(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Keputusan mutlak Raka
Raka berdiri dalam diam selama beberapa detik, angin pagi masih berhembus pelan, tetapi kini suasana terasa jauh berbeda. Wajah lelah yang sejak tadi terlihat perlahan menghilang, berganti dengan ketenangan yang terasa jauh lebih dingin.
Tatapannya sesaat ke arah taman sebelum akhirnya kembali lurus ke depan. “Ayah memanggil semua direksi?” tanyanya tenang.
Jack mengangguk hormat. “Ya, Tuan muda, mereka datang lebih cepat dari perkiraan. Sepertinya kabar kepulangan Tuan sudah mulai menyebar.”
Selina memperhatikan perubahan ekspresi Raka tanpa berkedip, pria yang tadi tampak rapuh karena kelelahan itu seperti menghilang begitu saja. Bahunya kembali tegak, sorot matanya berubah tajam, bahkan caranya berdiri terasa berbeda.
Seolah seseorang yang selama ini tertidur perlahan bangkit kembali, Raka menghembuskan napas pendek lalu melangkah pelan meninggalkan balkon.
“Ayo,” ucapnya singkat.
Selina sedikit mengernyit. “Kau mau datang begitu saja?”
Langkah Raka berhenti sesaat. “Kau pikir aku masih punya waktu untuk berpikir?” tanyanya datar.
Kalimat itu membuat Selina terdiam, lalu tersenyum. Sosok Raka yang selama ini menghilang kembali perlahan. Tidak ada emosi berlebihan dalam suara Raka, justru itulah yang membuat siapa saja takut dengan kahadirannya di perusahaan.
Raka kembali berjalan menyusuri lorong mansion, Jack mengikuti beberapa langkah di belakang, sementara Selina tanpa sadar ikut berjalan sambil terus mengamati pria itu.
Pelayan-pelayan yang berpapasan langsung menundukkan kepala lebih dalam ketika melihat Raka lewat.
Namun kali ini berbeda, aura lembut yang tadi pagi terlihat saat ia memasak seakan menghilang, yang tersisa hanyalah wajah dingin khas keluarga Pradipta.
Mereka akhirnya tiba di depan ruang kerja utama Tuan Rendra, pintu kayu besar itu tertutup rapat, tetapi suara percakapan samar terdengar dari dalam.
Jack berhenti di samping pintu. “Semua direksi inti ada di dalam, termasuk beberapa komisaris senior,” ucapnya pelan.
Raka hanya mengangguk kecil, tangannya menyentuh gagang pintu, tetapi sebelum membukanya, ia berhenti beberapa detik.
Selama bertahun-tahun ia meninggalkan tempat ini demi cinta, selama bertahun-tahun pula ia hidup untuk orang lain, mengorbankan harga diri, tenaga, bahkan dirinya sendiri.
Dan hasilnya? Pengkhianatan dan penghinaan, perlahan jemarinya mengeras di atas gagang pintu.
Jika selama ini ia hidup demi orang lain, maka mulai hari itu semuanya berubah, ia tidak akan lagi membiarkan siapa pun menentukan hidupnya.
Tanpa berkata apa-apa, Raka membuka pintu, ruangan besar itu langsung sunyi, belasan pasang mata beralih ke arahnya dalam waktu bersamaan.
Para pria dan wanita berjas mahal yang sejak tadi berbicara mendadak terdiam, beberapa terlihat terkejut, beberapa lain tampak meremehkan.
Ada juga yang hanya memperhatikan dengan tatapan sulit ditebak. Di ujung ruangan, Tuan Rendra duduk dengan wajah tenang sambil memperhatikan putranya.
Sementara Herman yang ternyata belum pergi tampak sedikit mengernyit melihat kedatangan Raka.
Raka melangkah masuk perlahan, tatapannya menyapu ruangan satu kali sebelum akhirnya berhenti di kursi kosong tepat di sisi kanan Tuan Rendra.
Kursi pewaris utama, tanpa meminta izin, Raka menarik kursi itu lalu duduk dengan tenang, gerakan sederhana itu cukup membuat sebagian direksi saling bertukar pandang.
Suasana langsung berubah tegang, Raka menyandarkan tubuh pelan lalu membuka suara dengan nada datar yang terasa dingin.
“Mulai hari ini,” ucapnya tenang sambil menatap semua orang satu per satu, “saya akan mengambil alih sebagian tanggung jawab Ayah, dan beri aku waktu, kurang dari satu bulan aku akan menyingkirkan orang-orang yang tidak berguna, dan membuat keuangan perusahaan kembali stabil.”
