NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 - Harga Sebuah Kehormatan

Ruangan itu mendadak sunyi.

Tatapan Dimas Wijaya tak lagi dipenuhi ejekan. Keningnya sedikit berkerut, seolah sedang mengingat sesuatu yang hampir terlupakan.

"Kita pernah bertemu?"

Pertanyaan itu meluncur pelan.

Raka menggeleng.

"Kurasa tidak."

Dimas masih belum mengalihkan pandangannya.

"Aneh..."

Ia mengusap dagunya.

"Wajahmu terasa familiar."

Raka hanya tersenyum tipis.

"Mungkin Bapak salah orang."

Beberapa detik kemudian, Dimas mengangkat bahu.

"Mungkin."

Ia kembali menoleh kepada Pram.

"Sayang sekali."

"Aku sebenarnya datang dengan niat baik."

Pram mendengus pelan.

"Kalau niatmu baik, kau tidak akan datang saat kami sedang terpuruk."

Dimas tertawa kecil.

"Justru saat seperti inilah kesempatan terbaik dalam bisnis."

Kalimat itu membuat Alea mengepalkan tangan.

Ia tidak suka cara pria itu memandang ayahnya, seolah keluarga mereka sudah kalah sebelum bertanding.

"Ayahku tidak akan menjual perusahaan."

Alea maju selangkah.

Tatapannya lurus ke arah Dimas.

Pria itu menoleh sambil tersenyum tipis.

"Masih keras kepala seperti dulu."

"Aku tidak sedang bicara denganmu."

"Aku tahu."

"Tapi kau tetap mendengarkanku."

Senyum Dimas semakin lebar.

"Dengar baik-baik, Alea."

"Dalam dunia bisnis, harga diri tidak bisa membayar utang."

Kalimat itu menghantam tepat ke hati.

Alea tahu ucapan itu menyakitkan.

Namun ia juga tahu...

Sebagian dari kalimat itu adalah kenyataan.

---

Dimas meletakkan sebuah map di atas meja.

"Ini penawaranku."

"Kalau ditandatangani hari ini, seluruh utang perusahaan kepada bank akan langsung kulunasi."

Pram bahkan tidak menyentuh map itu.

"Lalu sebagai gantinya?"

"Seluruh saham perusahaan berpindah kepadaku."

Ruangan kembali hening.

Itu bukan sekadar membeli perusahaan.

Itu berarti mengambil semua yang telah dibangun ayah Alea selama puluhan tahun.

Pram menatap map itu cukup lama.

Tangannya perlahan mengepal.

"Lima belas tahun."

Suara Pram terdengar lirih.

"Aku membangun perusahaan ini selama lima belas tahun."

"Lalu kau ingin mengambilnya hanya karena aku sedang jatuh?"

Dimas tidak tampak bersalah sedikit pun.

"Dunia bisnis memang seperti itu."

"Yang kuat bertahan."

"Yang lemah tersingkir."

---

Raka yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.

"Boleh aku melihat isi kontraknya?"

Dimas tersenyum sinis.

"Tentu."

"Walaupun kurasa kau tidak akan mengerti."

Raka menerima map itu dengan tenang.

Ia membuka halaman demi halaman tanpa terburu-buru.

Tatapannya berhenti di salah satu pasal.

Lalu...

Ia tersenyum tipis.

"Bapak Dimas."

"Apa?"

"Kontrak ini menarik."

"Tentu saja."

"Tapi ada satu masalah."

Dimas mengangkat alis.

"Masalah apa?"

Raka menutup map itu perlahan.

"Pasal tujuh."

"Kalau kontrak ini ditandatangani, perusahaan bukan hanya berpindah kepemilikan."

"Tapi seluruh aset pribadi keluarga Prameswari juga otomatis menjadi jaminan."

Senyum Dimas perlahan menghilang.

Alea spontan menoleh.

"Apa?"

Pram langsung merebut map itu.

Tangannya gemetar saat membaca ulang halaman yang ditunjukkan Raka.

Wajahnya berubah pucat.

"Aku... tidak melihat bagian ini."

Dimas segera menyahut.

"Itu hanya formalitas."

"Benarkah?"

Raka menatapnya lurus.

"Kalau hanya formalitas, kenapa ditulis dengan huruf sekecil ini?"

Suasana menjadi tegang.

Untuk pertama kalinya sejak datang, Dimas kehilangan kendali atas ekspresinya.

"Kau cukup teliti."

"Biasa."

Raka menutup map itu.

"Aku memang terbiasa membaca kontrak sampai bagian paling kecil."

Alea memperhatikan pria yang kini berdiri di sampingnya.

Entah mengapa...

Baru kali ini ia benar-benar percaya bahwa Raka memang seorang ahli hukum.

Cara berbicaranya tenang.

Tidak meninggikan suara.

Tetapi setiap kalimatnya membuat lawan bicara kehilangan ruang untuk menyerang.

---

Dimas menarik napas panjang.

"Baiklah."

"Kita bisa menghapus pasal itu."

"Tidak perlu."

Raka mengembalikan map tersebut.

"Keluarga ini tidak akan menandatangani kontrak apa pun hari ini."

"Kau yakin?"

Tatapan Dimas berubah tajam.

"Kalau tujuh hari lagi perusahaan ini disita, jangan salahkan aku."

Ia berbalik menuju pintu.

Sebelum keluar, langkahnya berhenti.

Ia menoleh kepada Raka.

"Kita pasti bertemu lagi."

"Kali berikutnya..."

"Aku ingin tahu siapa sebenarnya dirimu."

Pintu tertutup.

Mobil Dimas perlahan meninggalkan halaman rumah.

Keheningan kembali memenuhi ruang tamu.

---

Pram mengembuskan napas panjang.

"Terima kasih."

Kalimat itu ditujukan kepada Raka.

"Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah menandatangani kontrak tadi."

Raka hanya mengangguk.

"Itu memang tujuanku."

Alea menoleh.

"Tujuanmu?"

"Membantu keluarga ini."

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun sebelum Alea sempat bertanya lebih jauh, ponsel Raka kembali bergetar.

Ia melihat nama pengirim pesan.

**A**

> **Dimas mulai curiga. Waktu penyamaranmu tidak banyak lagi.**

Raka segera mematikan layar.

Saat mengangkat kepala, ia mendapati Alea sedang memandangnya.

Bukan dengan curiga.

Melainkan dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka...

Ada secercah rasa percaya di mata perempuan itu.

Dan itu justru membuat misi Raka menjadi jauh lebih rumit.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!