NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. : 5

DI DALAM KELAS

Setelah proses registrasi selesai, para siswa baru masuk ke ruang kelas utama. Lisa dengan sengaja memilih tempat duduk di barisan paling belakang, tepat di sudut ruangan. Posisi ini membuatnya tidak mudah terlihat dan bisa mengamati segala sesuatu dengan tenang.

Ia duduk dengan tegap namun santai, tangannya saling bertaut di atas meja. Wajahnya tenang, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tak lama kemudian, Guru Pengajar yang berwibawa masuk dan mulai menjelaskan materi praktik perdana mereka.

"Baiklah, anak-anak. Hari ini kita tidak belajar teori. Kita akan langsung melakukan Uji Ketahanan Mental dan Fisik," ucap Guru itu dengan suara berat. "Kalian akan dikirim ke sebuah hutan terlarang untuk melihat seberapa tangguh kalian saat menghadapi situasi krisis... terutama saat bertemu dengan Monster."

 Begitu kata "Monster" terlontar dari mulut guru, suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah menjadi hiruk pikuk!

"ARRGGHH?! MONSTER?!"

"Beneran Pak?! Kita dibuang ke hutan penuh monster?!"

"Aku tidak mau mati! Aku masih muda!"

"Apa kita akan dimangsa?!"

Semua siswa berteriak panik, ada yang pucat, ada yang saling pegang tangan ketakutan, dan ada yang berteriak histeris. Suasana jadi sangat ricuh dan kacau.

Semua orang ketakutan... kecuali satu orang.

Wanita yang mengunakan penutup mata Lisa

Gadis itu duduk diam di tempatnya. Tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya. Justru di dalam hatinya, ia merasa sedikit geli dan heran.

'Monster?' batin Lisa berpikir datar. 'Di dunia ini, tidak ada satu pun monster yang pantas disebut musuh bagiku. Bahkan jika Raja Iblis atau Naga Purba pun datang... mereka tidak akan mampu bertahan bahkan hanya dari sentuhan ujung jariku saja.'

Bagi Lisa, monster hanyalah makhluk lemah yang tidak perlu dihiraukan.Di dunia para dewa dewa lah satu satunya hal yang harus di waspadai nya jadi untuk apa takut ?

 Melihat murid-muridnya berteriak tidak karuan, Guru itu menghela napas panjang sambil memijat keningnya.

"Haaaaah..."

"Aku sangat malu pada kalian semua!" bentak Guru itu. "Hanya mendengar kata 'monster' kalian sudah heboh seperti ini? Bagaimana kalian bisa disebut sebagai penyihir sejati jika mental kalian selembut tahu?!"

Guru itu lalu menunjuk ke arah belakang kelas.

"Lihatlah dia! Lihat Lisa! Dia duduk tenang saja tanpa ada ekspresi panik sedikitpun seperti kalian! Belajarlah ketenangan darinya!"

Semua kepala siswa serentak menoleh ke belakang menatap Lisa. Lisa hanya diam, tidak tersenyum, tidak juga marah. Ia hanya menerima tatapan itu dengan biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.

"Sudah, tenang semua!" Guru itu kembali berbicara. "Kalian salah paham. Hutan itu memang tempat tinggal monster, tapi sudah dijaga ketat dan levelnya sudah disesuaikan. Selain itu, setiap dari kalian akan diberi Crystal Ajaib."

Guru itu menunjukkan sebuah batu kecil bersinar.

"Jika nyawa kalian benar-benar terancam, hancurkan Crystal ini, dan kalian akan langsung diteleportasi pulang ke akademi dengan selamat. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan."

Para siswa menghela napas lega besar-besaran. "Oohhh..."

"Baiklah, kita tidak akan membuang waktu. Kita akan langsung berangkat!"

Guru itu mengangkat tongkat sihirnya tinggi-tinggi. Crasshh! Sebuah portal besar berwarna ungu gelap terbuka di tengah kelas, mengeluarkan suara gemuruh yang dahsyat.

