Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: SEBUAH HARAPAN KECIL
Di teras samping rumah dinas yang mulai teduh oleh bayang-bayang pohon mangga, hanya Arkan—anak kecil berusia empat tahun itu—yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Tubuh mungilnya membungkuk, dengan kedua tangan kecil yang bergerak aktif merogoh dan menjelajahi bagian dalam tas ransel bergambar dinosaurus yang ia kenakan beberapa hari yang lalu saat pulang kampung ke rumah neneknya di ibu kota bagian timur. Wajahnya tampak begitu serius, keningnya berkerut kecil, mencerminkan sebuah misi rahasia yang teramat penting bagi seorang bocah seusianya.
"Ketemu!"
Sebuah seruan melengking yang sarat akan kemenangan lolos dari bibir mungilnya. Sepasang mata bulat milik Arkan seketika berbinar-binar luar biasa ketika jemarinya berhasil menemukan dan menggenggam benda yang sejak tadi ia cari di dasar ransel.
Benda itu adalah sebuah bola kristal bening yang membulat dengan sangat sempurna. Di dalam kubah kaca berkilau tersebut, terdapat miniatur sepasang figur dalam bentuk keluarga yang tampak begitu hangat dan ideal. Ada figur boneka ayah yang berdiri gagah, seorang anak laki-laki kecil yang digandeng di tengah, serta figur ibu yang tersenyum anggun di sampingnya. Jika bola itu diguncang, butiran salju putih buatan akan melayang-layang mengitari ketiga karakter di dalamnya, menciptakan atmosfer magis yang sangat indah.
Sambil memeluk erat bola kristal itu di dadanya, Arkan langsung bangkit berdiri. Ia membalikkan tubuh mungilnya lalu mulai berlari-lari kecil dengan senyuman manis yang mengembang lebar di wajahnya yang bersih.
"Arkan, tunggu nak! Kamu mau kemana?"
Sebuah suara wanita paruh baya terdengar berseru dari arah pintu dapur. Itu adalah Suster Leli, pengasuh baru Arkan yang sengaja disewa dan dibayar oleh Ayu untuk mengawasi serta menjaga putranya pasca-pemecatan asisten rumah tangga yang lama.
"Mau ke ayah besal!" ucap Arkan dengan nada suara yang teramat polos, tanpa menghentikan langkah kaki kecilnya yang terus berderap riang menyusuri jalan setapak paving blok.
"Ayah besar? Ayah besar siapa, Arkan?" tanya Suster Leli beruntun, didera rasa penasaran sekaligus cemas.
Mendengar pertanyaan itu, Arkan menghentikan langkahnya sejenak. Ia berbalik, lalu dengan gemas menarik ujung daster Suster Leli, seolah meminta wanita tua itu untuk mengikutinya. Usia Suster Leli ini mungkin hampir sama dengan Bibi Ningsih yang dulu. Menurut pertimbangan matang Ayu beberapa waktu lalu, pengasuh yang berusia lebih tua biasanya memiliki naluri yang jauh lebih penyayang, sabar, dan telaten daripada pengasuh yang berusia muda. Walaupun kemarin Ayu sempat salah pilih dan kecolongan, namun jika dilihat dari cara kerja Suster Leli selama beberapa hari ini, wanita paruh baya itu terbukti benar-benar bertanggung jawab, selalu mengawasi, dan dengan setia menemani ke mana pun Arkan ingin pergi.
Tanpa disadari oleh Suster Leli yang terus mengekor karena dituntun oleh genggaman tangan kecil Arkan, langkah kaki mereka rupanya telah berjalan cukup jauh hingga melewati barisan perumahan dinas dan sampai di pos penjagaan Provost depan. Begitu terlepas dari jangkauan pagar pembatas, anak itu langsung berlari riang ke arah kanan—menuju ke sebuah kawasan steril di mana gedung utama Markas Komando (Mako) berdiri dengan sangat megah. Gedung besar yang menjulang tinggi dan kokoh itu berdiri tepat di tengah-tengah barisan depan ksatrian, menjadi pusat urat nadi seluruh pergerakan militer di Bukit Raya.
"Arkan, berhenti nak! Tidak boleh ya nak ke sana. Nanti ibu marah kalau tahu kita main ke kantor besar," ucap Suster Leli dengan napas yang mulai terengah-engah, mencoba mengejar langkah Arkan yang begitu gesit.
"Alkan mau ketemu ayah besal!" seru Arkan keras kepala, sama sekali tidak memedulikan larangan pengasuhnya.
Sersan Satu Johan yang kebetulan sedang berada di depan pintu masuk utama gedung Mako seketika mengalihkan pandangannya. Ia menatap ke arah Suster Leli yang wajahnya sudah tampak benar-benar panik ketakutan. Sebagai ajudan setia Kolonel Victor, Johan segera memberikan sebuah isyarat tangan yang menenangkan, mengisyaratkan kepada suster tersebut bahwa hal seperti ini sudah biasa terjadi dan tidak perlu ditakutkan.
Johan melangkah mendekat, lalu berbicara dengan nada ramah. "Suster, tidak apa-apa. Suster tunggu di area gazebo belakang saja atau istirahat di kantin. Biar saya yang menjaga Arkan di sini, dan nanti saya sendiri yang akan mengantarkan anak ini pulang ke rumah dinas."
