Fabrizio Argantara seorang CEO Diamon Group terpaksa harus menikahi Putri dari orang yang ia tabrak hingga meninggal.
Fabrizio menikahi Jihana Almayra hanya demi sebuah tanggung jawab semata, hingga suatu hari salah satu diantara mereka memiki perasaan mencintai.
Mampukah Fabrizio dan Jihan mempertahankan pernikahan mereka saat badai rumah tangga mereka hadir disaat mereka sudah saling yakin untuk mencintai satu sama lain ?
Yuk simak selengkapnya novel "Istri Siri CEO" karya Dewi KD.
Jangan lupa untuk dukung author dalam bentuk Like & Comment 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi KD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERAWAL DARI TATAP
Pada waktu menunjukkan pukul 4 pagi, Fabrizio kembali kerumah Jihan. Ia sebelumnya telah memegang kunci cadangan rumah itu. Ia masuk ke dalam rumah dan membuka pintu kamar Jihan. Dilihatnya kini wajah sembab Jihan ia tahu pasti gadis tersebut kelelahan karena menangis.
Bayangan wajah Jihan seakan tak menghilang dari fikiran Zio. Bahkan ia bercinta dengan Cindy wajah Jihan terus terlintas dibenaknya.
Fabrizio bahkan meninggalkan Cindy setelah bercinta begitu hebatnya, yang ia pikirkan saat ini apa yang dilakukan oleh Jihan. Apalagi Jihan baru saja kehilangan Ayahnya, ia takut jika Jihan berbuat nekat atau bunuh diri.
Zio kemudian keluar dari kamar Jihan dan menutup pintu lalu mendudukkan diri dikursi tamu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menjambak rambutnya, benar-benar membuatnya frustasi.
"Apa aku sudah gila, bahkan aku memikirkan wanita lain selain Cindy" Zio meraih rokok disaku celananya ia memantik api dan menghisapnya menghilangkan rasa yang bercampur aduk dalam dirinya.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi kedua insan yang masih terlelap dari tidurnya itu belum juga terbangun dari alam mimpi. Zio terpaksa tidur dikursi ruang tamu, karena tak mungkin ia tidur satu ranjang milik Jihan ataupun dikamar milik mendiang mertuanya.
Suara ketukan pintu menyadarkan Zio dari alam mimpinya, ia bengun dan mengucek kedua matanya dan melihat jam di dinding ternyata sudah pukul delapan pagi.
Zio bangkit dan menuju pintu kemudian ia membukanya. Tarnyata kedua orang tuanya datang dengan membawa beberapa Paperbag. Sonya menyerahkan paperbag itu pada Zio, yang berisikan pakaian gantinya. Sedangkan Anggara langsung duduk dikursi tamu ia mengernyit melihat abu rokok berserakan dibawah meja.
"Apa Jihan belum bangun ?" tanya Sonia pada Zio.
Zio mengangkat kedua bahunya tanda ia tak tahu. "Aku akan mandi dulu" Zio pergi ke arah belakang tanpa memperhatikan tatapan tajam kedua orang tuanya.
Sonia membuka pintu kamar Jihan ia mendekat ke arah Jihan yang masih tertidur pulas. Hati Sonia kembali terhenyu kala melihat mata sembab Jihan, pasti ia habis menangis semalaman.
"Jihan...jihan.." Sonia mencoba membangunkan Jihan, Sonia terkejut saat meraba kening Jihan yang begitu panas.
"Jihan ya ampun kamu demam, Nak" Sonia panik, sedangkan Jihan mencoba membuka matanya tubuhnya terasa begitu lemas.
"Mama...Mama sudah datang ?" Jihan mencoba duduk.
"Jihan kamu demam, apa perlu Mama bantu untuk mandi ?"
Jihan menggeleng ia berusaha kuat dan bangkit, "Aku tak apa-apa Ma, aku mandi sebentar ya"
"Mama tunggu kamu di luar ya, Nak"
"Iya Ma"
Sonia keluar dari kamar Jihan ia menghampiri anak dan suaminya. "Pa, Jihan demam tubuhnya panas. Coba Papa telfon Dokter Kenzo suruh dia datang kerumah kita."
"Kau tidak tahu kalau Jihan sakit, Zio ?" tanya Anggara sembari mengeluarkan ponsel disaku celananya. Zio hanya diam tanpa menanggapi apa pentingnya Jihan baginya. Tak lama mereka semua kembali ke rumah Tuan Anggara, Zio terpaksa mengizinkan Jihan menempati kamarnya lebih tepatnya mereka tidur satu kamar.
Walaupun Zio jarang sekali pulang kerumah dan lebih memilih tinggal diapartemen atau dikantor ia tetap saja dalam beberapa waktu akan pulang kerumah orang tuanya.
"Kau boleh tidur diranjangku, aku jarang sekali pulang kerumah ini." Zio mendudukkan dirinya disofa kamar, dan mengeluarkan ponsel disaku celananya ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari Cindy dan juga pesan.
Zio menghela nafasnya ia sampai lupa kalau dirinya sudah meninggalkan Cindy sehabis bercinta. Saat Zio akan menelfon balik Cindy, tiba-tiba handphone Zio mati menandakan kehabisan baterai.
Jihan yang diam-diam memperhatikan gerak gerik Zio, kembali menundukkan wajahnya kala Zio mengambil carger di dalam nakas. Zio menoleh ke arah Jihan begitupun Jihan pandangan mata mereka bertemu satu sama lain.
Jantung Jihan berdebar dengan kencang kala menatap manik mata suaminya yang begitu tampan itu. Apalagi saat Zio tersenyum padanya. Jihan memalingkan muka dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
"Ada apa dengan jantungku" batin Jihan.
keren bgt thor👍👍
bwt zio kurang ganteng thor
aku jg lama gk punya2 ank.
3 thn pernikahan br punya ank.
sedihnya tuh sm mulut2 gk berprikemanusiaan..jahara pedes rawit tenan.
kenaa kau