NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5_Retakan Pada Mahkota Sang Penguasa

Bab 5_Retakan Pada Mahkota Sang Penguasa

Kata-kata Lea menggantung di udara aula yang dingin bagaikan belati tajam yang menghujam tepat di pusat kesombongan Teo Ozawa.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Reno dan Bagas yang berdiri beberapa meter di belakang Teo menghentikan pergerakan mereka seketika. Kamera ponsel di tangan salah satu anggota geng terabaikan begitu saja. Mereka semua terpaku, tidak percaya dengan keberanian ekstrem dari siswi kelas 11 yang selama ini mereka anggap tak berdaya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA Ozawa School, seorang Teo Ozawa dibuat membisu di depan gengnya sendiri.

Rahang Teo mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ketiadaan rasa takut di mata Lea membuat rasa superioritas yang selama ini ia agungkan hancur berkeping-keping. Ego sang tiran terusik hingga ke batas maksimal.

`"Kamu... benar-benar sudah gila, Alia,"` desis Teo, suaranya kini sangat rendah dan bergetar menahan murka.

Teo melangkah maju satu sentimeter lagi, mencoba menggunakan perawakannya yang tinggi tegap untuk menghimpit Lea secara fisik. Namun, Lea tidak bergeming. Ia tidak mundur setengah langkah pun, membiarkan dadanya hampir bersentuhan dengan blazer Teo.

`"Gila?"` Lea terkekeh pelan—sebuah suara tawa yang amat tenang namun sarat akan cemoohan. `"Bukan aku yang gila, Teo. Kamu hanya tidak terbiasa menghadapi seseorang yang tidak bisa kamu beli dengan uang atau kamu takut-takuti dengan nama keluargamu."`

Lea lalu melirik dokumen pembatalan beasiswa yang masih tergeletak di lantai marmer. Tanpa sedikit pun rasa ragu, Lea mengangkat kaki kanan berbalut sepatu pantofelnya, lalu menginjak tepat di atas nama `Teo Ozawa` yang tertera di lembaran tersebut.

`SRAAK.`

Lea menggeser kakinya, sengaja mengoyak dokumen resmi itu hingga robek dan ternoda jejak sepatu.

Tindakan penistaan terbuka itu membuat Bagas menahan napas. `"Gila... dia beneran nyari mati..."`

Teo membelalak. Manik matanya yang gelap berkilat dengan kemarahan liar yang membakar. Tangannya terangkat melayang di udara, refleks hendak mencengkeram bahu Lea untuk menegaskan dominasinya.

Namun sebelum jari-jari Teo sempat menyentuh seragamnya, Lea menarik tangannya sendiri secara kilat dan menepis tangan Teo dengan sentakan yang keras dan presisi.

`BAM!`

Kepakan tangan Lea yang menghentak menghasilkan suara tamparan udara yang nyaring di dalam aula.

`"Jangan pernah sentuh aku tanpa izin,"` ancam Lea, suara dan tatapan matanya begitu pekat hingga membuat gerakan Teo terhenti di udara. `"Masa-masamu bisa menyentuh dan mempermainkanku sesuka hatimu sudah berakhir tiga minggu yang lalu."`

Lea melangkah mundur satu tapak, membetulkan letak tali ranselnya di bahu dengan gerakan yang sangat anggun. Ia menatap Teo yang masih mematung dengan posisi tangan menggantung.

`"Aku akan kembali ke kelas,"` kata Lea datar, memutar tubuhnya tanpa menunggu balasan. `"Dan saran saya, Kak Teo yang terhormat... bersihkan lantai aulamu dari sampah kertas ini."`

Lea berjalan melangkah meninggalkan tengah lapangan basket. Suara ketukan tumit sepatunya memantul tenang di dinding aula yang redup, menghancurkan sisa-sisa harga diri sang penguasa sekolah yang kini ditinggalkan di belakang.

Reno melangkah mendekati Teo yang masih berdiri kaku di tengah lapangan. Wajah Reno pucat pasi. `"Teo... kamu gak apa-apa? Kita... kita perlu laporkan ini ke pihak yayasan?"`

`"Tutup mulutmu, Reno!"` bentak Teo kasar. Suaranya menggelegar menghantam ruang aula yang sunyi.

Teo menunduk, menatap robekan kertas yang menempel di ujung sepatunya. Napasnya memburu keras. Rasa murka, ketidakpercayaan, dan rasa penasaran yang teramat dalam kini bercampur menjadi satu adonan beracun di dalam dadanya.

Gadis itu bukan lagi Alia yang mengenakan gaun murah saat acara taruhan. Gadis itu adalah sosok asing yang berbahaya—sebuah ancaman nyata yang baru saja meretakkan mahkota kekuasaannya.

Teo mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

`"Cari tahu semua hal tentang dia setelah hari tragedi itu,"` perintah Teo dingin pada Bagas dan Reno, matanya mengunci pintu aula yang baru saja tertutup. `"Rumahnya, rumah sakit tempat dia dirawat, siapa saja yang dia temui... semuanya. Jangan sampai ada satu detail pun yang terlewat!"`

Teo mengukir senyum miring yang gelap di wajah tampannya. `Siapa pun kamu yang ada di dalam tubuh Alia... aku akan menguliti rahasiamu sampai kamu sendiri yang memohon untuk dihancurkan.`

Di luar gedung olahraga, Lea berjalan menyusuri koridor samping yang sepi. Begitu ia berada di area yang benar-benar bebas dari kamera CCTV dan jangkauan anak-anak Ozawa School, Lea menghentikan langkahnya.

Ia menyandarkan punggungnya ke dinding marmer yang dingin, membiarkan napasnya terhembus panjang. Jari-jemari tangannya yang tadi terkepal erat kini perlahan mengendur, memperlihatkan telapak tangan yang sedikit memerah.

`"Ronde pertama selesai,"` gumam Lea pada dirinya sendiri.

Lea tahu betul, reaksinya di aula tadi telah memicu perang terbuka. Teo yang murka tidak akan tinggal diam dan pasti akan mulai menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakangnya secara mendalam. Jika Teo sampai menemukan keberadaan Alia yang asli di rumah sakit, seluruh penyamarannya akan runtuh.

Lea menarik ponsel dari saku blazernya, membuka menu kontak terenkripsi, lalu mendial sebuah nomor internasional.

Hanya butuh dua kali nada panggil sebelum suara seorang pria dewasa bernada berat menjawab di ujung telepon:

`"Lea? Bagaimana keadaan di sana? Kamu baru saja tiba di Jakarta hari ini, kan?"`

`"Keadaannya bergerak lebih cepat dari perkiraan, Paman,"` jawab Lea dingin, menatap lurus ke arah gerbang sekolah di kejauhan. `"Teo Ozawa sudah mulai curiga. Saya butuh Paman mengunci seluruh data medis Alia di rumah sakit kota sekarang juga. Buat identitas palsu bahwa Alia Anggita tidak pernah punya saudara kembar."`

Suara di balik telepon terdiam sejenak sebelum menghela napas. `"Sudah diatur. Tapi ingat Lea, keluarga Ozawa punya jaringan intelijen swasta yang kuat. Kamu bermain di dalam sarang serigala."`

`"Bagus,"` sudut bibir Lea terangkat, mengukir senyuman tipis penuh misteri. `"Karena serigala terbaiklah yang akan menguasai sarang ini."`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!