Keputusan Raka itu membuat semua orang terdiam, termasuk Kevin dan Herman. Wajah keduanya mulai memucat mendengar itu.
“Dan siapa pun yang merasa keberatan,” lanjutnya datar, “silakan bicara sekarang, jika tidak. Maka kalian setuju dengan keputusanku.”
Tidak ada satu pun suara terdengar selain dengungan pelan pendingin ruangan dan bunyi samar jam dinding yang terus bergerak.
Beberapa direksi saling melirik satu sama lain, seolah menunggu siapa yang cukup berani membuka suara lebih dulu, tatapan mereka kembali tertuju pada Raka.
Pria itu duduk dengan tenang di kursi pewaris utama, tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan, punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu santai di atas sandaran kursi, sementara sorot matanya menyapu ruangan dengan dingin.
Salah seorang direksi senior akhirnya berdeham pelan sebelum memberanikan diri untuk berbicara, usianya sudah lebih dari lima puluh tahun, rambutnya mulai memutih, tetapi sorot matanya tetap tajam.
“Tuan muda,” ucapnya hati-hati, “kami tentu menghormati keputusan Tuan Rendra, tetapi perusahaan tidak sesederhana itu. Kondisi pasar sedang tidak stabil, beberapa anak perusahaan mengalami tekanan, dan jujur saja... kami belum melihat kemampuan Tuan secara langsung.”
Nada suaranya terdengar sopan, tetapi jelas menyimpan keraguan, beberapa orang lain tampak mengangguk pelan.
Raka tidak langsung menjawab, ia justru menatap pria itu beberapa detik terlalu lama sampai ruangan kembali terasa hening.
Lalu, tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, ia membuka map tipis yang sejak tadi diletakkan Jack di hadapannya.
“Divisi properti turun sebelas persen dalam dua kuartal terakhir,” ucap Raka tenang. “Divisi energi kehilangan dua kontrak besar karena keterlambatan negosiasi, sementara investasi luar negeri mengalami kebocoran dana operasional sebesar tujuh belas miliar.”
Kalimat itu langsung membuat beberapa direksi menegang, tatapan Raka perlahan bergeser ke arah seorang pria berkacamata di sisi kiri meja.
“Kalau tidak salah, divisi energi berada di bawah pengawasan Anda.”
Pria itu langsung membeku, sebelum sempat menjawab, Raka kembali melanjutkan dengan nada tetap datar.
“Dan anehnya, laporan keterlambatan itu baru masuk tiga minggu setelah kerugian terjadi.”
Suasana mulai menegang, bahkan udara di dalam ruangan terasa sedikit berat dan sesak untuk di hirup.
Selina yang berdiri di dekat pintu sampai tanpa sadar menyilangkan tangan sambil memperhatikan dengan lebih serius.
Jack tetap berdiri tenang di belakang kursi Raka, tetapi sudut bibirnya nyaris bergerak tipis. Tuan Rendra sendiri hanya diam sambil memperhatikan putranya, seyum tipis terukir di wajahnya senyum yang sudah lama tidak pernah di lihat oleh siapapun.
Raka menutup kembali map di tangannya lalu menyandarkan tubuh pelan.
“Kalian bilang belum melihat kemampuan saya,” ucapnya tenang. “Tapi saya baru duduk lima menit di ruangan ini dan sudah melihat cukup banyak alasan kenapa perusahaan mengalami penurunan.”
Salah satu direksi muda terlihat mengencangkan rahangnya, sementara beberapa lainnya mulai tampak gelisah, di sisi lain meja, Kevin mengepalkan jemarinya di bawah meja.
Tatapan tenang Raka terasa jauh lebih menekan daripada kemarahan, Herman mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana, meski terdengar dipaksakan.
“Raka,” katanya sambil tersenyum tipis, “perusahaan bukan soal teori laporan, memimpin itu lebih sulit daripada bicara soal angka.”
Namun kali ini, Raka langsung menoleh ke arahnya, tatapannya dingin.
“Benar,” jawabnya tenang. “Karena itu saya akan mulai dari membersihkan orang-orang yang hanya menganggap perusahaan keluarga ini sebagai tempat bermain.”
“Saya ulang sekali lagi,” ucapnya datar. “Kurang dari satu bulan, keuangan perusahaan akan kembali stabil. Orang-orang yang merugikan perusahaan akan keluar, baik secara sukarela ataupun tidak.”
Ia berhenti beberapa detik.
“Dan mulai hari ini,” lanjutnya pelan namun menusuk, “kesalahan kecil tidak akan lagi ditoleransi.”
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km