Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Pertukaran Berdarah
Tornado hitam Pusaran Kehampaan menyentuh tepi barat Kota Fajar.
Hanya dua detik bagi pusaran itu menghancurkan menara pengawas batu setinggi dua puluh meter jadi debu. Deru anginnya terdengar seperti monster kelaparan yang mengaum.
Di alun-alun kota, para prajurit manusia menekan perisai ke tanah, sementara warga biasa menjerit histeris dari tempat perlindungan bawah tanah.
Di atas awan badai, Jenderal Bintang Lu melayang anggun, menyilangkan lengannya dan menikmati keputusasaan di bawahnya.
Di tengah alun-alun, di bawah tumpukan pilar batu dari bangunan akademi yang runtuh, bebatuan tiba-tiba bergeser pelan.
Ye Cangtian mendorong batu seberat tiga ratus kilogram dari atas dadanya, lalu terhuyung dan bangkit. Kondisinya mengerikan. Lengan kanannya patah, tak mampu digerakkan sedikit pun akibat meridian yang hancur. Darah mengalir deras dari pelipisnya, mewarnai sebagian wajahnya.
Dengan sisa tenaganya, ia menendang Pedang Pemutus Surga yang tergeletak di dekatnya, membiarkannya melayang, lalu menangkap gagangnya dengan tangan kiri.
Berat pedang itu terasa asing dan canggung di tangan kirinya. Tapi ia tidak punya pilihan.
Ia mendongak menatap Jenderal Lu. Kecepatannya adalah sesuatu yang tidak bisa ia tandingi bahkan dalam kondisi puncaknya, apalagi sekarang.
Teknik presisi Niat Pedang butuh fokus dan waktu.
Kau tidak bisa memotong angin yang terus bergerak, batin Cangtian, matanya mengunci tubuh jenderal Lu di langit. Satu-satunya cara memotong badai adalah mengurungnya di dalam sangkar.
Dan satu-satunya sangkar yang ia miliki saat ini adalah tubuhnya sendiri.
Cangtian menarik napas dalam-dalam. Alih-alih menyembunyikan aura seperti yang ia lakukan pada Jenderal Tie, ia justru sengaja meledakkan sisa Qi dari Pusaran Emas di Dantiannya keluar. Aura keemasan itu membumbung tinggi seperti pilar cahaya, menantang badai yang mengamuk.
"Jederal Dewa Angin!" Raungan Cangtian, dibungkus Qi, sampai tepat ke telinga sang Jenderal Bintang.
Jenderal Lu menunduk, mengangkat alis melihat manusia itu masih hidup.
"Kau membual soal angin yang mengikis gunung," teriak Cangtian, menodongkan ujung pedangnya yang bergetar di tangan kirinya. "Tapi yang kulihat cuma seekor nyamuk pengecut yang terus menari di udara! Kau tidak berani mendekat karena tahu pedangku akan memenggal kepalamu sama seperti Jenderal bodoh itu!"
Jenderal Bintang Lu menyipitkan matanya. Urat halus muncul di pelipisnya.
Sebagai entitas kuno pewaris Otoritas Angin, dihina sebagai pengecut oleh makhluk fana yang setengah mati adalah tamparan luar biasa bagi arogansi nya.
Jenderal Lu tahu manusia itu sedang memprovokasi, tapi keangkuhannya menolak membiarkan provokasi itu berlalu begitu saja. Tornado itu perlahan berhenti membesar.
"Kau seperti nya sudah tidak sabar untuk menghadapi kematian ya?" desis Jenderal Lu dingin. "Akan kukabulkan hari ini."
Jenderal Lu menghilang dari langit, tidak menyisakan jejak apa pun, kecuali pusaran angin kecil di tempat ia berdiri sebelumnya.
Kecepatannya melebihi suara. Dalam hitungan detik, ia muncul tepat setengah meter di depan Ye Cangtian. Mata peraknya menatap mata emas Cangtian dengan kebencian murni.
Tangan kanannya sudah dibungkus pusaran bilah angin, diarahkan lurus menusuk jantung sang Kaisar Bela Diri.
Waktu seolah melambat bagi Cangtian.
Kalau ini pertarungan normal, insting petarungnya akan menyuruhnya menghindar, menangkis, atau mundur. Tapi Cangtian melakukan sesuatu yang sama sekali menentang akal sehat bela diri mana pun di dunia.
Ia membuang pedang di tangan kirinya, membuka pertahanannya lebar-lebar, dan melangkah maju menyongsong serangan Jenderal Lu.
Jleeeb!
Angin di tangan kanan Jenderal Lu menusuk masuk ke daging. Darah menyemprot panas mewarnai zirah perak Jenderal Lu.
Tapi mata Jenderal Lu melebar dalam keterkejutan. Tepat di detik terakhir sebelum tangannya mengenai jantung, manusia gila ini sengaja memiringkan tubuhnya, membiarkan tangan Jenderal Lu menusuk telak, menembus bahu kirinya hingga tembus ke punggung.
"Apa..." Jenderal Lu tercekat.
