NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkenalkan, Nama Saya Liam Jeren

Suara desis katup udara dari tabung pemulihan kriogenik memecah keheningan bunker bawah tanah. Bersamaan dengan itu, kabut putih yang dingin mengalir keluar, menyelimuti lantai semen yang steril. Dari balik uap yang perlahan memudar, sesosok pria melangkah keluar. Ia tidak mengenakan sehelai benang pun kecuali perban medis tebal yang membungkus seluruh kepalanya seperti mumi.

Belladona, yang duduk di depan jajaran monitor dengan mata merah karena terjaga selama tiga puluh enam jam terakhir langsung menoleh. Ia meletakkan cangkir kopinya yang sudah dingin, lalu berjalan mendekat dengan gunting bedah di tangannya.

"Ini adalah pelepasan lapisan pelindung terakhir," kata Belladona, suaranya parau oleh kelelahan. "Jika struktur kalsium tiruan yang kita tanam di rahangmu ditolak oleh tubuh, wajahmu akan lumpuh permanen."

Pria itu tidak bersuara. Ia hanya berdiri tegak bagai patung lilin, membiarkan jemari Belladona yang dingin mulai menggunting kain kasa berlapis-lapis itu dari lehernya. Potongan perban pertama jatuh ke lantai dengan bunyi basah karena cairan antiseptik yang tersisa. Perlahan, misteri di balik balutan itu mulai tersingkap.

Kasa di bagian dagu terlepas, memperlihatkan garis rahang yang kokoh, tajam, dan simetris, jauh lebih tegas daripada struktur wajah Elikai Wijaya yang asli. Lapisan di pipi meluncur ke bawah, menampakkan permukaan kulit yang mulus tanpa pori-pori kasar, seolah-olah dipahat dari batu pualam terbaik oleh seniman Yunani. Luka bakar derajat tiga yang mengerikan itu telah menguap, digantikan oleh jaringan epidermis baru berpigmen pucat yang dingin.

Saat bagian mata terbuka, Belladona menahan napasnya sesaat.

Bentuk kelopak mata pria itu kini sedikit lebih turun di ujungnya, memberikan kesan mata elang yang tajam tetapi penuh dengan keangkuhan yang tak tersentuh. Ketika seluruh perban benar-benar luruh, sosok yang berdiri di bawah pendar lampu neon putih itu bukan lagi Elikai. Ia adalah perwujudan dari ketampanan yang berbahaya, tipe pria yang bisa membuat seluruh ruangan terdiam hanya dengan melangkah masuk, tapi sekaligus mengirimkan sinyal bahaya ke insting terdalam siapa pun yang menatapnya.

Belladona menyodorkan cermin perak berukuran besar ke depan pria itu.

Pria itu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam pantulan kaca. Jemari tangannya yang panjang dan dipenuhi kapalan bekas senjata bergerak, menyusuri tulang pipi barunya yang tinggi, lalu turun ke bibirnya yang tipis dan pucat. Tidak ada lagi sisa-sisa Elikai. Senyum ramah yang dulu biasa ia berikan pada ibunya kini mustahil terbentuk dengan struktur otot baru ini.

"Bagaimana rasanya?" tanya Belladona pelan, seolah takut merusak keheningan.

Pria itu membuka mulutnya. Saat suara itu keluar, Belladona sedikit terlonjak. Berkat operasi pita suara mini yang mereka lakukan, vokal pria itu kini terdengar lebih berat, beresonansi rendah di dada, dengan nada bariton yang terdengar sangat angkuh dan berwibawa.

"Sempurna," ucapnya datar. Matanya yang dingin tidak berkedip sedikit pun saat menatap monster tampan di dalam cermin. "Elikai Wijaya benar-benar sudah membusuk di dalam tanah."

Ia membalikkan badannya, berjalan menuju lemari pakaian di sudut ruangan. Di sana, Belladona sudah menyiapkan sebuah setelan jas tiga potong berwarna hitam arang yang dijahit khusus dari kain wol Italia terbaik, lengkap dengan kemeja sutra putih dan dasi sutra gelap.

Pria itu mengenakannya satu per satu dengan gerakan yang anggun tapi penuh perhitungan. Saat ia mengancingkan rompi bagian dalam dan membenarkan letak manset perak di pergelangan tangannya, auranya berubah total. Ia tidak lagi terlihat seperti agen elit yang biasa merangkak di lumpur perbatasan. Ia menjelma menjadi seorang predator puncak di dunia korporat, seorang pria kelas atas yang memandang rendah dunia dari puncak menara gadingnya.

