NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Kamu Mau Cium Aku Lagi?

Pintu 27-02 terbuka.

Amaya muncul dengan kaus longgar dan celana pendek rumah. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa riasan.

"Koh Sebas?"

Tatapannya turun ke kantong makanan. "Oh."

"Kamu menulis alamat yang salah."

"Aku baru sadar setelah aplikasi bilang pesanannya tiba." Amaya menerima satu kantong, lalu membiarkan dua lainnya tetap di tangan Sebastian. "Banyak banget, kan?"

"Kamu yang memesan."

"Aku kira porsinya kecil."

Sebastian menyerahkan semua kantong. "Selamat malam."

"Tunggu."

Amaya menangkap pergelangan tangannya. "Aku nggak mungkin menghabiskan ini sendiri."

"Simpan untuk besok."

"Makanan bakar nggak enak dipanaskan ulang. Masuk sebentar."

"Aturan ketiga. Jangan menggangguku tanpa urusan."

"Mencegah pemborosan makanan itu urusan penting."

Sebastian menarik tangannya, tetapi Amaya sudah memegang lengan bajunya dengan dua tangan.

"Aku pernah latihan sumo," katanya.

"Bohong."

"Mau menguji?"

Ia menarik sekuat tenaga. Sebastian bisa menahan diri dengan mudah, tetapi jika melakukannya Amaya mungkin jatuh. Akhirnya ia maju satu langkah dan melewati ambang.

"Menang," kata Amaya puas.

Unit 27-02 tidak lagi terlihat seperti apartemen kosong. Aroma persik mengalir dari diffuser. Film hitam putih diproyeksikan ke dinding. Selimut kuning susu menutupi sandaran sofa, dan lampu utama diganti cahaya meja yang hangat.

Tiga koper masih berdiri di dekat kamar, tetapi ruang tamu sudah terasa ditempati. Ada sandal berbentuk domba di bawah meja, dua bantal warna krim, dan vas kecil berisi bunga yang mungkin dibeli dari lobi.

Unit Sebastian di seberang memiliki denah hampir sama. Bedanya, rumahnya didominasi hitam, abu-abu, dan permukaan kosong. Tidak ada benda yang dipilih hanya karena lucu. Tidak ada aroma selain kopi atau disinfektan tangan.

Tempat Amaya seperti kebalikan yang sengaja dirancang untuk mengganggunya.

Sebastian melihat sekeliling. "Kamu baru pindah beberapa jam."

"Aku kerja cepat."

"Kamu merencanakan ini."

"Merencanakan makan malam? Tentu. Alamat salah itu kecelakaan."

Hanya bagian terakhir yang tidak sepenuhnya benar.

Amaya memang salah mengetik satu angka. Namun ia sudah melihat kesalahan tersebut sebelum pengantar tiba dan memutuskan tidak memperbaikinya. Sebuah pesan bisa dikirim ke aplikasi dalam hitungan detik. Membiarkan makanan tiba di 27-01 jauh lebih menarik.

Ia telah tinggal di sini kurang dari satu hari dan sudah menemukan bahwa tiga aturan Sebastian memberi banyak ruang untuk permainan. Tidak membawa orang pulang bukan masalah jika pemilik pintu seberang datang sendiri. Tidak membuat suara tengah malam masih bisa dipatuhi. Dan `urusan penting` dapat ditafsirkan selebar yang ia mau.

Sebulan akan cukup panjang untuk memainkan satu cerita berbeda setiap malam.

Amaya menempatkannya di kursi tunggal, lalu membuka sate daging, cumi bakar, jagung, dan dua kotak nasi berbumbu. Cabai serta jintan memenuhi udara.

"Terlalu pedas," kata Sebastian setelah satu gigitan.

Amaya mendorong segelas air kepadanya. "Katanya dokter bedah tahan tekanan."

"Tekanan bukan cabai."

"Sama-sama bikin berkeringat."

Sebastian menatapnya, lalu mengambil air. Ujung telinganya sedikit merah karena pedas, hal kecil yang membuat wajah dinginnya terlihat lebih manusiawi.

"Kamu selalu makan seperti ini?"

"Kalau sedang senang."

"Lambungmu akan protes."

"Koh Sebas selalu mengubah makan malam jadi konsultasi medis?"

"Hanya saat pasiennya sengaja merusak diri."

