NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Selang transparan yang membentang di antara dua ranjang medis itu kini telah dipenuhi oleh aliran darah merah pekat yang hangat.

Di atas brankar besar, Devran terbaring dengan pandangan yang lurus menatap wajah pucat Leo di sampingnya.

Setiap denyutan di dadanya kini terasa seperti sedang mengirimkan daya hidup baru ke dalam tubuh mungil yang sempat membeku tersebut.

Di balik dinding kaca, Alana berdiri terpaku. Kedua tangannya menempel pada permukaan kaca yang dingin, matanya tidak berkedip memperhatikan bagaimana perlahan rona merah samar mulai kembali menghiasi pipi tipis Leo seiring berjalannya proses transfusi.

"Nona Alana, Anda sebaiknya duduk dahulu. Proses ini akan memakan waktu sekitar tiga puluh menit," ujar Reno lembut, menyodorkan secangkir teh hangat yang baru diambilnya dari ruang pantry perawat.

Alana menggeleng pelan, menolak cangkir itu tanpa mengalihkan pandangannya.

"Tidak, Reno. Aku tidak bisa duduk tenang sebelum melihat mata Leo terbuka. Aku ingin berada di sini... melihat mereka berdua."

"Tuan Besar adalah pria yang sangat kuat, Nona. Begitu pula dengan Master Leo," kata Reno mencoba menenangkan.

"Mereka memiliki keras kepala yang sama. Master Leo tidak akan menyerah dengan mudah."

"Aku tahu," bisik Alana, sebuah senyum getir sekaligus haru terukir di bibirnya.

"Dia persis seperti ayahnya. Bahkan dalam cara tubuhnya menolak darah orang lain dan hanya mau menerima darah Devran... itu sangat... Adhitama."

Di dalam ruang sterilisasi, Dr. Adrian terus memantau layar monitor yang menampilkan grafik tanda-tanda vital Leo.

Bunyi bip... bip... bip... yang tadinya terdengar lemah dan tidak beraturan, perlahan-lahan mulai berubah menjadi ketukan yang stabil dan bertenaga.

Proses transfusi berjalan dengan sangat lancar tanpa ada hambatan sedikit pun. Tubuh Leo menerima setiap tetes darah Devran dengan sangat rakus, seolah-olah sel-sel di dalam tubuhnya memang sudah merindukan sumber kehidupan itu sejak lama.

"Bagaimana kondisinya, Adrian?" tanya Devran, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya akibat volume darahnya yang mulai berkurang, namun nadanya tetap penuh tuntutan yang tegas.

"Sangat luar biasa, Tuan Besar," jawab Dr. Adrian dengan binar lega di matanya.

"Kadar hemoglobin Master Leo meningkat pesat. Reaksi antibodinya yang sempat agresif kini sepenuhnya tenang, menyatu dengan sempurna dengan sampel darah Anda."

"Ini adalah mukjizat medis yang hanya bisa terjadi melalui kecocokan genetik murni."

Devran mengembuskan napas panjang, ketegangan yang mengunci bahunya selama berjam-jam akhirnya mengendur.

Ia menolehkan kepalanya ke samping, menatap jemari mungil Leo yang terpasang alat pulse oximeter.

Dengan tangan kirinya yang bebas, Devran menjangkau tangan kecil itu, menggenggamnya dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini.

"Bangunlah, Singa Kecil," bisik Devran lirih, hanya untuk didengar oleh mereka berdua.

"Kamu belum mengajariku cara berdansa yang benar. Dan kontrak es krim besarmu belum sepenuhnya lunas."

Seolah mendengar suara batin ayahnya, kelopak mata Leo bergerak sedikit. Sebuah lenguhan halus keluar dari bibir kecil bocah itu yang mulai kembali basah.

"Mom... my..." gumam Leo sangat lirih, matanya terbuka setengah, tampak mengerjap-ngerjap menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruang operasi yang terang.

"Leo!" Alana yang melihat gerakan itu dari balik kaca tidak dapat menahan diri lagi.

Ia langsung mendorong pintu ruang tindakan dan berlari masuk, berlutut di sisi ranjang Leo tanpa memedulikan teguran formal dari perawat.

"Leo, Sayang... ini Mommy. Kamu bisa dengar Mommy?"

Leo menolehkan kepalanya perlahan ke arah Alana, sebuah senyuman tipis yang sangat lemah muncul di wajahnya.

"Mommy... jangan menangis. Aku... aku tidak apa-apa. Hanya sedikit... mengantuk."

"Mommy tidak menangis karena sedih, Sayang. Mommy senang kamu sudah sadar," ucap Alana sembari mencium kening Leo berulang kali, menyeka sisa air matanya yang menetes.

Mata bulat Leo kemudian bergulir ke arah kanan, menatap selang yang menghubungkan lengannya dengan lengan Devran, lalu mendongak menatap wajah tegap pria yang sedang berbaring di sampingnya.

"Om seram..." panggil Leo dengan suara serak.

