Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pukul satu siang jet pribadi milik Ardian mendarat di bandara kota B.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh orang-orang Ardian termasuk Jidan.
Dua hari berada di kota S Jidan memutuskan untuk kembali ke kota B dan melanjutkan pekerjaannya sekalian menjemput Ardian beserta keluarga kecilnya.
Keluarga itu terlihat bahagia dan sangat mesra. Bagaimana tidak Ardian berada di tengah-tengah ke-dua perempuan itu. Tangan nya menggenggam tangan putrinya tapi dia tetap merangkul istrinya dengan mesra. Ardian menjadikan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, terlihat dari dia menjaga keluarganya.
"Selamat datang kembali ke kota B, tuan Ardian." Sapa Jidan membungkuk hormat.
"Kamu kayak siapa saja Jidan. Lain kali jangan membungkuk seperti itu, aku sama seperti mu. Kita sahabat sekarang." Tegur Ardian tersenyum hangat menjabat tangan sekretaris nya itu.
Sementara Jidan yang diperlakukan seperti itu merasa tidak enak, karena Ardian sangat baik padanya. Selama perubahan nya, Ardian tidak pernah menatapnya rendah dan tetap menganggap nya sebagai sahabat.
"Mari tuan." Jidan memberikan jalan untuk Ardian terlebih dahulu barulah dia bersama dengan anak buahnya yang lain berjalan di belakang.
Orang-orang yang berada di bandara menatap kagum kearah keluarga baru itu. Bagaimana tampan nya dan cantik nya pasangan suami istri itu di tambah dengan putri yang tidak kalah cantiknya, sehingga mendapatkan banyak tatapan dari orang-orang di bandara.
"Papa, bolehkan kita singgah ke rumah mama sebentar?" Ucap Harum setibanya mereka di dalam mobil.
Ardian dan Nalda saling melihat dan mengangguk sebagai jawaban."Tentu Harum, tapi setelah kita makan siang dulu. Bagaimana?" Jawab Nalda saat mengingat remaja perempuan itu belum ada makan apapun karena mabuk perjalanan.
"Iya bunda." Nalda tersenyum mendengarnya, tangannya terulur untuk mengusap lembut kepala Harum.
Di pemakaman umum menjadi tempat singgah mereka siang ini setelah makan siang dan melakukan sholat dhuhur di masjid terdekat.
Ardian, Nalda dan juga Harum melangkah mendekati makam yang terlihat sedikit bersih. Bau harum bunga melati menyambut kedatangan mereka di sana, seakan-akan Mayla menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum." Salam keduanya bersamaan sambil mendudukkan tubuhnya di atas tanah.
"Maaf Mama, Harum baru sempat kemari." Ucap Harum menatap gundukan tanah yang di tumbuhi oleh rerumputan tidak terlalu tinggi."Harum kesini bersama ayah dan juga bunda. Mama pasti tau siapa Bunda. Dia dokter yang sering Harum ceritakan, sekarang sudah menjadi bunda nya Harum."
Tidak ada lagi wajah sedih saat pertama kalinya Harum mengantarkan sang mama di sana. Harum sudah benar-benar ikhlas dengan kepergian ibunya. Banyak yang Harum rasakan setelah kepergian ibunya, tapi Allah telah mengganti nya dengan ribuan kebahagiaan dengan dipertemukan nya dia bersama keluarga angkatnya dan juga keluarga kandung nya.
"Hay Mayla, saya bunda sambung nya Harum. Saya berjanji akan menyayangi nya seperti anak saya sendiri serta menjaga nya. Saya berjanji tidak ada lagi orang-orang jahat yang akan menyakiti putri mu." Sambung Nalda menatap nisan bertuliskan nama seseorang yang begitu dekat dengan Harum dan juga suaminya."Tenanglah di sana, Harum aman bersama kami disini." Lanjutnya.
Sementara Ardian, dia tidak mengatakan apapun. Tapi dia sudah berjanji pada mending mantan istrinya akan menjaga dan menyayangi putri nya. Ardian tidak bisa mengatakan apapun, tapi doa nya akan terus ia panjatkan untuk mantan istrinya. Walaupun ia sudah menikah dan mencintai Nalda, tapi perasaan Ardian tetap ada dan di simpan di tempat yang khusus.
Setelah selesai berdoa, ketiganya memutuskan untuk pulang. Seperti tadi, Ardian menggenggam tangan istrinya yang melingkar di lengannya. Sementara Harum sudah jalan duluan bersama dengan Jidan.
"By, kamu merindukan Mayla?"
Ardian yang tadi pandangannya lurus ke depan menoleh ke arah istrinya untuk menatap wajah cantik itu.
