Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Kamu Menghindar?
Di tengah kekalutan Reyhan, terdengar suara derit pagar besi yang dibuka.
Reyhan tersentak. Sesosok wanita berjalan tenang memasuki halaman rumah. Langkah kakinya santai, kontras dengan pikiran Reyhan. Blazer marun sudah berganti kembali dengan daster rumahan longgar yang tampak biasa saja. Wajahnya pun kembali dicitrakan lesu. Di tangan kanannya ada sebuah kantong plastik putih berlogo minimarket terkenal.
"Xena?!"
Reyhan langsung berhambur menghampiri. Ia memeluk Xena seolah wanita itu baru saja kembali dari ambang kematian.
"Dari mana saja kamu, Sayang? Kenapa gak bilang-bilang? Ponselmu mati, aku cari ke mana-mana sampai mau gila rasanya." cecar Reyhan beruntun.
Xena tidak membalas pelukan itu dengan kehangatan yang sama. Tubuhnya terasa pasif, namun ia menampilkan raut wajah bersalah yang amat meyakinkan. Ia melepaskan pelukan Reyhan lalu mengangkat kantong plastik di tangannya.
"Habis ke minimarket depan, Mas. Maaf ya, tadi buru-buru karena susu formula Aksara dan beberapa kebutuhan mendesak habis. Aku jalan kaki pelan-pelan karena pusing, terus ponselku mati kehabisan baterai. Aku gak tahu kalau Mas bakal sekhawatir ini."
Reyhan mengembuskan napas lega "Kamu bikin aku khawatir aja, sayang. Lain kali kalau mau keluar, sebutuh apa pun, tunggu aku pulang atau titip Nadine saja. Oh iya, sini hp kamu."
"Iya, Mas. Ini," jawab Xena tanpa banyak tanya.
Xena merogoh saku dasternya dan langsung menyerahkan ponsel yang dalam keadaan mati kepada Reyhan. Sikap patuh Xena ini sama sekali bukan hal baru. Reyhan memang kerap seperti ini, suka mengecek ponsel Xena jika wanita itu menunjukkan sedikit saja perubahan sikap, atau saat Xena habis pergi dari rumah tanpa dirinya. Reyhan selalu berdalih itu adalah bentuk proteksi dan rasa cintanya yang teramat besar.
Lama Reyhan berkutat di ruang tengah dengan ponsel Xena yang kini sudah dicolokkan ke pengisi daya. Reyhan mulai membuka satu per satu aplikasi pesan, riwayat panggilan, sosial media, hingga galeri foto. Ia mencari-cari kalau-kalau ada jejak mencurigakan atau interaksi dengan laki-laki lain yang memicu kepergian mendadak istrinya.
Sementara Reyhan berselancar dengan ponselnya, Xena lebih memilih masuk ke dalam kamar alih-alih menemani suaminya duduk di sofa seperti yang biasa ia lakukan dulu. Sikap posesif Reyhan selama bertahun-tahun inilah yang sebenarnya dulu sempat mengecoh Xena.
Di mata Xena yang lama, sifat Reyhan yang amat bucin itu adalah garansi bahwa suaminya akan selalu setia dan menjadikan dirinya sebagai satu-satunya wanita. Sifat protektif itu dulu dianggapnya sebagai tanda cinta mati.
Tapi ternyata ia salah besar. Demi sebuah ego bernama keturunan, Reyhan ternyata seberani itu membohonginya sampai sejauh ini, bermain api di belakangnya dengan Nadine, asisten rumah tangga yang mereka tampung.
Ngomong-ngomong tentang keturunan, Xena teringat sesuatu yang mengganjal. Ia butuh memastikan ulang kejanggalan itu dan membuktikannya segera karena waktunya tak banyak lagi.
Akan tetapi sebelum melangkah keluar untuk menghadapi Reyhan kembali, Xena menyelesaikan urusannya di dalam kamar. Matanya tertuju pada keranjang pakaian kotor. Di sana Xena sengaja mengumpulkan beberapa potong pakaian dan shemvak kotor milik Reyhan yang sengaja belum dicuci selama beberapa hari terakhir.
Biasanya sebagai istri yang berbakti, Xena selalu mencucinya setiap hari tanpa menunda. Kali ini rasa malas dan jijik sudah menjalar sampai ke tulang-tulangnya. Sambil tersenyum sinis, Xena melempar tumpukan pakaian dalam itu ke wadah terpisah.
