Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Tersirat
POV Revan
Kak Revan, demam kamu masih belum benar-benar turun. Sarapan dan minum obat. Maaf aku berangkat tidak pamit dulu. Jangan mengabaikan kesehatan diri sendiri.
Pasienmu. A
Aku meletakkan secarik kertas yang Alya tulis, lalu ia taruh di bawah mangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan asap. Satu butir obat dan satu gelas air juga sudah tersedia di samping nakas.
Pasien? lebih tepatnya, ia sudah naik pangkat malam tadi. Ia telah menjadi perawat untuk dokternya.
Ke mana dia pergi? Ini masih sangat pagi untuk Alya pergi mengajar. Padahal, malam tadi ia tidak cukup tidur. Malam tadi Alya benar-benar menjadi perawat yang menunaikan tugasnya dengan baik.
Dua jam sekali ia memastikan suhu tubuhku, memberiku air minum kala aku haus, dan memijat kepala sampai akhirnya menjelang subuh ia benar-benar terlelap sambil bersandar di bahuku.
Setiap pagi, posisi tidur Alya tidak pernah berubah. Ia akan terbangun dalam posisi yang sama—memelukku, kemudian berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Dia pikir aku tidak tahu, padahal selama ini aku tahu.
Hari ini aku harus segera berangkat ke rumah sakit. Kondisi Kaluna semakin memburuk akhir-akhir ini.
Aku bersiap, walaupun kondisi tubuh masih terasa remuk. Tapi aku harus segera menuju rumah sakit untuk memantau kondisi Kaluna. Gadis kecil yang memiliki semangat sangat tinggi.
Aku memakai kemeja biru muda yang telah disiapkan Alya. Kemudian memakan semangkuk bubur ayam serta meminum obat dan vitamin. Semuanya selesai, aku melirik tas kerja yang sudah disiapkan Alya di atas meja sofa, lalu mengeceknya sekilas.
Ternyata selama ini Alya tahu jadwalku hari ini. Apa saja yang aku bawa, ia begitu hafal. Bahkan hal kecil pun ia tahu.
Langkahku tiba-tiba terhenti saat melihat figura foto yang berada di atas nakas milik Alya. Sebuah lukisan tangan yang luar biasa. Langkahku semakin mendekat. Ternyata lukisan itu dari Kaluna, dan di bawahnya ada secarik doa yang Alya tulis.
Kaluna, Ibu Guru Alya belum pernah bertemu sama kamu. Tapi terima kasih telah menjadikan Ibu Guru Alya sebagai inspirasi untuk Kaluna menjalani hidup. Terima kasih banyak. Semoga Allah segera menyembuhkan rasa sakit yang berada di dalam tubuhmu.
Entah rasa apa yang kini aku rasakan, yang pasti ada sesuatu yang berdesir perih di dalam rongga dada ini.
Lama memandangi lukisan foto itu, akhirnya aku kembali melanjutkan langkah. Menuju rumah sakit.
“Dokter Revan, kondisi Kaluna semakin menurun. Serangkaian kemoterapi belum menunjukkan respons yang diharapkan.” Suster tiba-tiba menghadang langkahku yang baru saja menginjak lantai rumah sakit.
“Kondisinya sekarang bagaimana?” tanyaku sambil melangkah cepat menuju ruangan isolasi tempat Kaluna dirawat.
“Masih sadar, hanya saja tubuhnya sangat pucat dan lemas.”
“Saya akan memeriksanya.”
Tiba di ruangan Kaluna, gadis kecil itu terbaring lemah di atas bed. Ia tetap menyunggingkan senyum walau alat medis hampir menempel pada seluruh tubuhnya.
“Dokter, Kaluna masih sangat kuat, kok.”
Ketangguhan gadis kecil ini mengingatkanku pada Alya.
Aku mengangguk singkat. Senyum tipis aku berikan pada Kaluna. Wajahnya terlihat lebih pucat dari hari kemarin.
“Kaluna boleh minta sesuatu, enggak, Dokter? Jujur, hari ini Kaluna sangat merasa lelah sekali. Tapi Kaluna ingin kembali semangat untuk mencapai masa depan. Dokter bolehkah Kaluna minta bertemu dengan Ibu Guru Alya?”
🌸🌸🌸
Dokter, kondisi Kaluna semakin menurun...
Aku terus melajukan motor custom yang aku pakai, menekan gas, meliuk menepis kemacetan sampai tiba di tempat tujuan.
