NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Di depan lorong mading, suasana semakin memanas. Alden, yang telanjur buta oleh rasa cemburu dan ego senioritasnya, terus melontarkan kalimat kasar untuk menyudutkan Fino.

"Bilang aja lu malu, No! Lu sama kakak lu munafik!" bentak Alden, memajukan tubuhnya untuk menekan Fino.

"Di sekolah sok paling suci karena jalur beasiswa, tapi di luar ternyata lu sekeluarga rela jual harga diri demi motor bebek itu, kan? Lu cuma pecundang kelas satu yang hidup dari belas kasihan om-om!"

Meskipun terus dipojokkan dan dihina di depan ratusan pasang mata murid lain, Fino tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Sumpah setianya pada Rara membuat remaja itu menolak keras untuk membongkar rahasia besar tentang pernikahan siri kakaknya dengan Athur.

Namun, kalimat Alden berikutnya benar-benar melewati batas.

"Atau jangan-jangan... bukan cuma Rara yang dijual? Nina juga lu korbanin—"

Bugh!

Belum sempat Alden menyelesaikan kalimat menjijikkan itu, satu pukulan mentah dari Fino melayang telak dan menghantam rahang Alden hingga cowok kelas 3 itu terhuyung menabrak mading. Lorong sekolah seketika dipenuhi teriakan histeris para siswi.

"Jaga mulut lu, Bangsat!!" raung Fino dengan urat-urat leher yang menegang sempurna. Sifat protektifnya sebagai seorang adik pria meledak total.

Alden yang tidak terima dipukul oleh adik kelas langsung bangkit dan membalas dengan hantaman keras ke perut Fino. Perkelahian hebat antar tingkatan kelas pun pecah tak terkendali. Mereka saling hantam di lantai koridor, bergulingan di tengah kerumunan murid yang berteriak riuh. Fino yang kalah postur tubuh tetap melawan dengan nyali mati-matian, hingga beberapa guru pria dan satpam sekolah harus turun tangan menerobos kerumunan untuk memisahkan keduanya secara paksa.

Akibat baku hantam yang membuat koridor kacau balau itu, Fino dan Alden langsung diseret paksa menuju ruang kepala sekolah dengan ancaman hukuman skorsing berat.

Sementara kekacauan sedang meledak di dalam koridor, di depan gerbang SMA Garuda, sebuah mobil MPV hitam mewah dengan kaca gelap gulita berhenti perlahan di bahu jalan.

Rara bersiap untuk turun. Sebelum membuka pintu mobil, ia berbalik menatap Athur yang duduk di kursi penumpang samping kemudi. Dengan gerakan takzim penuh rasa hormat sebagai seorang istri, Rara meraih tangan kekar suaminya, menjabatnya lembut, lalu mengecup punggung tangan Athur dengan penuh kasih sayang.

Athur tidak membuka pintu mobilnya demi menjaga privasi dan keamanan istri kecilnya agar tidak memicu gosip baru. Sebagai gantinya, Evan yang bertindak sebagai pengemudi langsung turun lebih dulu. Dengan tubuh tegapnya yang dibalut jaket denim, Evan berdiri bersandar di badan mobil, sengaja memosisikan tubuh lebarnya untuk menutupi seluruh interaksi intim antara Rara dan Athur dari pandangan luar. Setelah memastikan keadaan aman, barulah Rara turun dari pintu belakang dan berjalan terburu-buru memasuki gerbang sekolah.

Dari kejauhan, tepat di balik pilar dekat Roy berdiri membeku menyaksikan pemandangan tersebut. Jantungnya berdegup kencang karena rasa ngeri yang mendalam kembali merayap di dadanya.

Melihat kemewahan mobil hitam dan bagaimana tegapnya pengawal yang berdiri menjaga kendaraan itu, pikiran Roy langsung melayang pada ancaman mengerikan dari anak buah mafia yang mendatangi rumahnya kemarin malam.

“Pantas saja... pantas saja kelompok itu sangat berkuasa di lingkungan kita. Mobilnya saja se-elite itu,” batin Roy dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya.

Namun, di tengah rasa takutnya, sebuah pertanyaan besar mendadak melintas di dalam kepala Roy. Ia memandangi kaca gelap mobil itu dengan penuh tanda tanya.

“Tapi... siapa sebenarnya pria asing bertato yang waktu malam itu terluka dan dipaksa menikah siri dengan Rara karena digerebek warga? Kenapa dia bisa punya kekuasaan dan kekayaan sebesar ini?” spekulasi itu terus berputar di kepala Roy menjadikannya satu-satunya saksi di lingkungan kontrakan yang tahu betapa berbahayanya pria di balik hidup Rara saat ini.

Rara melangkah menyusuri koridor sekolah dengan senyuman tipis yang masih menghiasi bibirnya. Sisa kehangatan dari kecupan di pipi Athur tadi pagi membuat hatinya merasa sedikit bahagia dan tenang. Namun, rasa damai itu langsung menguap dalam sekejap ketika matanya menangkap kerumunan besar murid yang berteriak riuh di depan lorong mading.

