Haiii semua.. Ini Novel karya pertamaku.. Mohon dukungannya ya, semoga kalian suka alur ceritanya. 🙏🙏
Ini menceritakan tentang romansa cinta anak sekolah. Kisah cinta yang penuh dengan berbagai perasaan.
Menceritakan seorang gadis remaja lugu dan apa adanya yang tiba-tiba menjalani kehidupan yang sangat rumit.
Febhia Putri Kusuma gadis remaja berusia 16 tahun ini tinggal bersama kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya. Febhia menjalani kehidupan gadis remaja pada umumnya, hingga suatu ketika dia mengalami sebuah situasi dimana kedua orang tuanya harus berpisah.
Dan disituasi yang bersaam Febhia harus mengalami penghianatan dari sahabatnya. Hidupnya makin rumit dan membuatnya putus asa. Cinta pertamanya berpaling darinya. Febhia merasa semua yang ia cintai mulai menghilang perlahan-lahan.
Mau tau kelanjutan ceritanya?? ayoo baca Novel pertamaku ini.. Mohon dukungannya ya.. ❤️❤️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Arida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Life Learning
****
Lima hari telah berlalu, selama itu juga Bhia berada di rumah sakit. Bhia sudah memaafkan sahabat dan juga papa nya namun Bhia tidak bisa tinggal satu atap dengan bi Rossi. Akhir nya Bhia dan Arkan memutuskan untuk mencari kost-kosan untuk tinggal. Awalnya Angga tidak menyetujui keinginan putri nya itu, namun Bhia mengatakan pada Angga bahwa ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Bi Rossi hanya sebatang kara ia tidak mempunyai kerabat dekat atau pun jauh jadi Bhia merasa iba padanya.
Arkan sudah mendapatkan kost-kosan yang nyaman untuknya dan Bhia. Pemiliknya juga mempunyai seorang putra yang bersekolah di tempat yang sama dengan nya.
Arkan pun dengan segera menjemput Bhia yang masih berada di rumah sakit, kebetulan hari ini Bhia sudah boleh keluar dari rumah sakit, tapi Bhia masih belum diizinkan untuk beraktivitas, ia masih harus beristirahat selama minimal tiga hari.
***Ruangan pasien***
" Bhi, udah beres kan barang-barang nya? " tanya Arkan yang baru masuk ke ruangan Bhia.
" Udah kak, tinggal berangkat " Bhia menjawab pertanyaan Arkan sembari tangannya menunjuk ke arah barang-barangnya.
Mereka meninggalkan rumah sakit dan menuju tempat kost yang sudah disewa oleh Arkan.
" Jauh nggak kak tempatnya? " tanya Bhia penasaran pada tempat yang akan ia tempati.
" Enggak kok, malah deket sama sekolah juga lho Bhi " jelas Arkan yang masih fokus mengendarai mobilnya.
" Berapa menit kalo dari sekolah ?" Bhia kembali bertanya sambil melihat ke arah jalanan yang ada di sekitar situ.
" Sekitar 15 menit " jawab Arkan singkat.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, mereka pun turun dari mobil dan masuk kedalam kost-annya itu. Bhia melihat sekeliling dan mengamati setiap sudut tempat itu. Saat ini pukul 09.00 jadi suasana masih sangat sepi, serta yang tinggal di tempat itu rata-rata mahasiswi dan sangat jarang menemukan pelajar yang tinggal di kost-an. Karna di tempat itu kost-an khusus putri jadi Arkan akan tinggal satu kamar dengan anak pemilik kost-an itu.
" Kakak tidur dimana? " tanya Bhia sambil berjalan menghampiri Arkan yang sedang duduk di teras kost-an nya.
" Di kamar anak yang punya kost-an Bhi, yang punya kost-an ini baik banget Bhi. Oia kayaknya anaknya itu satu kelas deh Bhi sama kamu, kemaren kakak tanya-tanya dia tentang kamu , ehh dia tau " jelas Arkan pada adiknya itu.
" Masa sih kak? siapa namanya? " Bhia yang penasaran, bertanya pada Arkan dan berharap ia benar mengenal anak pemilik kost-an itu.
