Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — Bayangan Masa Depan
Gelak tawa warga suku dan gemuruh tabuhan drum kayu terus bergema mengangkasa, memecah kesunyian malam di lembah Suku Serigala.
Nyala api unggun raksasa menari-nari tinggi, memancarkan warna jingga keemasan yang menghangatkan wajah orang-orang yang menari melingkar di sekelilingnya.
Aron sedang tertawa lebar bersama Paman Bimo dan Tetua Gordon di dekat meja persembahan, menikmati mangkuk demi mangkuk minuman buah hangat.
Bibi Nora dan para wanita lainnya sibuk membagikan porsi daging panggang ekstra kepada anak-anak yang tak henti-hentinya berlarian dengan gembira.
Semua orang larut dalam kebahagiaan. Semua orang merasa aman di bawah naungan pemukiman yang kokoh ini.
Yana berdiri sedikit menjauh dari kerumunan, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu besar yang berukir. Di tangannya, ia memegang mangkuk kayu berisi air jernih.
Ia memperhatikan wajah orang-orang di sekelilingnya satu per satu.
*Ayah... Paman Bimo... Bibi Nora...' Nama-nama itu terucap pelan di dalam hatinya.
Kehangatan malam ini begitu nyata, namun ingatan tentang masa depan membuat dadanya selalu terasa terikat oleh rantai besi yang dingin.
"Yana, kenapa kamu sendirian di sini?"
Suara Aron terdengar mendekat.
Pria tegap itu berjalan menghampiri putrinya dengan senyum lebar di wajahnya yang sedikit kemerahan akibat minuman buah.
Yana menoleh dan tersenyum tipis. "Aku hanya sedang menikmati pemandangan festival ini, Ayah. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat suku kita sebahagia ini."
Aron menepuk pelan puncak kepala Yana dengan tangannya yang besar dan hangat. "Suku kita bahagia karena kita utuh, Yana. Dan berkat firasat serta bantuanmu, kita semua bisa berdiri di sini malam ini."
Aron mengulurkan mangkuk kayunya ke arah Yana. "Ayo, minumlah sedikit. Malam ini kita merayakan kehidupan!"
Yana menerima mangkuk kayu dari ayahnya. Namun, baru saja bibirnya menyentuh tepi mangkuk batu itu—
STUB!
Sebuah rasa sakit yang sangat dahsyat mendadak menusuk tepat di tengah kepalanya!
Sensasi itu datang begitu cepat dan tajam, seolah-olah sebuah pasak besi panas ditancapkan paksa menembus otak Yana.
Mangkuk kayu di tangannya terlepas dan jatuh terhempas ke tanah, menumpahkan isinya ke atas tanah kering.
"Yana?!" Suara Aron terdengar memanggilnya, tetapi suara itu mendadak terdengar sangat jauh dan bergema, seolah-olah tertutup oleh lapisan air tebal.
Pandangan Yana memutih seketika.
Cahaya api unggun yang hangat, tawa riang warga suku, dan aroma daging panggang yang gurih melenyap dalam sekejap mata.
Suhu udara di sekeliling Yana merosot tajam menjadi panas yang membakar dan menyengat paru-paru.
Sebagai gantinya, sebuah gambaran mengerikan terhampar dengan sangat jelas di balik kelopak matanya—sebuah kilasan penglihatan masa depan yang teramat pekat!
BOOOMM!
Api!
Lautan api berwarna merah kehitaman melahap seluruh bangunan gua dan tiang-tiang kayu Suku Serigala! Asap tebal membumbung tinggi menutupi langit malam, mengubah udara menjadi beracun.
Suara drum festival yang tadinya meriah berganti menjadi jeritan histeris anak-anak dan raungan kesakitan para prajurit yang terantai. Bau tanah basah dan asap kayu berganti menjadi bau amis darah yang menyengat dan bau daging terbakar yang memuakkan!
Di dalam kilasan penglihatan itu, Yana melihat tubuh Paman Bimo terbaring di tanah dengan dada hancur tertusuk tombak besi—senjata gila yang diajarkan oleh gadis transmigrator itu kepada suku tetangga!
Ia melihat Bibi Nora tersungkur di depan pintu gua dengan tubuh tak bernyawa, berusaha melindungi anak-anak yang menangis ketakutan.
Dan di tengah lautan api yang membara itu... Yana melihat ayahnya.
Aron berdiri dengan pakaian berdarah-darah, berlutut di atas satu kaki di hadapan seorang gadis asing berambut aneh yang mengenakan pakaian bersih tanpa noda. Di samping gadis asing itu, berdiri Luka—tunangannya—yang menatap Aron dengan mata dingin tanpa belas kasihan.
'Menyerahlah, Paman Aron,' suara Luka di dalam kilasan masa depan itu bergema begitu tajam dan jernih di benak Yana. 'Wanita Suci ini membawa kemajuan bagi dunia kita. Suku Serigala yang kuno ini harus dihancurkan agar tatanan baru bisa berdiri!'
