NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Kesepakatan

“Aku tidak peduli berapa biayanya. Temukan ibu susu, waktumu hanya sampai malam ini.”

Kemala yang duduk di sofa ruang tunggu langsung menoleh ke arah pintu di samping ruangan. Suara itu terdengar jelas. Namun ada sesuatu di baliknya yang terdengar seperti frustrasi, yang mulai mencapai batas.

“Dokter sudah menjelaskan risikonya. Kita tidak punya banyak waktu.”

Kemala mengernyit.

Ibu susu?

Kemala tak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Namun dari cara pria itu berbicara, seseorang pasti sedang berada dalam kondisi yang tak baik.

Pintu ruangan akhirnya terbuka. Kemala spontan berdiri, dan langsung membeku.

Pria yang keluar dari ruangan itu tampak begitu gagah, menyatu sempurna dengan kemewahan yang mengelilinginya. 

Pria tinggi dengan setelan jas hitam mahal, yang beberapa jam lalu membuat seluruh kantor polisi berubah tegang hanya karena kehadirannya. Kini justru membuat jantung Kemala seperti berhenti sejenak.

Di belakang pria itu, seorang wanita berpenampilan profesional berjalan dengan tablet di tangan. Kemala mengenali wajahnya sebagai wanita yang tadi menjemputnya di gerbang depan. Dari sikap dan posisinya, jelas wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu adalah sekretarisnya.

Langkah pria itu terhenti begitu melihat Kemala.

Alisnya sedikit terangkat.

“Kamu?”

Kemala menelan ludah. Jantungnya yang tadi terasa berhenti kini berdetak begitu kencang.

“Ya, Pak.”

Pria itu menoleh sejenak melihat sekretarisnya. Lalu kembali ke wajah Kemala.

“Bagaimana kamu bisa sampai di sini?” tanya pria itu dengan suara rendah yang membuat tubuh Kemala menegang.

Kemala buru-buru membuka tas kecilnya.

“Saya datang untuk mengembalikan ini.” Kemala mengeluarkan kartu hitam berlis emas yang ditemukannya di terminal.

Mata pria itu langsung menyipit.

[Chairman Proxy].

Kartu yang bahkan tak boleh berpindah tangan.

“Kartu ini terjatuh waktu di terminal,” jelas Kemala cepat. “Saya baru sadar setelah Bapak pergi.”

Pria itu mengambil kartu tersebut. Jemarinya membalik kartu itu sekilas sebelum memasukkannya ke saku dalam jasnya.

“Terima kasih.”

Kemala mengangguk pelan. Sebenarnya, dia bisa pergi sekarang. Tidak ada yang menahannya.

Sesaat, Kemala hampir memilih mundur. Aura pria itu, kemewahan tempat ini, dan kenyataan bahwa dia hanyalah gadis desa yang tak punya apa-apa membuat nyalinya ciut.

Namun bayangan putranya yang hilang segera memenuhi pikiran Kemala. Uang yang tersisa di rekeningnya tak akan cukup bertahan lama, sementara pencarian bayinya belum membuahkan hasil. Jika bukan sekarang, mungkin dia tak akan mendapat kesempatan lain. Menelan rasa takutnya bulat-bulat, Kemala membangkitkan kembali keberanian nekat yang tersisa.

Mungkin ini kesempatan terakhir.

“Pak ...” Suara Kemala nyaris bergetar saat dia memaksa dirinya mengumpulkan keberanian yang tersisa.

Pria itu menatapnya.

“Saya masih ingin meminta pekerjaan.”

Ruangan langsung hening. Sekretaris wanita itu melirik Kemala dengan tatapan iba. Sedangkan pria di depannya tampak mengembuskan napas tipis.

“Sudah saya katakan sebelumnya.” Nada suara pria itu tetap datar. “Rothmere bukan tempat yang menerima pegawai secara sembarangan.”

“Tapi saya bisa bekerja apa saja,” sahut Kemala cepat.

“Bukan soal itu.”

“Saya bisa belajar. Saya tidak takut bekerja keras,” desak Kemala semakin putus asa.

“Bukan itu masalahnya,” ucap pria itu tetap tak bergeming.

Kemala menggigit bibir bawahnya. Wajahnya terasa panas karena malu. Seumur hidup, dia tak pernah memohon seperti ini kepada siapa pun.

Namun Kemala sudah tak punya banyak pilihan.

“Pak, saya benar-benar membutuhkan pekerjaan.”

Pria itu menatapnya beberapa detik dengan tatapan yang sulit ditebak. Lalu akhirnya menggeleng.

“Maaf.”

Hanya satu kata. Namun cukup untuk memadamkan harapan yang baru saja tumbuh dalam diri Kemala. Dia lalu menoleh kepada sekretarisnya.

“Bu Alya, tolong antar Nona ini keluar.”

“Baik, Pak,” jawab sekretaris itu singkat.

Hati Kemala langsung jatuh. Rasanya dunia yang sempat mendapatkan cahaya, kini kembali gelap gulita. Seluruh harapan Kemala runtuh seketika.

Namun tepat ketika Kemala hendak berbalik, rasa nyeri tiba-tiba menjalar di dadanya.

Kemala menahan napas sejenak.

Sejak pagi, payudaranya terasa penuh dan tegang. Putranya bahkan belum pernah menyusu sejak dilahirkan. Setelah seharian berjalan tanpa tujuan di bawah terik matahari sambil menahan stres dan kelelahan, rasa penuh itu kini berubah menjadi nyeri yang sulit diabaikan.

Kemala refleks menyilangkan tangan di depan dada dan menekan salah satu sisinya.

"Akh ...."

Gerakan kecil itu ternyata tidak luput dari perhatian Alya.

Wanita itu langsung menatap Kemala lebih saksama. Pengalamannya sebagai seorang ibu membuat wanita itu segera mengenali tanda-tanda tersebut. 

“Mbak ….” panggil Alya.

Kemala mengangkat kepala.

“Apakah Anda baru melahirkan?” tanya Alya memastikan.

Pertanyaan itu membuat Kemala terdiam.

Lalu mengangguk pelan.

“Iya.”

Pria yang sudah setengah berbalik menuju pintu itu mendadak berhenti. Tatapannya kembali tertuju kepada Kemala. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar memperhatikan wanita itu.

Wajah pucat, tubuh yang masih terlihat lemah, dan gerakan refleks yang sangat dikenali oleh Alya, seorang ibu.

“Berapa usia bayimu?”

Tenggorokan Kemala langsung terasa sesak. Pertanyaan itu selalu berhasil melukai bagian terdalam hatinya.

“Baru beberapa hari,” jawab Kemala yang langsung menyekat seluruh hatinya.

Suara Kemala mulai bergetar. Getaran yang terasa menyedihkan.

“Dia ... hilang dari rumah sakit.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bahkan Alya terlihat terkejut. Sedangkan pria itu tetap diam. Namun ada sesuatu yang berubah di matanya. 

Tidak lagi sekadar melihat perempuan asing yang memohon pekerjaan. Melainkan seorang ibu yang sedang kehilangan anaknya.

“ASI kamu masih keluar?” tanya pria itu tiba-tiba.

Kemala sedikit menegang. Pertanyaan itu terasa pribadi. Namun ekspresi pria itu terlalu serius untuk dicurigai macam-macam.

“Masih,” jawab Kemala singkat.

“Lancar?” tanya pria itu yang kini terasa mendesak Kemala.

Kemala menunduk sejenak.

"Iya. Karena bayi saya belum pernah menyusu langsung …" Tenggorokan Kemala terasa tercekat, "jadi masih banyak."

Pria itu membeku beberapa detik. Tatapannya beralih kepada Alya.

“Bu Alya.”

“Ya, Pak Bastian?”

Nama itu akhirnya terdengar jelas.

Bastian.

“Bagaimana laporan dokter terakhir?”

Wajah Alya langsung berubah muram. “Bayi masih menolak susu formula, Pak.”

Jantung Kemala ikut berdebar.

“Setiap kali dipaksa minum, reaksinya buruk. Pagi ini dia muntah lagi,” sambung Alya.

Bastian mengatupkan rahangnya.

"Dokter khawatir berat badannya terus turun. Kondisi dehidrasinya juga bisa kembali kalau asupan cairannya tidak segera membaik." Alya melanjutkan dengan suara pelan.

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Bastian mengusap rahangnya perlahan, jelas sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu pandangannya kembali jatuh pada Kemala.

“Kamu mau mendengar sebuah tawaran?”

Kemala mengangguk perlahan.

“Kami sedang mencari ibu susu untuk bayi Keluarga Rothmere,” tukas Bastian.

Kemala terdiam.

“Bayi itu lahir prematur.” Bastian melanjutkan. “Pencernaannya sangat sensitif. Susu formula tertentu tidak bisa diterima tubuhnya.”

Alya menambahkan, “Beberapa kali mengalami muntah darah. Berat badannya terus turun. Dokter menyatakan ASI langsung jauh lebih aman.”

Kemala menahan napas.

“Kenapa ibunya tidak menyusui?” tanya Kemala tanpa sadar.

Ruangan kembali sunyi.

Alya menunduk.

Sedangkan Bastian menjawab dengan suara datar.

“Ibu kandungnya meninggal setelah melahirkan.”

Hati Kemala langsung mencelos. Tiba-tiba rasa iba muncul begitu saja.

“Kami sudah mencari donor ASI dan ibu susu selama beberapa hari,” ungkap Alya. “Tapi belum ada yang cocok.”

“Jika hasil pemeriksaan kesehatanmu memenuhi syarat, aku ingin menawarkan pekerjaan sementara.” Bastian menyilangkan tangan di depan dada.

“Pekerjaan?” Kemala menatapnya bingung.

“Jadilah ibu susu sekaligus pengasuh khusus bayi tersebut.”

Mata Kemala langsung membesar. Ruangan terasa mendadak sunyi. Dadanya berdebar keras.

Menyusui bayi orang lain. Saat putranya sendiri masih hilang. Hanya memikirkannya saja sudah membuat hati Kemala nyeri.

Namun Bastian belum selesai.

“Sebagai gantinya, kamu akan mendapatkan tempat tinggal.”

Kemala terdiam.

“Gaji.”

Napasnya mulai tertahan.

“Dan bantuan untuk mencari putramu.”

Jantung Kemala serasa berhenti berdetak.

“Apa?” tanya Kemala cukup terkejut.

“Aku akan mengerahkan orang untuk membantu mencarinya.”

Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Kemala. Dia nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“K-Kenapa?” tanya Kemala gemetaran.

“Karena saat ini aku membutuhkan seseorang seperti kamu.”

Jawaban itu terdengar dingin. Namun justru terasa jujur. Tak ada basa-basi, apalagi belas kasihan palsu.

Hanya kesepakatan.

Dan bagi Kemala, itu lebih dari cukup.

Kemala menunduk, memikirkan putranya, masa depannya, dan kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.

“Saya mau,” jawab Kemala akhirnya.

Bastian mengangguk singkat. Pria itu menoleh kepada sekretarisnya.

“Bu Alya.”

“Ya, Pak?”

“Jadwalkan ulang semua agenda saya hari ini.”

Alya tampak terkejut. Namun segera mengangguk.

“Baik, Pak Bastian.”

“Siapkan tim medis.”

“Baik,” jawab Alya singkat dan segera kembali ke meja kerjanya.

Bastian kembali menatap Kemala.

“Kamu ikut saya.”

***

Setelah seharian berjalan tanpa tujuan, duduk di dalam mobil Bastian terasa seperti kemewahan yang tak pernah Kemala bayangkan.

Pendingin udara yang sejuk, jok empuk, dan rasa aman yang perlahan mengusir kelelahan di tubuhnya.

Kemala sesekali melirik Bastian yang duduk di sebelahnya. Namun pria itu tampaknya sibuk dengan tablet di tangannya.

Hanya keheningan yang terjadi di sepanjang perjalanan.

Mobil akhirnya memasuki kawasan privat dengan gerbang tinggi dan penjagaan berlapis.

Gerbang besi raksasa terbuka perlahan. Di baliknya berdiri kediaman utama Keluarga Rothmere.

Kemala langsung kehilangan kata-kata.

Kemegahan terlihat memukau. Luas, yang bahkan jauh lebih luas dari semua gedung yang Kemala tahu di desanya. Sangat terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Kemala.

Air mancur besar berdiri di tengah halaman. Taman tertata sempurna. Deretan mobil mewah terparkir rapi. Puluhan penjaga dan pelayan terlihat sibuk menjalankan tugas masing-masing.

Kemala sampai harus mendongak untuk melihat seluruh bangunan itu. Dia bahkan tak yakin rumah sebesar ini benar-benar ada.

Ketika mereka masuk ke dalam, beberapa pelayan sempat meliriknya. Namun tak satu pun berani berkomentar.

Harapan yang tadinya begitu kecil kini semakin membesar. Dada Kemala terasa jauh lebih ringan.

Kemala akan memiliki pekerjaan dan tempat tinggal. Dan yang paling penting kesempatan untuk mencari putranya dengan bantuan keluarga sebesar Rothmere.

Rasa sakit yang sejak tadi menghimpit perlahan berubah menjadi kelegaan.

Untuk pertama kalinya sejak bayinya hilang, Kemala merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.

Namun ketenangan itu mendadak pecah. Suara seorang wanita terdengar dari lantai atas.

Terdengar begitu nyaring, tajam, dan penuh kemarahan.

“Cepat singkirkan anak ini dari hadapanku!”

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!