"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
6 April 2010
21.00
Seperti bangun dari mimpi buruk, napasku memburu dengan cepat. Dadaku naik turun. Wajahku pucat pasi. Keringat dingin membasahi tubuhku. Acara tv yang sedang membawakan berita malam terdengar jelas dengan aku duduk di sofa sebagai penontonnya.
Aku tidak mengerti. Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Beberapa waktu lalu, aku melihat paman membunuh ayah dan ibu tepat dihadapanku, lalu paman membunuhku tanpa ampun. Namun sekarang, kenapa aku malah duduk di sebelah paman seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Paman dengan santainya menonton berita. Itu benar. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada. Itu hanya mimpi. Ya, itu semua hanyalah mimpi.
Aku dengan cepat mencoba menenangkan diri sebelum paman menyadari perubahan ekspresi ku. Setidaknya aku berusaha melakukannya meskipun hanya bertahan 5 detik.
Saluran acara yang biasa. Mbak pembawa berita yang biasanya. Setiap kata yang diucapkannya. Dan, waktu yang tertera di layar. Itu sama persis dengan ingatanku. Mimpi? Tidak, itu bukanlah mimpi ataupun halusinasi. Inilah kenyataannya. Aku kembali ke 24 jam sebelumnya. Kejadian sebelumnya juga sama. Aku selalu kembali tengah malam pada tanggal 7 April. Apa kematian pemicunya? Apa itu berarti aku telah mati 2 kali sebelum kejadian tadi? Tapi kenapa? Bagaimana ? Siapa yang—
Pandanganku langsung beralih ke paman. Paman yang menyadari tatapanku juga menoleh ke arahku. Paman menatapku dengan sangat kebingungan. Aku yakin wajahku pasti seperti sedang melihat hantu, atau bahkan sesuatu yang lebih menakutkan.
“Ada apa sayang?”
Paman mencoba meraih kepalaku. Seketika ingatan itu kembali muncul. Aku langsung panik, berteriak dengan sangat keras, lalu berlari ke luar rumah.
Aku mendengar suara paman seperti sedang memanggilku, tapi aku mengabaikannya karena ketakutan. Aku terus berlari di trotoar sambil menangis ketakutan. Orang-orang memperhatikan dan terkadang aku menabrak seseorang sebelum aku kembali berlari tanpa meminta maaf.
Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini. Kenapa semua ini terjadi. Dan dimana letak salahnya.
“Ini semua salahmu!”
Salah…ku?
“Ya! Karena kau ada, paman menjadi membencimu! Karena kau terlahir, paman menjadi ayah dan ibu! Karena kau—kaulah yang telah menghancurkan kehidupan mereka. KAU TIDAK SEPANTASNYA LAHIR KE DUNIA INI!”
Perkataan itu seperti menarik seluruh tenagaku. Kakiku terasa lemas. Tubuhku langsung terjatuh dengan lutut terlebih dulu menghantam aspal, lalu telapak tangan, pergelangan tangan, lalu wajahku juga ikut bergesekan dengan aspal. Darah segar merembes keluar diikuti dengan rasa perih dan panas yang sangat kontras dengan suasana taman yang sunyi dan dingin. isak tangisku semakin keras. Aku kesakitan. Aku ketakutan. Siapa saja, kumohon, tolong katakan kalau semua ini bukanlah kenyataan, tolong katakan kalau ini hanyalah mimpi buruk.
Disaat itu, akal sehatku benar-benar telah hancur. Aku selalu mengulangi kembali kata dan harapan yang sama. Ketakutan menghantuiku. Begitu juga dengan rasa sakit. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku lebih memilih membiarkan tubuhku terlentang tak berdaya. Tapi itu lebih baik daripada berlari kesana kemari tanpa arah. Seseorang pasti akan menemukanku. Seseorang pasti akan menyelamatkanku. Itu pasti.
Tik. Tik. Tik
Suara tetesan hujan terdengar, disusul oleh hujan lebat yang mengguyur seluruh kota dan membasahi sekujur tubuhku.
Tidak ada yang lewat. Tidak ada yang menolongku. Aku sendirian. Tubuhku terasa lemah. Aku harus bangkit.
“Untuk apa?”
Aku tidak tahu.
“Tidurlah! Dan semua penderitaanmu akan hilang.”
Benarkah?
“Ya. Karena itu tidurlah… Luna ku sayang...”
Luna. Luna. Luna.
Suara teriakan keras membuatku tersentak—atau lebih tepatnya terbangun. Aku dapat melihat ayah yang sedang memangku tubuhku, dan ibu di sebelah ayah. Mereka terlihat sangat khawatir. Hujan juga telah berhenti. Malam digantikan pagi.
“Maafkan ayah nak! Ayah seharusnya tidak membiarkan ini terjadi.”
“Maafkan ibu juga sayang! Ibu gagal jadi seorang ibu yang baik!”
Mereka memelukku erat, seolah takut aku akan hilang lagi jika dilepaskan sedikit saja. Bahu mereka bergetar. Tangis itu pecah tanpa ditahan—berat, penuh penyesalan, penuh rasa takut.
Aku bisa merasakannya.
Rasa bersalah. Kekhawatiran. Ketakutan yang selama ini mereka simpan, kini tumpah begitu saja.
Tubuhku masih lemah. Bahkan untuk mengangkat tangan pun terasa berat. Tapi perlahan, aku tetap membalas pelukan itu. Jemariku mencengkeram kain di punggung mereka, seakan memastikan ini nyata. Aku benar-benar masih di sini.
Tangisku ikut pecah. Bukan lagi karena rasa sakit. Bukan karena takut.
Semua itu seperti larut, tergantikan oleh sesuatu yang hangat. Sesuatu yang pelan-pelan memenuhi dadaku, menenangkan gemuruh yang sejak tadi tak berhenti.