Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri yang berkuasa
Gizel menunggu dengan gelisah di dalam kamarnya. Kamar yang ditempatinya jika Mahendra ada di rumah ini. Karena sebenarnya Mahendra memiliki kamar sendiri. Kamar yang terkadang ia tempati saat ia ingin sendiri. Kamar yang tak bisa Gizel datangi tanpa seijin suaminya. Kamar yang berisi semua rahasia kehidupan Mahendra yang tak bisa Gizel ketahui. Mahendra tetap pria yang tak tersentuh walaupun mereka sudah 6 tahun bersama.
Pintu kamarnya diketuk dari luar, lalu masuklah mbo Sarmi.
"Nyonya, kamar untuk nyonya Sinta sudah selesai ditata." kata mbo Sarmi.
Gizel menatap pembantu tertua di rumah mewah ini. "Kamar yang mana?"
"Nyonya Risna meminta saya untuk menyiapkan kamar di samping kamar nyonya Gizel."
"Apa? Memangnya nggak ada kamar di lantai bawah? Rumah ini punya 7 kamar. Berikan dia kamar di bawah."
"Tapi nyonya, kalau nyonya Risna marah bagaimana?" mbo Sarmi nampak ketakutan.
"Aku nyonya rumah ini! Pilihkan salah satu kamar yang ada di bawah! Aku tidak ingin satu lantai dengan maduku itu." kata Gizel dengan suara yang keras.
Mbo Sarmi segera meninggalkan kamar itu.
1 jam kemudian......
Terdengar suara gerbang yang di buka. Gizel mengintip dari jendela kamarnya. Nampak mobil suaminya sudah memasuki halaman rumah. Di belakang mobil Mahendra, ada mobil Risna.
Gizel segera mengatur rambutnya, memperbaiki make up nya lalu segera turun ke bawah. Ia sengaja berdandan untuk menunjukan kecantikannya sebagai istri pertama Mahendra.
Mahendra turun dari mobil. Pak Joko yang adalah suaminya mbo Sarmi segera membuka bagasi mobil dan menurunkan barang-barang yang ada.
Sinta turun sambil berusaha tak menunjukkan rasa gugupnya. Rumah yang besar dengan model Eropa kuno. Tamannya bagus dengan bunga-bunga yang mahal. Rumah ini bagaikan istana yang letaknya di atas bukit.
Gizel melihat gadis berambut panjang. Rambutnya hitam lurus. Menggunakan gaun dengan potongan sederhana berwarna putih, senada dengan Mahendra yang mengenakan kemeja berwarna putih juga.
"Mama....!" Mahendra segera mendekati mamanya. Ia mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya itu. Risna tersenyum.
"Kamu terlihat lebih segar sekarang, nak. Apakah pengaruh istri muda?" kata Risna sambil melirik ke arah Gizel yang nampaknya sedikit cemberut mendengar perkataan mertuanya.
"Mama....!" Mahendra hanya bisa memutar matanya malas. Ia melihat Gizel.
"Sayang....., aku merindukanmu?" kata Gizel lalu memeluk Mahendra dengan posesif.
Mahendra hanya diam. Tak membalas pelukan Gizel karena dia memang termasuk orang yang tak mau mengumbar kemesraan di depan para pelayan yang kita sedang menatap mereka.
"Selamat datang tuan!" sapa mbo Sarmi saat Mahendra melewatinya.
Mahendra hanya mengangguk lalu segera melangkah masuk.
"Sinta ayo masuk!" ajak Risna lalu segera menyusul putranya.
Sinta memegang tali tas Selempang nya. Ia dapat merasakan tatapan mata Gizel yang tajam padanya. Walaupun mereka tak memperkenalkan Gizel, namun cara perempuan itu memeluk Mahendra, jelas sekali ia adalah sang nyonya pertama.
Menginjakkan kaki di istana keluarga Atmaja membuat kaki Sinta sedikit bergetar. Rumah yang mewah dengan interior yang mewah pula.
