Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang yang Tak Hilang
Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di tepian hutan tempat Mawar sempat berhenti tadi. Di sepanjang jalan pulang, tangan Bima tak pernah lepas dari bahu Mawar, menuntun langkah gadis itu seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, Mawar akan lenyap kembali tertelan kabut ingatan yang belum tuntas. Pikirannya berputar kencang, lebih cepat dari langkah kakinya sendiri. Pemandangan di sekitar sini, aroma tanah basah, suara gemuruh sungai di kejauhan, semua itu seakan menjadi pemicu yang tak terlihat, menumbuhkan potongan-potongan kenangan yang berbahaya.
"Tidak bisa begini. Tempat ini terlalu berbahaya. Setiap sudutnya menyimpan jejak masa lalu Mawar. Jika tetap di sini, cepat atau lambat ingatan Mawar akan kembali." batin Bima, rahangnya mengeras tanpa disadari.
Sesampainya di rumah, Bima menuntun Mawar duduk di kursi kayu di beranda, lalu sendiri masuk ke dalam, melangkah gelisah dari satu ujung ruangan ke ujung lain. Ia sudah berusaha menutupi segala, menyusun cerita seindah dan sekuat mungkin, namun bayangan yang tadi muncul di mata Mawar membuat Bima sadar, keamanan mereka di sini hanyalah sementara.
Malam itu, saat lampu-lampu mulai dipadamkan dan keheningan menyelimuti desa, Bima duduk di tepi tempat tidur, menatap Mawar yang sedang merapikan selimut. Cahaya lampu tidur yang remang membelai wajah gadis itu, tampak tenang, namun ada kerutan halus di dahinya yang tak kunjung hilang. Bima menarik napas panjang, lalu berbicara dengan nada yang sengaja dibuat lembut namun tegas.
"Sayang..." panggil Bima pelan.
Mawar menoleh, menatapnya dengan mata yang masih sedikit bingung, namun lembut. "Ya, Mas?"
Bima meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat seolah tak mau dilepaskan. "Aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku ingin kita pindah."
Alis Mawar terangkat pelan. "Pindah? Ke mana?"
"Ke sebuah tempat yang jauh dari sini," jawab Bima perlahan, menatap lurus ke manik mata gadis itu.
"Aku punya sebuah vila di pegunungan, jauh dari keramaian, jauh dari hutan dan sungai yang membuat kepalamu terasa sakit setiap kali kita ke sana. Di sana udaranya sejuk, tenang, tak ada suara yang bising, tak ada hal-hal yang bisa mengingatkanmu pada masa lalu yang menyakitkan."
Mawar terdiam, menunduk sejenak. Jemarinya memainkan ujung selimut yang dijahit rapi. "Bukankah di sini sudah cukup baik, Mas? Aku sudah mulai terbiasa..."
"Kau memang mulai terbiasa, tapi kepalamu belum benar-benar pulih," potong Bima lembut namun tegas. Ia mengangkat dagu Mawar perlahan, menatapnya dengan tatapan penuh keprihatinan yang dipentaskan begitu sempurna.
"Lihat saja tadi siang. Kau merasa pusing, melihat bayangan yang tidak ada. Aku takut hal itu terus terjadi, Sayang. Aku ingin kau sembuh sepenuhnya, tanpa ada hal apa pun yang mengganggumu. Di vila itu, hanya ada kita berdua. Tidak ada tetangga yang bertanya-tanya, tidak ada tempat yang membawa kenangan buruk. Hanya aku... dan kamu."
Mawar menatap Bima lama, berusaha mencari sesuatu di balik tatapan itu. Ada kehangatan di sana, namun entah mengapa, hatinya terasa sedikit mencekam.
"Apakah... ada alasan lain, Mas? Sepertinya kau ingin menjauhkanku dari tempat ini, bukan sekadar untuk kesehatanku." tanya Mawar pelan.
Jantung Bima berdegup kencang seketika, namun ia tak membiarkan kegelisahannya terlihat. Ia tersenyum, mengusap pipi gadis itu dengan lembut. "Mengapa kau berpikir begitu? Aku hanya ingin melindungimu. Di sini terlalu banyak hal yang membingungkan bagimu. Di sana, kau bisa tenang, bisa mengenal dirimu kembali... bersamaku."
Kata-kata itu terdengar begitu tulus, begitu penuh perhatian, sehingga keraguan di hati Mawar perlahan mereda. Gadis itu mengangguk pelan. "Baiklah... jika itu yang kau anggap terbaik untukku."
Bima tersenyum lega, lalu menarik Mawar ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Sayang. Kau tidak akan menyesal. Di sana, kita akan memulai semuanya dari awal. Hanya kita berdua."
