juna akan berhasil suatu hari ini." Ucap Suryo.
"Aku pun merasa seperti itu Sur, tapi yang aku pikirkan sebenarnya bukan perkataan Dorman melainkan sikap papa nanti. Papa sangat berharap cucu pertamanya itu mewarisi Dewantara Corp." Ucap Dharma sambil tersenyum karena sang istri yang tengah berkebun melambaikan tangan ke arahnya. Ia tak mau istrinya itu tau tentang kegundahannya. Bagaimanapun Juna adalah anak satu-satunya. Bukan karena mereka tidak mau menambah anak namun Anjeli tidak bisa mempunyai anak lagi.
Dharma pun bangkit dari kursinya, ia menghampiri istrinya yang tengah membersihkan rumput-rumput pengganggu dibantu 2 tukang kebunnya yakni Parjo dan Yanto.
"Perlu bantuanku sayang?" Tanya Dharma kepada sang istri.
Anjeli hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Parjo dan Yanto yang melihat Tuan besarnya datang pun segera undur diri. Mereka tidak mau mengganggu tuan dan nyonya nya itu. Walaupun usian mereka sudah tidak muda, namun keromantisan keduanya tidak pernah surut. Buktinya saat ini, Dharma dengan lembut merapikan rambut Anjeli yang berantakan, menggulungnya dan membuat cepol. Anjeli melanjutkan kegiatannya ditemani sang suami, mereka bercengkerama sambil sesekali tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, hanya mereka berdua yang tau.
Di pintu depan Juna yang sudah 3 hari tidak pulang tiba-tiba muncul dengan mengendap-endap.
"Ba.......!" Teriak Juna sambil memegang pinggang Suryo. Suryo yang memang tidak menyadari kedatangan Juna pun terlonjak kaget.
"Ya Tuhan tuan muda, saya kaget. Hampir saja jantung saya copot." Ucap Suryo sambil mengelus dadanya.
"Hihihi, kalau jantung paman copot tinggal dipasang lagi. Maaf ya paman. Ayah mana. Kok paman ngopi sendiri di sini."
Suryo tidak pernah bis amarah dengan tuan mudanya itu, dia sangat mengenal Juna. Sebenarnya juna adalah anak yang baik dan sangat menyayangi keluarganya hanya saja memang dia sedikit usil.
"Tuan besar ada di halaman samping. Tadi paman juga di sana. Tapi paman pindah." Jawaban suryo membuat Juna mengerutkan dahinya. Ia pun melenggang meninggalkan Suryo menuju halaman samping.
Pantas saja paman pindah ke depan, di sini paman jadi obat nyamuk, gumam Juna sambil berjalan mendekati ayah dan bundanya.
"Oh no, tidaaak. Mata suciku ternoda." Teriak Juna sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangan saat melihat sang ayah tengah merangkul mesra pinggang bundanya dan mencium pipinya, padahal dia tadi sudah melihat dari kejauhan. Namun jiwanya berontak jika tidak melakukan keisengan.
Dharma yang gemas dengan tingkah iseng putranya menghampiri dan langsung menjewer telinga Juna.
"Ihhh... Sakit yah." Ucap Juna meringis mengusap telinganya. Ia pun menyalami ayahnya dan memeluk bundanya serta mencium bundanya.
"Sudah jangan lama-lama. Dia istriku." Ucap Dharma.
"Huh... Dasar posesif." Gumam Dharma.
"Sudah-sudah kalian itu selalu begitu kalau bertemu. Sudah yuk, makan siang pasti sudah siap. Yah ajak Suryo sekalian."
Anjeli memberi instruksi dan mereka semua menuju ruang makan.
Makan siang kali ini sangat hikmad. Jarang sekali bisa berkumpul seperti ini. Dharma yang begitu sibuk di kantor dan Juna yang jarang pulang karena lebih suka tidur di ruko membuat Anjeli merasa kesepian. Ah andaikan aku bisa punya anak lagi, batin Anjeli sendu.
