⚠️Novel ini hanya karya fiksi semata ⚠️
Kesuciannya direnggut secara paksa oleh pria tak di kenal dalam semak-semak sepulang sekolah.
Dirinya yang ketahuan berbadan dua tak di terima dalam lapisan masyarakat, hingga ia berhenti sekolah dan di usir dari kampung halamannya.
Kedua orang tuanya yang hanya buruh lepas pemetik teh, terpaksa menikahkannya dengan sang tuan tanah yang telah memiliki istri namun tak punya keturunan.
“Aku hanya mau anak mu, setelah kau melahirkan kau akan ku ceraikan.” ucap Arash sang tuan tanah pengendali masyarakat setempat.
Bagaimana kisah hidup Ruby Maryam selanjutnya?
Akankah ia bahagia? Atau justru menderita?
Instagram : @saya_muchu
Ikuti terus alur novel Pelakor Tak Berdosa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
“Tidur itu di rumah, bukan di sekolah Ruby!!” saat Sulton ingin mengelus rambut Ruby. Ruby pun menepis tangan teman lelakinya itu.
“Perhatikan tangan mu.” Ruby yang kini benci melihat kaum Adam, tak ingin Sulton dekat-dekat dengannya.
“Maaf, aku hanya bercanda.” Sulton pun menjauh dari Ruby karena merasa canggung.
Kemudian Ruby meletakkan kembali kepalanya ke meja. Karena ia masih punya banyak waktu untuk tidur.
Sulton yang kini duduk di bangkunya, menatap Ruby dengan penuh makna.
Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba dia jadi galak? batin Sulton.
Ruby yang terlelap tiba-tiba bangun. Karena wajah si pria terlintas di kepalanya
“Hiks...” ia pun kembali menangis, meski ia ingin melupakan, namun pria jahat itu telah meninggalkan bekas di dirinya.
Sulton yang melihat Ruby terisak pun mendekat karena khawatir.
“Kau kenapa?” tanya Sulton dengan rasa penasaran.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” ucap Ruby seraya mengangkat tangannya.
“Kalau baik kau tak mungkin beginikan Ruby!” suara Ayu membuat Ruby menyeka air matanya.
“Ayu? Kau sudah datang?!” mata Ruby yang memerah tak dapat ia sembunyikan.
“Ada apa? Apa pada ku juga kau akan diam?” pertanyaan dari Ayu membuat Ruby menundukkan kepalanya.
“Aku hanya sakit perut, karena belum makan.” lagi-lagi, Ruby berbohong demi menutup aib.
Ia takkan pernah menceritakan pada siapapun tentang kondisinya saat ini.
“Apa kau yakin?” tanya Ayu penuh selidik.
“Tentu saja.” sahut Ruby dengan menampilkan senyum di bibirnya.
“Baiklah, kalau ada apa-apa, kau wajib cerita!”
“Tentu saja.” jawab Ruby dengan perasaan ragu.
Sejak saat itu, Ruby yang biasa ceria meski mendapat derita di rumah, menjadi pendiam dan tak mau bergaul.
Dirinya juga memilih menyendiri, dan menghindari teman-temannya. Tentunya ia melakukan itu bukan tanpa alasan.
Semua karena keresahan yang bersarang dalam batinnya. Ia menjadi tak percaya diri bersama siapapun.
3 bulan kemudian, saat upacara bendera berlangsung, Ruby yang berdiri di barisan tengah merasa pusing luar biasa.
Panas dari sinar matahari membuat pandangannya berkunang-kunang
Ia yang sudah tak mampu berdiri akhirnya tumbang.
Beruntung orang yang ada di belakangnya menangkap tubuhnya.
Ruby yang ternyata pingsan di bawa ke ruang UKS oleh Sulton dan juga Ida.
Sesampainya di ruang UKS Ruby di bandingkan di atas ranjang.
“Tolong periksa Ruby bu, dia tak sadarkan diri.” pinta Sulton yang menaruh hati pada Ruby.
Ida yang menyukai Sulton merasa sedikit cemburu, sebab perasaan Sulton terlihat sangat jelas saat mengkhawatirkan Ruby.
“Iya Sulton, ibu periksa.” ucap Dia, dokter yang bertugas di sekolah itu.
Kemudian Dia, memeriksa dada dan perut dan Ruby dengan stetoskop.
Dia sang dokter umum mengernyitkan dahinya, saat memeriksa denyut nadi Ruby.
“Ehm, Ruby baik-baik saja, dia hanya kelelahan, kalian tak perlu khawatir, dia akan istirahat disini, dan kalian bisa lanjutnya belajar di kelas, nanti kalau Ruby sudah pulih, dia akan menyusul.” terang dokter Dia.
“Baik bu,” sahut Sulton dan Ida.
Setelah itu mereka pun kembali ke kelas mereka.
Dia pun menyelimuti Ruby, kemudian ia menelpon ibu kepala sekolah.
