Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Hutan yang Melupakan Namanya
Setelah memulihkan aliran Sungai Karya, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan menuju arah barat daya. Jalan yang mereka lalui semakin menanjak, melewati perbukitan yang ditumbuhi semak belukar, hingga akhirnya sampai di sebuah lembah luas yang tertutup kabut tebal sepanjang hari.
“Kang, aneh sekali tempat ini. Kabutnya tidak pernah hilang, dan udaranya terasa dingin meski matahari sedang bersinar terang di atas sana,” kata Dawala sambil mengusap lengan yang terasa merinding. “Yang lebih aneh lagi, tidak terdengar suara burung atau hewan hutan sama sekali. Seolah tempat ini sunyi tanpa nyawa.”
Cepot berhenti sejenak, mengamati sekeliling dengan pandangan tajam. Ia menyentuh kulit pohon di pinggir jalan, lalu mengerutkan dahi. “Pohon-pohon ini masih hidup, tapi energinya terasa tumpul dan lemah. Seolah mereka sudah lupa akan tugasnya sebagai penyangga alam. Tempat ini dulu pasti hutan yang lebat dan subur, tapi sekarang terasa seperti kehilangan jati dirinya sendiri.”
Mereka melangkah lebih dalam melewati kabut, hingga akhirnya menemukan gubuk kecil yang berdiri sendirian di tengah lembah. Di depan gubuk itu duduk seorang lelaki tua bertongkat kayu, rambutnya putih seluruhnya, dan matanya terlihat sayu seolah pandangannya mulai kabur. Begitu mendengar langkah kaki, ia menoleh perlahan.
“Siapa yang berani masuk ke Hutan Tanpa Nama?” tanyanya dengan suara parau namun tetap tegas. “Tidak ada orang yang datang ke sini tanpa alasan yang kuat, dan juga tidak banyak yang bisa menemukan jalan keluarnya lagi.”
“Kami hanyalah pengembara yang lewat, Kakek,” jawab Cepot dengan nada sopan. “Kami melihat tempat ini terasa berbeda dan sepi, jadi ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa hutan ini disebut ‘Tanpa Nama’?”
Lelaki tua itu menghela napas panjang, lalu menepuk tempat duduk di sampingnya. “Duduklah, nak. Cerita ini sudah lama terpendam. Dulu, tempat ini bernama Hutan Cemara Wangi—tempat yang subur, udaranya harum, dan menjadi tempat tinggal berbagai makhluk halus serta hewan yang hidup rukun. Namun, sekitar lima puluh tahun yang lalu, datanglah seorang yang mengaku ahli ilmu tinggi bernama Ki Murka. Ia ingin menguasai seluruh energi hutan ini untuk memperkuat kekuatannya sendiri.”
Ia melanjutkan dengan suara yang semakin berat, “Ia menggunakan mantra terlarang untuk memutuskan hubungan antara hutan ini dengan arus energi alam yang lebih luas. Akibatnya, hutan ini terputus dari ingatannya sendiri—lupa akan namanya, lupa akan tugasnya, dan perlahan kehilangan semangat hidupnya. Kabut tebal menutupinya, makhluk-makhluknya pergi atau menjadi lemah, dan siapa pun yang tinggal di sini lama-lama juga akan mulai melupakan siapa dirinya.”
Dawala terkejut mendengarnya. “Jadi, kabut ini bukan sekadar uap air biasa, melainkan pengaruh dari mantra yang membuat segala sesuatu menjadi lupa?”
“Benar,” jawab lelaki tua itu. “Aku adalah penjaga terakhir yang ditugaskan leluhur untuk tetap tinggal di sini. Sudah puluhan tahun aku berusaha menjaga agar ikatannya tidak semakin kuat, tapi tenagaku sudah menipis. Ki Murka sendiri sudah tiada, tapi jejak mantra yang ia tinggalkan masih tetap mengikat hutan ini hingga sekarang.”
Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala saling berpandangan. Mereka mengerti bahwa tantangan kali ini bukanlah melawan makhluk jahat secara fisik, melainkan mengembalikan ingatan dan jati diri sebuah tempat yang sudah lama terputus dari akarnya.
“Kakek, bolehkah kami mencoba membantu memulihkan keadaan ini?” tanya Cepot dengan sungguh-sungguh. “Kami memiliki pusaka yang mampu menyambungkan kembali apa yang terputus dan mengembalikan keseimbangan yang hilang.”
Penjaga tua itu menatap mereka lama, lalu mengangguk perlahan dengan wajah penuh harapan. “Jika memang ada jalan, silakan coba. Tapi ingat, mantra ini tidak bisa dihancurkan dengan kekerasan semata. Ia harus dihadapi dengan pengingat yang kuat, agar hutan ini bisa mengenali kembali asal-usulnya.”
