Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Tamu Tak Terduga
Setelah percakapan berat di ruang kerja, Arthur melihat Helena yang masih terisak. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan tubuhnya tampak lemas. Arthur merasa bersalah, tapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa memundurkan waktu. Dia menarik napas panjang, lalu berdiri dan berjalan mendekati Helena.
"Hel, kamu pasti capek. Ayo kita ke ruang makan. Sudah jam makan siang. Kamu harus mengisi perut," ucap Arthur, suaranya pelan namun tegas.
Helena menggeleng. "Aku tidak lapar, Arthur. Aku hanya ingin tidur."
Arthur mengulurkan tangannya. "Kamu boleh tidur setelah makan. Aku tidak akan membiarkan kamu kelaparan di rumahku. Ayo."
Helena menatap tangan Arthur. Setelah ragu beberapa saat, dia akhirnya menerima uluran tangan itu. Arthur membantunya berdiri, dan mereka berjalan beriringan menuju ruang makan.
Ruang makan di mansion itu sangat luas. Sebuah meja kayu jati panjang dengan ukiran klasik berada di tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi berlapis sutra. Di atas meja, sudah terhidang berbagai macam hidangan: sup ayam, nasi goreng, sayur lodeh, dan beberapa lauk pauk lainnya.
Arthur menarik kursi untuk Helena, membiarkannya duduk. Helena duduk dengan lesu, matanya masih merah. Arthur duduk di seberangnya, dan mulai menyendokkan sup ke mangkuk Helena.
"Kamu harus makan, Hel. Tubuhmu butuh tenaga," kata Arthur, mendorong mangkuk itu ke arah Helena.
Helena mengambil sendok, tapi tangannya masih gemetar. Dia mengambil sedikit sup, memasukkannya ke mulut perlahan. Rasanya hangat, tapi dia tidak benar-benar menikmatinya. Pikirannya masih tertuju pada pertanyaan Arthur yang belum bisa dia jawab.
Arthur menatap Helena dengan penuh perhatian. Dia tidak memaksa Helena untuk bicara. Dia hanya duduk di sana, menemani Helena makan dalam diam.
Suasana sunyi itu berlangsung beberapa menit. Helena baru saja menghabiskan setengah mangkuk supnya, ketika seorang pelayan masuk ke ruang makan.
"Tuan, ada tamu. Tuan Robby datang. Beliau mengatakan ada urusan penting yang harus dibicarakan dengan Tuan," ucap pelayan itu.
Arthur mengerutkan kening. Robby? Sahabatnya sejak kuliah, yang juga menjadi pengacara pribadinya. Robby jarang datang tanpa janji. Pasti ada sesuatu yang darurat.
"Suruh dia masuk," perintah Arthur.
Beberapa saat kemudian, seorang pria berusia sekitar empat puluhan melangkah masuk ke ruang makan. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana hitam, dengan kacamata tipis di wajahnya. Rambutnya sedikit beruban di bagian pelipis, tapi tatapannya tajam dan cerdas.
Robby.
Begitu Robby melihat Helena, langkahnya langsung terhenti. Matanya membelalak. Dia menatap Helena, lalu menatap Arthur, lalu kembali menatap Helena.
"Helena?!" seru Robby, suaranya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Helena Virgina? Benarkah ini kamu?"
Helena menatap Robby. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat wajah itu. "Robby? Kamu... kamu masih sama seperti dulu."
Robby berjalan mendekat, masih dengan ekspresi tidak percaya. "Astaga, Helena. Selama lima belas tahun, Arthur terus mencari kamu. Dia mengeluarkan uang puluhan miliar untuk mencari jejak kamu. Dan sekarang kamu ada di sini? Di mansionnya?"
Helena menunduk, merasa malu. "Aku... aku baru saja kembali. Ini cerita yang panjang, Robby."
Arthur berdiri, memotong pembicaraan. "Robby, duduklah. Kamu pasti belum makan. Kita bicara sambil makan."
Robby menghela napas, lalu duduk di kursi yang tersedia. Dia masih menatap Helena dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, Hel. Aku hanya... terkejut. Arthur sudah bertahun-tahun tidak pernah menyerah mencari kamu. Dan tiba-tiba kamu ada di sini."
Helena tidak menjawab. Dia hanya menunduk, melanjutkan makannya dengan perlahan.
Makan siang berlangsung dengan suasana yang canggung. Robby dan Arthur berbicara tentang beberapa hal bisnis, tapi mata Robby tetap melirik ke arah Helena. Helena hanya diam, mencoba menyelesaikan makanannya agar dia bisa segera pergi.