Jantung Rara berdegup kencang karena firasat buruk tiba-tiba menghantam dadanya. Ia mencegat salah satu siswa yang sedang ikut menonton di barisan belakang. "Permisi... maaf, ada apa ya di depan sana?" tanya Rara dengan suara bergetar panik.

"Itu, si Fino anak kelas satu berantem parah sama Alden anak kelas tiga! Sampai guling-gulingan di lantai koridor!" jawab siswa itu heboh.

Deg.

Mendengar nama adiknya disebut terlibat perkelahian hebat, Rara seketika panik setengah mati. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung menerobos kerumunan murid dengan nekat. Di sepanjang langkahnya, telinga Rara dengan jelas mendengar rentetan cacian, bisik-bisik sinis, dan ejekan dari siswa-siswi lain yang tertuju padanya. Mereka mengatai adiknya sebagai anak miskin pinggiran yang tidak tahu adat, namun Rara sama sekali tidak memedulikannya. Fokus utamanya hanya satu: menyelamatkan Fino.

Namun, kedatangan Rara di tengah lingkaran perkelahian justru memperkeruh suasana. Bukannya berhenti, Alden yang melihat Rara datang justru semakin tersulut emosi. Kehadiran Rara seolah menjadi pusat konfirmasi atas semua tuduhan cemburunya.

"Lihat tuh! Kakak lu yang sok suci akhirnya datang juga!" bentak Alden dengan napas memburu, menunjuk wajah Rara yang tampak syok melihat sudut bibir Fino sudah berdarah.

Tasya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan senyuman licik penuh kemenangan, ia langsung berteriak keras memprovokasi seluruh murid di koridor agar Rara semakin hancur di depan umum. "Eh semuanya, lihat nih! Gara-gara cewek murahan ini, Alden sama fino sampai baku hantam! Kasihan banget ya si Alden, udah tulus jagain anak kontrakan, eh dibelakang malah dikhianati karena Rara lebih milih jadi simpanan om-om bor jas!"

"Jaga mulut lu, Tasya!!" teriak Tika yang masih setia membentengi Nina di sudut lorong, mencoba meredam fitnah keji tersebut.

Prrriiiitttt!!!

Suara peluit panjang yang melengking tinggi seketika memotong kegaduhan itu. Beberapa guru pria bertubuh tegap bersama petugas keamanan sekolah menerobos kerumunan siswa dengan wajah sangat garang.

"CUKUP! Bubar semuanya! Alden! Fino! Ikut Ibu ke ruang BK sekarang juga!" bentak Kepala Guru BK dengan suara menggelegar. Tanpa belas kasihan, kedua remaja yang masih dipenuhi amarah itu langsung diseret paksa melewati koridor menuju ruang interogasi.

Suasana di dalam ruang BK terasa begitu dingin dan mencekam. Rara duduk di sebelah Fino yang menunduk dengan rahang mengeras, sementara Nina menangis sesenggukan di sudut ruangan dipeluk oleh Tika. Di seberang meja, Alden duduk didampingi oleh wali kelasnya.

Pihak sekolah bergerak sangat cepat. Setelah melakukan rapat mendadak yang dihadiri oleh jajaran kesiswaan dan kepala sekolah, keputusan mutlak akhirnya dijatuhkan di atas meja.

"Perbuatan kalian berdua sudah melanggar kode etik berat sekolah ini. Koridor hancur dan kalian memicu keributan antar tingkatan kelas," ucap Kepala Sekolah dengan nada tegas tanpa bantahan.

"Berdasarkan hasil rapat, Alden dan Fino resmi dijatuhi hukuman skorsing selama satu minggu efektif mulai hari ini."

Mendengar kata skorsing, Rara masih bisa menarik napas panjang. Namun, kalimat berikutnya dari pihak sekolah benar-benar seperti sambaran petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh dunia Rara.

Kepala Sekolah menggeser sebuah map putih ke hadapan Fino dan Rara. "Dan khusus untuk Fino... karena statusmu di sini adalah siswa penerima beasiswa prestasi dan kurang mampu, pihak sekolah tidak bisa menoleransi catatan kriminal atau kekerasan fisik sekecil apa pun. Ini adalah surat pencabutan beasiswa milikmu. Mulai bulan depan, seluruh fasilitas gratis dari sekolah untukmu resmi dihentikan."

Deg.

Tubuh Rara seketika lemas. Air matanya langsung luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Ketakutan terbesar yang ia renungkan sejak beberapa minggu lalu kini benar-benar menjadi kenyataan yang mengerikan. Sementara itu, Fino mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, matanya memerah menahan rasa bersalah yang teramat sangat kepada kakaknya karena telah mengacaukan sekolah mereka.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!