'Luka... kamu... pengkhianat...' bisik Aron dengan darah keluar dari mulutnya sebelum sebuah pedang besi menebas leher pria gagah itu hingga terpisah!
"TIDAK! AYAH!" jerit Yana di dalam benaknya.
Penglihatan mengerikan itu tidak berhenti di situ.
Gambar-gambar kematian terus berputar dengan sangat cepat di kepala Yana: pemukiman yang rata dengan tanah, tanah Suku Serigala yang berubah menjadi ladang pembantaian, dan bendera suku asing yang berkibar di atas abu kehancuran mereka.
Kekuatan suci yang tersembunyi di dalam jiwa Yana mendadak bergejolak hebat akibat guncangan emosi yang luar biasa ini.
Suatu energi hangat yang tak kasat mata meledak pelan dari tubuhnya, membuat debu di sekitar kaki Yana terdorong mundur!
"Yana! Yana! Ada apa denganmu, Nak?!"
Suara teriakan Aron yang panik memecahkan kilasan penglihatan mengerikan itu secara paksa!
Hah!
Yana tersentak.
Pandangannya kembali secara mendadak.
Lautan api dan bau darah itu melenyap.
Ia kembali berdiri di lapangan Festival Menyambut Musim dingin.
Namun tubuh Yana tidak mampu menahan beban guncangan jiwa dan gejolak kekuatan suci yang mendadak bangkit itu. Lututnya melemas seketika. Wajahnya pucat pasi tanpa setetes darah pun, dan peluh dingin mengalir deras membasahi seluruh dahi dan lehernya.
"Yana!"
Aron dengan sigap menangkap tubuh Yana sebelum putrinya jatuh terhempas ke tanah batu. Pria tegap itu merangkul Yana dengan kedua tangannya yang gemetar ketakutan melihat kondisi putrinya.
Beberapa prajurit dan tetua suku—termasuk Paman Bimo dan Tetua Gordon—segera berlari menghampiri mereka.
Kemeriahan tarian festival terhenti seketika.
"Ada apa, Aron? Apa yang terjadi pada Yana?!" tanya Paman Bimo panik.
"Aku tidak tahu! Tiba-tiba saja dia memucat dan menjerit pelan lalu ambruk!" jawab Aron dengan suara bergetar panik. Ia menepuk-nepuk pipi Yana pelan. "Yana! Dengar suara Ayah, Yana!"
Yana bersandar kaku di dada ayahnya.
Paru-parunya meraup udara dengan sangat berat, napasnya putus-putus seolah-olah ia baru saja tenggelam di danau es yang dalam.
Matanya yang abu-abu kehijauan menatap wajah ayahnya dengan pandangan kosong dan penuh ketakutan yang mendalam.
Ayahnya masih ada di sini.
Wajah ayahnya utuh.
Leher ayahnya tidak terputus.
Tetapi kilasan penglihatan tadi... itu bukanlah sekadar ingatan dari kehidupan pertamanya! Itu adalah peringatan! Penglihatan bahwa masa depan kelam itu masih tetap mengintai mereka jika Yana gagal menghentikan kedatangan sang transmigrator!
"Y-Yana..." panggil Aron lagi, matanya berkaca-kaca menatap kondisi putrinya yang nampak sangat terguncang. "Di mana yang sakit, Nak? Katakan pada Ayah!"
Yana berusaha menggerakkan bibirnya yang gemetar hebat.
Tangannya yang kecil dan dingin mencengkeram erat kulit pakaian ayahnya, tidak mau melepaskannya sedikit pun.
"A-Ayah..." bisik Yana dengan suara serak dan hampir tak terdengar di tengah kerumunan.
Tetua Gordon melangkah mendekat, berlutut di sebelah Aron. Sang tetua meletakkan tangannya di atas dahi Yana yang dingin dan basah oleh peluh.
Mata kelabu Tetua Gordon membelalak seketika. Sang tetua bisa merasakan sisa-sisa energi magis murni yang sangat kuat bercampur dengan rasa guncangan jiwa yang hebat dari dalam tubuh Yana.
"Dewa Binatang..." gumam Tetua Gordon dengan suara gemetar. "Gadis ini... baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan."
Luka yang berdiri di barisan belakang kerumunan menatap Yana dengan wajah tegang dan bingung. Namun Yana sama sekali tidak melirik ke arah pemuda itu.
Di dalam dekapan ayahnya yang hangat, Yana memejamkan matanya rapat-rapat, menahan air mata ketakutan dan kemarahan yang mendidih di dalam dadanya.
Kilasan api, darah, dan pengkhianatan Luka itu terus terpatri tajam di dalam benaknya.
'Penglihatan itu... adalah masa depan yang akan terjadi jika aku terlambat,' batin Yana dengan ketetapan hati yang kian membeku.
Guncangan emosi itu terlalu besar hingga kesadaran Yana perlahan-lahan meredup.
Sebelum ia sepenuhnya pingsan di dalam pelukan ayahnya, Yana membisikkan satu janji terakhir di dalam hatinya.
'Aku tidak akan membiarkan api itu membakar suku ini lagi... Tidak akan pernah!'
***
Bersambung ....