Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebastian Pulang Kerumah
Kasandra lalu mengambil Tina kembali untuk menggendongnya, ia benar-benar tidak bisa jauh dari Tina malam itu.
Sejak pertama kali menggendong bayi itu, ia hampir tidak mau jauh dari bayi itu walaupun ia sempat mencari Fisya tadi
"Kasandra tidak usah kamu gendong terus Tina" ucap Fisya
"Fisya sahabat ku, aku sangat menyukai Tina" jawab Kasandra
Fisya tersenyum tipis
"Kalau kamu terus-terusan menggendong putriku bagaimana para tamu yang ingin melihat putriku bisa melihatnya"
Seketika Kasandra tersentak
"Oh maaf Fisya sahabatku sayang, baiklah aku letak lagi Tina di kasur kecilnya"
Ketika Kasandra sudah meletakkan Tina kembali ada beberapa tamu ingin melihat Tina, akan tetapi Kasandra terlihat lebih dulu mendekat dan ikut mengajak bicara bayi tersebut kembali
Fisya yang melihat kelakuan Kasandra itu hanya bisa memegangi dada nya dan tidak ingin berkata apa-apa lagi, lalu ia mundur menjauh
Sedangkan beberapa meter dari sana... Agnes berada dalam gendongan Nisa, bayi kecil itu terlihat tertidur pulas, tidak ada yang memperhatikannya selain Nisa.
Bahkan ibu kandungnya sendiri hampir tidak pernah menoleh ke arahnya.
Fisya memperhatikan semuanya itu, ia hanya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.
"Aneh sekali... Seorang ibu yang begitu menyayangi anak orang lain dan mengabaikan anaknya sendiri."
Bik Lili yang berdiri di sampingnya ikut menghela napas.
"Kasihan Agnes, Bu."
Fisya tidak menjawab namun dalam hatinya terasa sesak karena Agnes seorang bayi yang tidak berdosa dan tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu kandung nya sendiri
Dan setiap kali melihat Agnes diperlakukan seperti itu, hatinya terasa sakit namun ia tidak mau bersikap gegabah
Karena belum waktunya, ia tidak boleh merusak rencananya sendiri.
Di tengah acara yang masih berlangsung...Sebastian mendekati Fisya.
"Bu." Ucap Sebastian
Fisya menoleh.
"Ada apa?"
Sebastian terlihat sedikit ragu, hal itu cukup membuat Fisya heran karena biasanya pria itu selalu tenang.
"Ada yang ingin saya bicarakan." Ucapnya lagi
Fisya mengangguk.
"Katakan saja."
Sebastian menarik napas pelan.
"Besok saya ingin meminta izin libur satu hari."
Fisya sedikit terkejut
"Ada masalah?"
Sebastian menggeleng dan wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya
"Ayah saya sedang sakit"
Fisya langsung memahami.
"Oh."
"Saya harus pulang menemui beliau." Lanjut Sebastian
Fisya terdiam beberapa saat lalu menatap Sebastian dan tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik berlalu.
"Apa kondisinya parah?" tanya Fisya.
Sebastian tersenyum tipis.
"Saya harap tidak."
Jawaban itu justru membuat Fisya mengerti bahwa kondisi ayah Sebastian kemungkinan tidak baik-baik saja.
Akhirnya ia mengangguk.
"Tentu saja kamu boleh ambil libur"
Sebastian terlihat lega.
"Terima kasih bu tapi saya akan kembali secepat mungkin."
Fisya tersenyum kecil.
"Tenang saja, jangan mikirin masalah kerjaan dulu, kamu urus keluargamu dulu."
Sebastian menatap Fisya cukup lama entah kenapa... Setiap kali wanita itu berbicara, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
"Saya akan kembali."
Fisya hanya mengangguk.
"Baik."
Sebastian lalu mundur beberapa langkah namun sebelum pergi, ia sempat menatap Tina yang berada dalam gendongan Kasandra kembali lalu ia pergi meninggalkan ruangan.
Acara terus berlangsung hingga malam semakin larut satu per satu tamu mulai pulang dan para relasi bisnis berpamitan.
Keluarga yang datang juga mulai meninggalkan rumah Alexander
Tidak lama kemudian... tinggal tersisa beberapa orang saja.
Kasandra masih duduk sambil menggendong Tina, wajahnya terlihat enggan berpisah.
Jason yang berdiri di sampingnya akhirnya berkata,
"Kita harus pulang sekarang"
Kasandra terlihat kesal.
"Sebentar lagi."
Jason menghela napas.
"Sudah malam."
Kasandra menatap Tina lalu mencium kening bayi itu pelan seolah-olah ia sedang berpisah dengan anaknya sendiri.
Fisya yang melihat itu hanya diam, akhirnya Kasandra berdiri.
Dengan berat hati ia menyerahkan Tina kepada Fisya.
Begitu Tina berpindah tangan... raut wajah Kasandra terlihat kecewa.
"Aku akan merindukannya." Ucap Kasandra
Fisya tersenyum tipis.
