ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERDENGAR BEGITU MANIS
Setelah alamat sekolah yang disampaikan Alda, tidak ada lagi pembicaraan setelahnya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlebih Ibnu, tak berminat memulai pembicaraan sekedar basa-basi guna membunuh waktu untuk sampai ke tempat tujuan.
Keduanya memang asing yang dipertemukan tidak sengaja oleh keadaan di tempat yang berbeda. Tentu, masih ada rasa canggung yang menjadi penyekat diantara mereka berdua.
"Terima kasih," ucap Alda setelah tiba tepat di depan gerbang sekolah.
Hiruk pikuk siswa yang berbondong-bondong memasuki area gedung tempat mereka belajar. Tak dapat dipungkiri, beberapa pasang mata tertarik melihat keduanya. Baik dari kalangan pengajar ataupun siswa.
Karena memang, pertama kalinya guru cantik itu diantar oleh lawan jenis menggunakan sepeda motor. Selama ini, Alda menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan jasa taxi online sebagai transportasi.
"Sama-sama," jawab pria itu dengan senyum berkembang di bibirnya. Kembali ia bersiap melajukan motornya.
"Ibnu ... hati-hati di jalan ...."
Satu kalimat membuat Ibnu kembali berbalik. Dia menatap wanita itu dengan tatapan sulit diartikan. Namun senyum di bibir kian bertambah lebar. Sederhana, tapi entah mengapa begitu manis di telinga.
Apa karena Andi Alda yang mengucapkannya?
Juga suara wanita itu begitu lembut. Seolah mengingatkan kepada seseorang yang istimewa. Tak ingin terjadi apa-apa padanya.
Mungkin perasaannya saja.
Ibnu hanya mengangguk samar dan sedikit demi sedikit menarik pedal gas motor. Tak ingin berlama-lama di tempat tersebut. Halusinasi semakin menjadi.
*****
"Barusanna Bu Andi tidak napake mobilna (Tumben, Bu Andi tidak menggunakan mobil pribadi)."
Hanya beberapa langkah, wanita cantik itu sudah mendapat pertanyaan. Dilontarkan oleh security yang berjaga di depan gerbang.
"Masuk bengkel, Pak Karman." Alda menjawab seadanya.
Sosok jangkung itu hanya ber'Oh' ria. Sudah paham mengapa Sang Guru berbeda dari biasanya.
Namun Alda tak bisa mengelak. Tak jauh dari tempat pertemuannya dengan Pak Karman, ia disambut oleh Nana.
"Ketemu Ibnu dimana? Apa kalian ... janjian?" matanya memicing. Selidik dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Keduanya berjalan beriringan menuju ruang guru untuk melakukan check lock sidik jari. Guna mengabsen kedatangan mereka melalui mesin.
Alda dengan cepat menggeleng seraya menempelkan jari telunjuk pada finger print. "Tidak ada unsur sengaja di dalamnya, yah. Kami berdua bertemu di jalan."
Nana mengerutkan kening. Belum puas dengan apa yang didengar. "Maksud bertemu di jalan? Terus, mobilnya dimana?" tanyanya yang semakin bertubi dan melakukan hal yang serupa setelah Alda. Yah, mengabsen kehadirannya.
"Ban mobilku bocor, Na ...."
"Oh ...." Nana tergelak dan melanjutkan kalimat. "Tapi jika dilihat-lihat kalian co-"
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Menghentikan aktivitas bercakap antara Alda dan Nana. Juga memotong kalimat Nana yang sebentar lagi menemukan tanda titik.
Keduanya segera berlalu menuju kelas masing-masing sesuai jadwal mengajar.
*****
Ada yang berbeda dengan Ibnu Rajab hari ini. Mulai sejak ia datang, sampai melakukan kegiatan mengevaluasi persediaan stok barang di gudang yang akan didistribusikan, wajahnya tak pernah melunturkan binar senyuman.
Power melakukan pekerjaan bertambah dua kali lipat.