Malam itu, saat kabut terasa paling tebal dan dingin, Cepot dan Dawala berjalan menuju pusat hutan, tempat yang menurut keterangan penjaga itu menjadi titik di mana mantra itu dipancarkan. Di tengah lingkaran pohon-pohon tua yang tumbuh melingkar, terdapat sebuah batu datar yang tertutup lumut hitam, dan di atasnya terukir tanda-tanda yang sudah terbalik arahnya.
“Ini dia sumbernya,” gumam Cepot sambil mendekat. “Tanda-tanda ini terbalik, sehingga energi yang seharusnya masuk dan mengalir justru terhalang dan terputus.”
Begitu mereka berdiri di tempat itu, kabut di sekeliling mulai berputar cepat, menimbulkan suara bisikan yang samar dan membingungkan. Suara-suara itu terdengar seperti berkata: “Siapa kalian? Tempat ini tidak memiliki nama… tidak memiliki tujuan… lupakanlah segalanya…”
Dawala merasa kepalanya sedikit pusing, seolah ingatannya mulai melayang. “Kang… rasanya aku mulai lupa apa yang sedang kita lakukan di sini…”
“Kuatkan hati, Da! Jangan biarkan bisikan itu menguasai pikiranmu!” seru Cepot tegas. “Ingatlah tujuan kita, ingatlah siapa diri kita, dan ingatlah apa yang sedang kita perjuangkan!”
Cepot segera mengangkat Golek Pancasona setinggi bahu. Cahaya putih keemasan memancar perlahan, namun kali ini tidak menyilaukan, melainkan terasa hangat dan menenangkan. Suara lembut seperti nyanyian alam terdengar keluar dari pusaka itu, menyebar ke seluruh penjuru hutan.
“Wahai Hutan yang terputus dan terlupakan!” teriak Cepot dengan suara lantang namun lembut. “Dengarlah panggilan ini! Kau adalah Hutan Cemara Wangi—penjaga keseimbangan, penyejuk udara, dan tempat berlindung bagi makhluk hidup! Jangan biarkan kesalahan masa lalu membuatmu melupakan jati dirimu sendiri!”
Saat cahaya itu menyentuh batu di tengah lingkaran, tanda-tanda yang terbalik itu perlahan berputar kembali ke posisi semula. Lumut hitam yang menutupinya luruh, dan batu itu mulai memancarkan cahaya hijau keemasan yang menyatu dengan cahaya dari pusaka.
Kabut yang selama ini menyelimuti hutan mulai menipis dan menghilang satu per satu. Udara yang tadinya dingin dan hambar berubah menjadi segar dan beraroma wangi khas pohon cemara yang tumbuh subur. Suara gemerisik daun, kicauan burung, dan suara air yang mengalir kembali terdengar memenuhi lembah, seolah hutan itu sedang bernapas lega setelah sekian lama tertekan.
Semakin lama, semangat kehidupan kembali mengalir ke seluruh penjuru. Pohon-pohon yang tadinya layu mengeluarkan tunas baru, dan tanah yang gersang menjadi subur kembali. Bahkan, di antara semak-semak, mulai terlihat makhluk-makhluk halus penjaga hutan yang muncul kembali dengan wujud yang tenang dan bersahabat.
Penjaga tua itu berjalan mendekat dengan langkah yang terasa lebih ringan dan segar. Matanya yang tadinya kabur kini kembali terlihat jernih, dan wajahnya tampak lebih muda berseri.
“Terima kasih… terima kasih banyak, anak-anak!” ucapnya dengan suara yang kini lebih kuat. “Hutan ini telah kembali mengingat namanya, mengingat tugasnya, dan menyatu kembali dengan arus energi alam. Aku pun merasakan kekuatanku kembali, seolah usia tua ini menjadi ringan kembali.”
Cepot tersenyum lega. “Kami hanya membantu mengingatkan apa yang sudah ada sejak awal, Kakek. Setiap makhluk dan tempat memiliki jati diri yang tidak bisa dihapus selamanya, hanya bisa terhalang sementara waktu. Selama masih ada yang mengingatkan dan hati yang mau menerima, kebenaran akan selalu kembali muncul.”
Dawala pun menambahkan, “Ternyata, melupakan jati diri adalah hal yang paling menyakitkan, bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi alam itu sendiri.”
Setelah beristirahat sehari penuh untuk memastikan keadaan hutan sudah benar-benar pulih, Cepot dan Dawala pun berpamitan. Mereka melangkah keluar dari lembah yang kini sudah kembali cerah, membawa serta pelajaran baru: bahwa memelihara ingatan akan jati diri dan tugas adalah kunci untuk tetap hidup seimbang, baik bagi diri sendiri maupun bagi alam semesta.