NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

"Kakak, kenapa berkata seperti itu?" tanya Sintia dengan wajah yang seolah terluka.

Rani tidak menggubris pertanyaan itu. Ia tahu wanita tersebut sedang mencoba memancing emosinya agar kembali terlihat sebagai pihak yang bersalah. Karena itu, ia justru memilih menunggu reaksi Roy. Namun lelaki itu tetap diam sambil menatapnya, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengambil sikap.

"Mama seharusnya bersyukur masih diberi kesempatan untuk melayani kami," ucap Aksan.

Kedua alis Rani langsung terangkat. Tatapan tajamnya beralih pada putra sulung Roy yang kini duduk dengan wajah pongah.

"Bersyukur?" ulangnya. "Memangnya kamu ini raja? Atau bosku yang punya hak untuk dilayani?"

Aksan langsung mengatupkan rahangnya, sementara Arlan mendengus sinis dari kursinya.

"Oh, jadi sekarang Mama sudah berhenti berakting jadi ibu tiri yang baik? Sudah nggak mau jadi ibu peri lagi?"

Rani tertawa pendek. "Kamu benar. Aku juga sudah lelah. Jadi sekarang kamu puas? Bukankah ini yang kalian inginkan? Melihatku berhenti berpura-pura menjadi ibu yang sempurna?"

"Dasar nggak tahu diri!" bentak Arjun.

Rani menoleh ke arahnya. "Nggak tahu diri? Menurutmu orang yang tahu diri itu seperti apa, Arjun? Orang yang menumpang di rumah orang lain lalu bertingkah seolah rumah itu miliknya? Atau orang yang memanggil suami wanita lain dengan sebutan 'Mas' tanpa hubungan darah apa pun?"

Wajah Sintia langsung berubah.

"Atau mungkin orang yang menikmati perhatian, kasih sayang, dan hak yang seharusnya menjadi milik wanita lain?" lanjut Rani sambil menatap Sintia tanpa berkedip.

Brak!

Roy menghantam meja dengan telapak tangannya hingga piring dan sendok di atas meja bergetar.

"Cukup, Rani! Kamu sudah keterlaluan."

Rani menoleh ke arahnya dengan tenang. "Aku keterlaluan? Apa ada satu kalimatku yang salah?"

"Sepertinya hukuman kemarin tidak membuatmu belajar mengintrospeksi diri," balas Roy dengan wajah mengeras.

Rani justru tersenyum tipis. "Introspeksi diri? Menarik sekali mendengar kata itu keluar dari mulut kalian. Sejak aku masuk ke rumah ini, tidak ada satu pun dari kalian yang bertanya kenapa aku menghilang berhari-hari, kenapa aku pulang dalam keadaan terluka, atau kenapa aku berubah. Yang kalian pikirkan hanya bagaimana caranya membuatku meminta maaf pada Sintia."

Tatapan Rani menyapu wajah Roy dan ketiga anak tirinya satu per satu.

"Jadi sebelum menyuruhku introspeksi diri, mungkin kalian juga perlu bercermin."

Sintia yang sejak tadi menikmati pertengkaran itu mulai menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya, perhatian Roy dan ketiga anaknya tidak sepenuhnya tertuju padanya. Ia pun buru-buru bangkit lalu berjalan mendekati Rani.

"Kak Rani, ini semua salahku. Kakak jangan marah lagi. Aku rela Kakak pukul atau dimarahi kalau itu bisa membuat Kakak tenang," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi membuat kebohongan seperti Kakak pulang dalam keadaan terluka seperti ini juga tidak baik."

Rani yang sedari tadi menatapnya tiba-tiba mengangguk pelan.

"Oh, jadi kamu rela dipukul?"

Pertanyaan itu membuat Sintia terdiam sesaat. Entah kenapa, firasat buruk mendadak muncul di hatinya.

"Kak, aku tidak bermaksud—"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipinya. Tubuh Sintia sampai terhuyung ke samping. Ia memegangi wajahnya dengan mata membelalak tidak percaya.

Semua orang di ruang makan membeku. Bahkan Roy tampak terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.

Namun Rani sama sekali tidak terlihat bersalah. Ia malah mengibaskan tangannya pelan lalu menatap Sintia dengan wajah datar.

"Katanya rela dipukul."

"Rani!" bentak Roy sambil merangkul Sintia.

