Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Sorotan Lensa
Lobi Hotel Wiragata telah dipenuhi oleh para wartawan dan jurnalis dari berbagai media besar. Lampu flash kamera menyambar-nyambar seperti kilat, menerangi ruangan yang dipenuhi oleh aroma parfum mahal dan ketegangan yang tersembunyi. Ironis sekali, di jantung bisnis utama keluarga Wiragata ini, Halra justru merasa sedang digiring ke tiang gantungan oleh suaminya sendiri.
Sano Joharo dan Halra Wiragata melangkah masuk ke ruang konferensi pers. Mereka berjalan beriringan, dengan Sano yang merangkul pinggang Halra dengan posesif namun sopan. Di depan mata publik, mereka adalah potret pasangan ideal; Sano yang tampak protektif dan Halra yang terlihat anggun dalam gaun ash brown-nya.
"Terima kasih atas kehadirannya," Sano membuka suara, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang mutlak di dalam bangunan yang seharusnya menjadi kekuasaan penuh keluarga Wiragata. "Hari ini, saya dan istri saya, Halra Wiragata, ingin meluruskan beberapa spekulasi mengenai pernikahan kami."
Halra tersenyum—sebuah senyuman yang sudah ia latih selama berjam-jam. Ia berdiri di sisi Sano, membiarkan suaminya mengambil alih kendali. Ia yakin, selama ia tetap tenang, tidak ada yang bisa membongkar kebenaran di balik pernikahan ini.
Namun, ketenangan itu terusik ketika seorang wartawan dari barisan depan mengangkat tangan, memotong suasana formal tersebut.
"Pertanyaan untuk Pak Sano dan Ibu Halra," ujar wartawan itu, matanya tajam menyelidik.
"Banyak rumor di luar sana yang menyebutkan bahwa pernikahan ini hanyalah kebutuhan politik untuk menyatukan dua klan besar yang selama ini berseteru. Banyak yang meragukan adanya ikatan cinta di antara kalian. Bagaimana tanggapan Anda mengenai tuduhan bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi bisnis?"
Suasana mendadak hening. Halra merasakan detak jantungnya berpacu lebih kencang. Ia sudah menyiapkan jawaban diplomatis, namun sebelum ia sempat membuka mulut, Sano memberikan remasan kecil pada pinggangnya—sebuah isyarat agar ia diam.
Sano tertawa kecil, suara yang terdengar santai, hampir meremehkan pertanyaan tersebut. "Transaksi bisnis? Anda mungkin terlalu banyak menonton film fiksi, rekan media. Apakah menurut Anda keluarga media. Apakah menurut Anda keluarga Wiragata dan Joharo akan merayakan pernikahan ini dengan begitu megah hanya untuk sebuah lembar kontrak?"
Sano kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadinya. Tanpa ragu, ia menatap langsung ke arah kamera yang menyorotnya, lalu memutar ponsel itu agar layar besarnya tertangkap oleh lensa kamera wartawan di depannya.
Itu adalah foto yang diambilnya pagi tadi. Foto yang menangkap momen saat Halra tertidur lelap di bahunya, sebuah potret keintiman yang tidak bisa dipalsukan oleh akting mana pun.
"Jika ini adalah transaksi bisnis," ucap Sano dengan suara yang kini merendah, penuh dengan nada posesif yang membuat siapa pun yang mendengar merinding, "maka ini adalah transaksi paling personal yang pernah saya lakukan. Istri saya mungkin tampak dingin di depan publik, namun di balik pintu tertutup... dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat saya merasa tenang."
Kamera-kamera flash meledak beruntun, menangkap detail foto tersebut. Para wartawan terperangah. Foto itu begitu autentik. Di gedung milik keluarga Wiragata ini, bukti tersebut seolah menjadi pernyataan resmi bahwa klan Wiragata kini telah "dijinakkan" oleh seorang Joharo.
Halra mematung di samping Sano. Wajahnya seketika memucat, namun ia segera menguasai diri. Ia melihat layar ponsel itu dari sudut matanya. Bagaimana mungkin? Pikirannya berpacu panik. Ia merasa dikhianati oleh ingatannya sendiri, sekaligus terperangkap dalam jebakan yang sangat rapi.
Sano menoleh ke arah Halra, menatapnya dengan pandangan yang tampak begitu lembut di mata publik—namun di balik tatapan itu, Halra bisa melihat kilatan kemenangan yang kejam.
"Halra, Sayang," Sano membelai rambut Halra di depan semua orang, gerakan yang sangat intim. "Sepertinya kita harus memberi mereka sedikit lebih banyak 'bukti' agar mereka berhenti meragukan cinta kita, bukan?"
Halra merasakan tangan Sano yang dingin menyentuh pipinya. Ia tidak bisa berteriak, ia tidak bisa membantah. Di tengah Hotel Wiragata yang seharusnya menjadi benteng pertahanannya, ia telah dipaksa menjadi istri yang dicintai, terjepit dalam kebohongan yang ia sendiri tidak bisa lagi bedakan.
"Tentu, Sano," jawab Halra dengan suara yang sedikit bergetar, namun ia memaksakan sebuah senyum yang manis. "Cinta kami adalah urusan pribadi, namun jika dunia membutuhkan bukti... saya rasa satu foto saja sudah cukup untuk membungkam keraguan kalian semua."
Saat konferensi pers berakhir, Sano membimbing Halra keluar dari kerumunan. Begitu mereka masuk ke dalam lift pribadi yang tertutup rapat, senyum di wajah Sano lenyap seketika. Ia melepaskan rangkulannya dari Halra dengan kasar, lalu menatap wanita itu dengan dingin.
