NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 Flashback Jurang Lembaran Naga

FLASHBACK. MAHKOTA SIHIR PERTAMA.

UJIAN ANGIN, JURANG KEMATIAN, LEMBARAN NAGA.

Tiga hari setelah dilempar ke jurang kematian, Lembaran Naga. Dalam keputusasaan, memeluk erat kehancuran, berselimut rasa takut karena aura kuat yang menguar dari sosok bersembunyi di dalam gelap.

Gelap. Dingin. Angin.

Tiga kata itu yang terus berputar di kepala Aurelia. Tubuhnya terasa mati rasa setelah jatuh selama satu hari penuh ke dalam jurang terdalam benua ini.

"Apakah aku akan mati? Jadi, untuk apa jiwaku ditarik ke dunia ini? Jika berakhir dengan kematian. Dunia sungguh tidak adil terhadap orang yang lemah sepertiku." Aurelia bergumam pelan, suaranya serak dan lirih. Terdengar seperti bisikan tanpa tenaga.

Entah keajaiban atau mungkin kutukan, membuatnya tetap bernapas setelah tubuh kecil itu menghantam tanah hitam jurang Lembaran Naga.

Harga yang harus dibayar Aurelia sangatlah mahal. Tubuhnya hancur berantakan. Tangan kanannya patah dengan posisi aneh, pergelangan kakinya terkilir hingga membiru, dan seluruh kulitnya lecet berdarah. Tidak ada makanan. Tidak ada setetes air pun untuk tenggorokannya yang kering berpasir. Hanya ada angin yang terus menggulung di sekitarnya.

Di dalam tempat tergelap, sepasang mata diam-diam mengawasi. Mengamati sesosok tubuh yang sudah terbaring selama satu hari itu.

Memasuki hari ketiga, kesadarannya mulai timbul tenggelam. Aurelia menatap langit jurang yang kelam. Di atas sana, keluarga yang amat dia cintai telah membuangnya seperti sampah.

"Mengapa? Hanya karena pemilik asli tubuh ini dianggap tidak berbakat. Hanya karena dia tidak berguna bagi nama besar keluarga. Dia dibuang begitu saja." Aurelia berbisik untuk ke sekian kalinya.

'Aku lelah,' bisik Aurelia dalam hati. Dia memejamkan mata, pasrah menunggu ajal menjemput.

Tiba-tiba, keajaiban terjadi. Angin menderu yang sejak tadi menyiksa kulitnya mendadak berhenti total. Suasana menjadi sunyi senyap, digantikan oleh aura tekanan yang luar biasa berat.

GROARRRR!

Sebuah raungan mengguncang dasar jurang. Detik berikutnya, kegelapan itu terkoyak oleh pendaran cahaya emas berkilat yang sangat menyilaukan. Dari balik kabut hitam, sesosok makhluk raksasa muncul.

Seekor naga besar. Sisiknya berkilau tajam seperti tumpukan mata pisau badai, dan sepasang mata emasnya menatap langsung ke dalam jiwa Aurelia.

Sebuah suara berat menggema langsung di dalam kepalanya.

‘Manusia ... kenapa kau di sini?’ tanya naga itu, ia bernama Zharvion.

Aurelia terbatuk, memuntahkan darah segar ke tanah berbatu. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, dia membalas tatapan megah sang naga.

"Dibuang ... karena ... tidak berguna ...." ujarnya parau dan terbata.

Zharvion terdiam lama, ia tahu itu. Mata emasnya menyipit, mengamati tubuh hancur gadis remaja di hadapannya.

"Tidak berguna? Kau jatuh dari langit jurang dan masih bernapas setelah tiga hari tanpa air. Itu artinya kau dipilih oleh takdir, Anak Manusia." Suaranya kembali menggema, menggetarkan jiwa asing di dalam tubuh putri buangan itu.

Naga raksasa tersebut mengepakkan sayapnya. "Aku akan mengujimu untuk membuktikan penilaianku," katanya lagi.

"Ujian pertama dimulai."

HARI 1, UJIAN BADAI.

"Bertahan di sini selama tiga hari tanpa mati. Jika lulus, kau layak mendapatkan penghormatanku dan akan mendapatkan kehidpan. Jika mati, kau memang benar-benar sampah seperti kata mereka," ucap Zharvion.

Begitu kalimat itu selesai, badai dahsyat berkecepatan dua ratus km/jam langsung menerjang tubuh Aurelia. Angin itu bukan angin biasa. Ia membawa batu-batu tajam yang berterbangan bebas.

Aurelia menjerit kesakitan. Naluri bertahan hidupnya yang sekarat mendadak terpompa. Menggunakan satu tangannya yang tersisa, dia mencengkeram celah tebing batu dengan sangat erat.