Mungkin sebagian anak buah yang menyadari sosok pemimpinnya introvert merasa terheran-heran dengan perubahan sikap Ibnu.
"Aku lihat, hari ini terlalu bersemangat. Ada kabar bahagia?" Reza merupakan partner kerja sekaligus orang yang paling dekat dengan Ibnu memilih untuk berterus terang.
"Tidak ada," jawab sekenanya.
Memang tidak ada kabar bahagia apa-apa seperti yang dituduhkan temannya, selain seorang Alda yang terpatri dalam ingatan.
Seberpengaruh itukah Andi Alda pada dirinya? Tutur kata wanita itu yang begitu lembut ternyata mampu meninggalkan bekas.
"Apa jangan-jangan ... ente mau kawin," seloroh Reza.
"Nikah dulu, Za, baru kawin!"
"Iya ... Iya ...."
Ternyata hal itu berlanjut sore hari, sepulang kerja sekitar pukul 4.30. Saat Ibnu memarkir kendaraan, bayangan sosok Alda keluar dari rumah Nana. Tampak wanita itu sedang berbincang dengan pria paruh baya.
Posisi rumah Nana berada tepat di depan rumah Ibnu, sehingga pria itu sedikit banyaknya mampu melihat kegiatan Alda dengan jelas.
Mungkin ia sering berkunjung ke tempat tersebut akan tetapi, Ibnu tak pernah menghiraukan sama sekali.
Seakan semesta berpihak kepadanya saat suara terdengar samar,
"Ibnu! Kemari, Nak!"
Yah, pemiliknya adalah Ayah Nana. Paruh baya yang kerap disapa Pak Mawan. Dia yang sedang berbincang dengan Alda.
Awalnya Ibnu tidak yakin, namun dengan gerakan jemari Pak Mawan yang bergerak ke arahnya memanggil, semakin memperkuat dugaan.
Tiba-tiba gugup melingkupi. Saat langkah semakin membawanya kian mendekat pada wanita manis pemilik lesung pipi.
"Iya, Om."
Ibnu berusaha bersikap tenang seperti biasa. Sesekali matanya melirik Alda. Begitupun sebaliknya. Pandangan wanita itu tak pernah luput dari pria dengan jambang tipis di wajah.
"Tolong, Nak. Lampu terasnya diganti."
Setelah disetujui oleh Ibnu, segera Pak Mawan beranjak ke dalam rumah. Menyisahkan mereka berdua yang saling terdiam.
Namun itu tak berlangsung lama ketika Alda membuka simpul keheningan dan memulai percakapan. "Jadi tinggal di depan, situ?"
Ibnu tersenyum. "Iya."
Alda menyengir. "Baru tahu, ternyata tetangga sama Nana. Pantas akrab."
Pria itu mengangguk. "Kami sudah seperti keluarga."
Selanjutnya, mereka kembali terdiam. Saling melempar tatapan satu sama lain.
"Mobilnya sudah oke?" Ibnu memindahkan topik. Kini giliran ia yang mengambil kendali. Seolah tak ingin semua berakhir.
"Iya! Setelah pulang dari sini, langsung dijemput."
"Syukurlah."
Tak lama kemudian, Pak Mawan keluar membawa bohlam LED. Disusul kehadiran Nana dan ibunya.
"Tangga ada di gudang, Nak."
"Oh iya, Om." Ibnu bergegas menuju tempat penyimpanan barang.
"Mau langsung pulang, Da?"
"Iya. Harus jemput mobil di bengkel."
Sayup-sayup Ibnu mendengar percakapan antara Alda dengan yang lain. Dia mempercepat gerakannya. Mengangkat tangga lipat aluminium menuju teras.
Sesampainya, ia sudah melihat Alda bersalaman dengan kedua orang tua Nana. Pak Mawan, berlanjut ke bu Marsa, dan terakhir ....
"Ibnu ... aku pamit ...."
.
.
.
.
.
LIKE, COMMENT DAN VOTE😁
Igeh : asriainunhasyim
Salam
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana