NovelToon NovelToon
Milly Sang Pelihat Terakhir

Milly Sang Pelihat Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?

Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Pasangan King and Queen di Kelas

Sejak dini hari terbangun, Milly tidak bisa kembali tidur. Ada ketakutan yang tak nyata dalam dirinya. Ia takut ketika tidur, mimpi itu akan berlanjut. Ia kawatir harus menelan apa yang tidak mau ia telan. Jadi, pagi itu ia pergi ke dapur dan memasak. Ia menyiapkan sarapan, untuk dirinya dan Nenek Dorothy.

Ia membuat nasi goreng dan menyeduh teh. Begitu sarapan siap, ia memanggil Nenek Dorothy untuk turun. Rumah mereka tingkat dua. Semua kamar tidur ada di lantai dua. Di lantai satu hanya ada dapur, ruang tamu, ruang makan dan garasi. Di halaman belakang, ada kamar mandi, sumur dan tempat jemuran. Semua sudut rumah dihias dengan ornamen vintage. Bahkan beberapa ruang dipasang lampu yang sedikit lebih temaram dibanding yang lain.

"Hari ini berangkat lebih awal lagi?" tanya Nenek Dorothy begitu duduk di ruang makan.

Milly mengangguk.

"Bukankah sepedamu sudah kembali?"selidik Nenek Dorothy mempertanyakan.

Kemarin Milly berbohong. Ia mengatakan sepedanya dipinjam teman. Padahal sepedanya tertinggal di hutan. Nenek Dorothy pasti bakal marah--pikirnya--jika tahu ia pergi ke hutan lagi. Nenek sudah sering memperingatkan, "Hutan bukan tempat main." Tapi selama ini Milly tidak mengindahkannya. Ia tetap sering pergi ke hutan.

"Kupikir jalan pagi itu menyehatkan." Jeda. "Lagipula bisa menghirup udara pagi yang segar selama perjalanan," imbuh Milly sambil menyendok nasi gorengnya. Ia mencoba sesantai mungkin mengatakannya.

"Lewat jalan besar saja, lebih ramai, banyak orang lalu lalang, lebih aman," saran Nenek Dorothy berhenti menyendok makanannya di piring dan menatap lurus ke Milly.

Milly mengiyakan. Membayangkan bayangan hitam mengejarnya, ia bergidik ngeri. Ia benar-benar sudah kapok mengendap-endap lewat hutan. Meski lebih menghemat waktu 15 menit, tapi nyawa taruhannya. Pikirnya--beberapa waktu ini, sebaiknya ia memang menghindari hutan dulu.

Usai mencuci piring, Milly bergegas mengambil ransel dan berangkat. Karena perjalanan cukup jauh, ia membawa botol air minum di tas punggungnya.

***

Setengah perjalanan, seorang dari belakang menepuk punggungnya.

"Wayne." sapa Milly setengah hati.

"Kenapa masih jalan kaki?" celetuknya enteng.

"Sehat," jawab Milly tanpa menoleh.

"Bukan karena sepeda lebih merepotkan?" tebak Wayne bagai anak panah dilepaskan, tepat sasaran.

Milly menghentikan langkah dan menoleh kepadanya. "Mungkin," timpalnya lirih. Lagi-lagi Wayne menebak dengan benar. Orang ini sebenarnya siapa, kenapa dia bisa membaca isi pikirannya.

Ia sadar, jika bayangan hitam itu menyerang lagi, ia tahu kemungkinan ia lolos sepersepuluh, dengan kesempatan sembilan kali tidak mungkin lolos. Maka pikirnya membawa sepeda bakal jauh lebih merepotkan. Pertama, akan menghalangi geraknya jika ia harus lari. Kedua, jika terpaksa harus ditinggal, ia tidak mungkin terus-menerus minta bantuan Wayne buat mengambilkan sepedanya.

Wayne tersenyum menyeringai kepadanya.

"Nanti pulang sekolah, mau kemana?"

"Pulang."

"Membosankan," desis Wayne yang lebih mirip runtukan.

"Main ke rumah Alletta, gimana?"

"Tidak," tolak Milly lebih mempercepat langkah kakinya, tetapi Wayne menyusul dan berhasil menyamainya.

"Kalau gitu, ke rumahmu saja," ujar Wayne tersenyum tipis.

"Tidak," tegas Milly menolak keras. Milly mengernyit tak suka. Sepertinya main ke rumah Alletta lebih mirip alibi, tujuan sebenarnya adalah ke rumahku--pikir Milly.

"Kenapa?" tanya Wayne memasang wajah polos. Sikapnya yang pura-pura bodoh ini jelas mengganggu Milly. Ia tahu tapi tetap ia lakukan.

Milly tak memberi respon. Ia terus berjalan di depan Wayne, tapi Wayne selalu bisa menyusulnya, lagi dan lagi.

"Diam berarti iya," celetuk Wayne membuyarkan stock terakhir kesabaran Milly.

"Sejak kapan ada rumus macam gitu," sahut Milly ketus.

"Sejak dulu," jawab Wayne enteng.

"Aku tidak menerima tamu hari ini," balas Milly mengacuhkannya.

"Aku bukan tamu. Aku teman sekelasmu," timpal Wayne, menyeringai tipis.

Milly mengatupkan erat mulutnya. Ia mendengus kesal. Kenapa ada orang tidak tahu malu macam gini--pikirnya keki.

