Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan Kristal Jantung dan Pengorbanan Sang Veteran
CRAAAASH! BZZZZZZT!
Ruang Laboratorium Terlarang yang berada puluhan meter di bawah tanah Akademi Grandoria berguncang hebat, seolah-olah bumi di bawahnya dipaksa terbelah menjadi dua. Pusaran energi hasil bentrokan antara Celestial Sanctum berkekuatan penuh milik Monica dan sihir kegelapan kuno milik sang wanita tanpa topeng menciptakan badai mana yang menghancurkan pilar-pilar batu penyangga ruangan. Debu, pecahan kristal, dan percikan api merah-emas berhamburan liar di udara, membakar jubah dan menyayat kulit siapa pun yang berada di dalamnya.
Tekanan balik (rebound) dari proses Kontra-Segel terasa sangat menyiksa. Darah segar menetes pelan dari sudut bibir Monica, menetes membashi permukaan kristal safir di tongkatnya. Rasa sakit yang luar biasa menusuk seluruh jaringan pembuluh darahnya, seolah-olah mana di dalam tubuhnya mendidih secara paksa. Namun, jemarinya memegang gagang tongkat itu dengan cengkeraman mati. Ia tidak membiarkan kakinya bergeser walau satu milimeter pun.
Di belakangnya, empat pasang tangan menggenggam pundak dan lengannya erat-erat. Reno menggeram menahan beban tekanan fisik yang menghantam armor besinya hingga membara merah; Kazuma memejamkan mata rapat-rapat, mengalirkan seluruh sisa sihir apinya hingga pembuluh darah di lehernya menonjol; Elena menahan rasa sakit di dadanya seraya memfokuskan pendaran cahaya panahnya; sementara Danis menyalurkan sihir bayangannya untuk menstabilkan tumpuan kaki mereka di atas tanah yang retak-retak.
"Tahan... sedikit lagi!" teriak Monica, suaranya parau namun membelah suara gemuruh ledakan. "Jangan biarkan alirannya terputus!"
"Tidak mungkin... Ini tidak mungkin terjadi!" jerit wanita tanpa topeng itu. Suaranya dipenuhi ketakutan dan keputusasaan yang mendalam.
Tubuhnya yang terhubung dengan kristal jantung mekanis mulai bergetar liar. Simbol bekas luka bakar veteran Grandoria di separuh wajahnya kini memancarkan cahaya merah pekat yang membara, seolah-olah sihir kegelapan yang ia tampung selama puluhan tahun berbalik merusak organ tubuhnya sendiri. Kristal raksasa di belakangnya yang tadi meminum mana dari jalur bumi akademi kini berangsur-angsur berubah warna—dari merah darah menjadi emas murni akibat serapan Celestial Sanctum.
"Sihir yang kubangun selama dua puluh tahun... dendam teman-temanku yang tewas di Lembah Kelam... tidak boleh hancur di tangan bocah-bocah seperti kalian!" wanita itu meraung histeris.
Ia memutus sambungan saraf energinya secara paksa dari kristal jantung, lalu menerjang maju secara nekat menuju Monica. Di tangan kanannya, sebuah belati hitam yang terukir Miasma murni tercipta secara instan, ditujukan tepat ke leher sang ketua Tim Vanguard.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh ketua kami!" teriak Reno.
Dengan sisa tenaga yang ada, Reno melompat ke depan Monica. Tanpa sempat mengangkat perisainya, Reno menggunakan tubuh berzirah besinya untuk menahan benturan langsung dari wanita tersebut.
STAB!
Belati Miasma hitam menghantam pelat dada armor Reno dengan keras. Percikan api emas dan asap hitam meletus dahsyat. Kecepatan dan daya hancur tebasan itu membuat perisai emas Reno retak, dan benturan fisiknya melempar Reno serta wanita itu sejauh belasan meter ke dinding batu laboratorium.
BOOOM!
"Reno!" teriak Elena dan Kazuma serempak.
Reno tergeletak di antara puing batu, terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Namun, ia menyunggingkan senyum tipis di balik helmnya yang pecah sebelah. "Aku... aku baik-baik saja! Zirah Aegis of the Iron Titan milikku... masih menahannya!"
Di ujung lain ruangan, wanita tanpa topeng itu terkapar tak berdaya. Dampak dari memutus ikatan kristal secara paksa dan menghantam zirah pertahanan tertinggi milik Reno telah menghancurkan saluran mana di tubuhnya sendiri. Ia mencoba berdiri, tetapi kedua kakinya gemetar dan runtuh.
Di saat bersamaan, proses Kontra-Segel yang dijalankan Monica mencapai puncaknya.
CRACK... CRACK... CRAAAASH!
Kristal jantung mekanis raksasa di tengah laboratorium meletus hebat. Namun bukannya melepaskan ledakan Miasma beracun yang menghancurkan ibu kota, ledakan itu memuntahkan gelombang cahaya emas murni yang sejuk dan menyegarkan. Gelombang cahaya tersebut menyapu seluruh lorong subterranean, memancarkan aura pemulihan yang merambat naik melalui urat bumi menuju alun-alun dan gerbang utama Akademi Grandoria.
Suasana di Luar: Garis Depan Pertahanan
Di atas tanah, di gerbang utama akademi yang dipenuhi asap dan puing pertempuran, efek dari hancurnya kristal jantung langsung terasa seketika.