" Kalo nggak salah Geovan apa Givan gitu deh. Susah namanya diinget " Arkan menjawabnya dengan berusaha mengingat namanya.
" GIOVANO ?? " Cetus Bhia dengan mata yang terbelalak. Ia tidak menyangka orang itu adalah Gio.
" Ahh iya, Giovano " jawab Arkan mengiyakan adiknya itu.
Bhia terkejut lalu menghela nafas panjang, ia tak menyangka nantinya ia akan sering bertemu dengan Gio bukan hanya sering namun setiap harinya. Bhia berusaha bersikap masa bodoh, lagi pula nggak ada salah nya juga, toh mereka tidak akrab pikir nya.
🎵🎵 Nananananannanan.. Nanananananan 🎵🎵
Suara dering ponsel Bhia, ia pun mengangkat telfon nya, ternyata Alin. Raisa dan Alin ingin tau tempat tinggal Bhia dan sepulang sekolah mereka berencana ingin berkunjung untuk melihat-lihat. Bhia memberikan alamat nya dan dengan senang hati mempersilahkan sahabat-sahabat nya itu untuk datang berkunjung ketempat baru nya.
Pukul 13.00 Raisa dan Alin pun telah sampai.
" Wahh kost-an nya deket ya Bhi dari sekolah " ucap Alin sambil melihat-lihat ruangan yang di tempati sahabat nya itu.
" Iya Lin" jawab Bhia sambil menata buku-buku nya di atas meja yang ada di sebelah kanan tempat tidurnya.
" Trus kak Arkan tidur dimana? ini kan kost-an cewe " tanya Raisa dengan matanya yang terus mencari sosok Arkan.
" Di kamar anak yang punya kost-an Rai. "
" Di mana kamarnya? "
" Tuh depan " ucap Bhia sembari mengisyaratkan gerakan alis dan matanya yang bersamaan ke arah jendela kamarnya.
Bhia menunjuk sebuah bangunan yang berada di depan kost-an nya. Ya.. Bangunan itu adalah rumah pemilik kost-an yang di tempati Bhia saat ini, yaitu rumah orang tua nya Gio.
" Oia Rai, Lin. Sebenernya yang punya kost-an ini ortu nya Gio " lanjut Bhia menjelaskan pada kedua sahabatnya itu, lalu mereka pun yang mendengarnya terkejut dengan bersamaan.
" Whatt?? " ucap Alin dan Raisa berbarengan.
" Kok bisa? " lanjut Raisa.
" Gue juga nggak tau, kak Arkan yang nemuin kost-an ini. Mungkin dia dapet info dari temennya atau apa, nggak tau juga gue " jelas Bhia diiringi gerakan ringan kedua bahunya.
" lo nggak nanya? " tanya Alin menelesih.
Bhia hanya menggeleng.
" Kenapa? " tanya Raisa kembali yang tidak puas akan jawaban Bhia yang hanya menggeleng kan kepalanya itu.
" Udah dapet tempat aja gue udah bersyukur Rai. Gue nggak mau nyusahin kak Arkan sama urusan pribadi gue. Jadi yahh mau nggak mau ya nggak apa-apa gue bakal ketemu orang jutek itu tiap hari " jelas Bhia sambil merapatkan bibirnya.
" Iya bener Bhi gue juga kasian sama kak Arkan " ujar Raisa sambil memasang wajah memelas.
" Lo mah bukan kasian, tapi naksir " ledek Alin
Mereka pun tertawa bersamaan, saat sedang asyik mengobrol Bhia tiba-tiba bertanya pada Alin.
" Gimana Lin hubungan lo sama Fero? dari kapan kalian jadian? nggak papa cerita aja, gue udah move on kok " tanya Bhia pada Alin, sebenarnya Bhia belum bisa dibilang move on ia hanya mencoba menerima kenyataan.
" Gue udah putus " Alin hanya menjawab dengan datar tanpa melihat ke arah Bhia.
" Lho?? kenapa?? gara-gara gue?? kalo lo masih sayang jangan lo putusin cuma gara-gara gue dong Lin " Tanya Bhia yang memalingkan wajah Alin menjadi mengarah ke arahnya.
