Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naluri calon suami.
"Ais, udah pulang?" sapa Mama Linda, yang menyiapkan makan malam mereka.
"Ya, udah. Ais. Capek, mau tidur dulu."
"Baru jam berapa? Biasanya makan dulu?"
"Capek, Ma. Ternyata mau nikah itu ribet, banyak maunya." jawab Ais, lalu menutup pintu kamarnya pelan.
Mama Linda hanya menatapnya hingga hilang dari pandangan. Gadis kecil semata wayangnya itu, yang pada akhirnya akan meninggalkan Dia di waktu yang terlalu dini.
"Lihat anakmu, Pa. Anak yang begitu kental mirip dengan mu. Bahkan sifatnya, benar-benar mengikutimu. Aku hanya takut, Sifatmu ada dalam dirinya. Maka, aku juga merelakan Ia bersama Kak Tama." batin Mama Linda.
***
Suara motor terdengar memasuki garasi. Pak Wil langsung datang menyambutnya. Ia penasaran, bagaimana reaksi Lim pada calon istrinya itu.
"Tuan...." sapa Pak Wil.
"Apa? Papi udah tidur?"
"Ya, baru saja tidur setelah saya berikan obat malamnya." jawab Pak Wil.
"Baguslah. Aku, ingin istirahat. Mengikuti gadis kecil itu seharian, teryata melelahkan." jawab Lim, sembari membuka jaket kulitnya.
"Bagaimana?"
"Gadis itu? Menyenangkan. Mungkin, setelah pernikahan kami akan semakin akrab. Lihat saja nanti."
Halim berlari menaiki tangga kamarnya. Lalu membuka pakaiannya untuk membersihkan diri. Tubuhnya memang kurus, tapi tampak berotot. Rambutnya sedikit gondrong, terkesan Badboy bagi yang menatapnya. Rahangnya terbentuk dengan sempurna, begitu menggambarkan sifat tegas dari dalam dirinya. Tatapan matanya pun tajam, bahkan nyaris melukis senyum di bibirnya.
"Aiswa Ulfiana Putri. Harus menghafal namanya dalam waktu sekejap. Untung tak terlalu panjang. Padahal, bibirku serasa telah terkunci oleh namanya." guman Lim, di bawah deras nya kucuran air dingin yang membasahi tubuhnya.
Lim segera menyelesaikan mandinya. Ia langsung merebahkan diri di tempat tidur, hingga perlahan mata nya benar-benar terpejam.
***
" Pagi, Pi." sapa Halim, menghampiri Papi nya di meja makan.
"Pagi. Bagaimana tidurnya, nyenyak?"
"Ya, lumayan. Apaalagi, setelah lelah menemani calon menantu Papi memilih gaun pernikahan."
"Terimakasih, Papi harap kamu tak tertekan dengan keinginan Papi."
"Tidak. Tak ada tekanan sama sekali. Hanya mengikuti takdir yang memang sudah diberikan. Karena terkadang, apa yang kita genggam begitu kuat, belum tentu menjadi milik kita." jawab Lim, dengan mengoleskan roti tawarnya dengan selai strawbery.
Papi Tama hanya mengangguk, Ia setuju dengan apa yang Lim bicarakan. Dan lagi, Lim tak akab bicara seperti itu jika tak merasakan sendiri bagaimana sebuah kehilangan yang pahit.
" Hari ini, mereka akan pindah kemari. Dan setelah pernikahan, Mama Linda akan pulang ke kampung mereka. Akan lebih aman disana."
"Perlukan, Lim mengawalnya?"
"Tidak. Setelah pernikahan, kalian kan bulan madu." jawab Papi Tama, yang sontak membuat Lim terkejut dan tersedak parah.
"Pi... Apa-apaan? Ais masih kecil, Pi. Lim belum tega menyentuhnya."
"Oh, Papi tahu. Kalian mau pacaran dulu 'kan? Tak apa. Papi selalu dukung apapun keputusan kalian." jawab Sang Papi, begitu antusias.
Karena tak ingin mendengar ocehan Papinya lagi, Lim pun bergegas menghabiskan sarapannya. Ia kemudian pergi, menggunakan mobil dan menuju ke kantornya.
Di perjalanan, lim melihat seorang gadis berjalan santai. Kepalanya mengangguk angguk, seperti tengah mendengar atau menyanyikan sebuah lagu. Entah kenapa, Lim lewat sana. Padahal, itu bukan jalur tercepatnya sampai tujuan.
"Hey... Ais." panggilnya, berhenti tepat di samping Aiswa.
"Kak Lim? Kok disini?" tanya Ais, yang langsung gugup dan salah tingkah.
"Tak tahu, kenapa. Dan apa yang membawaku krmari. Naiklah, ku antar sampai ke sekolah."
"Ta-tapi, sekolah sudah dekat."
Lim memaksa. Ia membuka pintu dan meminta Ais masuk. Akhirnya, Ais pun mengalah dan masuk kedalam mobil mewah itu.
"Terimakasih." ucap Ais.
"Belum sampai, kenapa berterimakasih?" balas Lim, tanpa menoleh padanya.
biar je...