Naga Hitam bersayap satu yang sedang bertarung melawan Profesor Selene dan Profesor Gareth di udara mendadak meraung kesakitan. Pasokan energi gerhana yang menyokong kekuatannya terputus total dari bawah tanah. Aura Miasma hitam yang membungkus tubuh naga itu menguap cepat, membuat sisik-sisik purbanya membeku oleh sihir es milik Profesor Vane dan akhirnya dihantam oleh petir perak raksasa.
BOOOOOOM!
Tubuh raksasa Naga Hitam jatuh terhempas ke tanah di luar barikade perbatasan, menciptakan dentuman kolosal yang merobohkan belasan pohon pinus. Makhluk purba itu tidak mati, tetapi tubuhnya menyusut dan tertidur lelap akibat kehabisan energi Miasma untuk bergerak.
Sementara itu, pasukan berzirah hitam dan monster-monster Miasma milik Ordo Umbra mulai hancur menjadi abu satu per satu begitu gelombang cahaya emas Celestial Sanctum milik Monica menyembur keluar dari sela-sela tanah akademi.
Kepala Sekolah Alaric menghentakkan tongkat naganya ke tanah, menahan sisa-sisa angin pertempuran. Wajah tuanya yang penuh keringat menatap ke arah Menara Utama, lalu tersenyum lega.
"Mereka berhasil..." gumam Alaric dengan suara hangat. "Anak-anak itu... telah menyelamatkan Grandoria."
Kembali ke Laboratorium Terlarang
Asap tebal dan debu perlahan menyusut di dalam Laboratorium Terlarang. Bau belerang dan racun telah sepenuhnya tergantikan oleh aroma sejuk khas sihir cahaya. Sisa-sisa dinding ruang laboratorium yang hancur memperlihatkan celah langit malam di mana bulan merah perlahan-lahan mulai memudar, berganti menjadi pendar perak alami.
Monica menyapukan tangannya untuk membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya yang berantakan. Walau tubuhnya gemetar karena kehabisan mana, ia berjalan perlahan mendekati wanita tanpa topeng yang terkapar di dekat pilar roboh. Kazuma, Elena, dan Danis membopong Reno yang terhuyung-huyung di belakangnya.
Wanita itu menatap langit-langit yang terbuka dengan mata melamun. Cahaya merah di dadanya telah padam total, menyisakan napas yang pendek dan parau.
"Begitu... rupanya..." bisik wanita itu lemah saat melihat bayangan Monica berdiri di sisinya. "Sihir pemulihan... bukan sihir penghancur..."
Monica berlutut di samping wanita veteran tersebut. Ia tidak mengarahkan tongkatnya, melainkan mengalirkan sisa energi sejuk dari Soul Aegis untuk meredakan rasa sakit akibat sirkulasi mana wanita itu yang pecah.
"Dendammu pada masa lalu akademi mungkin punya alasan," kata Monica pelan namun tegas.
"Tapi mengorbankan orang-orang yang tidak tahu apa-apa hanya akan melahirkan wanita bertopeng perak baru di masa depan. Lingkaran setan itu harus berhenti di generasi kami."
Wanita itu menatap mata biru Monica yang jernih. Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, sorot mata penuh kebencian dari sang mantan ketua Tim Vanguard itu melunak.
Air mata bening menetes melewati bekas luka bakar di pipinya, membasahi kain jubah hitamnya yang bersimbah debu.
"Dua puluh tahun lalu... kami juga menginginkan kedamaian ini..." bisik wanita itu dengan suara yang kian memelan. "Jagalah teman-temanmu, Monica... Jangan biarkan... akademi ini memisahkan kalian..."
Perlahan, mata wanita itu terpejam.
Kekuatan sihir kegelapan yang mengikat nyawanya menguap sepenuhnya. Ia tidak tewas oleh serangan tebasan, melainkan menyerah pada kehangatan sihir yang gagal ia dapatkan selama puluhan tahun.
Danis melangkah maju dan menutup mata wanita itu secara perlahan seraya menyarungkan belati kembarnya.
"Pertempuran di akademi... telah berakhir."
"Belum sepenuhnya," potong Kazuma seraya menunjuk ke arah peta sihir yang kini redup di tanah. "Wanita ini hanyalah salah satu jenderal dari Ordo Umbra. Pimpinan tertinggi mereka dan markas pusat Ordo di luar kerajaan masih utuh."
Reno mengusap darah di dagunya seraya tersenyum bangga. "Tapi malam ini, kita menang. Akademi Grandoria masih berdiri kokoh!"
Monica berdiri tegak, menggenggam tongkat safirnya dan menatap ke arah empat sahabatnya yang tersenyum padanya. Meski tubuh mereka penuh luka dan kelelahan luar biasa, ikatan di antara kelima anggota Tim Vanguard kini terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Pertempuran besar di gerhana bulan merah di Episode 18–21 telah usai dengan kemenangan gemilang di pihak Akademi Grandoria. Namun, ini barulah awal dari perjuangan mereka yang sesungguhnya. Babak baru untuk melangkah keluar dari batas kerajaan dan memburu pimpinan utama Ordo Umbra telah menanti mereka di episode-episode mendatang!