"Aku bukan pasien."

"Besok bisa jadi."

Amaya memberikan sepotong jagung tanpa cabai ke piringnya. "Ini versi usia tiga puluh tahun. Lembut dan aman."

"Aku bisa pulang sekarang."

"Tapi nggak pulang."

Sebastian mengambil jagung tersebut dan tidak menanggapi.

"Ini baru benar."

"Lidahmu akan mati rasa."

"Kalau mati, ada dokter."

Amaya mengeluarkan empat kaleng bir dari kulkas.

"Tidak. Besok kamu masuk pukul tujuh."

"Satu kaleng. Untuk merayakan pindahan."

Sebastian hampir tidak pernah minum. Namun satu kaleng di rumah sendiri tidak akan mengganggu kesadaran, dan Amaya sudah membuka kalengnya dengan bunyi nyaring.

"Satu," ia mengingatkan.

"Baik, Guru."

Sebastian membuka kalengnya sendiri. Rasa pahit dingin menyapu sisa cabai. Ia berniat minum beberapa teguk, tetapi Amaya mengangkat kaleng.

"Untuk rumah baru."

"Untuk bangun pukul enam."

"Untuk tetangga galak yang ternyata mau datang."

"Aku datang karena alamatmu salah."

"Tetap datang."

Kaleng mereka bersentuhan. Bunyi kecil itu terdengar terlalu intim di ruang yang hanya diisi dua orang.

Film lama bergerak tanpa suara besar. Mereka makan di meja rendah. Untuk beberapa menit, percakapan hanya tentang rasa pedas dan perabot yang belum datang.

"Kenapa film ini?" tanya Sebastian.

"Tokoh perempuannya jatuh cinta kepada laki-laki yang nggak boleh dia cintai."

"Ganti."

"Kenapa? Takut terpengaruh?"

"Alurnya klise."

"Orang suka cerita klise karena tetap terjadi di dunia nyata."

Amaya menatap layar, tetapi kalimat itu dibiarkan menggantung di antara mereka. Sebastian mengambil satu tusuk daging lagi, pura-pura tidak menangkap sasaran.

Di film, kedua tokoh berdiri di stasiun, terpisah oleh jalur yang tidak boleh diseberangi. Di ruang tamu, hanya meja rendah memisahkan Amaya dan Sebastian.

Jarak yang jauh lebih mudah dilanggar.

Amaya menghabiskan kaleng pertama lebih cepat. Ketika Sebastian melihat lagi, kaleng kedua sudah terbuka.

"Kamu bilang satu."

"Aku bilang baik. Bukan janji."

"Itu permainan kata."

"Dalam negosiasi, pilihan kata penting."

"Aku akan menambahkan aturan: semua jawabanmu harus punya arti langsung."

"Terlambat. Kesepakatan sudah ditutup."

Sebastian meraih kaleng kedua, tetapi Amaya memindahkannya ke sisi lain. Ia harus membungkuk melewati meja untuk mengambilnya. Perempuan itu tertawa dan menyembunyikan kaleng di belakang punggung.

"Berikan."

"Bilang tolong."

"Amaya."

"Itu nama, bukan kata sopan."

Sebastian menatap pipinya yang semakin merah. Perempuan itu jelas mulai kehilangan keseimbangan, tetapi matanya masih fokus dan ucapannya tetap sadar. Ia tidak akan membiarkannya minum lebih banyak.

"Tolong berikan."

Amaya menyerahkan kaleng. "Dokter bisa sopan juga."

Pipinya mulai merah. Ia bersandar pada sofa dan menatap Sebastian tanpa malu.

"Koh Sebas begini lebih bagus."

"Begini bagaimana?"

"Kaus putih, celana rumah, rambut setengah basah, nggak pakai kacamata." Amaya menggerakkan telunjuk dari kepala ke kakinya. "Seperti suami orang yang menunggu istrinya pulang."

"Kamu mabuk."

"Belum. Cuma jujur."

"Kalau kejujuranmu seperti ini setelah dua kaleng, kamu nggak boleh minum di depan orang lain."

"Kenapa?"

"Kamu bicara sembarangan."

"Atau Koh Sebas nggak mau orang lain mendengar aku memuji mereka?"

Sebastian tidak menjawab.

Amaya menyandarkan dagu di lutut. "Tenang. Nggak semua orang terlihat seperti suami idaman waktu pakai kaus putih."