Rani mendengus melihat pemandangan di depannya, lalu dengan nada datar berkata, "Jangan marah dulu. Aku hanya mengikuti keinginan wanita kesayanganmu ini. Atau jangan-jangan semua ucapan dia memang cuma sandiwara?"

Roy menatap Rani tanpa berkedip. Entah sejak kapan, wanita itu berubah menjadi seseorang yang terasa asing di matanya.

Biasanya setelah dibentak, Rani akan menundukkan kepala. Setelah dituduh, ia akan buru-buru menjelaskan diri. Bahkan ketika dipaksa meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia lakukan, wanita itu selalu memilih mengalah demi menjaga kedamaian rumah.

Namun sekarang? Rani berdiri tegak di hadapan mereka tanpa sedikit pun terlihat takut.

Tatapannya juga berbeda. Tidak ada lagi tatapan penuh harap yang selalu menunggunya membela atau memercayainya. Tidak ada lagi kesedihan yang biasanya muncul saat ketiga anaknya memihak Sintia. Yang ada hanya ketenangan. Anehnya, ketenangan itu justru membuat Roy merasa tidak nyaman.

"Kenapa diam?" tanya Rani santai.

Roy tersadar dari lamunannya. "Kamu berubah."

Sudut bibir Rani terangkat tipis. "Begitu ya?"

"Jangan berpikir aku tidak menyadarinya."

Rani terkekeh pelan. "Bukankah itu bagus? Selama ini kalian selalu ingin aku berubah."

"Bukan seperti ini."

"Lalu seperti apa?" tanya Rani.

Roy terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban.

Tatapan wanita di hadapannya terasa terlalu asing. Seolah Rani yang selama ini dikenalnya telah menghilang dan digantikan oleh orang lain. Karena tidak ingin kehilangan kendali atas situasi, Roy akhirnya mengalihkan pembicaraan.

"Cukup, Rani. Sejak kamu pulang, rumah ini sama sekali tidak memiliki kedamaian." Ia mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan, "Kalau kamu masih kesal karena Sintia tinggal di sini, aku bisa mengganti rugi kekesalanmu."

Rani menatap Roy beberapa detik sebelum akhirnya tertawa hambar.

"Ganti rugi?"

"Iya."

Entah kenapa, kalimat itu terdengar begitu lucu di telinganya.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun ia mengorbankan hidupnya untuk keluarga ini. Mimpinya, kariernya dan harga dirinya. Sekarang Roy berbicara tentang ganti rugi seolah semua itu bisa dihitung dengan angka.

Namun di sisi lain, Rani juga tidak bisa memungkiri bahwa selama ini ia tidak pernah mendapatkan apa-apa. Bahkan saat membuka lemari kemarin, yang ia temukan hanya tumpukan daster murahan yang kualitasnya bahkan tidak layak dipakai oleh istri seorang dokter sekaligus profesor ternama.

"Baiklah," ucapnya santai.

Jawaban itu membuat semua orang terkejut. Roy bahkan sempat mengernyit. "Kamu mau?"

"Tentu saja." Rani mengangguk. "Bukankah Mas yang menawarkan?"

"Apa yang kamu inginkan?"

Rani berpikir sejenak lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Pertama, aku mau kartu kredit."

Kening Roy langsung berkerut.

"Kedua, aku mau mobil."

Wajah Sintia mulai berubah.

"Ketiga, aku mau kamar utama."

"Apa?" seru Sintia tanpa bisa menahan diri.

Rani langsung menoleh padanya.

"Kenapa? Bukankah aku istri sah di rumah ini?" tanyanya santai. "Atau selama ini kamar utama ditempati orang lain?"

Wajah Sintia langsung memucat.

Sementara Aksan, Arlan, dan Arjun terlihat tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Namun Rani belum selesai.

"Oh ya, satu lagi."

Roy menatapnya tajam.

"Aku juga mau semua rekening dan aset yang selama ini menjadi hakku sebagai istri diperlihatkan. Masa aku hidup sepuluh tahun di rumah ini tapi bahkan isi lemari bajuku lebih mirip milik penghuni kos daripada nyonya rumah."

Suasana ruang makan kembali hening. Untuk pertama kalinya, Roy tidak tahu harus marah atau merasa bersalah.

Sedangkan Rani justru merasa puas. Kalau memang Roy ingin mengganti rugi, maka kali ini ia akan menghitung semuanya dengan bunga.

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!