NovelToon NovelToon
Sukses Setelah Kau Campakkan

Sukses Setelah Kau Campakkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pengganti
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."

"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"

Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.

Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Zia

***

Di dalam taksi yang melaju menembus guyuran hujan deras menuju Bandara Soekarno-Hatta, Zia menyandarkan kepalanya pada bahu Amara. Deru mesin mobil dan ketukan wiper yang beradu dengan air hujan mendadak melempar ingatan Zia jauh ke belakang. Ke sebuah hari sepuluh tahun yang lalu, hari yang menjadi awal dari segalanya.

Hari itu, tepat satu minggu setelah dunianya runtuh. Ibu dan ayahnya meninggal seketika dalam kecelakaan bus tragis saat hendak menjemput Zia pulang sekolah. Di usia yang baru menginjak remaja, Zia tiba-tiba menjadi yatim piatu, sebatang kara, tanpa uang sepeser pun tersisa di tabungan orang tuanya.

Dengan seragam putih-biru yang sudah mulai menguning dan sepatu yang jebol di bagian ujungnya, Zia memberanikan diri mengetuk pintu belakang sebuah butik megah di sudut kota.

Di sana, seorang wanita anggun berambut sebahu sedang memeriksa tumpukan kain satin. Itu adalah Amara.

"Permisi, Tante..." bisik Zia hari itu, suaranya bergetar menahan lapar dan malu.

"A-aku... aku mau minta pekerjaan. Apa saja, Tante. Pulang sekolah aku bisa ke sini untuk sapu-sapu atau bersihkan sisa kain,"

Amara menoleh, menatap gadis kecil yang berdiri gemetar dengan air mata yang siap tumpah.

"Kamu masih sekolah? Di mana orang tuamu?"

Dia menangis sesenggukan di ambang pintu.

"Mereka sudah meninggal minggu lalu, Tante... Kecelakaan bus. Kalau aku tidak kerja, aku tidak bisa bayar uang sekolah bulan depan. Aku juga... belum makan dari kemarin,"

Zia ingat betul bagaimana mata Amara langsung berkaca-kaca hari itu. Tanpa jijik, Amara memeluk tubuhnya yang kotor dan membawanya masuk ke dalam hangatnya butik.

Sejak hari itu, butik Amara menjadi rumah kedua bagi Zia. Tugas pertamanya hanya sederhana, mengumpulkan potongan-potongan sisa kain yang berserakan di lantai setelah Amara selesai memotong pola.

Namun, Zia tidak sekadar membersihkan. Di sela-sela waktunya, dia kerap memperhatikan jemari Amara yang lincah menari di atas mesin jahit, atau bagaimana guratan pensil Amara melahirkan gaun-gaun malam yang begitu indah. Zia sering mengambil sisa kain perca, lalu menjahitnya secara manual dengan jarum tangan menjadi pakaian boneka kecil.

Amara melihat bakat terendam itu. Begitu Zia lulus dari bangku SMA, Amara tidak membiarkan Zia terus menjadi asisten pembersih.

"Zia, kemari," panggil Amara suatu sore, menyerahkan sebuah buku sketsa kosong dan satu set pensil gambar berkualitas tinggi.

"Mulai hari ini, duduk di samping Mbak. Kamu harus belajar menjahit dengan mesin yang benar, dan Mbak akan ajari kamu cara menggambar anatomi tubuh serta memindahkan imajinasimu ke atas kertas ini,"

"Tapi, Mbak... aku cuma anak pungut di sini. Apa aku bisa?" tanya Zia ragu kala itu.

Amara tersenyum hangat, mengusap kepala Zia dengan penuh kasih sayang seorang ibu.

"Kamu punya mata seorang seniman, Zia. Suatu hari nanti, dunia akan melihat rancanganmu. Jangan biarkan kemiskinan membunuh bakatmu,"

Sentuhan lembut tangan Amara di pipinya membuyarkan lamunan Zia. Dia kembali ke realitas, di dalam taksi yang temaram, melarikan diri dari pria yang paling dicintainya namun juga yang paling menghancurkannya.

"Kenapa menangis lagi, Zia? Perutmu sakit?" tanya Amara cemas, menghapus air mata yang mengalir di pipi Zia.

Zia menggeleng pelan, lalu memeluk lengan Amara dengan erat.

"Tidak, Mbak. Aku cuma... sedang bersyukur karena sepuluh tahun lalu Tuhan menuntun langkahku ke butik Mbak. Kalau bukan karena Mbak, aku mungkin sudah mati kelaparan sejak dulu. Dan sekarang, Mbak kembali menyelamatkan nyawaku... dan nyawa anakku,"

Amara mengecup puncak kepala Zia dengan mata yang berkaca-kaca.

