NovelToon NovelToon
Perebut Suamiku

Perebut Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / Selingkuh / Cerai / Janda / Tamat
Popularitas:3.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Meta.morfosa

Rubah itu melemparkan koperku ke halaman dengan arogan, "tinggalkan tempat ini secepatnya!!"

Ini adalah penghinaan paling hina yang pernah aku terima selama hidupku, namun aku juga tidak mempunyai kuasa untuk melawan.

"Memangnya siapa yang ingin tinggal di tempat seperti ini??" Ucapku dengan percaya diri. "Jika kamu menginginkan k*parat ini, ambil saja! Bos kaya raya baru suamiku."

"Cuih.. bos mana yang ingin memperistri wanita sepertimu??" Suara Rubah ini terdengar penuh ejekkan.

Aku sama sekali tidak mendengarkan ucapan provokatif dari si Rubah, sebagai gantinya aku justru tersenyum simpul saat melihat sebuah mobil Chevrolet Camaro tipe SS, bergaya sporty datang memasuki halaman dan berhenti tepat di depan kami semua, dan sesosok pria berumur sekitar empat puluh lima tahunan keluar dari dalam mobil.

"Himalaya, jika kamu sudah selesai, ayo kita pergi!!" Ucap pria itu seraya menggenggam tanganku.

Semua orang tertegun melihat sosok Zidan selaku ayah si rubah datang untuk menjemputku, aku mendekat ke arah rubah itu, "kamu merebut suamiku, maka ku rebut ayahmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meta.morfosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PS chapter 6

#Rumah Orang Tuaku.

➡➡➡

Aku tidak sedih karena kamu tinggalkan, tapi aku sedih karena aku terlalu bodoh dan mudah percaya pada orang sepertimu. #unknown.

➡➡➡

Adnan memang tidak pernah berbuat kasar padaku, juga masih bersikap lembut kepada Kirani. Dia tidak pernah sekalipun menunjukkan penyimpangan secara terang terangan, setidaknya itu pertanda jika Adnan masih memikirkan Kirani. Namun Surat Perceraian yang Adnan tinggalkan di atas nakas membuatku kehilangan kata kata.

Aku tersenyum getir.

Memandang langit malam yang gelap, sama sekali tidak terlihat satu bintangpun. Sama seperti hatiku. Sepi, sendiri, di hianati, di campakkan, dan di hancurkan sampai dasar.

Aku sangat menyadari jika aku bukanlah wanita sempurna, aku bukan wanita mandiri, bukan wanita hebat, aku memiliki banyak kekurangan, yang mungkin tidak seperti J*lang itu.

Laki laki mana yang tidak menginginkan s*k? Bodoh jika Adnan tidak memanfaatkan kesempatan saat J*lang itu menawarkannya dirinya sendiri ke hadapan Adnan?

Aku akui, jika aku bukanlah pemain yang baik di tempat tidur, mungkin Adnan tidak puas denganku sampai mencari pelampiasan lain di luar saja, di tambah mungkin servis yang di berikan j*lang itu sangat memuaskan Adnan.

Mungkin saja? Itu hanya analisaku sendiri dan belum tentu terbukti kebenarannya juga. Aku hanya berusaha untuk mengasah mentalku sendiri agar menjadi kuat dan semakin kuat di setiap harinya. Ini baru permulaan, namun sakitnya bahkan sudah sampai ke tulang.

Keesokkan harinya.

Siang ini aku sengaja mengajak Kirani ke rumah orang tuaku, sudah sangat lama aku tidak mengunjungi orang tuaku meskipun rumah kami tidak terlalu jauh.

Tidak tahu apa yang ku pikirkan selama ini sampai jarang mengunjungi orang tuaku. Aku bisa saja mengajak Kirani tanpa Adnan, tapi.. entahlah.. aku hanya tidak ingin membuat orang tuaku berpikiran negathive.

Aku tiba di sebuah rumah sederhana dua lantai. Bahkan suara teriakan Ibu yang tengah membangunkan Haris, adik laki lakiku dapat terdengar sampai halaman. Aku hanya tersenyum melihat ini.

