Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Zian tersenyum kecut saat ingatan itu kembali, mengingat kejadian yang hampir tidak akan pernah dia lupakan: perselingkuhan sang pacar dengan temannya.
Zian sangat mencintai Armeta. Mereka bahkan sudah bertunangan dan akan menikah dalam waktu dekat, tapi sayangnya semua gagal karena Armeta berselingkuh.
Kala itu Zian langsung memutuskan hubungannya secara sepihak. Kendati demikian, Armeta kembali mengejar Zian karena dia tahu Zian adalah pria kaya raya yang hartanya mungkin tidak akan habis tujuh turunan.
Segala cara dilakukan Armeta agar Zian kembali padanya, walaupun dengan cara kotor sekalipun. Demi mendapatkan Zian, Armeta menyuruh orang memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Zian. Tapi sayang, rencananya gagal karena Amira datang lebih dulu. Sebenarnya Zian sedikit beruntung karena dia tidak melakukan hal itu dengan Armeta. Tapi kalau boleh memilih, Zian tak ingin hal ini terjadi.
Bagaimanapun, dia tak ingin merusak anak gadis orang.
Mata indah dengan bulu lentik itu terbuka. Saat si pemilik terbangun, dia melihat ke sekeliling ruangan. Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok pria yang baru saja masuk.
"Sudah bangun," ucap Zian seraya duduk di samping Amira. Pria itu meraih bubur ayam yang sempat dia beli sebelumnya untuk sarapan pagi Amira.
"Makanlah," ucap Zian sembari menyodorkan sendok berisi bubur ayam itu pada Amira.
Gadis cantik dengan hidung mancung itu justru menggeleng. Amira mendorong sendok yang mengarah ke bibirnya dengan perlahan.
"Saya tidak lapar, Pak," jawab Amira yang menoleh membuang muka.
"Jangan seperti ini. Makanlah sedikit saja. Kamu ingin cepat sembuh, kan?"
Amira menoleh ke arah Zian yang masih duduk di kursi tepat di sisinya. Pria itu mengangkat sendok lalu menaikkan kedua alisnya.
Zian menyodorkan sendok di tangannya kembali ke arah Amira. Kali ini gadis itu membuka mulutnya.
"Kenapa kecil sekali mulutmu? Bagaimana caranya sendok ini akan masuk?" celetuk Zian meledek Amira.
Mendengar ucapan Zian, gadis itu mulai membuka mulutnya lagi lebih lebar.
"Pintar," puji Zian saat sendok itu masuk ke mulut Amira.
Amira tak bisa menahan senyumnya saat mendengar ucapan Zian. Dia merasa geli mendapatkan perlakuan bak tuan putri oleh sang pangeran di dalam negeri dongeng. Namun tak dapat dipungkiri, saat ini Amira jauh lebih baik. Dia tak lagi takut didekati Zian.
"Kapan saya bisa pulang, Pak?" tanya Amira. Jujur saja, Amira tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Dia tidak suka bau obat-obatan.
"Habis selesai makan bubur, kamu sudah boleh pulang," jawab Zian sambil menyodorkan suapan kedua.
"Dan hari ini kamu tidak usah kerja dulu."
"Saya baik-baik saja, Pak. Selesai dari sini saya mau ke kantor saja. Kebetulan hari ini saya shift siang," jelas Amira.
"Jangan. Kondisi kamu belum begitu baik, Amira."
"Tapi, Pak—"
"Gaji kamu nggak akan dipotong. Tenang saja," sela Zian seolah tahu kekhawatiran gadis itu jika tidak masuk bekerja.
Yah, benar. Itu memang salah satunya, tapi bukan itu alasan utamanya. Tapi Bu Mis, senior Amira. Malas sekali rasanya jika sampai berurusan dengan Bu Mis. Cukup sekali itu saja Amira tidak bekerja selain hari liburnya.
"Tidak, Pak. Saya harus tetap masuk kerja," kekeh Amira. Apalagi ini menyangkut Bu Mis.
Haduh, membayangkan Bu Mis menghukumnya saja sudah membuat Amira ketakutan. Terakhir kali Amira tidak bekerja, Bu Mis menghukumnya habis-habisan dengan membereskan gudang kantor, mengelap semua kaca, dan mengepel semua ruangan hingga membuat Amira pulang larut malam.
"Kalau begitu kamu dipecat," kata Zian sambil berdiri, meletakkan mangkok berisi bubur itu kembali di atas nakas.
"Dan bayar tagihan rumah sakitnya sendiri. Itu akibatnya jika kamu tidak menurut dengan suami," sambung Zian lalu bersedekap tangan. Zian memang tidak suka penolakan.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care