NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghindari perjodohan

Mendengar ucapan Farhan, ibunya cukup terkejut. Ia merasa bingung, antara percaya atau tidak. Selama ini, yang ia tahu anak laki-lakinya itu belum benar-benar melupakan kekasih masa kecilnya, seseorang yang pernah mengisi hati Farhan sejak masa sekolah dulu.

“Jangan mengada-ada semata-mata hanya untuk menghindari perjodohan yang Mama atur ya, Farhan. Kamu kan sudah dewasa, bukan waktunya lagi untuk bersandiwara atau bermain-main dengan hal serius begini. Jangan coba-coba bohong sama Mama,” ucap ibunya dengan nada yang penuh keraguan dan sedikit peringatan.

“Aku nggak peduli Mama percaya atau tidak. Yang jelas, nanti aku bawa dia menemui Mama dan seluruh keluarga. Aku hanya berharap, kalian mau merestui hubungan kami dan tidak menciptakan keributan atau penolakan yang tidak perlu,” jawab Farhan dengan nada yang terdengar kesal dan tegas.

Kali ini, ibunya mulai menyimak ucapan anaknya dengan lebih serius dan pikiran yang terbuka. Ia sadar, meskipun tujuan awalnya mungkin untuk menghindari perjodohan, Farhan bukanlah tipe orang yang akan membuat cerita bohong atau sandiwara yang berisiko merusak nama baik dan kehormatan keluarganya sendiri.

“Baiklah, kalau begitu. Jika calon yang akan kamu bawa itu memang memenuhi kriteria dan standar keluarga kita, tentu saja Mama tidak akan menolak atau melarang. Tapi bolehkah Mama tahu, dia berasal dari keluarga mana? Apa Mama pernah kenal?,” tanya ibunya lagi, penuh rasa ingin tahu.

Hati Farhan semakin terasa sesak dan muak dengan pembahasan ini. Memang, keluarganya bukanlah golongan konglomerat terkaya di negeri ini, namun karena lahir dari kalangan pengusaha, orang tuanya masih sangat memperhatikan latar belakang dan asal-usul keluarga dari calon pendamping anak-anaknya. Padahal, menurut pemikiran Farhan, semua manusia itu sama derajatnya di hadapan Tuhan. Selama orang itu bukan penjahat atau orang yang berakhlak buruk, untuk apa harus dipermasalahkan asal-usul atau status ekonominya?

“Dia hanyalah perempuan biasa, Mah. Seorang yatim piatu yang saat ini hanya hidup bersama kedua adiknya. Mungkin dia jauh dari kriteria atau standar yang selama ini dipegang oleh keluarga kita. Tapi, satu hal yang perlu kalian tahu hanya dia yang aku mau, bukan orang lain. Aku harap kalian bisa menghargai dan menghormati keputusan yang sudah aku ambil ini,” jawab Farhan dengan jujur dan lugas.

Jawaban itu terucap sepenuhnya secara spontan. Di dalam kepala dan hatinya saat ini, hanya ada satu nama yang terbayang, yaitu Amira. Tanpa sadar ia telah menyeret nama gadis itu ke dalam urusan keluarganya, dan di lubuk hatinya yang paling dalam, ia meminta maaf berkali-kali pada Amira karena telah melibatkannya dalam kerumitan ini.

Mendengar pengakuan itu, ibunya dan anggota keluarga yang ada di ruangan itu benar-benar terkejut dan tak percaya. Selama ini, mereka tau Farhan selalu berada di lingkungan kerja yang profesional, di mana ia bertemu dan bergaul dengan orang-orang hebat, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga yang terpandang juga. Oleh sebab itu, mereka sangat bingung dan bertanya-tanya dari mana dan bagaimana cara Farhan bisa mengenal seorang perempuan itu.

“Farhan... kamu yakin dan serius kan? Kamu tidak sedang bercanda atau menggertak kami, kan?” tanya ibunya, napasnya terasa tercekat karena kaget. “Kamu ini benar-benar bisa membuat Mama hampir kena serangan jantung, tahu! Bukan maksud Mama untuk membeda-bedakan manusia atau merendahkan orang lain, tapi pikirkanlah dengan akal sehat. Kalau kamu berpasangan dengan seseorang yang setara, dia pasti akan lebih mudah memahami kamu, dunia pekerjaanmu, sampai lingkungan pergaulanmu yang luas ini. Mama hanya khawatir, kalau dia berasal dari kalangan biasa, dia akan merasa kaget, canggung, bahkan mungkin tidak kuat menyesuaikan diri dengan lingkungan kita yang berbeda ini.”

