Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perbandingan & Keputusan Nyali
Malam itu suasana terasa sunyi namun penuh ketegangan. Bagas duduk termenung di sudut ruangan, matanya kosong memandang nyala lampu yang berkedip pelan. Keputusannya tadi terasa berat, tapi seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Di sisi lain ruangan, Laras sedang duduk bersila di samping tempat tidur Ibu. Dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang, ia mengusap punggung Ibu yang terasa dingin, menyuapi obat dengan sendok kecil, dan berbicara dengan nada yang menenangkan.
"Pelan-pelan saja, Bu. Nanti kalau sudah enakan, kita makan bubur hangat yang tadi saya masak. Jangan khawatir soal biaya atau apa pun. Semua sudah saya siapkan," ucap Laras sambil tersenyum tulus, matanya memancarkan perhatian yang tak berlebihan namun terasa tulus.
Melihat pemandangan itu, hati Bagas terasa hangat sekaligus perih. Ia mengakui, tidak ada yang salah dengan Laras. Gadis itu baik hati, selalu ada di saat terberat, dan menawarkan segala kenyamanan yang selama ini ia dambakan.
Namun, di tengah pandangannya yang terfokus pada Laras dan ibunya, tiba-tiba ingatan masa lalu melintas dengan jelas di benaknya, seolah diputar kembali di depan matanya.
Ia teringat saat ia masih menjadi petugas kebersihan di kantor Pak Ardiansyah. Saat itu semua orang memandangnya rendah, berbicara dengan nada meremehkan, menganggapnya hanya orang yang bisa mengangkat sampah dan menyapu lantai. Tapi ada satu orang yang berbeda, Naya.
Ia teringat kejadian saat ia dituduh mencuri barang berharga, saat semua orang langsung percaya tanpa bukti, saat ia hampir dipecat dan diusir. Saat itulah Naya berdiri di hadapan semua orang, menatap tegas dan membelanya.
"Bagas bukan orang yang akan melakukan hal itu. Saya percaya padanya. Kalau ada yang salah, biar kita cari buktinya, bukan langsung menghukumnya karena dia hanya seorang OB."
Suara Naya yang lembut namun tegas itu masih terngiang jelas di telinganya. Ia teringat malam-malam mereka berbicara diam-diam, berbagi mimpi, dan janji yang diucapkan dengan sepenuh hati: "Aku akan menunggumu, Bagas. Apa pun yang terjadi, seberapa lama pun waktunya, aku akan tetap setia. Dan aku tahu, kau pun akan berjuang untuk kita."
Ingatan itu menusuk hatinya lebih dalam lagi. Ia mulai membandingkan dua kenyataan yang ada di depannya.
Laras ada di sini, dekat, nyata, memberikan segalanya tanpa syarat. Tapi apakah cinta itu datang karena ia berjuang, atau karena ia sedang jatuh dan butuh sandaran?
Naya jauh, terpisah jarak dan waktu, kabarnya kini terasa pahit. Tapi apakah ia benar-benar melepaskan hati, atau hanya terdesak oleh keadaan yang tak bisa ia lawan sendirian?
Saat pikirannya masih berputar kacau, Ibu yang sejak tadi diam saja akhirnya membuka mulutnya dengan suara lirih namun cukup jelas untuk didengar.
"Bagas..." panggil Ibu perlahan, matanya menatap lurus ke arah anaknya.
Bagas segera mendekat, memegang tangan ibunya yang terasa dingin. "Ya, Bu. Ada apa?"
Ibu menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang penuh kebijaksanaan.
"Nak, Ibu tahu rasanya berat sekali. Saat sedang jatuh, saat lelah, saat melihat ada jalan yang terasa lebih mudah dan aman, wajar kalau hati tergoda untuk memilihnya. Tapi dengarkan baik-baik apa yang Ibu katakan ini."
Ibu menatap mata anaknya dalam-dalam.
"Kalau kamu berhenti sekarang hanya karena perjuangan terasa sulit, hanya karena kamu lelah dan takut gagal, maka kamu tidak hanya akan kehilangan Naya saja. Kamu juga akan kehilangan harga dirimu sendiri. Kamu akan selalu merasa ada yang kurang, selalu merasa menyerah sebelum waktunya."
