" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. Hinaan Kehangatan
Tubuh Valerian menegang sempurna. Pertanyaan Damian yang terarah pada gaun tidurnya yang terbalik terasa seperti lonceng kematian yang berdentang di telinganya. Atmosfer kamar utama itu mendadak terasa begitu mencekik.
Sebelum Valerian sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, terdengar bunyi klik halus dari arah belakangnya. Pintu kamar Aksa yang sempat bergerak terbuka kembali tertutup rapat. Aksa tampaknya menyadari situasi bahaya ini dan memilih menahan diri demi keselamatan Valerian.
Valerian menarik napas sedalam mungkin, mencoba meredam debaran jantungnya yang menggila. Dengan gerakan sealami mungkin, ia membetulkan posisi tali gaun satinnya yang merosot.
"Aku... aku tadi ke halaman belakang karena dadaku terasa sesak, Damian. Di luar sangat gelap dan aku terburu-buru memakai jaket rajut, jadi aku tidak sadar kalau gaun tidurku terbalik saat merapikannya kembali," dusta Valerian dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski jemarinya bergetar hebat di balik lipatan kain.
Damian melangkah mendekat. Setiap ketukan langkah pria itu di atas lantai marmer terdengar seperti ketukan waktu yang mengadili Valerian. Tatapan mata Damian yang tajam menyapu penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilat dingin yang tidak terbaca di sana.
"Begitu?" Damian mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman meremehkan yang amat familier bagi Valerian. "Kupikir kau sengaja menyiapkannya untukku."
Tangan Damian yang besar dan dingin tiba-tiba terangkat, membelai rahang Valerian dengan ibu jarinya. Sentuhan itu tidak memiliki kehangatan sama sekali. Valerian bahkan bisa merasakan tubuhnya meremang ketakutan.
Damian mendekatkan wajahnya, mengikis jarak hingga Valerian bisa mencium aroma mint tajam dari tubuh suaminya. Tatapan Damian turun ke arah bibir Valerian yang sedikit membengkak akibat pagutan panas Aksa beberapa jam lalu.
"Dua tahun ini kau selalu mengemis sentuhanku, bukan?" bisik Damian, suaranya terdengar begitu seksi namun penuh racun. Jemarinya perlahan turun ke leher Valerian, mengusap kulit halus di sana.
Jantung Valerian berdesir, bukan karena cinta, melainkan karena rasa terhina yang mulai membakar dadanya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini bukan kali pertama Damian melakukan hal ini.
Benar saja. Tepat ketika harapan kecil Valerian mengira Damian akhirnya mau menerimanya sebagai istri, Damian tiba-tiba menarik tangannya kembali dengan kasar. Pria itu berbalik memunggungi Valerian, lalu terkekeh geli seolah baru saja menyaksikan lelucon yang sangat menghibur.
"Tapi sayangnya, malam ini aku terlalu lelah untuk menyentuh wanita membosankan sepertimu, Valerian. Bersihkan dirimu, aromamu sangat aneh malam ini," ucap Damian dingin tanpa perasaan, lalu melangkah menuju ranjang dan mematikan lampu utama, meninggalkan Valerian yang mematung di dalam kegelapan.
Air mata Valerian luruh dalam senyap. Sikap Damian selalu seperti ini—menyemburkan harapan semu lalu menghempaskannya ke dasar jurang terdalam. Damian kerap pura-pura ingin menyentuhnya hanya untuk melihat wajah berharap Valerian, sebelum akhirnya menolak dengan kalimat yang merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Sandiwara kejam itu membuat Valerian merasa sekadar seperti sampah yang tak berharga di mata suaminya.
Keesokan paginya, suasana di kediaman megah keluarga Wardhana tampak sibuk seperti biasa. Di rumah mewah berlantai tiga itu, mereka tidak hanya tinggal bertiga. Ada lima orang yang mengisi rumah tersebut: Tuan Bagian Wardhana sang kepala keluarga yang tegas, Nyonya Zen Wardhana yang anggun namun penuh tuntutan, serta si bungsu Dania Kusuma Wardhana, adik perempuan Damian dan Aksa yang masih manja.
Valerian duduk di meja makan dengan gaun terusan formal yang tertutup rapat hingga ke leher, sengaja demi menyembunyikan bercak kemerahan yang ditinggalkan Aksa semalam. Di sebelah kanannya duduk Damian yang sibuk dengan ponsel bisnisnya, mengabaikan kehadiran Valerian sepenuhnya.