***
Perjalanan memakan waktu seharian penuh, menembus jalan berkelok yang makin lama makin sepi, hingga akhirnya pemandangan berubah menjadi hamparan hutan pinus yang hijau dan kabut tipis yang melayang di antara pepohonan. Vila itu berdiri kokoh namun anggun di atas bukit, dikelilingi taman bunga yang terawat rapi, jauh dari pemukiman mana pun. Udara di sana sejuk dan bersih, hening kecuali suara burung yang berkicau di kejauhan.
"Indah sekali..." gumam Mawar saat melangkah masuk ke halaman vila, menatap bangunan itu dengan takjub.
Bima tersenyum bangga. "Ini rumah kita sekarang, sayang. Tidak ada yang akan mengganggu kita di sini."
Hati Bima jauh lebih tenang dari yang ia bayangkan. Tak ada tetangga yang datang bertamu, tak ada siapa pun yang menyebut nama orang yang tak seharusnya disebut. Bima mengurus segala kebutuhan Mawar sendiri, menyiapkan makanan kesukaannya, membacakan buku di sore hari, berjalan berdua di taman saat matahari mulai terbenam. Ia begitu penuh perhatian, begitu lembut, seakan tak ada satu hal pun yang kurang dalam perlakuannya.
Namun, semakin tenang suasana di sekitar mereka, semakin jelas perasaan yang Mawar sembunyikan di dalam hatinya. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, namun terasa begitu nyata, seperti benda kecil yang tersangkut di tenggorokan, tak bisa ditelan, tak bisa dimuntahkan.
Hari itu setelah makan malam yang dihabiskan dalam keheningan yang hangat, Bima duduk di samping Mawar di tepi tempat tidur. Ia menyisir rambut hitam gadis itu perlahan dengan jemarinya, lalu suaranya turun menjadi bisik yang lembut dan mendekat.
"Mawar..." panggil Bima, napasnya menyentuh telinga gadis itu. "Kita sudah menikah. Kita suami istri. Bolehkah kita..."
Tangan Mawar yang sedang merapikan lipatan selimut tiba-tiba menegang. Ia menarik diri sedikit, menunduk, pandangannya jatuh ke lantai. "Mas... aku..."
Bima mengangkat wajahnya perlahan, menatap Mawar dengan tatapan yang terasa begitu menuntut. "Apa yang kau ragukan, Sayang? Aku suamimu. Mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini."
"Aku tahu kau baik padaku, Mas. Kau merawatku, melindungiku... tapi entah mengapa, setiap kali kau mendekat seperti ini, hatiku terasa sesak. Ada sesuatu yang menghalangi. Seperti... seperti ada tembok tak kasat mata di antara kita." suara Mawar bergetar pelan.
Bima tersenyum tipis, namun ada ketegangan yang tersembunyi di baliknya. "Itu hanya karena ingatanmu belum kembali sepenuhnya. Kau belum merasa akrab dengan semuanya. Tapi perlahan-lahan, kau akan terbiasa. Kau akan merasakan betapa aku mencintaimu."
Ia mencoba memeluk Mawar, mendekapnya erat, namun tubuh gadis itu kaku, tidak merespons seperti yang diharapkannya. Mawar menepuk pelan dada Bima, menarik diri sedikit.
"Tolong, Mas... jangan sekarang," pinta Mawar, matanya memancarkan kebingungan yang tulus.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya... belum siap. Rasanya ada bagian dari diriku yang menolak. Seperti aku bukan milikmu sepenuhnya, padahal aku tahu kau bilang kita sudah menikah."
Wajah Bima berubah sedikit, namun ia berusaha menutupinya dengan senyum yang dipaksakan. "Siapa lagi yang bisa kau miliki selain aku, Mawar? Aku yang mencarimu saat kau hilang. Aku yang merawatmu saat tak ada orang lain yang tahu kau masih hidup."
"Aku tahu, dan aku berterima kasih padamu..." Mawar menatap Bima dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi rasa terima kasih itu berbeda dengan perasaan yang seharusnya ada antara suami dan istri, bukan? Aku ingin mencintaimu sebagaimana istri mencintai suaminya, aku sungguh ingin... tapi setiap kali kau menyentuhku lebih dekat dari ini, aku merasa takut. Takut pada apa yang tidak aku ketahui."
Bima menarik napas panjang, berusaha meredakan amarah yang tiba-tiba membara di dadanya. Ia mengelus pipi gadis itu sekali lagi, namun sentuhannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi ingatlah satu hal, Mawar. Tidak ada orang lain yang mencintaimu seperti aku. Tidak ada orang lain yang akan melakukan apa yang kulakukan agar kau tetap aman dan bahagia."
Mawar mengangguk, namun keraguan di matanya tak benar-benar hilang. "Aku akan berusaha, Mas. Aku sungguh berusaha."
Bersambung...