"Mulai sekarang, panggil aku Liam," katanya sambil merapikan kerah jasnya. "Liam Jeren."

Belladona berjalan kembali ke meja kerjanya, jemarinya mulai menari di atas papan ketik, membuka sebuah brankas digital terenkripsi tingkat tinggi yang terhubung ke jaringan perbankan Swiss. Di layar monitor, deretan angka nominal bergulir cepat sebelum berhenti pada sebuah angka yang sangat fantastis.

"Uang hasil rampasan dari misimu di Cayman Islands dan pembersihan sel teroris internasional tiga tahun lalu sudah bersih," Belladona menjelaskan sambil menunjuk layar. "Sebelas juta dolar AS. Semuanya sudah dialihkan ke puluhan akun bayangan di bawah nama firma hukum fiktif di Panama."

Liam melangkah mendekati meja kerja Belladona, ia berdiri di belakang kursi wanita itu dengan kedua tangan diselipkan di saku celananya. "Aktifkan Jeren Corp malam ini. Aku ingin perusahaan investasi ini terdaftar di otoritas bursa dengan modal dasar yang cukup besar untuk membuat para konglomerat di ibu kota menoleh."

"Firma investasi?" Belladona menoleh, menatap wajah baru Liam dari bawah. "Gaizka Wijaya sangat berhati-hati dengan investor baru. Bisnis mafianya dibungkus dengan rapi di balik bendera Wijaya Group. Dia gak akan sembarangan nerima uang dari orang asing."

Liam tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang terlihat sangat menawan namun terasa sedingin es. "Gaizka adalah serigala yang rakus, Dona. Saat ini, Wijaya Group sedang gencar melakukan ekspansi ke proyek reklamasi teluk dan membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah masif untuk menyuap para pejabat. Jika ada seorang CEO muda, kaya raya, arogan, dan berasal dari latar belakang keluarga konglomerat luar negeri yang misterius datang membawa cek kosong... Gaizka akan merangkak mendekat seperti anjing kelaparan."

Belladona mengangguk, jarinya menekan tombol enter terakhir. Di layar, sebuah logo perusahaan berbentuk huruf 'J' yang tajam dan geometris berwarna perak metalik menyala terang. Di bawahnya tertulis 'Jeren Corporation - Global Investment & Venture'.

Semua dokumen legal, paspor internasional dari tiga negara berbeda, riwayat pendidikan palsu di Harvard Business School, hingga jejak digital masa lalu Liam Jeren sebagai anak tunggal dari taipan media yang tertutup di Eropa, kini telah aktif di seluruh dunia maya. Jika ada badan intelijen atau detektif swasta yang mencoba melacak latar belakang Liam Jeren, mereka hanya akan menemukan dinding kebohongan yang dibangun dengan sangat rapi oleh kejeniusan Belladona.

Liam berjalan menuju meja panjang di sisi lain bunker. Di atas meja itu, sebuah senapan rundukan jenis Barrett .50 BMG berlaras panjang tergeletak dalam kondisi terbongkar. Komponen baja hitamnya berkilau di bawah lampu.

Liam mengulurkan tangannya, mengambil bagian bolt action senjata tersebut, lalu merakitnya kembali dengan kecepatan memori otot yang luar biasa. Suara gesekan logam yang presisi bergema di dalam ruangan sunyi itu.

Klik. Srek. Cklek.

Dalam hitungan detik, senapan penghancur material itu sudah utuh di tangannya. Liam mengangkat senjata berat itu, membidikkannya ke arah dinding beton kosong di ujung ruangan, menatap melalui lensa teleskopik berkekuatan tinggi.

Dari balik meja kerja CEO yang mewah di siang hari, dan dari balik kekayaan fiktif Jeren Corp, ia akan menjerat paman dan mentornya. Tetapi saat malam tiba, ia akan kembali menjadi bayangan yang memegang senapan ditangannya, siap meledakkan kepala mereka satu per satu sebagai bentuk balas dendam.

"Pancingannya sudah siap," gumam Liam, menurunkan senjatanya perlahan. "Sekarang, mari kita lihat seberapa cepat tikus-tikus itu mencium baunya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!