( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Behind the sky
Pangeran
Gideon dan Leopard masih berdiri terpaku beberapa detik setelah pertempuran itu mereda.
Di depan mereka, Leoric terlihat terengah-engah di atas tubuh lima monster yang telah tumbang.
Tidak ada yang benar-benar siap menerima bahwa pertarungan itu sudah selesai.
Tanpa banyak berpikir, keduanya langsung memacu kuda mereka ke arah Leoric.
Kecepatan mereka seperti dipaksa oleh ketakutan bahwa apa yang mereka lihat bisa hilang kapan saja.
Debu medan perang masih beterbangan saat mereka tiba di dekat sang pangeran.
Di waktu yang hampir bersamaan, di dalam istana, guncangan besar akhirnya mereda sepenuhnya.
Raja Rasdinand baru saja keluar dari ruang rapat dengan wajah yang masih tegang.
Ia segera dikawal oleh para elite guard untuk menerima laporan langsung dari garis depan.
Laporan yang disampaikan membuat langkah sang raja berhenti sejenak.
Ballista dan ketapel raksasa yang mereka andalkan hanya mampu meninggalkan luka kecil.
Namun Leoric… justru mengalahkan monster itu sendirian dengan pedangnya.
Keheningan panjang jatuh di antara para penjaga dan bangsawan yang mendengar laporan itu.
Bukan hanya Raja Rasdinand yang terdiam, tetapi juga para elite guard yang biasanya tidak mudah terkejut.
Semua orang seolah mencoba mencari penjelasan yang tidak masuk akal itu.
Tanpa menunggu lebih lama, Raja Rasdinand memerintahkan pasukan untuk segera menyusul Leoric.
Ia juga mengutus elite guard untuk memeriksa langsung sisa tubuh para monster di medan perang.
Setelah itu, ia kembali masuk ke istana dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Di medan perang, Gideon dan Leopard akhirnya sampai dan langsung turun dari kuda mereka.
Leopard yang pertama membuka suara, matanya masih sulit mempercayai apa yang ia lihat.
“Pangeran… Anda baik-baik saja? Bagaimana Anda bisa mengalahkan makhluk seperti ini?”
Leoric menghela napas pelan, lalu menjawab dengan tenang bahwa ia hanya kelelahan.
Ia bahkan sempat meminta mereka mencari kudanya yang sempat kabur saat pertempuran.
Leopard langsung mengangguk dan berlari mencari ke arah reruntuhan sekitar.
Gideon masih berdiri di tempatnya, menatap Leoric dengan penuh tanda tanya yang belum terjawab.
Akhirnya ia melangkah sedikit lebih dekat, suaranya terdengar lebih hati-hati dari biasanya.
“Bagaimana Anda melakukannya, Pangeran? Ini jelas bukan sesuatu yang wajar.”
Leoric hanya tersenyum kecil tanpa banyak penjelasan.
Ia mengatakan bahwa melihat ballista dan ketapel tidak memberi hasil membuatnya turun langsung.
Gideon menghela napas panjang, masih sulit menerima logika sederhana dari kejadian sebesar itu.
Meski begitu, ia tetap memberi peringatan kepada Leoric dengan nada serius.
Ia meminta sang pangeran untuk tidak lagi maju sendirian di masa depan.
Leoric hanya mengangguk santai, meski jelas kata itu tidak sepenuhnya ia janjikan.
Tidak lama kemudian, Leopard kembali dengan kuda hitam Leoric yang ditemukan tidak jauh dari medan.
Ia menyerahkan tali kendali itu dengan napas masih terputus-putus.
Suasana perlahan mulai tenang, meski ketegangan belum benar-benar hilang.
Setelah semua sedikit mereda, Leoric akhirnya kembali ke istana.
Ia menyerahkan kudanya ke kandang dan berjalan menyusuri lorong panjang yang kini terasa lebih dingin.
Langkahnya terdengar pelan, seolah setiap dinding istana ikut menyimpan beban kejadian tadi.
Di ujung lorong, Raja Rasdinand sudah menunggunya.
Sang raja menatap tajam, tidak langsung berbicara seolah sedang menahan banyak pertanyaan.
Akhirnya ia membuka suara dengan nada berat.
“Bagaimana kau melakukan itu?”
Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar terasa menegang.
“Apakah kau sadar apa yang kau lakukan di medan perang?”
Leoric menatap balik tanpa ragu, lalu menjawab dengan jujur.
Ia tidak menyangkal bahwa tindakannya gegabah, namun hasilnya tidak bisa diabaikan.
Pedangnya lebih efektif dibandingkan senjata jarak jauh yang mereka gunakan.
Raja Rasdinand terdiam cukup lama setelah mendengar itu.