Aku bakal minta Nadine untuk mengurusnya nanti. Pasti wanita itu mau. Iya lah, isinya saja dia mau dan sudah dia nikmati, masa sarangnya gak mau ngurusin? Ambil saja sekalian dengan dakinya. batin Xena sinis.
Begitulah jika seseorang sudah dikhianati, jangankan harus tidur dengannya, cuci semvaknya saja sudah malas.
Setelah menyelesaikan urusan kamar barulah Xena melangkah kembali ke ruang tengah. Di sofa Reyhan tampak menyandarkan punggungnya. Dari hasil pemeriksaannya yang mendalam pada ponsel Xena, Reyhan tidak menemukan apa-apa. Semua bersih. Tidak ada kontak baru, tidak ada pesan mencurigakan, hanya ada riwayat obrolan dengan Bu Ratna tadi pagi.
Reyhan bernapas lega. Ketakutan terbesarnya tidak terbukti. Sang istri terkasih ternyata tidak berpaling darinya dan masih berada di dalam genggamannya.
"Ini ponselmu, Sayang. Sudah kuisi baterainya sedikit."
Xena menerima ponsel itu lalu duduk di sofa tunggal yang berseberangan dengan Reyhan.
"Reyhan, ada yang ingin aku minta," ucap Xena.
Reyhan yang moodnya sudah membaik langsung memajukan tubuhnya. "Minta apa, Sayang? Kamu mau apa? Katakan saja, pasti Mas usahakan."
"Aku ingin kita menjalani promil kembali. Hanya perlu sampai ke tahap cek kesuburan medis yang mendalam lagi juga gak apa-apa. Kan sekarang kita sudah punya Aksara sebagai pancingan di rumah. Siapa tahu dengan adanya suasana baru, hormonku ada perubahan yang lebih baik."
Mendengar permintaan Xena, dalam hati Reyhan langsung membatin dengan penuh rasa jemawa Sudah jelas aku ini subur dan bisa punya keturunan. Nadine sudah membuktikannya lewat Aksara. Tapi ya sudahlah, tidak ada salahnya aku turuti kemauan Xena, hitung-hitung untuk menghibur hatinya yang malang karena belum kunjung hamil.
"Iya, Sayang. Aku ikut saja bagaimana baiknya buat kamu. Kalau itu bisa bikin kamu senang dan optimis lagi, aku pasti dukung."
"Baiklah kalau begitu. Aku minta jadwalnya besok, ya. Aku sudah cek jadwal dokter spesialis yang bagus, dan aku pilih besok karena waktu yang sangat bagus untuk memeriksa kualitas kecebongmu lagi. Beberapa hari gak keluarin cebong kan? Kita pastikan semuanya dari sisi medis yang paling mutakhir."
"Iya, Sayang. Besok kita berangkat bersama," jawab Reyhan sambil tersenyum lebar mengusap kepala Xena.
Tanpa kamu tahu, Xena, Aksara adalah hasil nyata dari kecebongku yang perkasa. Kamu berlaku begini, ikut-ikut pemeriksaan ulang dan repot-repot ke dokter, hanya akan membuatmu kembali bersedih sebenarnya. Tapi tak apa, aku tetap turuti.
Namun Reyhan sama sekali tidak bisa membaca apa yang bergolak di balik sepasang mata indah Xena yang menatapnya lurus tanpa kedip.
Jika besok hasil analisismu tetap dinyatakan mandul atau sama dengan rekam medis sebelumnya, maka itu artinya Nadine membohongimu habis-habisan soal asal-usul Aksara, Reyhan. Mari kita lihat, siapa yang akan hancur paling lebur nanti. Batin Xena.
Suasana hening. Di situasi yang sunyi ini, diam-diam kepala Reyhan maju-maju dengan kemiringan enam puluh derajat. Tangan sebelahnya menarik tengkuk Xena. Tentu Xena tahu ini arahnya kemana dan dia pun ogah melakukannya meskipun hanya sekedar cium.
Otaknya berfikir cepat untuk menyela, "Haciim! Aduh... pilek ini kayanya. Pantesan tadi badan kurang fit." Xena berharap Reyhan tak jadi jadi melancarkan aksi karena jijik. Tapi...
"Yasudah sini berbagi virus denganku." Reyhan tetap ingin meraup bibir Xena.
Xena tak punya pilihan lain selain mendorong dada Reyhan. Dia dorong, tapi kalah tenaga ternyata. Reyhan sadar Xena menghindar, laki-laki itu pun bertanya, "Kenapa kamu menghindar?"
Bersambung.