Demi membalaskan dendam sahabatnya, Axela rela merubah penampilannya menjadi wanita culun yang sangat jelek. Menggunakan kaca mata tebal dan tompel di pipinya. Rencana yang ia susun berjalan dengan lancar awalnya. Namum, ketika semua hampir berhasil tiba-tiba identitas aslinya ketahuan. Semua orang tahu kalau dia bukan Alsha yang asli. Melainkan Axela.
Apa selanjutnya yang akan dilakukan Axela? Akankah ia berhasil membalaskan sakit hati Alsha terhadap semua orang yang pernah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Tertebak
Axela terdiam sejenak sebelum tertawa geli. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil sesekali membenarkan kaca mata. "Bi, gak lucu ah. Lalu, Bi Ina pikir saya siapa? Hanya saya satu-satunya orang yang tahu kalau Bi Ina pernah mencoba bunuh diri karena diputusin waktu muda dulu," ujar Axela dengan tawa geli.
Kali ini justru Bi Ina yang di buat bungkam. Tadinya ia sudah sangat yakin kalau wanita yang ada di depannya bukanlah sosok yang selama ini ia panggil dengan sebutan Nona Muda. Namun, mendengar ucapan wanita itu membuat Bi Ina menjadi ragu untuk menuduhnya lagi. Pasalnya memang hanya Alsha satu-satunya orang yang mengetahui rahasia tersebut.
"Hayo ... Bi Ina masih berani nuduh aku yang bukan-bukan? Aku ini Alsha."
"Akhir-akhir ini Nona banyak berubah. Jadi saya pikir ...."
"Saya memang ingin berubah, Bi. Saya tidak mau di tindas melulu," ujar Axela cepat.
"Nona, apa yang ingin anda lakukan? Mereka bertiga dan anda sendiri."
"Kita juga bertiga Bi," jawab Axela cepat. "Aku, Bi Ina dan seseorang yang namanya tidak bisa saya ucapkan. Kita akan bersama-sama melawan mereka. Membalas semua perbuatan mereka terhadap kita." Axela memegang tangan Bi Ina. "Aku yakin kita pasti menang."
Bi Ina tersenyum kecil. "Non, saya selalu berdoa agar Nona Alsha menang."
"Terima kasih, Bi," jawab Axela dengan senyuman juga. Ia memandang Bi Ina yang kini mengobati lukanya dengan sepenuh hati. "Beruntungnya aku sempat membaca buku diary Alsha. Jika tidak, aku tidak akan tahu hal-hal kecil seperti ini. Sepertinya memang tidak mudah menyamar. Tadinya aku pikir misi ini adalah misi yang sangat mudah," gumam Axela di dalam hati.
"Lukanya akan segera kering. Sebaiknya sekarang Nona ke kamar dan istirahat. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap Nona ketika mereka pulang nanti."
"Bi Ina jangan khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja." Axela berdiri. "Aku ke kamar dulu ya Bi."
"Ya, Non. Silahkan."
Axela tersenyum sebelum pergi. Bi Ina memandang Axela dengan tatapan tidak terbaca. "Apa ini hanya halusinasiku saja? Aku merasa memang dia bukan Nona Alsha. Namun, bagaimana bisa dia mengetahui rahasia itu? Jelas-jelas aku hanya menceritakannya kepada Nona Alsha. Tetapi, jika memang dia bukan Nona Alsha, lalu sekarang Nona Alsha ada di mana? Aku harus menyelidiki kebenarannya. Aku harus pastikan. Apa benar dia Nona Alsha yang asli atau bukan."
Di depan kamar, Axela berhenti sejenak. Ia mengepal tangannya dengan tatapan tajam. Orang yang sudah membuat luka di tangannya harus ia balas. "Aku akan membuatnya berada di rumah sakit dalam waktu yang lama," gumam Axela di dalam hati.
Ia segera melangkah menuju ke kamar. Namun, masih berada di sebuah lorong yang akan menghubungkan dengan dapur, tiba-tiba seseorang memegang tangan Axela dan menariknya. Awalnya Axela ingin memberontak. Namun, ketika ia melihat Deon yang melakukan semua itu Axela kembali diam.
"Apa yang kau inginkan, Deon? Apa kau belum puas menyakitiku?" lirih Axela dengan nada memelas. Sama persis dengan ucapan dan ekspresi yang selama ini dilakukan Alsha.
