Ghani hidup dalam dunia bayangan, tempat rahasia bernilai jutaan dolar dan kepercayaan bisa membunuhmu kapan saja.
Saat memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Tora-Tora, ia hanya ingin beristirahat dari hidupnya yang gelap.
Namun semuanya berubah setelah ia bertemu Ghea, gadis bermata hazel yang keras kepala, penuh rahasia, dan perlahan membuatnya ingin berhenti berlari.
Di antara pantai, kebohongan, dan masa lalu yang belum selesai, keduanya terjebak dalam hubungan yang semakin dalam.
Tapi bagi Ghani, mencintai seseorang adalah cara tercepat untuk kehilangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Aiza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Kakak ipar
POV Ghea
"Karena orang yang aku cintai ada di sini... dan aku ingin bersamanya sebelum aku pergi, yang entah kapan akan kembali."
Kalimat itu meluncur dari bibir Ghani sembari matanya mengunci tatapanku. Namun, entah mengapa, kata-katanya terasa hambar. Tidak ada getaran, tidak ada kejutan manis, bahkan tidak ada rasa bahagia. Hambar. Bayangan seorang gadis yang memeluknya dengan mesra pagi itu masih terpatri jelas di benakku. Logikaku berkata 'jangan percaya'. Saat aku berjuang antara hidup dan mati, dia justru menghilang saat aku sadar. Bagaimana aku bisa percaya pada kata cinta yang dasarnya terasa retak?
Keheningan yang menyesakkan itu tiba-tiba pecah. Pintu kamar rawat terbuka, memunculkan sosok perempuan dengan kaos oblong putih dan flared jeans. Tas punggung kulit kecil tersampir di bahunya. Jantungku berdegup kencang. Dia. Perempuan yang kulihat bersama Ghani pagi itu.
"Halo!" sapanya dengan wajah yang berbinar riang.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Ghani. Aku menangkap rona terkejut di wajahnya.
Gadis itu meletakkan keranjang buah di samping bunga dari Ghani. "Aku ingin melihat kondisi kakak iparku," jawabnya santai sambil melempar senyum padaku.
Kakak ipar? Aku terpaku. Hatiku bertanya-tanya, apakah gadis ini tidak cemburu melihat "kekasihnya" menungguku seharian di rumah sakit? Aku memaksakan sebuah senyum hiasan yang tak pernah sampai ke hati.
"Bagaimana kondisimu?" tanyanya lembut.
"Sudah lebih baik," jawabku pendek. Aku melirik Ghani yang hanya mematung diam dengan tangan terlipat di dada.
"Syukurlah. Ghani sangat mengkhawatirkanmu. Dia takut kamu kenapa-kenapa sampai menunggumu di sini seharian tanpa beranjak," lanjut gadis itu seraya melirik pria itu.
Aku hanya bisa mengangguk kaku, masih terjebak dalam kebingungan. Sebelum suasana makin canggung, Ghani mulai mendorong gadis itu keluar.
"Ghea masih perlu istirahat, kamu pulang saja!"
"Hei! Aku benar-benar ingin tahu keadaannya, jangan seenaknya mengusirku!" Gadis itu membalas mendorong Ghani, mereka berebut ruang seperti anak kecil.
Akhirnya, Ghani menyerah. Ia menyeret gadis itu mendekat ke brankarku. "Ghea, perkenalkan, ini adik kandungku, Ghina. Ghina, ini Ghea."
Seketika, rasa berat yang menghimpit dadaku luruh, berganti dengan rasa lega yang luar biasa sekaligus rasa bersalah yang dalam. Bodohnya aku. Rasa cemburu ini ternyata tidak pada tempatnya. Kami bertiga akhirnya larut dalam candaan. Aku melihat betapa akrabnya mereka. Tanpa orang tua yang mendampingi selama bertahun-tahun, mereka adalah pegangan bagi satu sama lain.
Empat hari kemudian, aku akhirnya bisa menghirup udara rumah yang segar. Selama masa pemulihan, Ghani benar-benar menjagaku. Ia memasak, memastikan suhu ruangan pas, bahkan mencuci pakaianku. Perhatiannya membuatku merasa sangat berarti.
Malam itu, setelah makan malam, aku menatapnya dalam. "Ghan, terima kasih sudah menjagaku. Perhatianmu membuatku merasa dicintai dan dilindungi."
Ghani menggenggam tanganku erat. Wajahnya nampak sangat serius. "Ghe, kumohon, jangan ada lain kali. Berjanjilah padaku ini yang terakhir. Aku tidak selamanya bisa menjagamu. Berjanjilah kamu akan mengutamakan kebahagiaanmu sendiri, bahkan jika orang itu adalah aku."
Aku mengangguk pelan. "Aku akan berusaha."
"Sejujurnya, seminggu ini adalah waktu terbaik yang pernah kumiliki. Aku akan membawa hatimu ke mana pun aku pergi, selamanya. Aku mencintaimu, Ghe."
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari celah kebohongan, namun yang kutemukan hanyalah sebuah ketulusan.
"Aku juga senang bersamamu, Ghan. Tapi... aku butuh waktu. Aku perlu tahu seberapa dalam perasaanmu. Aku tidak ingin hancur karena jatuh terlalu dalam."
Ghani tersenyum tipis, seolah memahami ketakutanku. Ia menyiapkan tempat tidurku dan menyuruhku berbaring. "Tidurlah. Biarkan aku menjagamu di sini."
Ia duduk bersandar pada headboard, tatapannya menerawang jauh, seolah sedang menatap masa depan yang tidak pasti.
"Kamu tampak lelah, tidurlah juga," kataku.
Ia menggeleng. "Aku akan menemanimu sampai kamu tertidur."
Malam itu terasa begitu damai. Genggaman tangannya seolah menjadi jangkar yang menahanku agar tidak pergi. Perlahan, kesadaranku meredup, membawaku menuju perjalanan mimpi yang entah mengapa terasa seperti sebuah pamitan tanpa kata.
Terus berkarya ya Thor, sy trus ngikutin/Pray/
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/