Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sayup-sayup, suara indah azan subuh berkumandang dari masjid di dekat kompleks perumahan, memecah keheningan fajar.
Mendengar panggilan suci itu, Fatma mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Dengan tubuh yang kaku dan menggigil akibat dingin yang menusuk semalaman, ia mencoba untuk duduk di tepi ranjang.
"Mau kemana kamu?" Suara Adrian terdengar dingin dan tajam dari kegelapan, seketika menghentikan gerakan Fatma.
Fatma menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan rasa perih di hatinya.
"Aku harus sholat subuh, Mas. Mas imamku sekarang, ayo kita sholat," jawab Fatma lirih.
Matanya masih terpejam rapat, mematuhi perintah suaminya semalam karena ia belum diizinkan untuk membuka mata.
Sebagai seorang ustadzah, ia tahu bahwa bagaimanapun perlakuan Adrian, pria itu kini adalah suaminya yang sah secara agama.
Adrian terkekeh sinis, sebuah tawa getir yang sarat akan ejekan.
"Sholat? Apa itu sholat? Buang-buang waktu saja."
"Astaghfirullah, Mas..." bisik Fatma.
Dadanya berdenyut nyeri mendengar kalimat meremehkan itu keluar dari mulut suaminya sendiri.
"Sholatlah sendiri!" potong Adrian kasar, tidak peduli dengan teguran Fatma.
"Setelah itu buatkan aku kopi, dan berdandanlah yang cantik. Karena hari ini, adalah hari resepsi pernikahan kita."
Mendengar kata 'resepsi', jantung Fatma berdegup kencang.
Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi Liana dan Adrian, kini harus ia jalani sebagai pengantin pengganti di bawah sorot mata ratusan pasang mata tamu undangan.
Sebelum beranjak, Fatma memberanikan diri untuk bertanya, "Boleh aku membuka mataku, Mas?"
Adrian terdiam sejenak, menatap siluet tubuh istrinya yang meringkuk dalam temaram subuh.
"Hm," gumamnya malas sebagai tanda izin.
Begitu lampu kamar dinyalakan secara remang oleh Adrian, Fatma perlahan membuka matanya.
Pandangannya agak kabur karena air mata yang mengering.
Tanpa menengok ke arah Adrian, ia segera menyambar kain kebaya putihnya yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuhnya, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Fatma mengunci pintu rapat-rapat.
Ia melangkah mendekati wastafel dan mendongak, memandangi pantulan dirinya di cermin besar.
Hatinya kembali mencelos. Di dalam cermin, ia melihat wajahnya yang sembab parah karena menangis semalaman tanpa henti.
Sudut matanya merah, dan di pipi kirinya, masih tercetak jelas bekas kemerahan akibat tamparan keras Adrian semalam.
Fatma menyentuh pipinya yang masih terasa linu, lalu mengalirkan air keran.
Sambil membasuh wajahnya dengan air dingin yang segar, air matanya kembali luruh, menyatu dengan aliran air.
Ia mencoba menguatkan hatinya yang hancur, bersiap mengambil wudhu untuk menghadap Sang Pencipta—satu-satunya tempat ia bisa mengadu dan mencari kekuatan menghadapi badai kehidupan yang baru dimulai ini.
Setelah menyelesaikan wudhunya, Fatma keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan.
Ia berjalan menuju tas jinjingnya yang tergeletak di sudut kamar, mengambil mukena putih bersih miliknya, lalu menggelar sajadah menghadap kiblat.
Di dalam kamar yang masih diselimuti ketegangan itu, Fatma segera menunaikan sholat subuh sendirian dengan khusyuk.
Usai salam, pertahanannya kembali runtuh. Fatma menundukkan kepala, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dan memanjatkan doa sambil menangis lirih.
Di hamparan sajadah itu, ia menumpahkan seluruh rasa sakit, kehilangan, dan ketakutan yang menghimpit batinnya.
Ia memohon kekuatan kepada Sang Pemilik Semesta agar dikuatkan melewati badai takdir ini.
Setelah hatinya sedikit lebih tenang, ia segera merapikan mukenanya, memasukkannya kembali ke dalam tas, lalu mengganti pakaiannya dengan baju muslimah yang lebih pantas.
Dengan langkah pelan, Fatma keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk memenuhi perintah Adrian.
Saat baru saja menginjakkan kaki di area dapur, langkah Fatma terhenti karena sapaan hangat dari seorang pemuda.
"Mbak, baik-baik saja?"
Fatma menoleh. Di sana berdiri seorang pemuda yang menatapnya dengan pandangan penuh simpati.
"Aku Hakam, adik Mas Adrian," kenalnya ramah.
Di sebelah pemuda itu, berdiri seorang anak perempuan menggemaskan yang menatap Fatma dengan mata bulatnya yang polos. "Dan aku Aisyah, adik bungsu Mas Adrian yang masih sekolah dasar."
Mendengar ketulusan dari kedua adik iparnya, rasa dingin di hati Fatma sedikit mencair.