“Dokter Revan... kenapa ada dokter di sekolah kami? Dokter mau suntik, ya?” Ciara, anak didik Alya yang waktu itu kakinya terluka.
Aku melambaikan tangan padanya, menyuruhnya untuk mendekat kepadaku.
“Di mana kelas Ibu Guru Alya? Boleh panggilkan? Ada seseorang yang menjemput.”
“Pak Dokter pacarnya Bu Guru Alya?”
“Bukan. Saya... Cepatan, tolong panggilkan Ibu Guru Alya.”
Ciara berlari kecil menuju lorong sekolah, sementara aku menunggu di kursi halaman sekolah.
Tidak lama kemudian, Alya muncul dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat panik saat melihat keberadaanku. Sampai-sampai ia tidak fokus memperhatikan jalan yang ia pijak.
Bruk...
“Maaf, saya tidak sengaja, Bu Guru Alya.” Seorang pria tidak sengaja menabrak Alya. Pria itu tampak memegang erat lengan Alya dan mencoba menarik bahunya agar posisi tubuh Alya kembali seimbang.
“Oh, tidak apa-apa. Pak, saya juga sedang kurang fokus.” Alya masih membungkukkan tubuhnya, mengambil beberapa buku yang terjatuh.
Tapi pria itu malah terus memegang erat tangan Alya.
Aku segera berdiri. Rahangku tiba-tiba mengatup rapat. Entah mengapa, ketegangan kini menyerangku.
“Alya...” suaraku tegas. Aku melangkah tegap menuju Alya.
Pria itu masih memegang lengan Alya. Aku menariknya sampai tatapan kami bertemu beberapa detik. Pria itu terlihat seumuran denganku.
“Cepat, bereskan bukunya, Alya. Kita harus ke rumah sakit sekarang...”
“Siapa yang sakit, Kak? Bu Rahayu... apa Ayah?” Aku terus menggenggam erat pergelangan tangan Alya, menariknya menuju parkiran motor. Mengabaikan pertanyaan yang keluar dari bibir Alya.
Dua hal yang membebani pikiranku sekarang. Kondisi kesehatan Kaluna dan pria itu. Mengapa aku tidak menyukai pria tadi yang memegang tangan Alya.
“Kak, apa ada kabar Ayah masuk rumah sakit? Tolong dijawab.” Terlihat wajah Alya yang semakin panik, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
Aku menyerahkan helm padanya. Alya menerimanya, tapi ia tidak mengaitkan pengaitnya. Itu bahaya, helm bisa lepas terbawa angin. Aku bergerak cepat untuk mengaitkannya, tapi jemariku sedikit menyentuh pipinya. Guratan halus itu menyapu lembut punggung tanganku.
“Cepat! Bukan Ayah atau Ibu yang masuk rumah sakit. Kaluna meminta bertemu denganmu.”
Alya menaiki motor dengan hati-hati, tapi tangannya tidak berani untuk berpegangan sedikit pun padaku.
Aku menarik gas dan melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Jarak sekolah ke rumah sakit cukup jauh. Cuaca sangat mendung. Jangan sampai kami terjebak hujan dan semakin mengulur waktu.
“Kak Revan... jangan ngebut!” terdengar suara teriakan Alya di belakang. Mungkin dia takut saat aku menyalip beberapa mobil besar.
Jalanan sangat macet. Pada akhirnya, aku memilih jalan alternatif walau lebih jauh, tapi bisa menghindari kemacetan.
Jalan alternatif sangat sepi, berupa kebun sawit dan kelapa yang berjejer di sepanjang jalan. Aku semakin menarik gas dan mengoper gigi dengan cepat. Operan gigi itu membuat Alya beberapa kali terhuyung ke depan. Membuat helmnya beradu pelan dengan helm yang kupakai.
Aku semakin menarik gas, sampai akhirnya aku merasakan tangan yang melingkar di perutku. Serta kepala yang bersandar di punggungku.
“Kak Revan, maaf, tapi aku takut.” Suaranya pelan karena berlawanan dengan bising angin.
Aku membiarkan Alya untuk melingkarkan tangannya, memegang erat kemeja yang aku pakai.
Duar...
Petir kencang, disusul dengan hujan deras. Tapi aku tetap melajukan motor. Mulai mengendurkan gas karena jalan tidak bisa terlihat jelas.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya...