NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Sinar matahari siang menembus kaca jendela besar kantor Adiputra Group. Suasana ruangan yang biasanya hanya diisi suara ketikan keyboard dan gesekan kertas, kini sedikit lebih berwarna karena kehadiran Arunika di sudut ruangan. Gadis itu sedang duduk menyamping, sebelah tangannya memegang sandwich gandum berisi tuna, sementara tangan lainnya sibuk melakukan scrolling di layar ponsel.

Tiba-tiba, mata Arunika berbinar. Ia menghentikan jarinya pada sebuah video yang masuk ke beranda TikTok-nya. Video itu memperlihatkan sebuah restoran di atas awan dengan pemandangan city light Jakarta, meja yang dihiasi kelopak mawar merah, dan lilin-lilin kecil yang berpendar hangat.

"Ihh, bagus banget! Romantis banget suasananya..." pekiknya pelan, hampir seperti bisikan penuh kekaguman. "Gila, ini sih dream dinner banget. Kapan ya bisa ke tempat kayak gini? Sama siapa juga..."

Arunika menghela napas panjang. Ia teringat Marsel. Dulu, ia sering membayangkan bisa makan malam romantis seperti itu dengan Marsel setelah mereka jadian. Tapi nyatanya, Marsel bahkan jarang membalas pesannya, apalagi mengajaknya makan malam.

Tanpa Arunika sadari, di balik meja kerjanya yang luas, Thomas sedang memperhatikannya. Thomas tidak benar-benar sedang membaca laporan di depannya; telinganya menangkap setiap gumaman kecil Arunika. Matanya sempat melirik ke layar ponsel gadis itu dari kejauhan, menangkap pantulan cahaya lilin dari video yang sedang ditonton Arunika.

Thomas kembali menunduk, namun jemarinya berhenti mengetik. Ia meraih ponsel pribadinya di bawah meja, mengirimkan sebuah pesan singkat kepada sekretarisnya: 'Kosongkan jadwal makan malamku. Reservasi tempat yang paling eksklusif di gedung ini.'

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Arunika baru saja selesai merapikan meja kerjanya saat Thomas berdiri dan menyampirkan jasnya di bahu.

"Ayo," ajak Thomas singkat.

Arunika mendongak, bingung. "Ayo ke mana, Mas? Bukannya kita mau pulang ke apartemen?"

"Ikut saja," Thomas berjalan mendahului tanpa menunggu jawaban.

Di dalam lift, Arunika mulai merasa curiga. Thomas tidak menekan tombol lantai dasar menuju parkiran, melainkan tombol paling atas yang bertuliskan Rooftop Restaurant.

"Loh, Mas? Salah pencet ya? Kita mau ke mana sih? Kok ke atas?" tanya Arunika bertubi-tubi.

Thomas hanya diam, menatap angka lantai yang terus bertambah di layar lift.

"Mas... Mas Thomas! Kok nggak dijawab sih?! Ini kita mau makan di kantin atas atau gimana? Aku udah laper banget nih, kalau nunggu lama nanti aku maag," keluh Arunika lagi sambil menarik-narik ujung lengan kemeja Thomas.

Thomas mengembuskan napas panjang, tampak sedikit terganggu namun juga gemas. "Kamu terlalu berisik, Nirmala. Bisa diam sebentar?"

"Ya habisnya Mas Thomas misterius banget! Kayak mau culik aku aja," gerutu Arunika.

Pintu lift berdenting terbuka. Seorang pelayan berseragam rapi sudah berdiri menyambut mereka. "Selamat malam, Pak Thomas. Meja Anda sudah siap di area outdoor privat."

Arunika mengerutkan kening. Ia mengikuti langkah kaki panjang Thomas melewati lorong restoran yang harum aroma steak mahal. Begitu mereka sampai di area balkon yang tertutup untuk umum, Arunika nyaris menjatuhkan tasnya.

Pemandangannya persis seperti di video TikTok yang ia lihat siang tadi. Meja bundar dengan taplak putih bersih, lilin-lilin temaram yang menari ditiup angin malam, dan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta yang berkelap-kelip indah.

"Wah..." Arunika menutup mulutnya dengan tangan. "Ini... ini kan tempat yang tadi ada di TikTok itu! Kok bisa pas banget, Mas?"

Thomas menarikkan kursi untuk Arunika, memberi isyarat agar gadis itu duduk. "Kebetulan saja aku sedang ingin makan makanan Barat malam ini," dalih Thomas datar, meski sebenarnya ia harus membayar biaya tambahan untuk reservasi mendadak di jam prime time.

"Mas Thomas bohong ya?" selidik Arunika setelah mereka duduk berhadapan. "Mas tadi denger aku ngomong sendiri di meja kerja ya?"

"Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak punya hobi menguping pembicaraan orang yang sedang makan sandwich sambil melamun," sahut Thomas ketus, meski matanya menolak untuk menatap langsung ke arah Arunika.

Arunika tertawa, hatinya terasa menghangat. "Ya sudah, kalau Mas nggak mau ngaku. Tapi makasih ya, Mas. Bagus banget tempatnya. Aku nggak pernah kepikiran bisa ke sini secepat ini. Biasanya kan orang ke sini kalau lagi anniversary atau mau melamar pacarnya."

Thomas terdiam sejenak saat mendengar kata 'pacar'. Ia menatap Arunika yang sedang asyik memotret pemandangan dengan ponselnya.

"Kamu... memangnya tidak pernah diajak ke tempat seperti ini oleh Marsel?" tanya Thomas, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.

Arunika menghentikan aktivitasnya. Ia tersenyum kecut, menggelengkan kepalanya perlahan. "Enggak pernah, Mas. Mas tahu sendiri, aku sama Marsel kan nggak pernah pacaran. Aku aja yang terlalu berambisi ngejar dia selama tiga tahun ini. Jangankan candle light dinner, diajak makan bakso di pinggir jalan aja aku harus yang jemput dia duluan."

Genggaman Thomas pada garpunya mengeras. Ada rasa amarah yang tersulut di dadanya mendengar betapa rendahnya Marsel memperlakukan gadis yang berharga ini.

"Dia benar-benar tidak punya selera," gumam Thomas pelan.

"Hah? Mas ngomong apa?"

"Lupakan. Makan makananmu sebelum dingin."

Selama makan malam berlangsung, Arunika tidak berhenti bercerita. Ia bercerita tentang masa kuliahnya, tentang teman-temannya yang sering meledeknya karena jomblo abadi, hingga mimpinya ingin jadi penulis novel sukses. Thomas lebih banyak mendengarkan, namun sesekali ia memberikan komentar pedas yang membuat Arunika tertawa.

"Mas Thomas tuh kalau ngomong suka bener tapi nyakitin ya," ujar Arunika sambil menyuap dessert cokelatnya. "Tapi anehnya, setelah nikah kontrak sama Mas, aku jadi ngerasa... lebih dihargai. Kayak, ada orang yang mau dengerin ocehan aku."

Thomas menatap Arunika lekat-lekat di bawah pendar cahaya lilin. "Itu karena kamu memang layak didengarkan, Arunika. Hanya saja kamu selama ini bicara pada telinga yang salah."

Arunika tertegun. Ia merasakan ada sesuatu yang tulus dari nada bicara Thomas. "Mas Thomas... sebenarnya Mas orang baik ya? Cuma casing-nya aja yang kayak kulkas dua pintu."

"Berhenti memuji saya. Itu membuat saya tidak nyaman," Thomas kembali ke mode kaku, namun ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap sedikit noda cokelat di sudut bibir Arunika dengan ibu jarinya.

Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti aliran listrik bagi mereka berdua. Arunika membeku, matanya menatap Thomas dengan bingung. Ia benar-benar tidak peka bahwa perlakuan Thomas malam ini jauh melampaui batas seorang 'rekan kontrak'.

"Mas... cokelatnya udah hilang?" tanya Arunika dengan polos, wajahnya memerah.

Thomas menarik tangannya kembali, berdeham keras. "Sudah. Ayo pulang. Besok kamu harus bangun pagi lagi untuk riset laporan proyek baru."

Saat mereka berjalan menuju lift, Arunika tiba-tiba menggandeng lengan Thomas. "Mas, makasih ya buat malam ini. Aku senang banget. Ternyata punya suami CEO nggak seburuk yang aku bayangkan, walaupun bohongan."

Thomas hanya diam, membiarkan tangan kecil itu melingkar di lengannya. Dalam hatinya, ia berjanji akan membuat Arunika menyadari bahwa apa pun yang ia berikan pada gadis itu, tidak ada satu pun yang 'bohongan'. Baginya, ini bukan sekadar kontrak, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa ia jauh lebih pantas mendapatkan hati Arunika daripada adiknya sendiri.

"Mas? Kok melamun?"

"Aku sedang berpikir untuk memotong gajimu kalau besok kamu telat bangun," sahut Thomas ketus.

"Ihh! Tadi udah manis, sekarang galak lagi! Dasar Mas Thomas!"

Thomas tersenyum tipis—sangat tipis hingga Arunika tidak menyadarinya—saat mereka melangkah masuk ke dalam lift yang membawa mereka kembali ke realita apartemen yang kini terasa jauh lebih hangat.

***

Ini cerita super sweet banget rugi kalo kalian nggak baca hehe. Sambil nunggu ceritaku yang lain up😝

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!