"Ingat! Di sana kalian akan didampingi oleh para Senior, termasuk Floyen dan yang lainnya. Jadi kalian tidak akan sendirian. Selamat berjuang!"

Sementara yang lain sibuk berdoa atau gemetar, Lisa hanya tersenyum tipis. Ia merapikan posisi duduknya, menata rok seragamnya agar tetap rapi, lalu berdiri dengan langkah santai.

'Hutan... Monster... Akhirnya ada sedikit hiburan di hari yang membosankan ini,' batinnya.

Ia pun melangkah masuk ke dalam portal, meninggalkan keributan di belakangnya.

Wush!

Satu per satu siswa mendarat di berbagai titik yang acak di dalam hutan. Beberapa beruntung mendarat berkelompok, namun sayangnya Lisa mendarat sendirian di sebuah area yang sangat berbeda dari yang lain.

Saat kakinya menyentuh tanah, Lisa mengedarkan pandangannya.

Lingkungan di sini sangat gelap dan suram. Pohon-pohon raksasa tumbuh sangat lebat dengan ranting-ranting yang saling bertaut, menutupi langit sepenuhnya. Bukan karena hari sudah malam, tapi aurah gelap yang tebal dan pekat menyelimuti tempat ini, membuat sinar matahari pun tak mampu menembusnya.

Suasana hening, sangat hening. Terlalu hening hingga terasa mencekam.

Namun, Lisa sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia hanya menyesuaikan posisi penutup matanya, lalu mulai berjalan santai membelah hutan itu. Langkah kakinya tenang, tidak terburu-buru, dan tetap anggun.

 Sebenarnya, di balik semak-semak dan di balik batang pohon yang besar, banyak sekali mata-mata merah yang mengintai. Berbagai jenis monster berkeliaran di sana—serigala berkepala dua, laba-laba raksasa, hingga goblin yang ganas.

Mereka seharusnya langsung menerkam mangsa yang masuk ke wilayah mereka.

Tapi anehnya... begitu mereka merasakan kehadiran Lisa, seluruh monster itu membeku. Tubuh mereka gemetar hebat, ekor mereka melipat ke bawah, dan mereka merangkak mundur ketakutan seolah-olah baru saja bertemu dengan Raja Segala Monster atau makhluk yang jauh lebih mengerikan dari mereka.

'Apa itu...? Aura apa ini...?! Rasanya seperti menghadap kehancuran total!'

'Lari! Pergi menjauh! Jangan sampai dia melihat kita!'ucapan para monster

Tanpa Lisa perlu melakukan apa-apa, bahkan tanpa ia sadari, aura kerajaan yang ia miliki secara alami membuat semua makhluk di sana merasa kecil dan takut setengah mati. Mereka semua lari terbirit-birit meninggalkan jalan yang akan dilalui Lisa.

Jadi, Lisa berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada satu pun monster yang berani mendekat, bahkan untuk sekadar menggeram saja mereka tidak berani. Jalanan di depannya seolah dikosongkan khusus untuknya.

 

Tiba-tiba, gelang sihir di pergelangan tangan Lisa bergetar dan memancarkan cahaya biru. Sebuah layar tipis muncul di udara menampilkan pesan sihir:

[PETUNJUK UJIAN]

Cari dan temukan Kertas Gulung Misterius yang tersembunyi di dalam hutan ini.

Kertas tersebut akan berubah bentuk dan bersinar

Bawalah kertas itu keluar dari hutan untuk menyelesaikan ujian.

Lisa membaca pesan itu dengan tenang.

"Kertas gulung ya..." gumamnya pelan. "Mudah saja."

Ia tidak perlu repot mencari. Karena ia buta, indra lainnya jauh lebih tajam dari siapapun. Ia bisa merasakan getaran energi yang aneh di suatu tempat tidak jauh dari sana. Ada sesuatu yang memanggil-manggil, sesuatu yang kuat.