Namun, karena rasa tanggung jawab yang tinggi serta besarnya kepercayaan yang telah Ayu berikan kepadanya untuk menjaga Arkan, Suster Leli tentu saja menolak untuk pulang begitu saja. Ia memilih untuk tetap tinggal, berdiri menunggu dengan setia di depan lobi luar gedung Mako demi memastikan sang anak tetap berada dalam radius pengawasannya.
"Ayah...!"
Sebuah teriakan lantang berbaur rasa kerinduan yang teramat dalam tiba-mesurat memecah keheningan koridor lantai dasar Mako. Arkan berteriak sembari menatap ke arah pintu ruang kerja komandan yang kebetulan sedang terbuka sedikit. Rasa rindu anak itu memang sudah membubung tinggi, karena lagi dan lagi, selama beberapa hari terakhir ini Kolonel Victor benar-benar sangat sibuk bolak-balik masuk ke kota pusat pesisir untuk urusan rapat koordinasi darurat.
Kolonel Victor yang saat itu sedang duduk di balik meja kerjanya memeriksa berkas alutsista, tentu saja langsung menghentikan seluruh aktivitas kedinasannya begitu mendengar suara selembut penawar dahaga itu. Pria raksasa itu langsung berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah lebar keluar dari ruangan, lalu menghampiri bocah kecil yang tengah berdiri menantinya di ambang pintu.
Tanpa ragu dan tanpa memedulikan seragam PDL lorengnya yang kaku, Victor langsung membungkuk dan mengangkat tubuh mungil Arkan ke dalam gendongan lengannya yang kokoh. Wajah tegas sang Kolonel seketika melunak, memancarkan binar kebahagiaan yang amat mendalam yang jarang sekali ia perlihatkan kepada anggota satuannya.
"Ayah, ini untuk ayah," ucap Arkan dengan riang, sambil menyodorkan bola kristal bening yang sejak tadi ia peluk erat ke arah wajah Victor.
Victor tertegun sejenak menatap benda kaca di tangan Arkan. Ia tidak tahu bahwa bola kristal itu adalah sebuah barang yang dianggap mainan berharga oleh Arkan, yang dibeli anak itu saat pergi ke pusat perbelanjaan (mall) bersama bibinya di kampung halaman beberapa hari lalu.
Waktu itu, saat Ayu sedang sibuk mengurus persiapan berkas, Arkan diajak berjalan-jalan oleh Chaca—adik ketiga Ayu yang menempuh pendidikan dokter. Sebagai anak berusia empat tahun yang rasa ingin tahunya sangat besar dan aktif, perhatian Arkan mendadak terkunci total pada etalase toko suvenir yang menampilkan bola kristal keluarga tersebut. Anak itu tiba-tiba saja kepikiran ingin memiliki benda itu karena di dalam benak kecilnya yang polos, ia ingin sekali memberikan sebuah hadiah istimewa untuk ayahnya. Dan ternyata, sosok "ayah" yang dimaksud dan melekat di dalam ingatan sucinya tidak lain dan tidak bukan adalah Kolonel Victor.
"Bibi doktel, Alkan mau ini," ucap Arkan kala itu di depan etalase mall, sambil menunjuk-nunjuk antusias ke arah bola kristal tersebut dengan jari-jari gembulnya.
"Wah, ini bagus banget, Arkan," sahut Chaca lembut saat itu. Meskipun Chaca tahu betul bahwa sang kakak, Ayu, baru saja melewati proses persidangan perceraian yang sangat menyakitkan dua hari lalu, dan hatinya sendiri tampak sangat sedih meratapi nasib malang kakaknya, Chaca tetap berusaha tegar dan sama sekali tidak ingin menampakkan raut kesedihan itu di depan keponakan kecilnya yang masih polos.
"Untuk ayah besal," ucap Arkan tiba-tiba dengan senyum polos, membuat Chaca sempat terkejut di tempatnya berdiri.
"Ayah besar?" tanya Chaca bingung.
"Iya bibi doktel. Ayah besal ganteng," sahut Arkan riang, mengingat bagaimana gagah dan tampannya Victor saat menggendongnya pulang malam itu.
Dan kini, lihatlah kenyataan manis yang tersaji di koridor Mako. Barang yang ia beli dengan penuh perjuangan di kota seberang itu, kini benar-benar Arkan berikan secara langsung ke dalam telapak tangan kekar Kolonel Victor.
Victor menatap miniatur ayah, ibu, dan anak di dalam bola kaca itu dengan perasaan yang mendadak bergemuruh hebat di dalam dadanya. Matanya bergerak menatap Arkan dengan sorot mata yang dipenuhi kelembutan yang teramat dalam.
"For me?" tanya Victor dengan suara baritonnya yang merendah, memastikan dengan senyuman tipis yang sangat menawan.
"Iya, untuk ayah!" jawab Arkan mantap, lalu mengalungkan kedua lengan kecilnya di leher kokoh Victor, memeluk pria itu dengan rasa percaya yang penuh.
Victor mempererat dekapannya pada tubuh Arkan, membiarkan pipi kecil anak itu menempel di pundaknya. Tangan besarnya menggenggam bola kristal itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah aset paling berharga yang pernah ia terima sepanjang karier militernya. Baginya, hadiah dari Arkan bukan sekadar mainan biasa, melainkan sebuah lambang penerimaan dan harapan kecil bahwa suatu hari nanti, miniatur keluarga bahagia di dalam bola kristal itu bukan lagi sebatas hiasan kaca, melainkan sebuah kenyataan yang akan ia bangun bersama Ayu.