Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjuanglah dengan Istri sahmu!
Menjelang sore, Sashi sudah kembali ke rumahnya. Dia baru saja turun dari mobil, mengambil kunci di dalam tasnya, kemudian membuka pintu. Ini sudah biasa dilakukannya. Sebelum membersihkan diri, Sashi berniat menyapu dan membersihkan seluruh rumah. Namun, sebelum itu semua terealisasi, Puguh datang.
Puguh memang sengaja menunggu istri sirinya itu seperti menunggu selingkuhannya yang baru datang. Padahal mereka menikah, tetapi untuk menemui Sashi, Puguh harus menyempatkan waktu.
"Mas, kenapa kamu ke sini?" Sashi memang tidak bisa menjalani kehidupan seperti ini.
"Kamu lupa? Aku ini su-"
"Cukup, Mas! Jangan lanjutkan lagi. Silakan duduk di luar sebentar. Aku tidak mau tetangga salah paham kepadaku."
Sashi masuk ke kamarnya. Sebelum itu, dia pergi ke dapur untuk merebus air dan menyiapkan secangkir kopi. Sebelum airnya mendidih, Sashi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Jangan tanyakan, kenapa Sashi tidak memakai dispenser saja? Dia memang lebih suka merebus air untuk menyeduh kopi.
Tak lama, Sashi sudah rapi. Dia kembali ke dapur kemudian menuangkan air ke dalam cangkir. Sisa airnya dimasukkan ke dalam termos. Sashi mengambil nampan kemudian membawa secangkir kopi itu di atas nampan beserta makanan ringan. Walaupun Sashi hanya istri siri, dia berusaha menjalankan kewajibannya.
"Sashi, aku datang ke mari karena ada perlu penting denganmu," ucap Puguh.
Sashi meletakkan secangkir kopi ke atas meja.
"Ada apa, Mas?"
"Besok, Mas mau mengajakmu dinner. Apa kamu bisa?"
Besok, Sashi sudah ada janji dengan bos dan rekan kerjanya. Mana mungkin dia bisa menolak. Sedangkan ajakan suami sirinya itu baru saja mengajaknya untuk pergi.
"Mas, Sashi minta maaf. Besok sudah ada janji dengan bos dan rekan kerjaku untuk makan malam juga. Aku minta maaf, Mas."
Puguh mengambil cangkir kopi kemudian menuangkan sedikit kopinya ke piring kecil. Tak perlu ditiup, dia langsung menyeruputnya begitu saja.
"Wah, padahal Mas ingin sekali mengajakmu. Kalau memang sudah ada yang lebih dulu, suamimu ini bisa apa?"
Sashi terdiam. Rasanya aneh berinteraksi dengan suami sirinya sekarang. Kewajibannya sebatas lahir saja. Puguh mengeluarkan amplop coklat kemudian memberikannya pada Sashi.
"Apa ini, Mas?"
"Itu nafkah untukmu. Kamu sudah menjadi tanggung jawabku sekarang."
Sashi mengembalikan amplop coklat itu ke meja. Dia sangat tidak pantas menerima semua ini.
"Mas, maaf kalau Sashi tidak bisa menerimanya. Lebih baik Mas berikan kepada istri sah. Sashi masih bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari."
"Bukan begitu, Sashi. Itu artinya aku tidak bisa bersikap adil padamu."
"Tak mengapa, Mas. Oh ya, aku minta tolong padamu untuk segera menceraikan aku. Bukan tanpa alasan, aku tidak ingin membuat kehidupan rumah tangga Mas Puguh dengan istri menjadi kacau."
Dalam bayangan Sashi, jelas saja Puguh tidak bisa bersikap adil. Apalagi tak banyak yang tahu perihal pernikahan keduanya selain keluarganya. Apabila istri sahnya tahu, pasti wanita itu akan sepenuhnya menyalahkan Sashi. Sementara Sashi sudah berusaha meminta cerai, tetapi Puguh belum mengabulkan.
Puguh terdiam. Wasiat almarhumah ibunya Sashi juga penting. Dia tidak mungkin mengabaikan Sashi begitu saja.
"Jangan paksa aku untuk menceraikanmu, Sashi. Selagi aku mendapatkan liburan dari kantor, aku akan mengajakmu pergi berbulan madu."
Deg!
Itu artinya Sashi harus melayani suaminya lahir dan batin. Sashi bisa saja menolaknya, tetapi itu tidak mungkin. Bagaimana pun Puguh tetap suaminya.
"Itu kita bicarakan nanti, Mas. Oh ya, bagaimana kabarmu dengan istri?"
Sashi belum tahu benar mengenai Puguh. Dia berniat mengorek informasi tentangnya.
"Kami baik, Sashi. Hubungan kami selalu baik dan tidak ada masalah."