Dharma yang menyadari perubahan raut muka istrinya pun bertanya kepada istrinya tentang apa yang menjadi beban pikirannya. Anjeli hanya menggeleng dan tersenyum lalu mengatakan tidak memikirkan apa-apa. Namun pandangannya beralih ke Juna dan tiba-tiba menanyakan sesuatu yang membuat Juna tersedak saat tengah minum.
"Juna kapan kamu mau membawa menantu bunda pulang."
"Uhuk... Uhuk...uhuk..." Juna tersedak.
Semua yang ada di meja makan itu melihat ke arah Anjeli. Dharma pun heran kenapa tiba-tiba sang istri tiba-tiba membahas menantu. Namun Dharma tidak mau ikut campur dengan apa yang hendak jadi rencana sang istri.
"Bu-bunda sedang sadar kan. Tidak sakit kan. Kenapa tiba-tiba bunda ngomongin menantu.Juna saja belum menikah bagaimana bisa bawa menantu untuk Bunda." Ucap Juna kebingungan dengan permintaan bundanya. Ia pun melihat sang ayah meminta bantuan.
"Benar kata Juna bund, kan juna belum menikah. Bagaimana bisa membawa pulang menantu." Ucap sang ayah membantu Juna.
"Ya sudah kamu menikah saja." Ucap Anjeli singkat.
Ha.... Semua orang melongo mendengar ucapan Anjeli. Bahkan Suryo pun kebingungan melihat tingkah nyonya nya itu.
"Hah... Bunda tuh kesepian di rumah ini. Kalau bunda punya menantu pasti rumah ini akan lebih ramai. " Jelas Anjeli sambil memperlihatkan mimik sedih.
Juna yang mendengar penjelasan sang bundapun menjadi salah tingkah. Juna sangat tau bundanya itu tidak sepenuhnya sedih, alias setengahnyaa berekting. Juna kembali melihat sang ayah, namun kali ini ayahnya diam saja. Ayahnya malah nampak terlihat santai, rasakan itu bocah tengil. Jika sudah seperti itu aku tak bisa lagi membantumu, dari pada nanti malam aku harus tidur diluar. Sebaiknya kau pikirkan saja sendiri jalan keluarnya, batin Dharma.
*
*
*
Situasi yang kekeluargaan di kediaman Dharma berbanding terbalik dengan yang terjadi di kedimaan Dorman, adik Dharma.
Pertengkaran antara Dorman dan istrinya menjadi hal yang biasa terjadi.
Prang... Prang.... Suara pecahan piring dan gelas mewarnai pertengkaran mereka. Para pelayan menyingkir dan bersembunyi. Mereka tidak mau terkena imbas dari pertengkaran tuan dan nyonya nya itu.
Dante yang baru saja sampai rumah cuma bisa menatap acuh. Seandainya bukan karena Alina sang adik, ia pun malas menginjakkan kaki nya di rumah itu.
"Bagus, kau akhirnya ingat pulang. Dasar anak tak tau diri." Ucap Doran ditengah pertengkarannya dengan sang istri.
"Cih, jika bukan karena Alina aku juga tidak sudi pulang." Ya tadi sang adik menelpon ketakutan mendengar mom and dady nya bertengkar, sehingga ia menelpon Dante untuk pulang. Alina yang saat ini ketakutan berada di kamarnya bersama seorang pelayan.
"Dante jangan bicara begitu nak, ini rumah mu juga. Mommy juga rindu padamu." Ucap mommy nya menaruh kembali vas bunga yang tadinya ingin dilemparkan ke arah Dorman.
"Cih, jangan berlagak manis. Kelakuan mommy tidak lebih baik dari dady. Kalian berdua sama saja sama-sama memuakkan."
Bukannya tersentuh Dante malah merasa jengah dengan apa yang di ucapkan mommy nya.
Ia pun bergegas menuju ke kamar Alina. Saat akan membuka kamar Alina, pelayan lebih dulu membuka pintu. Pelayan tersebut nampak panik, Dante yang sangat khawatir dengan adiknya berlari masuk.
"Alina.....!!!"
TBC.
Kenapa ya dengan Alina? Apa yang akan Juna lakukan terhadap permintaan bundanya?
Terus ikuti kisah Juna dan Gendis ya..