Halo bu, maaf menggangu, apa bisa datang ke UKS? 📲 Dia
Halo, iya bu Dia, saya akan segera kesana. 📲 Sarah.
Setelah sambungan telepon terputus, Dia menatap lekat wajah Ruby yang belum sadarkan diri.
5 menit kemudian, Sarah sang kepala sekolah masuk ke ruang UKS.
“Ada apa bu Dia, kenapa tiba-tiba memanggil saya kemari?” Sarah sangat penasaran, sebab sang dokter tak pernah seperti itu sebelumnya.
“Ayo, kita duduk dulu bu.” Dia mengajak Sarah untuk duduk di meja kerjanya.
Setelah keduanya dalam posisi nyaman, Sarah pun kembali bertanya.
“Ada apa sih bu?”
“Ruby hamil bu.” Dia mengatakan kondisi Ruby yang sedang berbadan dua.
“Ruby?” Sarah melihat ke arah Ruby yang terbaring di ranjang.
“Ibu yakin?” tanya Sarah memastikan.
“Iya bu, denyut nadinya 80-90 itu jauh lebih cepat dari orang normal, dan *********** terlihat bengkak dan ujungnya sangat hitam, untuk memastikan, kita tespek saja bu,” ujar Dia.
“Ya sudah, kalau menurut ibu begitu, kita tunggu Ruby sadar dulu.” Sarah merasa kecewa dalam hatinya, apabila siswa teladan seperti Ruby benar-benar hamil.
1 jam kemudian, Ruby yang telah pulih membuka matanya.
“Dimana aku?” gumamnya.
Saat ia menoleh ke sebelah kanannya, ia pun melihat, Dia dan Sarah sedang mengobrol.
Dia yang kebetulan menoleh ke arah Ruby pun melihat, kalau Ruby telah sadarkan diri.
“Dia sudah bangun bu,” ujar Dia.
“Ayo kesana!” ujar Sarah.
Setelah itu keduanya pun beranjak ke ranjang Ruby dengan membawa teh manis hangat.
“Minum dulu nak.” Sarah pun membantu Ruby duduk, kemudian Dia memberi Ruby teh manis hangat yang ada di tangannya.
Gluk gluk!
Ruby yang haus meminum teh yang di berikan Dia sampai ludes.
“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Dia seraya mengambil gelas yang ada di tangan Ruby.
“Sudah bu.” sahut Ruby dengan tersenyum tipis.
“Apa kau bisa menampung air seni mu disini?” Dia menunjukkan mangkuk kecil penampung urine pada Ruby.
“Untuk apa bu?” tanya Ruby karena ia tak mengerti apa yang terjadi.
“Ke kamar mandi saja dulu, setelah itu, ibu akan jelaskan semuanya pada mu,” terang Dia.
“Baik bu.” Ruby yang tak tahu tujuan dari sang dokter dan ibu kepala sekolah hanya menurut saja.
Ia pun masuk ke dalam toilet yang ada dalam ruang UKS.
5 menit kemudian, Ruby keluar dengan membawa apa yang di minta Dia
“Ini bu.” Ruby menyerahkan mangkuk berisi air seninya pada Dia.
“Terimakasih banyak, kau masih kuat belajar sampai selesai? Atau kau mau pulang saja ke rumah mu?” tanya Dia.
“Saya sudah lebih baik bu, jadi saya rasa, saya kembali saja ke kelas saja, setelah ibu menjelaskan tujuan air seni itu pada saya,” ungkap Ruby.
“Kalau hasilnya sudah keluar, pasti bu Dia akan memberitahukan pada mu Ruby, sekarang kau boleh keluar, karena kau sudah melewatkan 1 jam mata pelajaran.” Sarah menyuruh Ruby pergi ke kelas, agar mereka lebih leluasa.
“Baik bu. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ruby pun keluar dari ruang UKS dengan hati bertanya-tanya.
“Ada apa ya sebenarnya? Kenapa sikap bu Dia dan bu Sarah jadi aneh?” Ruby menjadi penasaran, karena ia melihat, keduanya menutupi sesuatu darinya.
Sementara di ruang UKS, Dia mulai memasukkan alat tespek yang teruji akurat ke dalam air seni Ruby.
Perlahan garis biru mulai terlihat samar-samar, dan dalam hitungan detik, muncul satu garis biru lagi.
Mengetahui hasilnya positif, Dia dan Sarah melihat satu sama lain.
“Ini gimana bu?” Dia pun meminta pendapat sang kepala sekolah.
“Besok saja kita panggil orang tuanya kemari, kita jelaskan apa adanya,” ucap Sarah.
“Apa Ruby akan di keluarkan bu?” tanya Dia.
“Pasti kau tahu, apa jawabannya.” setelah itu Sarah pun bangkit dari duduknya. “Saya pergi dulu bu Dia.” Sarah pun beranjak menuju kantor guru.
...Bersambung......