" Gue udah nggak bisa buat ngejalaninnya Bhi, setiap jalan sama Fero gue selalu ngerasa ada yang salah di diri gue. Dari awal hubungan gue sama Fero udah didasari kebohongan dan gue nggak mau menjalin hubungan yang ngebuat gue selalu ngerasa bersalah " jelas Alin dengan menyatukan kedua ujung alisnya dan terlihat samar gerakan bibirnya yang getir.
" Semua udah berlalu Lin, kalo soal perasaan lo yang paling tau, kalo emang lo sayang ya lo perjuangin. Gue nggak mau ada penyesalan di diri lo dan salah satu penyebabnya itu gue " ucap Bhia yang berusaha membujuk Alin, ia tidak ingin menjadi perusak hubungan mereka.
" Enggak Bhi, keputusan gue udah final " Alin pun mempertegas keputusannya.
Alin pun memeluk Bhia diikuti dengan Raisa dari belakang. Ini adalah sebuah pembelajaran bagi persahabatan mereka. Dan mereka pun akhirnya kembali berkomitmen supaya apa pun keadaan dan kondisinya, sesulit apa pun jangan ada yang ditutup-tutupi dan jangan pernah ada lagi kebohongan diantara mereka.
Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa hari sudah mulai gelap. Alin dan Raisa pun berpamitan untuk pulang.
" Bhi udah malem , kita balik ya. Cepet sembuh lo cepetan masuk sekolah ya " pamit Raisa yang beranjak meninggalkan kamar Bhia.
" Iya, makasih ya kalian " ujar Bhia mengikuti sahabatnya itu yang keluar dari kamar nya.
Setelah mengantar kedua sahabatnya itu sampai teras Bhia pun kembali ke kamarnya. Ia melihat ada notifikasi di ponsel nya ternyata Arkan yang mengirimi pesan. Arkan menanyakan keadaan Bhia karna ia tidak dapat memeriksa kondisi Bhia secara langsung perihal Kost-an nya hanya khusus untuk putri. Bhia membalas pesan itu dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja, Bhia mengatakan bahwa Arkan tidak perlu khawatir ia sudah merasa jauh lebih baik.
Keesokan harinya, Bhia merasa dirinya sudah baik-baik saja dan ingin segera kembali bersekolah. Bhia pun bersiap-siap memakai seragamnya dan keluar dari kamar kost-an nya. Ia berjalan menuju halaman namun tidak mendapati mobil kakaknya. Lalu tiba-tiba saja Gio muncul dari belakang nya dan membuat Bhia terkejut.
" Ngapain lo ? " tanya Gio yang sedang berjalan ke arah mobil nya.
" Ahh lo Yo, ngagetin aja gue kira siapa. Lo liat kak Arkan nggak?" Bhia kembali bertanya pada Gio sambil celingukan mencari kakaknya.
" Dia udah berangkat pagi-pagi tadi , ada tugas katanya " jelas Gio yang masih berdiri di samping mobilnya.
" Yahhh " keluh Bhia, ia menyalahkan dirinya karna tidak memberitahu Arkan bahwa ia ingin masuk sekolah hari ini. Akhirnya Bhia memberanikan diri untuk meminta tumpangan pada Gio.
" Yo, " ucapnya sedikit ragu-ragu.
" Apa? " Gio menoleh dan menatap Bhia dingin.
" Boleh nebeng nggak?" tanya Bhia sambil memasukkan kedua bibirnya ke dalam mulut.
" Gue udah feeling pas lo ngekost di sini pasti ujung-ujungnya nyusahin gue " ucap Gio sambil membuka pintu mobilnya.
" Please.. Boleh ya? " Bhia mendekati Gio dan memohon sembari mengeppak-ngepakkan bulu matanya.
" Yaudah buruan naik " perintah Gio masih dengan wajahnya yang masam.
" Thanks.." Bhia pun bergegas menaiki mobil Gio.
Ma**kasih ya yang udah mau baca cerita novel aku tolong dukung aku terus ya jangan lupa like comment and vote..
Terima kasih para readers tersayang..
❤️❤️❤️**
mampir juga yuk dinovelku