"Kamu cemburu, yang?" Bukan nya menjawab Ardian malah membalikan pertanyaan nya. Tentu Nalda kesal mendengar nya.
"Aku bertanya by!" Jawab Nalda jengkel malah mendapatkan gelak tawa dari Ardian saat melihat wajah cemberut sang istri.
"Untuk merindukannya pasti. Apalagi Mayla pernah menjadi istri ku dan aku pernah mencintai nya, tapi aku juga yang menyakiti nya." Jawab Ardian merubah ekspresi nya menjadi murung seperti menahan sesuatu."Rindu, dan penyesalan seperti menjadi satu, membuat ku selalu menyesal. Andaikan saja aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin melakukan kesalahan itu, tapi semuanya sudah terjadi. Dulu aku pernah menyalahkan takdir yang sudah mempermainkan ku, tapi setelah aku belajar selama tiga bulan di pesantren aku sadar, kalau takdir itu ingin mengajariku banyak hal agar aku tidak melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya. Takdir yang dulu ku anggap sial ternyata seindah itu, karena mempertemukan kita. Aku laki-laki ahli neraka malah dipertemukan dengan bidadari surga sepertimu sayang." Ungkap Ardian panjang lebar menatap dalam wanita cantik di sampingnya.
"Apa kamu masih mencintainya." Tanya Nalda memastikan. Nalda tidak akan marah jika pria itu menjawab kalau dia masih mencintai wanita masa lalunya, karena mereka tersimpan di posisi masing-masing dalam perasaan
"Iya aku mencintainya, karena Mayla wanita yang telah melahirkan anakku dan merawatnya penuh kasih sayang. Tanpa ku dia tetap tegar dan berusaha untuk menjadi ibu dan ayah terbaik, itu sebabnya aku mencintai nya." Ardian menjeda ucapannya sesaat. Pria itu menariknya istrinya untuk lebih dekat lagi agar dia bisa menatap manik cantik itu."Tapi perasaan itu tersimpan di posisi lain dari hati ku karena kamu yang memenuhi semuanya. Wanita yang akan menemani ku di masa depan dengan cinta yang tidak kalah tulus nya. Wanita akan menuntun dan mengingatkan ku sebesar apa aku mencintaimu sekarang dan selamanya. Kamu akan menjadi wanita yang hebat karena mendidik dan menjaga anak-anakku nanti." Tambah Ardian menatap tulus istri nya.
Perasaannya tidak bisa ia utarakan semuanya dengan kata-kata, tapi Ardian akan menunjukkan seberapa cinta nya ia pada istrinya itu.
Sementara Nalda mendengar semua uraian kata yang Ardian ucapkan membuat jantung nya berdebar. Dari tatapan mata suaminya, Nalda tidak menangkap kebohongan di sana, melainkan kejujuran yang selalu membuat Nalda menyukai pria itu. Pria dengan segala ketulusan nya, hanya saja dulu hati nya mati karena luka.
"Aku juga mencintaimu hubby, terimakasih sudah menjadikan ku wanita beruntung yang memiliki cinta mu." Nalda mencium sekilas b*bir pria itu. Karena tingkah nya itu Nalda jadi salah tingkah sendiri.
Sementara Ardian tersenyum melihat wajah malu-malu istrinya, tapi ia sangat bahagia mendengar kalimat tulus yang Nalda ucapkan apalagi wanita itu dengan berani mengambil ciuman nya.
"Papa, bunda. Sampai kapan kalian di sana?" Suasana yang tadi romantis seketika buyar karena panggilan Harum. Mereka sampai tidak sadar kalau sekarang mereka berada di kuburan bukan di rumah.
Oh astaga, penghuni-penghuni di sana pasti malu dengan tingkah mereka berdua.
"Ah, iya sayang tunggu bunda dan papa di mobil." Jawab Nalda melepaskan tangannya, tapi dengan lembut suaminya menarik Nalda kembali ke dalam dekapan pria itu. Jantung Nalda kembali berdetak, seakan perasaan nya semakin mencintai pria itu.
"Hubby lepas, kasihan Harum dari tadi nungguin kita." Cicit Nalda dengan suara pelan.
"Aku suka kamu yang berani seperti tadi, yang. Aku mau nanti malam kamu yang memulainya."
Wajah Nalda semakin memerah saat mendengar ungkapan suaminya. Jantung nya berdetak tidak karuan seakan sesuatu yang hangat mengalir di wajahnya.
"Hubby!" Pekik Nalda pelan, seraya melepaskan tangan itu dan dengan langkah cepat meninggalkan Ardian yang masih berdiri di posisinya.
Sementara Ardian tertawa melihat wajah malu-malu istrinya. Sungguh istrinya sangat menggemaskan.
Bersambung….
Dukung karya author ya dengan favorit, like dan vote nya 😉