Aku bunyikan bell, "Assalamualaikum," aku ucapkan Salam keras keras agar ibu cepat membukakan pintu.

Tidak lama kemudian pintu terbuka, "Walaikumsa..."

"Nenek..." belum sempat ibuku menyelesaikan salamnya, segera terdengar teriakan Kirani yang berhambur ke pelukan ibuku.

Ibuku segera menggapai Kirani dan memeluknya erat erat, aku terharu melihat ini. Rasa sesal mulai muncul karena aku jarang mempertemukan mereka.

Aku merasa jauh dari mereka setelah aku menikah dengan Adnan, dan aku seakan tidak mau tahu dengan kehidupan keluargaku.

"Ayo cepat masuk, apa yang kalian tunggu!!"adalah suara Ayahku yang entah sejak kapan sudah turut memeluk Kirani.

Aku mengangguk, memeluk ibu dan ayahku terlebih dahulu dan meminta maaf yang sebesar besarnya sebelum memasuki rumah ini, dan ekspresi orang tuaku adalah sangat terkejut melihat kelakuanku yang mereka pikir mungkin aku sedikit berlebihan.

Aku menghirup udara di dalam rumah. Rumah yang tetap sama, sederhana namun mengandung banyak cinta di dalamnya.

Aku di besarkan di sini, sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. Haris adik laki lakiku masih kuliah semester empat. Sedangkan Helena, adik bungsuku masih di bangku menengah atas.

Begitu aku memasuki rumah, terdengar suara rengekan Helena yang tengah meminta uang untuk memperbaiki hpnya yang rusak. Aku tersenyum melihat kelakuan konyol gadis itu.

"Helena, kamu kenapa?" Tanyaku seraya mendekat dan duduk di sebelah Helena di depan televisi yang menyala.

Helena melihatku sekilas, dan kemudian menangis sesenggukkan seperti anak bayi yang belum di beri ASI. Drama queen, itulah gelarnya di rumah ini.

Helena menunjukkan hpnya yang retak dan tidak bisa menyala. Helena kecilku masih tidak berubah, selalu saja ceroboh. Dia pasti menjatuhkan hpnya di kamar mandi, sangat jelas dan aku bisa menebaknya dengan mudah.

"Astaga Helena, kamu selalu saja ceroboh.. bukankah aku sudah sering mengingatkan kalo masuk ke kamar mandi tidak usah membawa hp."

Helene terkejut, "bagaimana kakak tahu kalo aku menjatuhkannya di kamar mandi?" Helena bertanya dengan nada yang suara yang terdengar kaget bercampur shock.

"Tidak sulit untuk menebak itu." jawabku singkat.

"Itu semua karena kecerobohannya sendiri, tidak usah di dengarkan," ucap Ibuku berlalu ke lantai atas dengan Kirani yang masih berada dalam gendongannya.

Sejujurnya, aku sedih melihat ini. Ibu bukanlah orang yang kejam, Ibu hanya tidak memiliki cukup uang untuk membeli hp baru untuk Helena.

Aku juga tidak mungkin memberitahukan mereka jika Adnan akan menceraikan ku, mereka pasti akan cemas dan akan memikirkan ini sepanjang waktu.

Aku harus bagaimana? Adnan terlanjur menyodorkan surat cerai itu di depanku dan tidak mungkin akan menariknya kembali.

Aku segera merogoh tasku, dan mengeluarkan uang tunai dua setengah juta dari dalam dompet. Itu adalah uang pemberian Adnan yang aku sisihkan. Setidaknya aku masih bisa memberikan sisa uangku sebelum aku benar benar menjadi janda yang menyedihkan. "Beli hp yang murah saja, dua juta untukmu dan sisakan untuk kakakmu juga."

Mata Helena berbinar, "apa tidak apa apa?"

Aku mengangguk, "jangan sampai Ibu tahu, ayo cepat sembunyikan!!!" ucapku menyodorkan uang itu kepada Helena.