Lisa terus berjalan membelah kegelapan hutan itu, sementara di tempat lain, siswa-siswa lain mungkin sedang sibuk bertarung atau lari ketakutan. Berbeda dengan Lisa, ia berjalan seperti ratu yang sedang berkeliling di kerajaannya sendiri.

Indranya yang tajam membimbingnya melewati akar pohon besar dan semak belukar. Hingga akhirnya, ia berhenti di depan sebuah batu besar yang tertutup lumut. Di atas batu itu, tergeletak sebuah benda kecil yang bersinar samar.

"Itu dia..." bisik Lisa.

Ia mengulurkan tangan dan mengambil benda itu. Benar, itu adalah Kertas Gulung Misterius. Begitu jari jemari Lisa menyentuhnya, kertas itu bersinar terang berwarna emas dan secara ajaib terbuka sendiri, memperlihatkan tulisan-tulisan kuno yang indah.

Ting!

Gelang di tangan Lisa bergetar lagi.

[SELESAI!]

Anda telah menemukan objek tugas. Silakan tinggalkan hutan atau tunggu waktu evakuasi.

Lisa tersenyum puas. "Cepat sekali. Bahkan tidak ada tantangan sama sekali."

Ia melipat kembali kertas itu dan menyimpannya dengan rapi di dalam saku bajunya. Tugasnya sudah selesai. Sekarang ia hanya perlu berjalan keluar atau menunggu.

 Baru saja Lisa hendak berbalik badan, tiba-tiba terdengar suara keributan dan teriakan panik dari arah yang tidak jauh dari sana.

"TOLONG!!! LEPASKAN!!"

"AAAAAAA KITA MAU MATI!!"

"MANA PEDANG KALIAN?! GUNAKAN SIHIR KALIAN BODOH!!"

Suara itu sangat familiar. Lisa mengerutkan kening sedikit. Itu suara Lady Clarissa dan teman-temannya.

Dengan langkah santai, Lisa berjalan mendekati sumber suara itu. Ia menyingkap semak-semak lebat, dan apa yang dilihatnya... sungguh pemandangan yang ironis.

 Di sebuah tanah lapang kecil, Lady Clarissa dan ketiga temannya sedang terpojokkan. Mereka dikelilingi oleh sekelompok Monster Serigala Hitam yang ganas dan besar.

Wajah Clarissa dan teman-temannya pucat pasi, tubuh mereka gemetar hebat, dan sihir yang mereka keluarkan pun tidak karuan, bahkan hampir tidak berguna. Mantra mereka meleset atau terlalu lemah tidak ada kerja sama tim atau formasi yang mereka lakukan

Situasi mereka sangat kritis. Serigala-serigala itu sudah siap menerkam!

"T-Tolong... ada orang di sana?!" seru salah satu teman Clarissa yang menangis.

Mata Clarissa terbelalak saat melihat sosok gadis berpenutup mata yang berdiri tenang di balik pepohonan.

"K-Kau...? LISA?!" serunya tidak percaya.

Lisa hanya berdiri diam di sana, bersandar santai di batang pohon besar. Wajahnya datar tanpa ekspresi, menatap ke arah mereka.

Melihat Lisa yang selamat dan bahkan terlihat sangat santai sementara mereka hampir mati ketakutan, perasaan malu dan gengsi bercampur aduk di hati Clarissa. Tapi nyawanya lebih penting daripada gengsi!

"HEH! KAMU! LISA!" teriak Clarissa dengan suara parau, meski terdengar sedikit memohon. "Apa kau hanya diam saja melihat kami?! Cepat tolong kami! Kau dengar?! Aku perintahkan kau untuk mengusir monster-monster ini!!"

Namun, Lisa tidak bergerak. Ia hanya tersenyum tipis, senyuman yang sangat manis namun terasa menusuk.