Kulit jarinya sobek, darah mengalir membasahi batu, tetapi dia menolak untuk melepaskan genggamannya. Di tengah raungan angin yang memekakkan telinga, amarahnya bangkit.

"Jika aku mati di tempat menjijikkan ini ... artinya aku memang sampah seperti kata mereka!" teriaknya melawan badai.

HARI 2, UJIAN KEHENINGAN.

Memasuki hari kedua, badai yang mengamuk hebat itu mendadak hilang. Akan tetapi, siksaan belum berakhir.

Jurang itu berubah menjadi hampa, tak terdengar suara apapun. Benar-benar sunyi sampai-sampai Aurelia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang melemah. Keheningan ini justru mencekik warasnya.

Zharvion mendekat, bayangannya menutupi tubuh Aurelia.

"Dengarkan dengan jiwamu. Apa yang angin katakan kepadamu?" katanya seolah-olah sedang memberi petunjuk.

Aurelia memejamkan mata. Di tengah keheningan mutlak itu, dia tidak lagi merasakan sakit dari lukanya. Dia merasakan kebebasan. Angin tidak memiliki batas. Angin tidak bisa diikat oleh aturan keluarga mana pun.

"... Dia mengatakan ...." Aurelia berbisik, air mata mengalir melewati pipinya yang kotor. "... Aku bebas."

Untuk pertama kalinya sejak dibuang, Aurelia menangis. Bukan karena rasa sakit yang menyiksa tubuhnya, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Beban tuntutan keluarganya luruh bersama angin.

"Aku bebas! Mengapa aku menangis? Bukankah aku tidak terikat apapun dengan mereka? Ah, ini perasaan asli tubuh ini."

HARI 3, PENYERAHAN

Hari terakhir tiba. Tubuh Aurelia sudah membiru karena suhu dingin yang ekstrem. Zharvion bergerak turun, melilitkan tubuh raksasanya yang hangat di sekeliling tubuh beku gadis itu.

"Kau punya dua pilihan, Manusia," dengus Zharvion, napasnya membentuk uap hangat.

"Mati di sini sebagai korban, atau hidup ... dan menjadi badai itu sendiri." Dia melanjutkan, menawarkan pilihan kepada gadis putus asa itu.

Aurelia membuka mata emasnya yang kini berkilat tegas. "Aku memilih hidup," katanya tegas.

BOOM!

Ledakan cahaya biru keperakan melesat dari dada Zharvion. Energi murni itu melesat dengan cepat, menghantam dan masuk langsung ke dalam dada Aurelia.

Rasa hangat menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Di atas kepala Aurelia, partikel angin mengembun, membentuk sebuah mahkota.

Mahkota itu berwujud lingkaran tipis putih keperakan yang indah. Di sekelilingnya, terdapat tiga helai bulu naga yang melingkar sempurna.

Begitu mahkota itu terpasang di kepalanya, rambut hitam Aurelia berubah menjadi putih keperakan, langsung melayang beterbangan dengan anggun walau saat itu tidak ada embusan angin di sekitar mereka.

[MAHKOTA ANGIN - KEBEBASAN: ELEMEN PERTAMA BERHASIL DIBANGKITKAN]

Aurelia perlahan berdiri. Rasa sakitnya menguap. Luka-lukanya menutup dan sembuh sebanyak lima puluh persen dalam sekejap. Energi baru mengalir deras di dalam tubuhnya.

Mahkota tipis itu hilang, dan merayap ke pergelangan tangannya. Membentuk tato pusaran angin sebagai tanda kepemilikan. Bersamaan dengan itu, rambutnya kembali menghitam.

Dia mengangkat tangan kanannya ke udara.

SWOOSH!

Angin di dalam jurang berputar patuh di bawah kendalinya. Tanpa beban, angin itu mengangkat tubuh Aurelia hingga melayang satu meter di atas tanah.

Zharvion menundukkan kepala naga raksasanya, memberi hormat. Sesuai dengan yang dia janjikan.

"Selamat datang, Sang Wadah! Ini tanda mahkota pertamamu. Ingat satu hal, Angin tidak akan pernah bisa dikurung. Sama sepertimu," katanya dengan bangga.

Aurelia menyentuh tanda mahkota elemen keperakan di pergelangantangannya. Untuk pertama kalinya setelah tujuh belas tahun hidup dalam penderitaan dan tekanan, sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya.

"Terima kasih ... Sang Agung Zharvion! Naga Agung penjaga bintang sihir," ucap Aurelia dengan kepala tertunduk.

"Mulai sekarang, panggil aku Eliya 'Sang Badai'."

"Tidak ada lagi Aurelia si lemah dan tidak berguna. Tidak ada ikatan keluarga atau apapun itu. Aku bebas seperti angin," katanya dengan tatapan yang memicing.

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!