"Mbak sudah menganggapmu seperti adik Mbak sendiri, Zia. Dulu Mbak membimbingmu menjadi desainer, dan sekarang, Mbak akan mematangkan sayapmu di Singapura bersama Rayyan. Jangan takut, Zia. Badai ini

pasti berlalu,"

***

"Selamat datang di Singapura, Zia. Mulai detik ini, kamu aman bersama kami,"

Suara bariton yang hangat dan tenang itu seketika memecah kecemasan yang menggelayuti dada Zia. Di hadapannya, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas kasual tanpa dasi. Wajahnya rupawan, dengan garis rahang tegas namun memiliki sorot mata yang teramat teduh.

Dialah Rayyan, keponakan Amara sekaligus pemilik salah satu jaringan butik mode terbesar di Singapura.

Zia, yang masih mendekap erat tas kecil di dadanya, hanya bisa tersenyum tipis dengan bibir yang pucat. Sisa-sisa kelelahan dari penerbangan darurat malam tadi masih tercetak jelas di bawah matanya yang sembab.

"Terima kasih banyak, Rayyan," bisik Zia lirih, suaranya nyaris habis.

"Maaf kalau kedatanganku yang mendadak ini merepotkanmu,"

Rayyan menggeleng pelan, lalu beralih memeluk Amara yang berdiri di samping Zia.

"Sama sekali tidak, Zia. Mbak Amara sudah menceritakan semuanya lewat telepon semalam. Rumahku selalu terbuka untukmu. Ayo, mobil sudah siap di luar. Udara pagi ini agak dingin, tidak baik untuk kesehatanmu,"

Zia tahu, Amara pasti sudah menceritakan perihal kehamilannya dan kekejaman Alfa serta Azad kepada Rayyan. Namun, tidak ada sedikit pun tatapan menghina atau menghakimi dari mata pria itu. Yang ada hanyalah rasa simpati dan perlindungan yang tulus.

Sepanjang perjalanan membelah jalanan Singapura yang bersih dan teratur, Zia hanya menatap keluar jendela. Pikirannya melayang kembali ke Jakarta. Ke apartemen mewah yang kini terasa seperti penjara, dan ke sosok Alfa yang mungkin saat ini sedang mengamuk mencarinya atau justru sedang mendesah lega karena mengira dirinya pergi untuk menggugurkan kandungan mereka.

"Zia," panggil Amara lembut, memecah lamunan wanita itu. Amara mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas pangkuan Zia.

Itu adalah selembar cek kosong berlogo bank internasional, lengkap dengan tanda tangan Azad Abraham di sudut kanan bawahnya. Cek yang kemarin dilemparkan Azad ke pangkuan Zia di dalam mobil mewah.

"Kenapa Mbak membawa cek ini?" tanya Zia bingung, menatap Amara dengan mata berkaca-kaca.

"Aku... aku tidak mau menyentuh uang haram mereka, Mbak. Aku pergi karena ingin menyelamatkan bayiku, bukan karena menjual harga diriku pada Tuan Azad,"

Amara menggenggam jemari Zia yang dingin.

"Mbak tahu, Zia. Mbak yang mengambil cek ini dari meja riasmu sebelum kita berangkat semalam. Mbak membawa ini bukan untuk kita gunakan sekarang. Tapi sebagai bukti,"

"Bukti?"

"Benar," Rayyan yang sedang menyetir menyela dari kursi depan, matanya melirik Zia melalui spion tengah.

"Mbak Amara menceritakan kalau Azad mengancam akan menghancurkan butik di Jakarta jika kamu tidak pergi. Cek kosong ini adalah bukti tertulis bahwa dia melakukan intimidasi dan percobaan penyuapan untuk memisahkan seorang ibu dari anaknya. Simpan ini, Zia. Suatu hari nanti, jika keluarga Abraham berani mengusikmu lagi, cek ini bisa menjadi senjata hukum yang mematikan untuk membalikkan keadaan,"

Zia meremas kertas cek itu, merasakan sudut-sudutnya yang tajam menusuk kulit telapak tangannya.

"Mereka sangat berkuasa, Ray. Alfa... dia bahkan menyuruhku menggugurkan kandungan ini karena dia merasa dirinya steril. Dia menuduhku tidur dengan laki-laki lain,"

Mendengar hal itu, cengkeraman tangan Rayyan pada setir mobil tampak mengeras. Ada kilat kemarahan yang tertahan di matanya.

"Seorang pria yang meragukan kesetiaan wanita yang dicintainya, dan bahkan tega menyuruhnya membunuh darah dagingnya sendiri, tidak layak disebut sebagai laki-laki. Dia tidak pantas mendapatkanmu, Zia. Apalagi anak itu,"

"Rayyan benar, Zia," tambah Amara, mengusap punggung Zia dengan penuh kasih sayang.

