Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : RACUN DI BALIK LOYALITAS
Pintu kayu mahoni kamar Adrian tertutup dengan bantingan keras yang menggema di sepanjang koridor sayap kanan kediaman.
Wajahnya merah padam, rasa frustrasi, iri, dan kebencian yang ia tahan sepanjang makan malam akhirnya meledak.
𝘗𝘳𝘢𝘯𝘨
Sebuah gelas kristal berisi sisa 𝘸𝘩𝘪𝘴𝘬𝘦𝘺 melayang dan hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke dinding marmer. Cairan amber dan serpihan kaca tajam berhamburan di atas lantai bulu yang mahal.
"Sialan! Wanita jalang itu selalu merasa di atas angin!" geram Adrian.
Ia berjalan mondar-mandir, mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi. Tatapan meremehkan dari Elara di meja makan tadi terus berputar di otaknya—seolah menegaskan kalau Adrian hanyalah anak pungut yang tidak akan pernah setara dengan gadis itu.
"Dia pikir dia siapa? Hanya karena dia punya hubungan darah dengan Ayah, dia bisa memperlakukanku seperti sampah?" desisnya, menatap tajam ke arah cermin besar.
Adrian menonjok permukaan kaca tersebut dengan kepalan tangannya. Hantaman itu meninggalkan rasa sakit yang membakar, namun kaca berlapis baja itu tidak tergores sedikit pun—sama seperti kakaknya yang tak tersentuh.
Setiap sen yang Elara gunakan untuk kemewahannya, setiap gaun sutra, bahkan aroma bunga Lily sialan di kamarnya, semuanya dibayar dengan nyawa dan darah yang Adrian tumpahkan di lapangan.
Adrian yang turun ke ruang bawah tanah, Adrian yang mengeksekusi para pengkhianat, dan Adrian yang memastikan bisnis penyelundupan senjata mereka berjalan lancar.
Tapi di mata Ayah, Elara tetap yang nomor satu, sementara Adrian cuma dianggap sebagai anjing pemburu yang bisa diganti kapan saja.
Lalu ada Julian Vance. Sialan. Adrian mengira konsultan baru itu bisa dengan mudah ia setir untuk menghancurkan Elara.
Tapi dari obrolan mereka tadi, Adrian sadar kalau Julian adalah pria licik yang punya agendanya sendiri. Julian tidak menghormatinya, pria itu justru tampak terobsesi untuk menaklukkan Elara.
"Dan bajingan itu..." Adrian berbisik, bayangan wajah dingin Dante yang selalu berdiri di belakang Elara melintas di benaknya.
Dante adalah penghalang utama. Selama pria itu masih bernapas di samping Elara, Adrian tidak akan pernah bisa menyentuh kakaknya. Hawa membunuh yang dikeluarkan Dante saat Adrian memprovokasi Elara tadi benar-benar membuat Adrian muak setengah mati.
Adrian berjalan menuju meja kerjanya, menarik laci paling bawah, dan mengeluarkan sebuah ponsel enkripsi khusus yang tidak terdaftar dalam jaringan internal Ouroboros. Jemarinya yang gemetar karena amarah mulai mengetik pesan dengan cepat.
Jika Julian ingin memancing Dante keluar dengan strategi yang rumit, maka Adrian akan menggunakan caranya sendiri yang lebih kotor dan cepat.
"Kita lihat seberapa setia kamu saat duniamu mulai hancur, Dante," gumam Adrian dengan senyum menyeringai. "Akan kubuat kamu memohon untuk mati di tanganku sendiri."
******
Adrian mematikan puntung cerutunya tepat di atas meja kayu milik ayahnya. Ini adalah kesempatan yang sudah ia tunggu-tunggu selama berbulan-bulan.
Di tangannya, ia memegang sebuah folder tipis berisi foto-foto yang telah ia manipulasi dengan sangat rapi.
"Ayah," panggil Adrian, suaranya dibuat sedatar dan sehormat mungkin. "Aku benci harus mengatakan ini, tapi demi keamanan organisasi, ada sesuatu yang harus Ayah ketahui tentang... Dante."
Sang Ayah menatap Adrian dengan mata yang tajam, "Katakan."
"Dante tidak lagi bekerja untuk kita. Dia bekerja untuk kepentingannya sendiri. Atau lebih tepatnya," Adrian meletakkan foto-foto itu di atas meja, "Dia telah melanggar protokol, sering berada di kamar Elara saat tidak ada pengawalan, dan dia mulai menyembunyikan informasi penting dari kita."
Adrian sengaja menunjuk salah satu foto—foto yang diambil dari sudut tersembunyi yang menunjukkan Dante sedang berada di dekat pintu balkon kamar Elara di tengah malam.
"Dia tidak lagi mematuhi perintah, Ayah. Dia hanya mematuhi Elara. Jika kita membiarkan seorang pria yang kehilangan akal sehatnya seperti dia terus memegang kendali atas keamanan organisasi, ini akan menjadi bencana."
Ayah Elara terdiam, keheningan itu sangat mencekam. Adrian bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini adalah taruhan besar. Jika ayahnya percaya, Dante tamat. Jika tidak, Adrian-lah yang akan berakhir di dalam peti kayu.
Sementara itu, Elara berdiri di balik pintu kantor ayahnya yang sedikit terbuka. Ia tahu Adrian sedang mencoba menyingkirkan Dante, dan ia tahu persis apa yang akan dikatakan saudara angkatnya itu.
Elara tidak panik. Sebaliknya, ia justru merasa geli. Adrian terlalu bodoh karena berpikir bisa menghancurkan Dante hanya dengan bukti-bukti murahan seperti itu.
Elara memutar cincin di jarinya, menimbang pilihan. Apakah ia harus membiarkan ayahnya menghukum Dante untuk memberikan "pelajaran" agar pria itu kembali ke posisinya, atau ia harus turun tangan sekarang juga?
Tiba-tiba, sebuah tangan meraih lengannya dari balik bayangan lorong. Elara sedikit tersentak, namun ia langsung mengenali aroma parfum maskulin yang tajam. Itu Dante.
Dante menariknya menjauh dari pintu kantor, dan masuk ke dalam ruang penyimpanan senjata yang gelap.
"Kau mendengarnya?" bisik Dante, suaranya rendah dan tegang.
Elara menatap Dante dengan tatapan dinginnya yang biasa. "Adrian telah membuat langkah pertama untuk menyingkirkan aku, dan kau target pertamanya."
"Biarkan dia," sahut Dante. "Jika itu yang Ayahmu inginkan, aku akan menerimanya. Asalkan kau yang memintanya, aku akan pergi tanpa perlawanan."
Elara menatap Dante dengan intensitas yang tidak biasa. Ia bisa melihat ketulusan yang menyakitkan di mata pria itu. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Dante. Kau milikku. Dan aku tidak mengizinkan siapapun—terutama Adrian—untuk mengambil apa yang menjadi milikku."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Dante.
Elara menyentuh kerah jas Dante, merapikannya dengan gerakan yang posesif. "Kamu lihat saja sendiri."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..