"Mbo Sarmi, antarkan nyonya kedua ke kamarnya." perintah Risna.
"Baik."
Risna mengerutkan dahinya saat melihat mbo Sarmi mengajak Sinta ke kamar tamu.
"Sarmi, kenapa kamu mengantarkan nyonya kedua di kamar itu? Bukankah aku sudah menyuruh mu menyiapkan kamar yang ada di sebelah kamar Gizel?" tanya Risna dengan suara yang meleking tunggi.
Gizel yang baru saja akan ke ruang kerja suaminya segera menghentikan langkahnya. Ia membalikan badannya dan menatap mertuanya itu. "Ma, aku yang meminta mbo Sarmi untuk menyiapkan kamar yang ada di bawah. Masa Sinta harus bersebelahan kamar dengan aku?"
"Memangnya kenapa kalau bersebelahan kamar? Kamar Mahendra juga di atas." kata Risna sambil berkacak pinggang.
"Ma, Mahendra sudah mengatakan padaku walaupun dia sudah menikah lagi, aku tetap nyonya utama di rumah ini. Aku berhak mengatur rumah ini."
"Kamu...!" Risna mengangkat hendak menampar Gizel namun Sinta dengan cepat menahan tangannya.
"Ma, jangan! Aku tak masalah jika kamar di bawah. Aku tak mau ribut-ribut hanya masalah kamar. Lagi pula, aku punya phobia pada ketinggian." kata Sinta dengan wajah tenang dan suara yang terdengar datar.
"Kamu jangan sok berkuasa di sini, Gizel." emosi Risna nampak masih belum menurun.
"Mama, mau minum kopi? Aku ingin sekali minum kopi." tanya Sinta berusaha mencairkan suasana.
"Baiklah. Ayo kita minum kopi." Risna menggandeng tangan Sinta dan segera menuju ke dapur. Sedangkan Gizel mengepalkan tangannya. 6 tahun ia menjadi menantu keluarga Mahendra, tak pernah sekalipun Risna menggandeng tangannya. Karena memang sejak awal, Risna tak pernah menyukai Gizel sebagai menantu. Risna bahkan menuduh Gizel dengan sengaja menjebak Mahendra untuk menikahnya karena kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Atmaja.
Gizel segera menuju ke ruangan kerja Mahendra. Begitu ia masuk, nampak Mahendra sudah duduk sambil membaca dokumen-dokumen yang cukup banyak di atas meja.
"Sayang, aku kesal." kata Gizel lalu duduk di depan suaminya.
"Ada apa?" tanya Mahendra tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen yang dibacanya.
"Mama Risna ingin mengatur rumah ini. Mama kan punya rumah sendiri. Aku menyuruh mbo Sarmi untuk mengatur kamar Sinta di bawah, eh..., dia ingin kamarnya di samping kamarku."
"Aturlah yang terbaik. Aku tak mau ada pertengkaran dan aku tak mau kamu menganggu aku yang sedang kerja. Bolehkan?" kata Mahendra sambil terus membolak-balikkan dokumen di tangannya. Gizel menahan rasa jengkel di hati karena Mahendra seakan tak memperhatikannya. Ia pun bergerak meninggalkan ruang kerja itu. Dari arah dapur, ia mendengar suara tawa mama mertuanya bersama Sinta. Gizel bergegas ke kamarnya. Ia akan mandi dan berendam dengan sabun wangi. Malam ini, ia bertekad untuk menghabiskan malam panas dengan suaminya.
**********
Selesai minum kopi dengan mertuanya, Sinta membantu mbo Sarmi menyiapkan makan malam.
"Nyonya, panggil saja tuan Mahendra untuk makan malam nanti saya panggil nyonya Risna dan nyonya Gizel." kata mbo Sarmi.
Sinta pun menuju ke ruang kerja yang ditunjuk oleh mbo Sarmi. Setelah mengetuk pintu, Sinta pun membukanya. Ia kaget melihat Mahendra yang tertidur di sofa panjang. Pasti lelaki itu kelelahan karena sejak pulang tadi sudah bekerja. Belum lagi tadi pagi saat mereka tak sengaja mandi bersama, Mahendra justru bercinta lagi dengan Sinta.