"Valerian, kenapa wajahmu pucat sekali? Kau tidak melupakan suplemen kesuburan yang Ibu berikan, kan? Ibu mau tahun ini kalian sudah memberikan cucu untuk keluarga Wardhana," suara dingin Nyonya Zen Wardhana memecah keheningan meja makan.
Valerian tersedak pelan. "A-aku tidak lupa, Bu."
"Bagaimana mau punya cucu, Bu? Kak Damian saja lebih sering tidur dengan tumpukan berkas kantor daripada menyentuh Kak Vale," celetuk Dania sambil mengunyah roti panggangnya dengan acuh tak acuh.
"Dania, jaga bicaramu," tegur Tuan Bagian Wardhana dengan suara baritonnya yang tegas, membuat Dania langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
Di tengah situasi yang canggung dan menegangkan itu, terdengar langkah kaki yang santai menuruni tangga. Aksa berjalan masuk ke ruang makan dengan kemeja kasual yang kancing atasnya terbuka, tampak segar dan tampan dengan senyuman yang menghiasi wajah rahang tegasnya.
"Pagi, semua! Wah, baru jam tujuh pagi tapi atmosfer meja makan sudah seperti ruang sidang skripsi saja," seloroh Aksa dengan nada humorisnya yang khas, seketika mencairkan ketegangan di ruangan itu.
Aksa duduk tepat di hadapan Valerian. Saat mata mereka bertemu, sebuah binar kehangatan terpancar dari sepasang netra Aksa, berbanding terbalik dengan tatapan Damian yang selalu membekukan hati. Aksa adalah sosok yang ceria, penuh perhatian, dan selalu tahu bagaimana cara memperlakukan Valerian dengan baik di rumah yang terasa seperti penjara ini.
"Kak Vale, ini cobalah sandwich buatanku. Tadi aku sempat membuat beberapa di dapur. Aku tahu kau kurang suka sarapan yang terlalu berat kalau sedang stres," ucap Aksa sambil menggeser sebuah piring kecil ke hadapan Valerian, lengkap dengan kedipan mata jail yang hanya bisa ditangkap oleh Valerian.
"Terima kasih, Aksa," bisik Valerian, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Pria di depannya ini baru saja memberinya dosa terbesar semalam, namun di saat yang sama, dialah satu-satunya oksigen bagi jiwa Valerian yang sekarat.
Damian yang melihat interaksi itu hanya mendengus meremehkan. Ia mengelap bibirnya dengan tisu, lalu berdiri dari kursinya. "Aku berangkat ke kantor dulu, Ayah, Ibu."
Tanpa berpamitan atau melirik Valerian sedikit pun, Damian melangkah pergi. Begitu pula dengan Tuan Bagian dan Nyonya Zen yang beralih ke ruang kerja mereka, disusul Dania yang bergegas pergi kuliah, menyisakan Valerian dan Aksa berdua saja di ruang makan yang mendadak senyap.
Begitu keadaan dipastikan aman, Aksa langsung berpindah duduk ke kursi sebelah Valerian yang tadinya ditempati oleh Damian. Tangan Aksa menyusup ke bawah meja, menggenggam jemari dingin Valerian dan mengusapnya dengan lembut.
"Dia menyakitimu lagi semalam?" tanya Aksa, nada humorisnya seketika hilang, digantikan oleh suara berat yang penuh dengan kekhawatiran dan kilat protektif yang begitu pekat.
Valerian menunduk, bibirnya bergetar saat teringat bagaimana Damian memperlakukannya seperti pajangan yang tak berharga semalam. "Damian... dia tahu gaun tidurku terbalik, Aksa. Aku takut dia mulai curiga."
Genggaman tangan Aksa di jemari Valerian semakin mengencang. Aksa menarik dagu Valerian agar wanita itu menatap lurus ke dalam matanya yang menyala oleh obsesi yang semakin dalam.
"Biarkan saja dia tahu, Valerian," bisik Aksa dengan suara parau yang amat intim, membuat jantung Valerian berdegup kencang. "Biarkan dia tahu bahwa wanita yang dia sia-siakan setiap hari, nyatanya memohon kehangatan di atas ranjang adiknya sendiri setiap malam."
Sebelum Valerian sempat memprotes kata-kata nekat itu, ponsel di atas meja makan tiba-tiba berdering nyaring. Sebuah pesan masuk dari nomor Damian.