Ia tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya lembut.
"Iya, Mbak baik-baik saja. Terima kasih, Hakam, Aisyah," jawabnya lirih.
Fatma kemudian melanjutkan langkahnya menuju kitchen island untuk membuat kopi.
Jemarinya yang masih agak gemetar mulai mencari cangkir dan bubuk kopi.
"Adrian tidak suka kopi dengan gula," sebuah suara keibuan tiba-tiba menginterupsi.
Fatma menoleh dan mendapati Mama Adrian berjalan mendekat dengan gurat kelelahan yang nyata di wajahnya.
Tatapan Mama tidak lagi dingin seperti semalam, melainkan tersirat rasa bersalah yang mendalam.
"I-iya, Ma," sahut Fatma patuh, lalu menakar kopi hitam tanpa menambahkan gula sedikit pun.
Tak berselang lama, Papa Adrian juga menghampiri menantunya yang sedang membuat kopi tersebut.
Beliau berdiri di dekat Fatma, mengamati menantunya dengan pandangan seorang ayah yang bijaksana.
"Setelah selesai membuat kopi, kamu segera bersama MUA ke ruang tamu, ya. Mereka sudah datang untuk meriasmu," ucap Papa dengan nada suara yang sangat lembut dan kebapakan.
"Iya, Papa," ucap Fatma sambil menundukkan kepala takzim.
Sebenarnya, Papa dan Mama Adrian sama sekali tidak menyalahkan Fatma atas tragedi ini.
Setelah emosi semalam sedikit mereda, sebagai orang tua yang bijak, mereka sadar dan tahu betul kalau Fatma juga merupakan korban.
Wanita muda di hadapan mereka ini juga baru saja kehilangan kekasihnya, Jamie, yang ternyata berselingkuh di belakangnya bersama Liana.
Melihat bagaimana putranya semalam berlaku kasar, hati Papa Adrian dirundung penyesalan yang besar.
Beliau melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Fatma dengan pelan.
"Fatma, maafkan putra Papa, ya," bisik Papa dengan suara parau, mewakili permintaan maaf atas ketidakwarasan Adrian yang telah menyeret gadis suci ini ke dalam lingkaran dendam mereka.
Fatma menganggukkan kepalanya pelan, menahan desakan air mata yang kembali merebak mendengar ucapan tulus dari Papa Adrian.
Ia merasa sedikit dikuatkan mengetahui bahwa tidak semua orang di rumah ini menganggapnya sebagai pelaku.
Setelah menata cangkir kopi hitam di atas nampan kecil, Fatma melangkah pelan menaiki tangga menuju kamar atas.
Ia membuka pintu kamar yang masih temaram itu dengan hati-hati. Adrian tampak masih berbaring di atas ranjang dengan posisi memunggungi pintu.
"Mas, bangun. Ini kopinya," ucap Fatma lirih, meletakkan nampan tersebut di atas meja nakas di samping tempat tidur.
"Hm," gumam Adrian malas.
Pria itu membalikkan badannya, membuka mata yang tampak merah dan kuyu, lalu melirik cangkir kopi di sampingnya.
Bukannya meraih cangkir itu untuk diminum, Adrian justru mengibaskan tangannya dengan kasar hingga cangkir tersebut tersenggol dan jatuh ke lantai.
Piringannya pecah, dan cairan hitam pekat itu tumpah mengotori karpet bulu yang mahal.
"Hanya Liana yang bisa membuat kopi untukku di pagi hari!" desis Adrian dengan suara serak, menatap tajam Fatma seolah kopi itu adalah racun.
Melihat kopi yang dibuatnya dengan susah payah dibuang begitu saja, ditambah rasa lelah batin yang sudah mencapai batasnya sejak semalam, membuat benteng kesabaran Fatma sedikit retak. Ia mendongak, menatap Adrian lurus-lurus.
"Kalau begitu, panggil Liana," ucap Fatma, suaranya bergetar namun ada nada menantang yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Ia ingin Adrian sadar bahwa Liana sudah tiada dan takkan pernah kembali.
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Fatma, rahang Adrian mengeras seketika.
Ia tersenyum sinis, sebuah senyuman yang tampak mengerikan di wajahnya yang kuyu.
Dengan gerakan kilat, Adrian bangkit dari ranjang dan merenggut jilbab yang dipakai Fatma hingga kepala wanita itu tertarik ke depan.
"Kamu kira itu lucu, hah?!" bentak Adrian tepat di depan wajah Fatma.
PLAKKK!!
Satu tamparan keras kembali melayang dan mendarat telak di pipi Fatma yang satunya, menyisakan rasa panas yang membakar kulitnya.
"KAMU DAN LELAKI BAJINGAN ITU YANG SUDAH MEMBUNUHNYA!" raung Adrian berapi-api, mencengkeram bahu Fatma dengan kuat dan mengguncangnya kasar.
Amarahnya kembali tersulut, menolak menerima kenyataan bahwa Liana telah pergi meninggalkannya karena berselingkuh dengan Jamie.
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