Deon diam sejenak sambil memperhatikan wajah Axela dengan saksama. "Alsha. Beberapa Minggu tidak memperhatikan wajahnya dari dekat, kenapa sekarang dia terlihat sangat cantik. Kulitnya semakin bersih dan tatapan matanya sangat indah. Jika seperti ini, aku akan sulit melupakannya," gumam Deon di dalam hati.
Axela menghembuskan tangan Deon yang masih terus saja mencengkramnya dengan kuat. "Sebaiknya anda pergi. Saya tidak mau ada yang salah paham."
"Alsha, tunggu." Deon lagi-lagi menarik tangan Axela dan menahan wanita itu agar tidak pergi. "Kita harus bicara. Tadi aku tidak sempat bicara denganmu."
"Apa yang ingin dibicarakan lagi? Semua sudah jelas. Apa kau ingin aku mengugurkan anak ini?" Axela memegang perutnya.
"Kau benar hamil?"
"Ya."
Deon memejamkan mata sebelum mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berputar seperti orang kebingungan sebelum menatap wajah Axela lagi. "Maafkan aku. Aku akan tanggung jawab."
Axela diam terpaku. Tadinya ia dengar sendiri kalau Deon dan Youra berencana membunuh anak yang ada di dalam kandungan Alsha. Tetapi kini secara jelas Deon mengatakan sebaliknya.
"Aku mencintaimu. Kau pasti tahu. Aku tidak pernah melupakan janji yang sudah pernah aku ucapkan. Tetapi, aku butuh uang. Aku bisa mendapatkan uang dari Youra. Alsha. Apa kau mau bekerja sama denganku?"
Setelah melihat Alsha yang sekarang jauh lebih menarik. Akhirnya Deon lebih memilih Alsha daripada Youra. Dia tidak pernah tahu kalau Alsha yang asli sudah tidak ada di dunia ini.
"Kerja sama?"
"Ya. Kita harus bekerja sama. Jika rencana ini berhasil, kita akan menikah. Agar anak yang ada di dalam perutmu ini memiliki ayah. Bagaimana?" tawar Deon dengan ekspresi wajah tidak bersalah sama sekali. Axela sendiri menjadi bingung. Deon benar-benar tidak ke tebak. Ucapan pria itu tidak ada yang bisa di percaya.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku mau di depan Youra kita memang sudah tidak saling kenal. Aku ingin Youra berpikir kalau kita memang sudah putus."
"Bukankah kita memang sudah putus?" sahut Axela cepat.
"Tidak, Alsha. Aku tidak mau putus." Deon memegang pipi Axela dan mengusapnya dengan lembut. Ingin sekali Axela mematahkan tangan pria itu karena lancang. Namun, ia masih menahan diri. "Kita balikan ya? Aku tahu kalau kau sangat mencintaiku." Deon mengusap lembut bibir Axela sebelum mendekatkan wajahnya hendak mencium wanita itu. Dengan cepat Axela mendorong tubuh Deon.
"Apa yang kau lakukan?"
Deon kaget mendapat penolakan dari Alsha. Namun, pria itu tidak mau gegabah. "Alsha, kau lupa kalau aku pria pertamamu? Aku pria pertama yang sudah memiliki bibirmu. Aku pria pertama yang pernah melihat tubuh polosmu. Bahkan aku juga yang sudah menjadi pria pertama yang menidurimu."
Plaakkkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Deon. Dengan cepat Axela memalingkan wajahnya. "Kau benar-benar pria brengsek! Sekarang pergi dari sini. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, Deon!" usir Axela. Ia sedih. Sangat-sangat sedih bahkan sampai ingin menangis. Ia tidak bisa membayangkan penderitaan yang dirasakan Alsha. Dengan bodohnya ia percaya dengan bujuk rayu pria brengsek seperti Deon. Axela yakin, di detik terakhir hidupnya pasti Alsha merasa penyesalan yang luar biasa karena sudah sempat memberikan segalanya kepada Deon.
"Baiklah. Aku akan datang lagi. Aku yakin, kau pasti masih cinta padaku," ucap Deon sebelum melangkah pergi. Axela memandang punggung Deon sejenak sebelum mendengus kesal.
"Apa dia pikir dia hebat? Kita lihat saja nanti. Kau akan menangis darah karena harus membayar apa yang sudah pernah kau lakukan terhadap Alsha!"
Surprise
Kapan ?
Dimana?