Ibu mengusap punggung tangan Bagas dengan lembut, lalu melanjutkan,
"Cinta itu bukan diukur dari siapa yang ada di dekatmu saat kau sedang susah. Cinta yang sejati adalah yang kamu perjuangkan meski terpisah jarak, meski banyak rintangan, meski orang lain meragukan. Kalau kamu memilih Laras sekarang karena kau lelah, bukan karena hatimu sudah benar-benar terlepas dari janji dan perasaanmu yang dulu, maka suatu hari nanti, rasa bersalah dan penyesalan itu akan datang menghantui, lebih menyakitkan daripada kesulitan yang kau hadapi sekarang."
Kata-kata itu seperti air dingin yang menyiramkan kesadaran ke dalam hati Bagas yang sempat kacau. Ia tertegun, perlahan matanya mulai terbuka, melihat sesuatu yang selama ini tertutupi oleh rasa putus asa.
"Benar juga kata Ibu..." batinnya. "Naya menerima perjodohan itu bukan karena dia tidak cinta lagi. Dia melakukannya karena terdesak, karena ayahnya sakit parah, karena tidak ada yang membelanya dari tekanan keluarga. Kalau aku menyerah sekarang, berarti aku membiarkan dia dipaksa menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Berarti aku mengkhianati janji yang sudah kita ucapkan bersama."
Tekad yang sempat padam perlahan mulai menyala kembali, kali ini lebih kuat dan lebih jernih. Ia sadar, ia tidak boleh memilih jalan yang mudah hanya karena takut gagal. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri, pada Naya, dan pada semua orang yang meremehkannya bahwa ia mampu tanpa harus bergantung pada belas kasihan siapa pun.
Dengan hati yang sudah mantap, Bagas menoleh ke arah Laras yang menunggu dengan perasaan campur aduk. Ia lalu berbicara dengan nada yang sopan dan lembut.
"Laras, aku minta maaf. Aku tahu ini akan menyakiti hatimu, tapi aku tidak bisa melanjutkan apa yang sempat aku ucapkan tadi."
Laras terkejut, matanya membelalak sedikit. "Maksudmu apa, Bagas? Baru saja kamu bilang ingin memulai hidup baru bersama..."
"Aku tahu, dan aku benar-benar menyesal telah membuatmu berharap," jawab Bagas dengan nada tulus. "Saat itu aku sedang sangat lelah, hancur, dan merasa tidak punya jalan keluar. Aku melihat kebaikanmu, melihat kenyamanan yang kamu tawarkan, dan aku tergoda untuk berhenti saja. Tapi kemudian aku teringat siapa aku, janji yang pernah aku ucapkan, dan perasaan yang masih tersisa di hatiku."
Bagas melangkah sedikit mendekat, menatap Laras dengan pandangan lembut,
"Laras, kamu wanita yang sangat baik, lebih baik dari apa pun yang pantas aku dapatkan saat ini. Tapi aku tidak bisa menerima cintamu hanya karena aku sedang jatuh. Kalau aku melakukannya, itu tidak adil bagimu. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa bangkit kembali dengan usahaku sendiri, bukan dengan berteduh di balik kekayaan dan perlindungan orang lain. Aku tidak mau memulai hubungan denganmu tapi suatu saat nanti aku menyakitimu Laras."
Laras terdiam, air matanya mulai menetes di pipinya. Ia mengerti maksud Bagas, meski hatinya terasa perih. "Jadi, kamu tetap ingin melanjutkan perjuanganmu, meski semua terasa gelap dan sulit sekarang?"
"Ya," jawab Bagas mantap. ''Aku butuh waktu, Laras. Waktu untuk membuktikan bahwa aku bisa bangkit lagi, membuktikan bahwa aku bisa mencapai apa yang aku impikan dengan usahaku sendiri. Kalau nanti di jalan itu aku benar-benar tidak bisa lagi, atau kalau hati ini sudah benar-benar terlepas, baru aku akan berpikir lagi. Tapi untuk saat ini, aku harus berjuang sampai akhir."
Ibu yang mendengar semuanya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca karena bangga melihat anaknya kembali menemukan kekuatan dan harga dirinya.
"Apa pun hasilnya nanti, asalkan kamu berjuang dengan jujur dan setia pada hati nuranimu, Ibu akan selalu mendukungmu sepenuhnya."
Malam itu, keputusan yang diambil Bagas bukan lagi keputusan yang lahir dari keputusasaan, melainkan keputusan yang lahir dari kesadaran dan keberanian. Ia tahu jalan ke depan akan tetap penuh rintangan, Dimas akan semakin gencar menyerang, dan ketidakpastian masih membayangi. Tapi setidaknya, ia melangkah dengan hati yang utuh, harga diri yang terjaga, dan tekad yang baru untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi pemenang dengan caranya sendiri.