Setelah Helena menghabiskan makanannya, dia meletakkan sendoknya. "Arthur, aku sudah selesai. Aku ingin kembali ke kamar. Aku sangat lelah."
Arthur menatap Helena, dan dia melihat kelelahan di wajah Helena. "Baik, Hel. Kamu boleh istirahat. Mbok Jum akan mengantarmu. Jika kamu butuh apa-apa, tinggal bilang."
Helena mengangguk, lalu berdiri. Dia menatap Robby sebentar, tersenyum tipis, lalu berjalan keluar dari ruang makan, diikuti oleh Mbok Jum.
Setelah Helena pergi, Arthur kembali duduk. Wajahnya berubah serius. Dia menatap Robby.
"Kamu datang tepat waktu, Rob. Aku butuh bantuanmu."
Robby mengangkat alis. "Tentu. Apa yang bisa aku bantu?"
Arthur menghela napas. Dia mengambil sebuah dokumen dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja. "Aku ingin kamu mengurus pengalihan beberapa aset. Aset atas namaku, ingin aku alihkan ke sebuah nama."
Robby mengambil dokumen itu, membacanya sekilas. "Aset apa? Dan nama siapa?"
Arthur diam sejenak. "James. James Fernando. Usianya sekitar lima belas tahun."
Robby mengerutkan kening. "James Fernando? Siapa dia? Apakah dia keluarga kamu?"
Arthur menatap Robby dengan tatapan serius. "Aku belum tahu pasti, Rob. Tapi ada sesuatu yang tidak beres. Helena menghilang selama lima belas tahun, dan aku baru tahu kalau dia tinggal di Surabaya bersama seorang pemuda bernama James. Wajah pemuda itu sangat mirip denganku."
Robby membelalak. "Maksudmu... James mungkin adalah..."
"Aku tidak tahu," potong Arthur. "Tapi jika benar dia adalah anakku, aku tidak ingin dia hidup kekurangan. Aku ingin mengalihkan sebagian asetku ke atas namanya. Sebagai bentuk tanggung jawabku."
Robby menghela napas panjang. "Arthur, ini langkah yang sangat besar. Kamu yakin? Belum tentu dia benar-benar anakmu."
Arthur mengepalkan tangannya. "Aku tidak peduli. Jika dia anakku, aku harus melindunginya. Dan jika dia bukan, setidaknya aku sudah berusaha. Ada sesuatu yang Helena sembunyikan dariku, Robby. Lima belas tahun lalu, dia pergi begitu saja. Dan sekarang dia kembali, tapi dia masih menutupi sesuatu."
Robby menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin. "Aku akan bantu urus dokumennya. Tapi Arthur, kau harus berhati-hati. Jika orang tuamu, atau musuh-musuhmu tahu kamu mengalihkan aset ke orang asing, mereka akan mencari tahu. Bisa berbahaya."
Arthur tersenyum tipis. "Itu sebabnya aku memintamu. Kamu pengacara terbaik yang aku kenal. Buatlah dokumen ini seaman mungkin. Jangan ada yang tahu, selain aku dan kamu."
Robby mengangguk. "Baik. Aku akan kerjakan secepatnya. Tapi Arthur, satu hal. Kau harus berbicara dengan Helena. Jangan biarkan dia terus menutupi rahasianya. Semakin lama kau menunggu, semakin besar risiko kehilangan dia lagi."
Arthur menatap pintu tempat Helena pergi. "Aku tahu, Rob. Aku akan bicara dengannya. Tapi aku harus menunggu dia siap."
Robby menghela napas. "Kau terlalu baik padanya, Arthur. Dia sudah menyembunyikan sesuatu darimu selama lima belas tahun. Kau tidak tahu apa yang dia sembunyikan."
Arthur menggeleng. "Aku tidak peduli. Aku mencintainya, Robby. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku tahu semua rahasianya, termasuk tentang James."
Di luar ruang makan, Helena yang sudah sampai di kamar tidur berbaring di atas ranjang. Matanya memandang langit-langit. Pikirannya berputar-putar antara Arthur, James, dan rahasia yang semakin sulit dia sembunyikan. Dia menekan ponselnya, mengirim pesan singkat pada Rina.
"Jaga James baik-baik. Mama masih ada urusan di Jakarta. Jangan bilang siapa-siapa. Love you."
Helena mematikan ponselnya, lalu menutup matanya. Dia berdoa agar Arthur tidak menemukan James. Dan dia berdoa agar semua rahasia ini tidak menghancurkan hidup mereka.