Ekspresinya berubah antara marah, bingung, dan waspada dalam waktu bersamaan.
Namun pada akhirnya ia memilih untuk menunda semua pembahasan.
Ia menyuruh Leoric kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Untuk saat ini, tidak ada keputusan lain yang bisa diambil di tengah kekacauan itu.
Leoric pun hanya mengangguk sebelum pergi tanpa banyak kata.
Di dalam kamar, Leoric akhirnya menghela napas panjang.
Ia menyuruh Sarioth kembali ke bentuk aslinya sebagai tengkorak berjubah.
Hawa di ruangan itu langsung terasa berbeda, lebih berat dan dingin.
Leoric mulai menanyakan apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Sarioth diam sejenak sebelum bertanya dari bagian mana ia harus menjelaskan.
Leoric menjawab singkat: mulai dari retakan di langit.
Sarioth akhirnya mulai menjelaskan dengan suara tenang namun serius.
Ia menyebut nama Osylux, dewa kehancuran dari dimensi lain bernama Nethermist.
Nethermist adalah Sebuah dunia atau dimensi lain tempat makhluk hidup tanpa akal dan hanya mengikuti insting menghancurkan.
Mendengar itu, Leoric terdiam cukup lama.
Ia kemudian bertanya apakah retakan itu hanya terjadi di satu tempat.
Pertanyaan itu langsung dipahami oleh Sarioth tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.
Sarioth menjawab bahwa kemungkinan besar tidak hanya satu.
Retakan bisa muncul di wilayah lain, terutama tempat dengan populasi besar.
Dan itu berarti ancaman ini tidak hanya berhenti di Nightdoom.
Leoric mengepalkan tangannya pelan, lalu menatap ke arah jendela istana.
Pikirannya langsung tertuju pada Clarissa di Peak Cavalry.
Kekhawatiran itu muncul tanpa bisa ia tahan.
Ia bertanya apakah insiden ini bisa dihentikan.
Namun Sarioth hanya menjawab bahwa ia tidak mengetahui jawabannya.
Ketidakpastian itu justru membuat suasana semakin berat.
------------------------------
Di sisi lain, di kerajaan Peak Cavalry, saat kekacauan awal terjadi.
Serangan makhluk asing menghantam jauh lebih keras dibandingkan di Nightdoom.
Terutama karena kekuatan militer mereka jauh lebih terbatas.
Banyak pekerja tambang menjadi korban dalam serangan awal itu.
Padahal tambang adalah sumber utama kekuatan ekonomi kerajaan mereka.
Situasi berubah menjadi krisis dalam waktu yang sangat singkat.
Clarissa saat itu berada di balkon kamarnya bersama Roberto Eistovo.
Roberto adalah pengawal pribadi yang dulu dipungut ratu kerajaan Peak Cavalry dari kondisi hampir mati kelaparan.
Kini ia berdiri menjaga Clarissa dengan sikap yang selalu menahan diri.
Clarissa terus mencoba mengajaknya minum teh di balkon.
Namun Roberto berkali-kali menolak dengan sopan karena posisinya sebagai pengawal.
Hingga akhirnya Clarissa mengancam dengan nada bercanda akan melaporkannya.
Dengan pasrah, Roberto akhirnya duduk dan menerima teh tersebut.
Ia meneguknya pelan, mencoba menikmati momen tenang itu.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat ia menatap ke depan, sesuatu di langit menarik perhatiannya.
Sebuah retakan muncul dan mulai menyebar dengan cepat.
Awalnya Clarissa mengira itu hanya lelucon, sampai ia melihat ekspresi Roberto berubah.
Dalam hitungan detik, retakan itu pecah.
Dan dunia di luar balkon mereka mulai runtuh menjadi kekacauan.
Roberto langsung menarik Clarissa masuk dan menutup pintu balkon dengan cepat.
Dari celah jendela, ia melihat makhluk-makhluk asing mulai turun.
Mereka menyerang warga tanpa ragu, menciptakan kepanikan di seluruh area istana.
Clarissa bertanya apa yang sedang terjadi di luar.
Roberto berusaha menjawab dengan tenang, meski suaranya jelas tegang.
Ia mengatakan bahwa langit telah pecah dan makhluk asing sedang menyerang kerajaan.
Namun ia masih berusaha menjaga agar Clarissa tidak panik.
Saat Clarissa mencoba mengintip keluar, Roberto langsung menahannya.
Namun di tengah kekacauan itu, suara kaca pecah terdengar keras.
Sebuah serangan menghantam jendela dan memecahkan penghalang mereka.
Dalam sekejap, tangan kiri Roberto terputus oleh serangan makhluk tersebut.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.