NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bidadari Kecil Dan Kue Manis

Nenek hanya tersenyum.

Wanita tua itu mendorong tubuh riyani keluar dari dapur.

"Dokter Hanif!?" panggil Riyani.

Lelaki dengan kemeja hitam itu menoleh pada Riyani yang baru saja keluar dari dapur toko. Ia tersenyum, manis—sampai Riyani tidak sadar terus menatapnya.

"Ini toko kue kamu, Ri?" tanyanya.

Riyani menghampiri ke dekat kasir. Ia meminta pelayannya untuk membantu nenek di dapur saja.

"Bukan, Dok. Toko kuenya milik nenek saya, tapi saya suka di sini. Sekarang tinggal di sini juga."

"Oh gitu," jawabnya dengan anggukan.

"Dokter sering beli kue di sini? Bukannya gak suka kue ya?" tanya Riyani.

Hanif tersenyum tipis.

Lelaki itu senang—senang karena Riyani mengingat hal kecil dari dirinya.

"Bukan buat saya, tapi buat ibu saya. Terus kata Yila, saya yang disuruh beli kuenya dan rekomendasi toko ini," jelas Hanif.

(Sekalian saya pengen ketemu kamu)

Riyani mengangguk paham.

"Oh sekarang ulang tahunnya ibu. Dokter udah pilih kuenya?"

Hanif menggeleng.

"Saya bingung yang enak yang mana, yang sekiranya ibu saya suka juga. Kamu mau bantu pilih gak?"

Riyani berpikir sejenak.

"Setau saya ibu suka stroberi kan? Gimana kalau kue yang ini aja?"

Riyani menunjuk sebuah kue sederhana dengan hiasan selai dan buah stroberinya. Nampak lezat—bahkan di mata hanif.

"Boleh, yang itu aja. Sekalian sama perlengkapan lainnya ya," pinta Hanif diangguki Riyani dengan senang hati.

...----------------...

Hari sudah mulai malam, notifikasi pesan pada Riyani terdengar. Wanita itu terkekeh pelan melihat foto Hanif memasang wajah datarnya memakai topi ulang tahun seperti anak kecil.

Disusul dengan raut wajah tampannya sedang menikmati kue yang dibeli tadi.

(Ganteng banget dia)

Riyani membalas pesan sahabatnya dengan wajah sumringah.

"Dia bukannya gak suka kue ya? Kok itu makan,"

(Cieeee.... udah mulai perhatian)

"Apaan sih La,"

"Cuman inget aja, waktu itu aku tawarin kue buatan nenek dia gak mau."

(Dia tau kalau kue ini buatan kamu makanya mau makan)

(Mau tau gak jawaban dia pas ibu tanya kenapa tiba-tiba mau makan kue padahal anak lanangnya itu anti banget sama yang begituan?)

"Apa?"

(Buatan calon istri pasti enak dan sesuai selera lidah aku)

"HAHAHA...."

Riyani salah tingkah membaca pesan dari sahabatnya. Mungkin jika mendengar langsung dari Hanif, itu akan terasa lebih mengguncang hatinya.

...----------------...

Jam menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Riyani sudah sibuk di dapur toko kue neneknya.

"Neng ayo sarapan dulu! Kan mau kontrol juga," ajak nenek dari rumahnya.

"Iya nek, sebentar angkat dulu kue ini," jawabnya.

Pikirannya yang tidak fokus membuat ia lupa jika panggangan itu baru saja keluar dari oven.

"Arghhh...."

"Neng kenapa?" tanya pelayan toko.

Riyani meniup jemarinya yang memerah.

"Gak apa-apa, Teh. Lupa aja kalau ini masih panas."

"Ya ampun, Neng. Lain kali hati-hati ya!"

Riyani mengangguk.

Selepasnya ia pamit untuk sarapan.

...----------------...

Hari sudah mulai siang, ia berjalan dengan neneknya untuk kontrol masalah penyakit yang ia derita seminggu lalu.

Riyani meminta neneknya untuk memeriksa kesehatan juga. Ia tidak mau sampai kesehatan neneknya terlupakan.

Keduanya melakukan pemeriksaan, nama neneknya dipanggil lebih dulu untuk masuk ke ruang periksa.

"Selamat siang Dok," sapa nenek.

Lelaki berjas putih itu tersenyum.

"Selamat siang nenek. Saya kira bukan nenek yang daftar," ucapnya sembari membantu memapah nenek berdampingan dengan Riyani untuk duduk.

"Ada keluhan apa, Nek?" tanya Hanif.