"Jangan panggil aku Om seram saat darahku sedang mengalir di dalam tubuhmu, Leo," sahut Devran, meskipun kalimatnya terdengar dingin, namun ada binar kehangatan dan rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang mata elangnya.

Leo terkekeh lemas, sebuah kilat kecerdikan yang familier kembali muncul di matanya.

"Jadi... sekarang di dalam tubuhku ada kode biner milik Adhitama Group? Apakah aku sudah resmi menjadi hacker pemilik mansion ini?"

"Kamu sudah menjadi pemiliknya sejak pertama kali kamu melangkah kaki ke rumah itu, Nak," balas Devran tulus, menggenggam erat tangan Leo.

Alana menatap interaksi kedua pria itu dengan dada yang bergemuruh hebat.

Rasa bersalah karena telah menyembunyikan keberadaan Leo selama lima tahun ini mendadak memuncak, namun melihat bagaimana Devran tanpa ragu mempertaruhkan nyawanya sendiri demi Leo, Alana tahu, rahasia itu memang sudah seharusnya berakhir malam ini.

Setelah kondisi Leo benar-benar stabil dan dipindahkan kembali ke ruang pemulihan intensif.

Dr. Adrian mendekati Devran yang baru saja turun dari brankar donor. Dokter senior itu tampak membawa sebuah map dokumen medis berwajah rahasia, menjauhkan posisinya dari pandangan Alana yang sedang sibuk mengobrol dengan Leo di sudut ruangan.

"Tuan Besar Devran," panggil Dr. Adrian dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan.

"Bisa kita bicara sebentar di koridor luar? Ada sesuatu yang harus saya serahkan langsung kepada Anda secara privat."

Devran merapikan lengan kemejanya yang masih sedikit tergulung, melirik Alana sesaat sebelum mengangguk.

"Reno, jaga kamar ini. Jangan biarkan siapa pun masuk."

"Baik, Tuan Besar," sahut Reno sigap.

Devran melangkah keluar dari kamar rawat bersama Dr. Adrian menuju sudut koridor yang sepi. Suasana rumah sakit di jam empat pagi itu terasa begitu sunyi.

"Ada apa, Adrian? Apakah ada komplikasi lain pada tubuh Leo?" tanya Devran langsung, alisnya bertaut erat menuntut penjelasan.

"Tidak, Tuan Besar. Kondisi fisik Master Leo sangat baik," jawab Dr. Adrian sembari menyodorkan map dokumen berwarna biru tua di tangannya.

"Ini adalah hasil lembar kecocokan darah silang darurat dan analisis komponen alel genetik yang baru saja dikeluarkan oleh laboratorium pusat kami beberapa menit lalu."

"Sesuai dengan instruksi protokol otomatis keluarga Adhitama jika terjadi transfusi garis lurus, sistem kami langsung melakukan verifikasi menyeluruh."

Devran menerima map tersebut. Tangannya yang biasanya sangat kokoh mendadak terasa sedikit kaku saat membuka segel kertasnya.

Di dalam lembar putih berlogo Adhitama Medical Center itu, berbaris deretan data medis, tabel kromosom, dan kecocokan antigen rhesus yang sangat detail.

Mata elang Devran langsung tertuju pada baris paling bawah dokumen tersebut, di mana terdapat kesimpulan akhir yang dicetak tebal oleh sistem laboratorium.

HASIL UJI KECOCOKAN GENETIK DAN STRUKTUR DARAH:

Probabilitas Hubungan Biologis Ayah dan Anak:* **99,99%

Kesimpulan: Sampel darah menunjukkan kecocokan murni lokus genetika tanpa adanya mutasi penolakan. Terkonfirmasi secara mutlak bahwa donor (Devran Adhitama) adalah ayah kandung biologis dari penerima (Leo Kirana).

Devran terpaku di tempatnya berdiri, seluruh napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Meskipun selama ini ia sudah menduga lewat insting, kejeniusan Leo, dan bukti sapu tangan milik Alana, namun melihat angka 99,99% yang tercetak secara legal dan ilmiah di atas kertas medis itu memberikan hantaman emosional yang jauh lebih dahsyat ke dalam jiwanya.

Konfirmasi mutlak itu kini telah terbuka. Leo adalah putranya. Darah dagingnya yang nyata.

"Tuan Besar. Anda baik-baik saja?" tanya Dr. Adrian hati-hati, melihat bagaimana jemari Devran meremas pinggiran kertas dokumen tersebut hingga sedikit berkerut.

Devran tidak menjawab. Ia menutup map itu dengan perlahan, mencengkeramnya erat-erat di balik ketiaknya, sementara sepasang mata elangnya berkilat dengan tekad baru yang sangat mengerikan dan tak terbantahkan.

Rahasianya telah selesai, dan mulai detik ini, tidak akan ada satu kekuatan pun di dunia ini yang bisa memisahkan anak dan wanita itu dari sisinya.

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
next kk 💪💪
Rosa Santika: siap kk
total 1 replies
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!