"Tadi... bukankah kalian yang bilang aku 'tidak berguna' dan 'sihirku payah'?" ucap Lisa pelan tapi jelas terdengar di tengah kegaduhan. "Lalu untuk apa meminta bantuan pada orang yang tidak berguna sepertiku, Nona Bangsawan?"

Clarissa ternganga. Wajahnya memerah padam karena malu. Ia ingat betul kata-kata jahat yang ia ucapkan sebelumnya.

Satu ekor serigala melompat tinggi hendak menerkam Clarissa!

"AAAAAAHHHH!!!" Clarissa menutup matanya pasrah.

Clarissa dan teman-temannya sudah menutup mata, pasrah akan dimangsa. Namun tepat saat itu...

Cek.

Lisa menjentikkan jarinya dengan santai.

DORRR!!

Tiba-tiba ledakan suara yang sangat keras namun tak terlihat meledakan kepala monster-monster serigala itu. Tanpa sihir yang terlihat, tanpa mantra, hanya gelombang kekuatan murni yang dikeluarkan sedikit saja.

Brukhh

Hanya dalam satu detik, ancaman itu lenyap begitu saja.

Clarissa dan gengnya ternganga, mulut mereka terbuka lebar tak bisa berkata-kata. Mata mereka membelalak menatap punggung Lisa.

Lisa menurunkan tangannya, lalu menatap mereka dengan wajah datar dan sedikit malas.

"Aku menolong bukan karena aku mau, atau karena kalian meminta..." ucap Lisa dingin. "Tapi karena teriakan kalian itu sangat berisik dan mengganggu ketenanganku."

Setelah mengatakan itu, Lisa berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih terpaku diam di tempat, merasa sangat kecil dan malu.

 

Lisa terus berjalan menuju pusat energi yang ia rasakan paling kuat. Semakin jauh ia berjalan, udara semakin dingin dan terasa berat.

Tiba-tiba, ia mendengar suara gemuruh besar dan teriakan orang-orang.

"ARRRGHH!!"

"Minggir! Itu terlalu kuat!!"

Lisa mempercepat langkahnya. Dan apa yang dilihatnya membuat matanya yang tertutup seolah menyala marah.

Di depannya, sebuah monster raksasa berbentuk kerangka naga besar sedang mengamuk. Tubuhnya penuh dengan aura hitam pekat dan tulang-belulang yang tajam. Itu adalah Bangkai Naga.

Monster level ini salah besar berada di sini. Monster jenis ini seharusnya hanya ada di Wilayah Black Hole, tempat terkutuk di mana para monster terkuat bahkan iblis bersembunyi. Bagaimana bisa makhluk selevel ini ada di ujian pemula?!

Di depan naga itu, Floyen tergeletak di tanah. Baju perangnya kotor, pedangnya patah sebagian, dan napasnya terengah-engah. Di sekitarnya ada beberapa Tuan Muda dan Senior lainnya yang juga terluka dan tak berdaya. Naga itu sudah mengangkat cakar besarnya, siap untuk menghancurkan mereka!

 "JANGAN SENTUH ADIKKU!!"

Wush!

Sosok putih melintas cepat. Lisa berdiri tegak tepat di depan tubuh Floyen yang lemah.

Ia tidak berteriak, ia tidak marah-marah. Ia hanya mengangkat tangan kanannya perlahan ke depan.

BZZZTTT!! ✨

Sebuah perisai transparan namun sangat kokoh muncul secara instan. Benteng energi yang tak terlihat namun memiliki kekuatan yang menekan seluruh ruangan.

Saat cakar naga raksasa itu menghantam perisai Lisa...

TRAAKK!! 🐉💥

Bukan perisainya yang retak, tapi justru tubuh raksasa naga itu... terpental

BUMMM!!

Naga itu terlempar puluhan meter jauhnya, menabrak pepohonan raksasa hingga tumbang semua. Hening seketika.

Semua orang yang melihat kejadian itu terdiam. Mulut mereka kering. Mereka tidak bisa berpikir logis. Seorang gadis kecil... menahan serangan Naga Kerangka hanya dengan mengangkat tangan?!