“Segala hal itu bisa dipelajari dan disesuaikan, Mah! Yang paling penting bagiku sekarang adalah aku tidak mau dan tidak bersedia dijodohkan dengan siapapun. Pokoknya, pembahasan soal perjodohan ini cukup sampai di sini saja ya. Tolong jangan lagi meneror atau menggangguku dengan pesan maupun telepon soal hal ini. Kalau nanti waktunya sudah tepat dan aku sudah siap, pasti aku akan membawanya menemui kalian semua,” tegas Farhan.

Setelah mengatakan hal itu, Farhan langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia memutuskan untuk segera berpamitan pulang, tanpa mau lagi mendengarkan ocehan ibunya yang mungkin akan membuatnya semakin kesal. Melihat sikapnya yang begitu kukuh dan tegas, mereka yang ada di ruangan itu akhirnya hanya bisa pasrah dan diam, membiarkan Farhan pergi meninggalkan rumah orang tuanya malam itu juga.

“Mama harus mencari tahu siapa sebenarnya perempuan itu. Mama nggak mau Farhan salah mengambil keputusan, pada akhirnya ia yang kecewa, atau justru mengecewakan pasangannya. Mama tahu betul, di hatinya masih ada Clarisa. Dulu sempat berharap gadis itu akan jadi pasangan hidup Farhan, tapi hubungan mereka harus kandas karena orang tua Clarisa pindah ke luar negeri.”

“Sudahlah, Mah. Biarkan Farhan menjalani hidupnya dan menentukan pilihannya sendiri. Tugas kita sebagai orang tua hanyalah mendoakan dan mendukungnya. Mama pasti masih ingat gimana patahatinya dia pas putus dulu, saat itu nggak ada seorang pun yang bisa menyembuhkannya selain dia sendiri. Sekarang, sebaiknya kita terima apa pun keputusan yang ia ambil.”

“Tapi, pah…”

“Sudahlah, Mah. Mau Mama cari tahu atau tidak, nanti jika waktunya tiba, Farhan pasti akan memperkenalkan pilihannya juga.”

Istrinya cukup kecewa mendengar ucapan Arhan. Ia merasa pendapatnya tidak didukung, namun sebagai istri, ia pun tidak bisa berbuat banyak untuk melawan. Arhan pun kemudian beranjak pergi meninggalkan istri dan anak perempuannya. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini, sebab ia tahu semakin diperdebatkan, persoalannya hanya akan makin rumit saja.

“Dasar anak sama bapak, sama saja! Mama hanya menginginkan yang terbaik buat kakakmu, tapi kenapa semuanya jadi salah paham begini. Ingat ya, Hana. Kalau nanti kamu cari pendamping, carilah yang memang sepadan dan setara dengan keluarga kita. Jangan sampai kamu mengambil jalan yang salah seperti kakakmu itu.”

Hana hanya menggeleng pelan mendengar omelan ibunya. Saat ini, ia sama sekali belum memiliki ketertarikan untuk menjalin hubungan asmara dengan siapa pun, dari kalangan mana pun itu.

“Sudahlah, Mama sayang. Kita lihat saja dulu seperti apa sosok yang akan dibawa Mas Farhan nanti, baru setelah itu Mama boleh mengambil kesimpulan. Lagi pula, apa yang dikatakan Papa itu benar juga. Jika Mas sudah berani memilih dan mantap dengan pilihannya, berarti hatinya sudah benar-benar sembuh dari luka masa lalunya.”

“Ih, kamu ini sama saja dengan papah, membela kakakmu terus!”

Di tempat lain, Farhan sedang menyetir sambil merenungi kejadian yang baru saja dialaminya hari ini.

“Apa aku udah keterlaluan sampai melibatkan nama Amira seperti tadi? Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Kalau tidak begitu, Mama tidak akan pernah berhenti menjodoh-jodohkanku dengan anak teman-temannya,” gumamnya pelan seraya memijat pelipisnya, tanda bahwa kepalanya sedang terasa pening dan berat memikul segala kerumitan ini.

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!