"Lupakan Alfa. Lupakan keluarga Abraham. Anggap saja fase hidupmu di Jakarta sudah mati. Di sini, bersama Rayyan, kamu akan memulai lembaran baru. Kamu akan fokus pada kehamilanmu, dan setelah itu, kamu akan kembali menggambar. Ibu mau melihat rancanganmu dipamerkan di Singapore Fashion Week,"

Air mata yang sejak tadi ditahan Zia akhirnya luruh juga. Namun kali ini, itu bukan air mata keputusasaan seperti saat di Jakarta. Ini adalah air mata kelegaan karena menyadari bahwa di tengah badai yang menghancurkan hidupnya, Tuhan masih menyisakan orang-orang baik yang bersedia menjadi payung pelindungnya.

Sementara itu, di waktu yang sama di Jakarta, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Brak!

Pintu apartemen Zia dihantam keras hingga terbuka. Alfa melangkah masuk dengan napas memburu, penampilannya berantakan dengan kemeja yang kusut dan lingkaran hitam di matanya. Semalaman dia minum di bar, mencoba menulikan telinganya dari tangis Zia, namun rasa bersalah yang teramat sangat akhirnya menyeret kakinya kembali ke tempat ini. Hebatnya, egonya mulai luruh berganti kepanikan.

"Zia! Zia, keluar! Kita bicara!" teriak Alfa, suaranya menggema di dalam ruangan yang sunyi.

Tidak ada jawaban.

Alfa berlari menuju kamar tidur utama. Kosong. Ranjang itu tertata rapi, tidak ada tanda-tengah kehidupan. Dia membuka lemari pakaian, dan jantungnya seketika mencos saat melihat setengah dari gantungan baju milik Zia telah kosong melompong.

"Zia... kamu di mana?!" Alfa mulai panik. Dia memeriksa kamar mandi, dapur, hingga ruang jemuran.

Nihil.

Hingga akhirnya, pandangan Alfa terbentur pada meja makan. Di atas permukaan marmer yang dingin, tergeletak sebuah kotak perhiasan beludru merah kecil. Alfa membukanya dengan tangan bergetar. Di dalamnya terdapat cincin perak sederhana pemberiannya setahun lalu, cincin yang selalu Zia pakai dan jaga seperti nyawanya sendiri.

Di samping kotak perhiasan itu, terdapat selembar brosur klinik aborsi milik Dokter Sandi yang kemarin dia lemparkan ke wajah Zia. Brosur itu masih utuh, bersih, tidak tercoret sedikit pun. Namun di atasnya, terdapat selembar kertas memo kecil yang ditulis dengan tulisan tangan Zia yang rapi namun bergetar.

(Aku pergi, Alfa. Bukan untuk membunuh anak kita seperti yang kamu mau, tapi untuk menjauhkan dia dari ayah yang tega mengutuk kehadirannya. Selamat atas kemenanganmu mempertahankan takhta Abraham Group. Bagiku dan anak ini, kamu sudah mati.)

"Nggak... Nggak mungkin! ZIA!" Alfa berteriak histeris, meremas kertas itu hingga hancur di dalam kepalan tangannya. Tubuhnya limbung, jatuh berlutut di atas lantai.

Penyesalan yang teramat sangat mendadak menghantam dadanya seperti godam besar, membuatnya sesak napas. Dia memang takut menjadi ayah, dia memang trauma dengan masa lalunya, tapi dia tidak pernah benar-benar ingin Zia pergi meninggalkannya sendirian di sangkar emas ini.

Kembali ke Singapura, mobil Rayyan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang asri di kawasan Bukit Timah.

Rayyan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Zia. Dengan sangat lembut, Rayyan mengulurkan tangannya untuk membantu Zia berdiri.

"Ayo masuk, Zia. Ini rumah barumu," ucap Rayyan dengan senyum hangat yang menenangkan.

Zia menyambut uluran tangan Rayyan. Namun, baru saja dua langkah melangkah menuju pintu pagar, rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang kepala Zia.

Pandangannya berputar, warna hijau pepohonan di sekitarnya perlahan berubah menjadi hitam pekat. Tubuhnya lemas dan ambruk ke depan.

"Zia!"

Rayyan dengan sigap menangkap tubuh Zia sebelum membentur aspal. Dia mendekap tubuh wanita itu yang sudah tidak sadarkan diri, wajahnya mendadak panik luar biasa saat melihat setitik noda merah darah mulai merembes di bagian bawah gaun yang dikenakan Zia.

1
Lisa
Sukses y utk rencananya Rayyan..
indah
next bun......seruuuu....ini bun....
yuni ati
Semakin menarik👍
yuni ati
Menarik/Good/
Lisa
Sukses y Zia di acara Paris Fashion Week nanti
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!