Sebenarnya Sinta juga merasa lelah. Namun mertuanya sudah mengajarkannya tentang bagaiman menjadi istri yang baik, jadi dia pun akhirnya memilih menyiapkan makan malam.
"Abang .....Abang......!" Sinta menepuk tangan Mahendra perlahan.
Mahendra tersentak bangun. Ia langsung melihat arlojinya. "Astaga, sudah jam tujuh lewat?" Mahendra pun menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan untuk sekedar mengumpulkan nyawanya. Lalu lelaki itu duduk dan menggerakkan badannya.
"Makan malam sudah siap, Abang."
Mahendra mengangguk. "Aku cuci muka dulu." kata Mahendra lalu berjalan ke arah wastafel dan mencuci wajahnya di sana. Ia mengambil beberapa lembar tissue untuk mengeringkan wajahnya lalu segera keluar diikuti oleh Sinta.
Saat memasuki ruang makan, nampak mama Risna dan Gizel sudah duduk di depan meja makan.
"Selamat malam." Kata Mahendra lalu segera duduk di kepala meja. Gizel duduk di sebelah kanan. Kursi di sebelah kiri nampak kosong.
"Sinta tempat duduk mu di situ." kata Risna sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Mahendra. Sinta duduk berhadapan dengan Gizel sementara Risna duduk di samping Sinta.
"Bagaimana makanannya? Enak?" tanya Risna pada putranya.
"Enak." jawab Mahendra.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Ini masakan buatan Sinta. Akhirnya kamu punya istri yang bisa masak." kata Risna sambil melirik ke arah Gizel.
Mantan pramugari itu terlihat kesal. Ia memang tak pernah masak karena Gizel paling malas harus berurusan dengan minyak dan bau bumbu.
Mahendra hanya mengangguk. Tanpa mamanya katakan, Mahendra sudah tahu masakan buatan siapa ini. Sangat berbeda dengan yang biasa dibuat oleh mbo Sarmi. Masakan ini hampir sama dengan yang biasa Sinta siapkan untuknya di villa.
"Mahendra, sekarang kamu kan sudah punya 2 istri jadi kamu harus membagi waktu mu dengan baik. Harus adil dan perhatiannya harus juga sama." kata Risna.
"Aku tahu." jawab Mahendra sambil terus menikmati makannya.
"Aku ini istri tertua kan? Jadi biar aku yang atur pembagiannya. Senin sampai Kamis, Mahendra bersamaku. Jumat sampai minggu bersama dengan Sinta." kata Gizel dengan penuh semangat. Ia tahu kalau hari Jumat dan Sabtu, Mahendra sangat sibuk dengan urusan desa. Ia sering menghabiskan waktu dengan penduduk desa. Terkadang sholat bersama di masjid desa dan setelahnya ada beberapa acara kemasyarakatan. Hari Sabtu adalah waktu Mahendra untuk mengurus peternakan kudanya. Hari Minggu biasannya Mahendra akan pergi ke kota. Tentu saja bersama Gizel.
"Itu tidak adil karena.....!" ucapan Risna langsung dipotong oleh Mahendra.
"Biarkan Gizel yang mengaturnya, ma. Aku rasa itu cukup adil untuk sementara. Nanti kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya." kata Mahendra membuat Gizel langsung tersenyum penuh kemenangan.
Risna menatap Gizel sambil menahan rasa marahnya. Namun ia tak mau menunjukkan pada Gizel kalau dia marah. Itu akan membuat Gizel senang.
Sedangkan Sinta hanya diam. Dia tak mau bicara. Tak mau ikut campur. Walaupun sebenarnya ia harus menjalankan misinya untuk membuat Gizel segera tersingkirkan dari rumah ini.
Risna bergerak cepat, menghubungi orang kepercayaannya lewat telepon.
************
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