"Berhenti menyebut itu."

"Malu?"

"Mengganggu."

"Seperti aku menangis?"

"Lebih buruk."

Amaya tertawa lagi. Tawa itu ringan, tanpa pertahanan yang biasa ia gunakan di rumah Halim. Sebastian mendapati dirinya menatap terlalu lama.

Sebastian meneguk birnya. Setengah kaleng membuat panas tipis naik ke leher, tidak cukup mengaburkan pikiran tetapi cukup melonggarkan pagar yang biasanya rapat.

"Berhenti minum."

Ia mengambil kaleng dari tangan Amaya.

"Pelit."

"Besok kalau terlambat, nilaimu berkurang."

"Berapa nilai menculik bir murid?"

"Tambah lima untukku."

Amaya tertawa dan mencoba meraihnya. Tubuhnya miring terlalu jauh. Siku luput dari sandaran, kepalanya hampir menghantam sudut meja.

Sebastian bergerak lebih cepat.

Sudut meja berhenti kurang dari sejengkal di bawah kepala Amaya. Kalau Sebastian terlambat, pelipisnya mungkin terbentur keras.

"Ini alasan kamu nggak boleh minum," katanya.

"Ini alasan aku butuh tetangga dokter."

"Aku bukan layanan darurat pribadi."

"Tapi tanganmu cepat."

Amaya menyentuh lengan yang menahan pinggangnya. Otot di bawah kaus mengeras, bukan karena berat tubuhnya saja.

Sebastian seharusnya melepaskan begitu ia stabil. Ia tidak melakukannya.

Kaki Amaya terselip di antara kakinya. Selimut kuning jatuh dari sofa dan menutup sebagian pangkuan mereka. Film terus bergerak di dinding, tetapi tak satu pun melihat layar.

Satu tangan menahan belakang kepalanya, tangan lain melingkari pinggang. Amaya jatuh ke dadanya, bukan ke meja.

"Diam," katanya saat perempuan itu hendak bangun. "Kamu pusing."

"Nggak. Ruangannya cuma bergerak sedikit."

"Itu namanya pusing."

Amaya tetap berada dalam pelukannya. Dari jarak sedekat itu, ia bisa mencium aroma sabun di leher Sebastian dan melihat garis tipis lelah di bawah matanya.

"Koh Sebas."

"Hm?"

"Tutup mata."

Sebastian menatapnya. "Tidak."

"Takut?"

"Aku tahu trikmu."

"Kali ini beda."

"Kamu mengatakan itu dengan wajah orang yang akan berbuat jahat."

"Kalau takut, jangan tutup."

Amaya memberi pilihan itu dengan jelas. Ia tidak mendorong kepala Sebastian atau menarik kerahnya. Telapak di pipinya hanya menunggu.

Pria itu tetap bisa berdiri dan pulang.

Ia justru memiringkan wajah ke sentuhan tersebut.

Amaya menyentuh pipinya. "Tutup saja. Kalau nggak suka, mundur."

Sebastian seharusnya memindahkannya ke sofa dan pulang. Sebaliknya, kelopak matanya turun.

Amaya hampir tertawa. Pria ini bisa mengatur rumah sakit, tetapi patuh ketika diminta menutup mata.

Ia mendekat perlahan. Sebastian merasakan napas hangat menyentuh bibirnya. Tangannya di pinggang Amaya mengencang, lalu ia menunduk.

Ujung hidung mereka bersentuhan.

Sesaat sebelum bibir bertemu, telapak Amaya menutup mulutnya.

Sebastian membuka mata.

Mata Amaya melengkung penuh kemenangan.

"Kamu mau menciumku lagi?" bisiknya. "Lupa waktu pesta bilang apa?"

Tubuh Sebastian membeku dengan tangan masih melingkari pinggangnya.

Bir yang diminumnya tidak cukup untuk menghapus kesadaran. Ia tahu persis telah menutup mata, menunduk, dan mengejar bibir perempuan itu atas kemauannya sendiri.

Lebih buruk lagi, telapak yang menghalangi mulutnya tidak menghentikan keinginan tersebut.

Ia masih ingin melanjutkan.

Dan kemenangan di mata Amaya menunjukkan bahwa perempuan itu mengetahui semuanya tanpa perlu mendengar pengakuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!