 Lisa menurunkan tangannya perlahan. Ia segera berbalik, berjongkok di hadapan Floyen. Wajah dinginnya langsung berubah menjadi wajah penuh kekhawatiran.

"Floyen... kau baik-baik saja?" tanyanya lembut.

Melihat wajah kakaknya, melihat bahwa Lisa datang menyelamatkannya, air mata Floyen yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah ruah.

"K-Kakak Lisa... huwaaa!" 🥺

Floyen langsung memeluk leher Lisa erat-erat, menangis tersedu-sedu di dada kakaknya. Ia menangis karena kesakitan, karena takut, tapi paling utama karena lega.

"Aku takut... aku hampir kalah... monster itu kuat sekali..." isak Floyen.

Lisa membalas pelukan itu dengan hangat. Ia mengelus punggung dan kepala adiknya pelan, menyalurkan energi penyembuh yang hangat agar rasa sakit Floyen berkurang.

"Sudah, sudah... Kakak di sini. Tidak ada yang boleh menyakiti Floyen selama kakak ada," bisik Lisa lembut. "Tenanglah... monster itu sudah tidak bisa bergerak lagi."

Di belakang mereka, para Tuan Muda dan Senior lainnya hanya bisa menatap dengan takjub dan gemetar.

"Floyen, Sekarang kau bisa istirahat," ucap Lisa lembut sambil mengelus kepala adiknya.

Tiba-tiba... Wush! ✨

Dengan sekali jentikan jari, sebuah meja kayu elegan dan kursi empuk muncul entah dari mana. Di atas meja itu, tersaji rapi teko teh yang mengepulkan asap wangi, kue-kue manis, dan berbagai cemilan lezat. Lisa menciptakan ruang kenyamanan di tengah hutan yang berantakan itu.

"Duduklah dan minumlah teh ini. Makan juga, buat dirimu nyaman," perintah Lisa dengan suara lembut.

Floyen yang masih lemas hanya mengangguk patuh. Ia duduk, memegang cangkir teh hangat itu, dan menatap kakaknya dengan mata berbinar.

Lisa pun berdiri. Wajahnya yang tadi lembut berubah seketika menjadi dingin dan tajam. Ia berbalik menatap arah Naga Bangkai itu.

"Sementara itu... aku akan membalas dendam atas rasa sakit yang telah diterima adikku."

 

Lisa mengangkat tangannya. Ia mulai mengumpulkan seluruh energi dahsyat di telapak tangannya.

Bzzzztt...!!! ⚫️⚪️

Energi itu berputar kencang, membentuk pusaran hitam dan putih yang sangat menakutkan. Suaranya menderu seperti badai. Para Tuan Muda dan Senior yang melihatnya langsung mundur ketakutan, tubuh mereka gemetar hebat. Mereka bisa merasakan bahwa energi itu bukan mainan, itu adalah kekuatan yang bisa menghancurkan dunia!

Merasakan ancaman maut, Naga Bangkai itu menggeram keras. Ia mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya di dalam mulutnya, menciptakan bola api hitam besar, siap melontarkannya ke arah Lisa untuk membunuhnya sebelum diserang.

Saat Lisa hendak melepaskan serangan mematikan itu—

 

KEDATANGAN PARA PERI NONA

"TUNGGULAH!! YANG MULIA PUTRI!!" 🧚‍♀️✨

Sekelompok cahaya terang turun dari langit. Para Peri Nona yang dulu pergi untuk memulihkan diri kini muncul kembali dengan wajah panik. Mereka melayang menghalangi tangan Lisa.

"Anda tidak boleh menggunakan kekuatan itu di sini, Yang Mulia!!" mohon Pemimpin Peri dengan napas terengah. "Jika anda melepaskannya, bukan hanya monster ini, seluruh hutan ini dan bahkan wilayah sekitarnya akan hancur lebur dalam sekejap! Kami sangat memohon!"