Puguh pria yang baik. Tidak mungkin Sashi begitu saja meninggalkan suaminya, tetapi bagaimana pun juga dia tidak mungkin bertahan terlalu lama di antara Puguh dan istrinya.
"Akan bermasalah kalau istri sahmu tahu, Mas. Kumohon lepaskan aku dan tetap bertahan pada istri sahmu," ucap Sashi lirih.
Puguh sebenarnya berada di persimpangan. Dia ingin melepaskan Sashi, sementara ibunya melarang. Sashi benar, seandainya Nadya sampai tahu tentang pernikahan sirinya, wanita itu pasti sangat marah karena merasa dikhianati.
"Aku tidak bisa, Sashi."
"Mas, tolong pertimbangkan lagi. Aku ini bukan orang ketiga yang sengaja masuk dalam kehidupanmu. Kalau terus kamu mempertahankan aku, aku tidak bisa menjadi istri sempurna untukmu, Mas. Aku akan merasa setengah hati bersamamu. Kumohon, ikhlaskan aku." Sangat sulit sekali meyakinkan Puguh untuk menceraikan dirinya.
Sashi berdiri untuk membereskan cangkir dan beberapa camilan yang sudah tinggal sedikit. Dia berniat membawa nampan itu kembali ke dalam. Sebelum itu, Sashi meminta suami sirinya itu lekas pulang.
"Mas, sebaiknya kamu pulang. Aku tidak mau istrimu salah paham padaku. Pertimbangkan lagi permintaanku untuk bercerai. Hanya tinggal beberapa minggu lagi setelah acara 40 hari meninggalnya ibuku."
Sashi memang tidak bisa untuk menolak wasiat ini, tetapi batinnya tersiksa ketika dia menjadi istri siri Puguh. Demi kedua orang tuanya, dia tidak rela menyakiti wanita lain. Batin Sashi rasanya terkoyak.
"Tidak, Sashi. Aku malah ingin mengajakmu untuk pergi ke hotel. Tolong jangan tolak permintaan suamimu ini."
Deg!
Hotel? Permintaan suami? Apakah Sashi harus melayani suaminya? Melakukan malam pertama dengan Puguh? Rasanya Sashi tidak bisa. Biarkan seumur hidupnya menjadi wanita yang berdosa karena menolak permintaan suaminya, daripada menyakiti wanita lain yang sudah lebih dulu mengisi kehidupan Puguh.
"Aku tidak bisa, Mas." Sashi berusaha menjawab setenang mungkin.
"Kamu tahu, aku akan merasa berdosa jika tidak memberikanmu nafkah batin. Kumohon, jangan tolak aku. Kalau kamu di sini tidak nyaman, kita bisa pergi ke hotel. Di sana, tidak akan ada orang yang mengenali kita."
Menjadi istri siri saja sudah membuat Sashi hancur. Lalu, bagaimana jadinya kalau dia sampai melayani suaminya? Mungkin akan lebih hancur lagi karena menyakiti istri sahnya.
"Mas, cukup! Aku tidak akan pergi denganmu. Sebaiknya kamu ambil amplop ini dan berikan pada istri sahmu. Satu lagi, tolong jangan bermimpi untuk mengajakku pergi ke hotel dan melakukan malam pertama kita. Kurasa itu tidak perlu."
Sashi masuk ke dalam rumah. Dipikiran Sashi, Puguh pasti akan langsung pergi dari teras rumahnya. Setelah dari dalam, Sashi berniat mengunci pintu rumahnya. Rupanya dia salah besar. Puguh masih berada di sana untuk menunggu kepastian dari istrinya.
"Mas, kenapa kamu belum pulang?"
"Aku masih menunggu keputusanmu. Kalau kamu sudah siap, aku akan memesan kamar hotel untuk kita."
Puguh belum menyerah. Dia semakin yakin dengan pernikahannya karena ibunya terus saja mendukung agar Sashi lekas hamil.
"Mas, kenapa kamu masih terus memaksaku, sih?"
"Karena ibuku ingin agar kamu lekas hamil."
Deg!
Setelah menjadi istri siri, sekarang Sashi di hadapkan dengan permintaan ibu mertuanya yang mendadak memintanya untuk lekas hamil. Bagaimana mungkin Sashi bisa melakukan itu dengan suka rela? Bahkan hatinya saja tidak yakin dengan kenyataan seperti ini?
"Maaf, Mas. Selama ini aku memang mengenalmu, tetapi belum terlalu jauh. Apakah kamu dan istri sah sudah memiliki anak?"
Puguh menggeleng. Itu sudah cukup untuk Sashi memahami bahwa permintaan ibu mertuanya itu tidak main-main.
"Berjuanglah dengan istri sahmu, Mas!" Sashi kemudian masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
...🍃🍃🍃...
Yuk mampir karya keren milik Bestie Emak. Karya keren by Author SyaSyi