"Kau lihat, Halra?" Sano bersuara, suaranya kini kembali tajam dan tak berperasaan. "Kau berada di dalam hotel milik keluargamu sendiri, tapi kau tidak punya kuasa apa pun. Dalam dunia Wiragata dan Joharo, kebenaran tidaklah penting. Yang penting adalah siapa yang memegang kendali atas narasi."
Halra menatap Sano dengan kemarahan yang meluap di matanya. "Kau brengsek, Sano. Kau menggunakan fasilitas keluargaku untuk menghancurkan harga diriku."
Sano mendekatkan wajahnya, memojokkan Halra ke sudut dinding lift. "Itu adalah pengingat, Halra. Bahwa mulai detik ini, bahkan di rumahmu sendiri, aku adalah penguasa skenarionya. Sekarang, bersiaplah, karena setelah ini, aku akan meminta 'bayaran' atas rahasia yang baru saja kuungkap ke publik."
Pintu lift terbuka dengan denting halus yang terdengar mewah di lorong penthouse Hotel Wiragata. Sano dan Halra melangkah keluar, dan pemandangan di depan mereka seketika berubah.
Di sana, sekelompok staf hotel—termasuk dua kepala departemen dan beberapa pelayan—sedang berdiri menunggu jadwal pengarahan pagi. Begitu melihat pintu lift terbuka dan mendapati sang pewaris Wiragata berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Sano—tubuh Sano yang tampak seolah memagari Halra ke sudut dinding lift—suasana seketika menjadi canggung, namun menyenangkan.
Para karyawan itu tertegun sejenak, lalu serentak menunduk hormat dengan senyum yang tertahan. Mereka melihat bagaimana tangan Sano yang masih berada di dekat dinding, tepat di samping kepala Halra, menciptakan kesan bahwa mereka baru saja terlibat dalam momen romantis yang terinterupsi.
"Selamat pagi, Tuan Sano, Ibu Halra," sapa salah satu kepala pelayan dengan nada yang lebih ceria dari biasanya. Senyum di wajahnya tampak tulus; mereka benar-benar mengira sang bos besar sedang menikmati masa-masa awal pernikahan yang penuh gairah. "Kami mohon maaf jika mengganggu waktu pribadi Anda."
Halra merasakan wajahnya memanas. Ia ingin sekali mendorong Sano menjauh, namun ia sadar sepenuhnya bahwa di mata para karyawan ini, tindakan itu akan terlihat seperti pertengkaran. Ia terpaksa mematung, menahan napas, dan menutupi amarahnya dengan topeng ketenangan seorang wanita berkelas.
Sano, di sisi lain, justru memanfaatkan situasi ini dengan sempurna. Ia tidak menarik tangannya dengan buru-buru. Sebaliknya, ia justru sedikit merapikan anak rambut Halra yang terjuntai, sebuah gerakan yang sangat intim dan posesif.
"Tidak masalah," jawab Sano dengan nada yang sengaja dibuat lembut, suaranya memenuhi koridor yang sepi. Ia menatap Halra dengan tatapan yang terlihat penuh kasih di depan karyawan, padahal di balik punggungnya, jemarinya mencengkeram lengan Halra dengan peringatan keras agar tidak melakukan perlawanan. "Kami baru saja membicarakan rencana liburan singkat setelah semua urusan di hotel ini selesai."
Para karyawan itu semakin lebar tersenyum, bahkan ada yang saling berbisik pelan dengan ekspresi kagum. Bagi mereka, pemandangan seorang Joharo yang begitu perhatian pada putri Wiragata adalah pertanda bahwa perseteruan dua klan besar itu benar-benar telah berakhir.
"Kami sangat senang melihat kebahagiaan Anda, Tuan," ujar pelayan lainnya sambil menunduk sopan sebelum mereka melangkah mundur, memberikan jalan bagi pasangan itu untuk lewat.
Begitu rombongan karyawan itu menghilang di balik tikungan lorong, senyum di wajah Sano langsung memudar hingga menyisakan garis bibir yang datar dan dingin. Ia menarik tangannya dari dekat kepala Halra dengan gerakan yang tajam, lalu berjalan mendahului istrinya tanpa menoleh sedikit pun.
"Kau lihat?" gumam Sano tanpa berhenti berjalan. "Bahkan orang-orangmu sendiri lebih percaya pada kebohongan yang kubuat daripada realitas yang kau jalani. Jangan pernah mencoba untuk membantahku lagi di depan umum, atau mereka akan melihat sisi lain dari pernikahan ini yang mungkin tidak ingin kau tunjukkan."
Halra mengikuti di belakangnya, langkah kakinya yang mengenakan heels terdengar tajam menghantam lantai marmer. Ia menatap punggung Sano dengan kebencian yang mendalam. Ia merasa terasing di hotel miliknya sendiri, terjebak dalam sandiwara yang ia benci, dikelilingi oleh orang-orang yang mengira ia bahagia.
"Kau benar-benar monster, Sano," bisik Halra, cukup keras untuk didengar oleh suaminya.
Sano berhenti di depan pintu kantor utama penthouse. Ia berbalik, menatap Halra dengan tatapan predator. "Mungkin. Tapi ingat satu hal, Halra: monster ini sekarang adalah satu-satunya pelindung yang kau miliki di dalam gedung ini."
Ia mendorong pintu kantor dan masuk ke dalam, meninggalkan Halra yang berdiri mematung di lorong, terjebak di antara kehancuran harga dirinya dan tuntutan untuk terus berakting di depan semua mata yang mengawasinya.