Lisa menatap mereka tajam, matanya bersinar merah marah di balik penutup mata.

"Tapi... dia telah menyakiti adikku. Seseorang yang kujaga di dunia manusia ini," suara Lisa rendah namun penuh amarah. "Di dunia rendahan ini, makhluk busuk macam dia berani menyakitinya?!"

"Tapi Yang Mulia!!" Para Peri semakin panik. "Jika anda menunjukkan kekuatan sejati anda sekarang, kehidupan damai yang anda impikan akan hilang! Anda akan menjadi sorotan terbesar, para raja dan kaisar sihir akan datang mencari anda. Keinginan anda untuk hidup tenang tidak akan pernah terwujud lagi kemungkinan besar juga keluarga anda di dunia manusia ini akan terkena dampaknya!"

Mendengar kata itu tubuh Lisa tersentak. Ia menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya.

Prang!

Energi dahsyat di tangannya menghilang seketika seolah tidak pernah ada. Namun... tekanan yang dikeluarkan Lisa justru berubah bentuk.

 

Lisa tidak menyerang dengan sihir. Ia melepaskan Auranya.

WOOOSH!! 💨

Aura tingkat tertinggi, Aura Level 9, menyebar ke seluruh penjuru hutan. Di dunia manusia, level ini setara dengan para Pahlawan Legendaris atau bahkan lebih tinggi dari itu—level yang hanya ada dalam dongeng.

Tekanan itu begitu berat dan menekan, membuat semua makhluk hidup di sana, kecuali manusia, merasa seolah-olah dada mereka diremas dan dipijat.

Naga Bangkai itu yang tadi ingin menembakkan api, tiba-tiba merasa kekuatannya menguap begitu saja. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa menyalakan sihir, ia merasa seperti semut di hadapan matahari.

"SI... SIIAPAA KAU...?!" raung Naga itu dengan suara gemetar. Hanya Lisa yang bisa mengerti bahasa monster itu.

Lisa berjalan perlahan mendekatinya. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

"Beraninya kau menanyakan siapa aku?" ucap Lisa dingin. "TUNDUKLAH!"

BUKK!

Seolah ada kekuatan magnet yang luar biasa, tubuh raksasa Naga itu dipaksa menundukkan kepalanya ke tanah. Ia tidak bisa melawan sama sekali. Naga itu akhirnya sadar. Ia tidak sedang menghadapi penyihir atau ksatria. Ia sedang menghadapi SESOSOK DEWA.

Ia telah melakukan dosa besar. Ia menyerang makhluk yang seharusnya ia sembah.

"Maafkan aku... Yang Mulia Dewa..." rintih Naga itu dengan penuh penyesalan. "Aku buta... aku tidak mengenali kehadiran-Mu. Menyerang-Mu adalah kesalahan terbesar dalam keberadaanku. Aku tidak pantas hidup lagi..."

Sret... cairrr! ✨

Tubuh kerangka naga itu mulai meleleh dan hancur dengan sendirinya. Ia memilih untuk menghancurkan dirinya sendiri sebagai bentuk penebusan dosa.

"Aku tidak bisa memberikan apa-apa selain ini..."

Sisa terakhir dari tubuhnya menyisakan sebuah bola cahaya yang sangat besar dan berkilau indah. Itu adalah Inti Naga, sumber kekuatan paling murni dan berharga.

"Terimalah intiku yang tidak seberapa ini... sebagai tanda maafku karena tidak bisa mengenali-Mu, Dewa..."

Pling!

Inti itu melayang perlahan dan berhenti tepat di hadapan tangan Lisa. Naga itu lenyap selamanya, menebus kesalahannya.

Lisa mengambil inti itu dengan tenang. Lalu ia berbalik badan, kembali ke sisi Floyen yang sedang menikmati teh dengan wajah bingung tapi tetap percaya penuh pada kakaknya.

Bersambung....

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!