Sebelum ia sempat menarik tangannya keluar dari bahu yang berlubang itu, lengan kanan Cangtian yang sedari tadi terkulai patah tiba-tiba tersentak naik.
Otot-otot di lengan kanan Cangtian tak lagi bekerja. Ia menggerakkannya murni dengan membakar sisa kehidupan dan esensi Qi dari Dantiannya, memaksa tulang-tulangnya bergesekan secara paksa.
Tangan kanan berlumuran darah itu mencengkeram pergelangan tangan Jenderal Lu dengan kekuatan sisanya.
"Kena kau," bisik Cangtian parau. Darah kental menetes dari sudut bibirnya, mengenai pipi pucat Jenderal Lu.
Kepanikan melanda sang dewa angin. Jenderal Lu meronta liar, berusaha menarik tangannya yang terjebak di dalam tulang bahu manusia itu, tapi cengkeraman Qi Cangtian tak bergeser sedikit pun. Sang dewa terjebak dalam sangkar daging korbannya sendiri.
"Lepaskan Aku, Serangga!" jerit Jenderal Lu histeris, menyadari kecepatan tanpa batasnya kini tak ada gunanya sama sekali pada jarak sedekat ini.
Tangan kiri Cangtian yang kini bebas kembali menggenggam Pedang Pemutus Surga yang sengaja ia lepaskan sesaat. Ia menempelkan gagang pedangnya yang tumpul tepat ke dada zirah perak Jenderal Lu.
Ia tidak butuh Niat Pedang. Ia tidak butuh tebasan presisi. Dari jarak sedekat ini, yang ia butuhkan hanya daya ledak murni.
Cangtian menyedot seluruh energi dari Pusaran Emas di Dantiannya, mengosongkannya total, mengalirkannya ke tangan kiri dalam satu hentakan mematikan.
Blaaamm!
Ledakan energi keemasan yang masif meletus tepat di antara mereka. Zirah perak Jenderal Lu, yang diklaim terbuat dari angin padat, pecah berkeping-keping.
Tenaga ledakan itu menembus dadanya, menghancurkan tulang rusuknya, menguapkan jantung nya menjadi debu.
Mulut Jenderal Lu terbuka lebar tanpa suara. Mata peraknya kehilangan cahaya dalam sekejap, menatap kosong ke langit saat kematian menjemputnya. Dewa tercepat di benua itu mati karena diikat oleh darah seorang manusia.
Bersamaan dengan matinya sang pemilik Otoritas, tornado raksasa di pinggir kota kehilangan jangkar kekuatannya. Pusaran itu hancur jadi angin sepoi-sepoi biasa, menyelamatkan Kota Fajar di detik-detik terakhir.
Tangan kanan Cangtian perlahan kehilangan cengkeramannya. Jenderal Lu ambruk ke belakang, menghantam tanah.
Cangtian berdiri terhuyung selama dua detik, sebelum matanya terpejam. Tubuhnya jatuh ke depan, menimpa mayat dewa yang baru saja ia bunuh.
"Cangtian!"
Jeritan melengking Su Ling'er merobek keheningan. Sang tabib berlari tersandung-sandung melewati reruntuhan akademi, diikuti Long Zhan dan Xing Yun di belakangnya.
Ling'er menjatuhkan diri di samping Cangtian. Tangannya yang gemetar berusaha menyumbat lubang seukuran kepalan di bahu kiri pemuda itu, sementara lengan kanannya tampak seperti ranting patah yang hancur dari dalam.
"Jangan mati... kumohon, kau tidak boleh mati." Ling'er terisak panik, menyalurkan Qi penyembuh putus asa ke tubuh Cangtian yang mendingin. "Tabib divisi tiga! Bawa tandu! Bawa Teratai Penutup Darah! Sekarang!"
Di belakang kekacauan medis itu, Xing Yun berdiri membeku.
Ahli taktik jenius itu menatap lubang mengerikan di bahu sahabatnya, lalu menatap mayat Jenderal Bintang Lu. Kemenangan ini tidak terasa seperti kemenangan. Ini terasa seperti peringatan dari langit.
Ini baru Jenderal Bintang kedua yang turun dari Gerbang Bencana, pikir Xing Yun, rahangnya mengeras. Masih ada sepuluh, mungkin puluhan lagi di luar sana. Kalau kita terus berperang secara terbuka seperti ini, menukar daging demi daging, Cangtian akan mati sebelum kita mencapai ibu kota.
Mata Xing Yun perlahan menjadi dingin, kehilangan kehangatan manusiawinya.
Sebuah benih gelap baru saja ditanam kuat-kuat di dalam hati sang ahli taktik. Kalau menjadi ksatria yang bertarung di siang bolong mengharuskan kaisarnya menumpahkan darah seperti ini, maka Xing Yun bersumpah, ia akan menjadi bayangan yang membunuh dewa-dewa itu dalam tidur mereka.
Ia akan meracuni sumur mereka. Ia akan membantai anak-anak mereka. Ia akan membuang seluruh sisa kehormatan umat manusia demi memenangkan perang ini.