"Masih bisa bertemu lagi."
Kasandra mengangguk lalu tiba-tiba tersenyum.
"Aku punya ide."
Fisya menatapnya.
"Ide apa?"
Kasandra memegang tangan Fisya.
"Aku ingin menjadi orang tua angkat untuk Tina."
Suasana langsung hening beberapa detik, Bik Lili yang mendengar langsung menahan ekspresinya.
Sedangkan Nisa yang berdiri sambil menggendong Agnes langsung membelalak.
Dalam hati wanita itu merasa kesal.
"Ingin jadi orang tua angkat... Sedangkan anak sendiri tidak pernah dirawat."
Nisa menggigit bibirnya pelan, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Kasandra.
Sementara itu... Fisya tersenyum kecil.
"Kenapa?" Tanya Fisya
Kasandra terlihat antusias.
"Aku sangat menyukainya."
Fisya menatap Agnes yang tertidur di pelukan Nisa lalu kembali menatap Kasandra.
"Tapi kamu juga punya seorang putri dan dia juga cantik."
Kasandra hanya melirik Agnes sekilas kemudian kembali melihat Tina.
"Aku lebih menyukai putrimu."
Fisya sengaja bertanya lagi.
"Lebih menyukai Tina?"
Kasandra mengangguk.
"Iya karena Tina jauh lebih cantik dibanding Agnes."
Kalimat itu membuat Nisa semakin kesal, tangannya refleks memeluk Agnes lebih erat.
Sedangkan Fisya hanya tersenyum tipis.
"Oh ya?"
Kasandra mengangguk.
"Iya sahabatku"
Fisya lalu menatapnya lurus.
"Aneh sekali sih kedengarannya"
Kasandra mengernyit.
"Aneh?"
"Kamu lebih menyukai putriku dibanding darah dagingmu sendiri." Jawab Fisya
Wajah Kasandra sempat berubah namun ia segera tertawa kecil.
"Bukan begitu lagipula Agnes masih bayi."
Fisya masih menatapnya, Kasandra cepat-cepat mencari alasan.
"Aku cuma merasa dekat dengan Tina, itu saja dan aku ini sahabat mu, itu hal yang wajar" ucap Kasandra beralasan
Fisya tersenyum tipis.
"Begitu ya."
Kasandra mengangguk cepat.
"Iya sahabatku"
Fisya tidak melanjutkan lagi dan ia hanya tersenyum.
Senyum yang membuat Jason merasa tidak nyaman namun pria itu tidak tahu alasannya.
Tak lama kemudian... Kasandra dan Jason akhirnya berpamitan.
"Aku pulang dulu."
"Hati-hati," jawab Fisya.
Jason ikut mendekat.
"Aku antar mereka pulang ya sayang"
Fisya mengangguk.
"Tentu."
Kasandra kembali melambaikan tangan ke arah Tina sebelum pergi.
Sikapnya benar-benar seperti ibu yang berpisah dengan anaknya sendiri.
Setelah mereka pergi... Rumah akhirnya mulai sepi.
Bik Lili menghela napas panjang.
"Akhirnya selesai juga."
Fisya tersenyum.
"Iya."
Bik Lili lalu mendekat.
"Ibu hebat."
Fisya menoleh.
"Maksudnya?"
"Rencana ibu berjalan dengan baik." Jawab Bik Lili
Fisya tersenyum kecil lalu menatap ke arah pintu tempat Jason dan Kasandra tadi pergi.
"Untuk orang seperti mereka... Kita harus mengikuti permainan mereka." Ucap Fisya
Bik Lili mengangguk.
Fisya melanjutkan.
"Dan kita harus lebih cerdik daripada mereka."
Bik Lili tersenyum kagum.
Kini ia benar-benar melihat sisi lain dari majikannya.
Fisya bukan lagi wanita yang hanya diam, ia sedang menyusun langkah demi langkah.
Dan setiap langkahnya membuat Jason dan Kasandra semakin masuk ke dalam perangkap.
Tak lama kemudian... Sebastian menghampiri mereka.
"Saya pamit."
Fisya mengangguk.
"Hati-hati."
Sebastian tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Beberapa detik mereka saling menatap lalu Sebastian pergi.
***
Keesokan harinya...
Sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah megah di pusat kota.
Rumah itu jauh lebih besar daripada rumah keluarga Alexander.
Puluhan pengawal berjaga di berbagai sudut begitu mobil berhenti...
Sebastian turun.
Seorang kepala pelayan langsung membungkuk hormat.
"Selamat datang, Tuan Muda."
Sebastian hanya mengangguk.
"Bagaimana keadaan Papa?"
Wajah kepala pelayan langsung berubah sedih.
"Tuan Besar menunggu Anda sejak tadi malam."
Sebastian langsung berjalan cepat masuk langkahnya tidak lagi tenang seperti biasanya.
Ia terlihat cemas karena di ujung koridor rumah besar itu...
Seseorang yang paling penting dalam hidupnya sedang menunggu.
Papanya
__Bersambung__