"Gak ada keluhan, Dok. Cuman bidadari kecil ini minta saya buat periksa aja," jawab nenek membuat Hanif ikut terkekeh pelan mendengarnya.

"Nenek ihhh!!" protes Riyani.

Hanif menoleh padanya.

"Kamu juga mau kontrol kan? Kita periksa sekalian aja ya." Riyani mengangguk setuju.

Tidak ada masalah dengan keadaan nenek, untungnya wanita yang selalu merawat Riyani itu selalu disehatkan. Apalagi memang nenek rajin olahraga sekalipun hanya senam kecil yang ia lakukan bersama teman sebayanya di hari tertentu, ditambah makanan yang selalu dijaga sejak kakek sakit diabetes.

Kali ini, bagian Riyani yang diperiksa. Nenek memilih keluar dari ruang periksa dengan perawat yang menemaninya mengambil vitamin yang diresepkan Hanif.

Di ruangan itu, tersisa Riyani dan Hanif. Lelaki itu dengan fokusnya memeriksa—terlihat lebih tampan dari biasanya, bedanya hanya sedang mengenakan kacamata.

"Dokter minus ya?" tanya Riyani.

Hanif menoleh pada wanita yang kini berbaring pada ranjang pemeriksaan.

"Enggak. Saya tadi lagi kerjain laporan aja, terus langsung ke sini. Lupa saya buka."

"Perut kamu udah gak sakit kan sekarang?"

Riyani mengangguk.

"Cuman kadang masih sedikit perih kalau telat makan atau makan seblak, apalagi makan rujak," keluhnya.

Hanif menghela napasnya.

"Kan udah saya bilang jangan dulu makan pedes sama yang asem. Kamu gak nurut ya?"

"Bukan gak nurut tapi kan tergoda," jawab Riyani pelan.

Hanif mendekatkan wajahnya pada Riyani.

"Lebih sehat tergoda sama saya dibanding tergoda sama makanan begitu."

Pipi riyani memerah.

Wanita itu mengedarkan wajahnya dari Hanif.

"Dokter apa-apaan sih."

Hanif terkekeh.

"Saya bercanda."

"Ayo bangun! Duduk dulu, saya mau bicara sedikit sama kamu."

Hanif membantunya, bahkan sendal yang dikenakan Riyani ditaruh agar memudahkan dipakainya.

Riyani tersenyum dengan perlakuan lelaki yang katanya ingin mendekatinya itu.

"Kalau perut kamu sakit lagi, langsung hubungi saya ya!" ucap Hanif sembari menuliskan resep obat.

"Bulan depan ke sini lagi untuk kontrol, kalau obatnya udah habis di tengah jalan nanti. Hubungi saya," lanjutnya, "saya masih larang kamu buat makan pedes sama asem loh ya!"

"Iya Pak Dokter," ucap Riyani membuat Hanif terkekeh pelan.

"Ini obatnya," ucap Hanif sembari menyerahkan resepnya.

Lelaki itu mengantar Riyani keluar dari ruangan.

Riyani menghadap padanya sebelum pergi.

"Makasih ya!"

"Saya duluan."

Hanif mengangguk.

Dengan santai ia mengusak puncak kepala riyani.

"Hati-hati di jalan! Kabari saya kalau udah sampai ya. Punya kan nomor saya?"

Riyani dengan cepat mengangguk lalu mengajak neneknya untuk pergi ke bagian farmasi.

Gosip tersebar dengan cepat.

Begitu Riyani sampai di rumah, Seyila langsung menghubunginya. Wanita itu bicara bahwa gosip dirinya dengan Hanif sudah menyebar di seluruh gedung rumah sakit.

Apalagi dengan keadaan Hanif yang sama sekali belum pernah terkena gosip apapun selain dokter dingin yang tidak pernah mau didekati wanita.

(Dok)

(Saya udah sampe rumah)

(Saya denger dokter jadi bahan gosip di rumah sakit ya?)

(Karena saya?)

...----------------...

(Maaf ya saya baru balas)

(Baru selesai dinas. Saya daritadi gak cek hp karena emang seharian lagi banyak yang dikerjain)

(Saya juga gak denger notif dari kamu)

(Alhamdulillah kalau sudah sampe dari tadi)

(Gosip?)

(Saya gak denger apa-apa)

Riyani yang baru saja selesai sholat isya itu tersenyum melihat pesan yang cukup banyak dikirim Hanif padanya.

(Waktu sama Devano, aku gak pernah dapet chat begini)

(Dia pulang jam berapa, habis darimana pun aku gak pernah tau)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!