"Terimakasih Kak, kamu selalu yang terbaik." ucap Helena menerima uang itu juga mengangkat jempolnya.

Haris turun bersama ibu dengan Kirani yang menempel seperti gurita pada punggung Haris. Mungkin Ibu menjadikan Kirani sebagai alat untuk membangunkan Haris.

Kemudian Ayah dan Ibu juga turut duduk di atas sofa.

"Kapan kau datang kak? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Aku kan bisa menjemputmu," ucap Haris duduk di bawah beralaskan karpet dengan Kirani yang tidak mau turun dari punggung Haris.

"Aku bisa datang sendiri, lagipula nanti hanya akan merepotkanmu." jawabku singkat.

"Tapi.. dimana kakak ipar? Apa dia tidak datang bersamamu?" Tanya Haris yang seketika membuat semua orang menoleh ke arahku dengan tegang dan penuh tanya.

Pertanyaan Haris seperti pisau yang menancap langsung di hatiku, sakit.

"Kenapa kalian semua memandangku seperti itu? Kalian membuatku takut!!"

"Apa yang sebenarnya terjadi Sya? Cerita saja," ucap Ayah yang sepertinya mulai merasa khawatir karena aku datang sendirian tanpa Adnan.

Bagaimanapun, aku akan datang bersama Adnan jika kami ada waktu untuk mengunjungi orang tuaku. Pantas saja orang tuaku mulai curiga melihat kejanggalan ini.

"Kalian ini kenapa? Sungguh kami tidak ada masalah.. Adnan sangat sibuk belakangan ini. Kalian tolong maklumi Adnan. Lagipula aku terlalu merindukan kalian sampai aku tidak sabar untuk menunggu Adnan libur." Ucapku dengan satu tarikan nafas dan seketika membuat suasana kembali santai.

Aku menarik nafas lega melihat ini. Syukurlah mereka tidak curiga, karena aku akan memberitahukan ini di waktu yang tepat lain kali.

1
Dewi Dama
wajah korea....
Dewi Dama
Luar biasa
Dewi Dama
Lumayan
Dewi Dama
murahan amat sihhh..br.kenal udah berani nyium laki..
Yuliana Rahmawati
Luar biasa
Anonim
Katany wanita pintar,tp kenapa sudah tau suami selingkuh tidak ada persiapan??disini dijelaskan kalau dia bs berpikir jalang yg akan menang bla bla bla tp knp tdk mempersiapkan diri utk kemungkian twrburuk??mlh terkesan membiarkan dan mendukung perselingkuhan.bru cri kerja stlh ad srt cerai.
Marlialeeya
masih belum mau cerita, masih abu-abu dan penuh tanda tanya atas kisah si Rubah dan Adnan 😵😌😏
Ernawati
lanjut..
Nur amna Azkiya
bagus
Novita Shamin
tidak buruk
fandha
maaf ya thor sekedar masukan itupun kalo mau.tlg dong dikondisikn ngomong nya..kog aku risih baca.."iblis kecil'..maaf bgt .caramel kn seorg manusia..jgn pula dibilang iblis kecil..dosa lho ngatain atau nyumpahi org dg kata2.. yg kurang enak didenger
fandha
cerita nya bagus..dan menyentuh
Windarti08
kok aku bacanya Rexona ya...🤭🤭 setelah ku ulang lagi, ternyata Roxana... galfok aku😅😅
Windarti08
udah dong... aku itu klo habis baca, di akhir bab auto klik LIKE lho👍
Windarti08
Adnan said, "aku masih sangat mencintaimu Ibu mertua..."
Windarti08
Zidan said, "cucuku anak mantan suami istriku"
Windarti08
aku juga nonton drakor ini pada waktu itu
Windarti08
Hasyekkk..... ini kalimat yang aku tunggu-tunggu😂😂😂
Windarti08
oh mau nanya dong Thor... knapa putrinya Zidan memakai nama belakang Silvia yaitu Megan bukan nama belakang Zidan?
Windarti08
ahh bentar lagi dong... tinggal 2 bab lagi kita akan berjumpa dengan si rubah betina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!