Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Berdarah
Guntur menggelegar di atas langit Sanjaya, seolah-olah semesta sedang memprotes rahasia yang baru saja terucap di ruang perpustakaan yang pengap itu. Naomi merasa dunianya runtuh. Kata-kata ayahnya terasa seperti racun yang merambat pelan namun mematikan ke dalam nadinya.
"Aku? Pemilik rune itu?" Naomi menggelengkan kepala, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak rak buku kayu yang mulai lapuk. "Tidak mungkin, Ayah. Aku hanya anak pelayan. Aku lahir di dapur istana ini!"
Ayahnya, pria tua yang selama ini tampak tunduk dan patuh pada setiap perintah bangsawan, kini berdiri dengan bahu yang tegak namun gemetar. "Kau lahir di malam saat gerhana darah terjadi, Naomi. Ibumu adalah pengasuh selir raja yang paling rahasia. Saat sang selir melahirkan bayi perempuan yang memiliki tanda rune di punggungnya, para penasihat kerajaan memerintahkan agar bayi itu dimusnahkan. Mereka tidak menginginkan kutukan itu turun pada garis wanita."
Air mata Naomi tumpah, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan ketakutan yang murni. "Lalu kenapa Ares yang memilikinya?"
"Raja saat itu, ayah Ares, tidak ingin kekuatan rune itu hilang. Mereka melakukan ritual terlarang untuk memindahkan segelnya pada Ares yang baru lahir sebagai wadah agar kekuatan itu bisa dikontrol oleh pria. Kami... aku dan ibumu... menukarmu dengan bayi pelayan yang mati saat lahir agar kau tetap hidup." Ayahnya mencengkeram bahu Naomi dengan kuat. "Tapi rune itu tidak bisa dibohongi selamanya. Dia meronta ingin kembali ke asal darahnya. Itulah kenapa Ares selalu kesakitan setiap kali kau ada di dekatnya, Naomi. Kau adalah detak jantung dari kekuatannya."
Sementara itu, di kamar pribadinya, Pangeran Ares sedang bergulat dengan maut. Ia telah melepas jubah upacaranya, menyisakan kemeja linen tipis yang kini basah kuyup oleh keringat. Lengan kirinya tidak lagi hanya berdenyut; kulitnya tampak seperti sedang dicabik-cabik dari dalam oleh cahaya merah yang menyilaukan.
Duar!
Pintu kamarnya terbuka lebar. Princess Ciara melangkah masuk tanpa izin, wajahnya tenang tapi matanya berkilat penuh kemenangan. Ia tidak membawa bunga kali ini, melainkan sebuah belati perak panjang yang diukir dengan simbol-simbol kuno dari kerajaannya.
"Sudah waktunya, Ares," ucap Ciara dingin.
Ares mencoba bangkit dari tempat tidurnya, namun rasa sakit di lengannya membuatnya terjatuh kembali. "Apa... apa yang kau lakukan di sini, Ciara?"
"Kau pikir perjodohan ini tentang penyatuan kerajaan?" Ciara mendekat, ujung belatinya berkilau terkena cahaya kilat dari jendela. "Keluargaku adalah The Wardens, Penjaga Keseimbangan. Kami tahu rune itu tidak pernah menjadi milikmu. Kami datang untuk mencabutnya dari wadah yang salah sebelum ia menghancurkan kita semua."
Ciara mencekik leher Ares dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengarahkan belati ke lengan kiri Ares.
"Darahmu sudah tercampur dengan darahku saat upacara tadi. Itu adalah racun baginya. Sekarang, rune itu akan keluar untuk mencari inang yang murni, atau dia akan mati bersamamu."
"Cukup!"
Sebuah teriakan melengking memecah ketegangan di kamar itu. Naomi berdiri di ambang pintu, napasnya tersengal-sengal. Ia telah berlari melewati lorong-lorong rahasia, menembus penjagaan dengan pengetahuan yang selama ini ia simpan rapat.
Ciara menoleh, sedikit terkejut namun kemudian tersenyum licik. "Ah, sang pemilik asli telah datang. Tepat waktu sekali."
"Lepaskan dia!" Naomi melangkah maju. Ia tidak lagi merasa seperti sesuatu anak pelayan yang lemah. Ia bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini tertidur, kini mulai bergejolak, menjawab panggilan energi yang terpancar dari lengan Ares.
Ares menatap Naomi dengan mata yang mulai memudar. "Naomi... lari..."
"Tidak, Ares," Naomi mendekat, mengabaikan ancaman belati Ciara. "Ayah sudah menceritakan semuanya. Rasa sakit yang kau tanggung selama ini... itu seharusnya milikku. Aku tidak akan membiarkanmu mati karena beban yang aku miliki."
Ciara tertawa sinis. "Kau ingin menyelamatkannya, Gadis Kecil? Kalau begitu, buktikan. Biarkan rune itu mengenalimu. Biarkan dia merobek kulit pangeranmu untuk kembali kepadamu. Tapi ingat, saat kau menerimanya, kau bukan lagi manusia. Kau adalah senjata."
Naomi menatap Ares, lalu menatap lengannya yang mulai berpendar kemerahan. Tanpa ragu, ia meraih tangan kiri Ares dan menggenggamnya kuat-kuat. Detik itu juga, ledakan cahaya merah memenuhi ruangan, menghancurkan kaca-kaca jendela istana. Jerit kesakitan Ares dan Naomi menyatu dengan suara badai, sementara Ciara terlempar ke sudut ruangan, menyaksikan awal dari perubahan yang akan mengubah sejarah Kerajaan Sanjaya selamanya.