"Terserah kau sajalah," ujarnya kemudian, tak berdaya meladeni adu mulut tak berujung dengan Wayne ini. Wayne sungguh pintar bermain kata, ia selalu bisa membalas kata-katanya.

"Aku anggap kamu setuju," cetus Wayne tersenyum penuh kemenangan.

Berbeda dengan Wayne dan Milly, hari ini Alletta memilih bersepeda. Ia datang lebih dulu ke kelas.

Pagi ini pelajaran matematika. Dari Pak Arta mereka baru tahu jika Wayne pernah memenangkan olimpiade matematika tingkat internasional.

Busettt.. Milly bergidik ngeri dengan pemuda yang duduk di seberangnya ini. Pantas saja otaknya encer--batinnya--dan selalu menang jika berdebat--akunya enggan.

"Ada sumber daya bagus, kalian harus belajar darinya," puji Pak Arta. Pak Arta termasuk guru senior di sekolah Milly. Sebagian besar rambutnya mulai beruban. Bajunya selalu sederhana dengan kemeja polos dan celana kain. Rahang persegi dengan potongan rambut pendek tentara. Herannya sampai sekarang di usianya yang sudah menjelang lima puluh Pak Arta masih single.

Alletta menyenggol lengan Milly. "Sepulang sekolah nanti, aku mau mengajaknya, naik sepeda ke hutan, mau ikut?" bisiknya di tengah pelajaran.

Milly menggeleng. "Kalian saja," jawabnya sepelan mungkin. Batinnya--tak heran hari ini Alletta naik sepeda ke sekolah. Rupanya ia ada niat ini. Yeah, baguslah, karena Alletta mengajak Wayne pergi--setidaknya pulang sekolah nanti ia tidak akan diganggu.

Alletta hanya menggumamkan oooh saja. Mereka kembali fokus pada pelajaran. Pak Arta menjelaskan limit bilangan.

"Manusia juga punya limit, tapi terkadang kita harus mendobrak batas kita, itu yang disebut breakthrough," ujar Pak Arta wise.

Sekelas hanya mengangguk. Ada yang mengerti maksudnya. Ada juga yang belum dan tidak mengerti.

Pak Arta lalu memanggil Wayne untuk mengerjakan soal yang ia tulis di papan.

"Bagus," katanya. "Kau mengerjakannya dengan benar," puji Pak Arta lagi.

Anak-anak sekelas heboh. Ketika Alletta juga ditunjuk untuk maju. Seperti Wayne, Alletta juga diminta mengerjakan soal di papan. Sebelum kedatangan Wayne, di kelas, Alletta memang terkenal Queen-nya matematika. Tidak heran, sekelas menobatkan mereka berdua menjadi King and Queen-nya matematika.

Wayne kembali ke bangku. Langkahnya lebar-lebar. Ketika mendekati bangkunya, ia iseng menjentikkan gulungan kertas ke Milly.

"Ouch," ujar Milly memegangi dahinya. Ia melihat ke arah Wayne yang tersenyum iseng padanya. Menyebalkan--batinnya dongkol. Ia tak senang. Ia ingin membalas, mengambil gulungan kertas itu dan melemparnya balik. Tapi, di satu sisi ia juga tak ingin menarik perhatian teman sekelas. Karena ia tahu, jika ia membalas, maka konsekuensinya sorak sorak itu akan ditujukan kepadanya. Ia yang akan dicomblangkan dengan Wayne. Amit-amit--batinnya.

Selama beberapa hari ini ia tidak buta. Ia menyadari perubahan Alletta, dimulai dari kedatangan Wayne. Alletta tidak pernah menyembunyikan perasaannya. Ia menyukai Wayne secara terbuka. Bahkan Alletta yang berinisiatif lebih dulu mendekati dan mengajak ngobrol Wayne. Itu juga yang memberi akses Wayne bisa mendominasi dalam hubungan pertemanan mereka.

Juga hari ini, ia tahu apa sebenarnya udang di balik batu, kenapa Alletta membawa sepeda. Modusnya cuma satu, pingin berduaan dengan Wayne. Ia membayangkan bagaimana Wayne bersepeda membonceng Alletta. Seperti kisah-kisah di drama. Meski Alletta menolak mengaku. Tetap saja Milly tidak bisa menutup mata dengan semua ini. Terlalu nyata. Terlalu jelas. Berulang kali, ia terpaksa harus menahan diri. Ia harus mengalah tuk menjaga hubungan baik dalam pertemanan ini.

"Kau juga bagus," terdengar pujian Pak Arta dari balik mejanya.

Alletta tersenyum bangga. Ia kembali duduk. Di atas bangku ia melihat gulungan kertas kecil. "Apa ini?"

"Hadiah dari musuh bebuyutan," jawab Milly dengan suara tak menyenangkan. Ia sedang dongkol, tapi ia tidak dapat mengekspresikannya.

"Siapa?" tanya Alletta penasaran. Tangannya memainkan gulungan kertas itu.

"Aku," sambar Wayne menyeletuk. Lagi-lagi ia menyeringai. Seringainya lebih mirip sindiran tak berwujud kata.

Kedua mata Alletta membelalak lebih lebar. Ada nanar kekecewaan di matanya. Ia menangkap Wayne sepertinya lebih senang mengganggu Milly daripada bersamanya.

***

1
Devi..
ceritanya seru thor.. gk bisa ditebak alur dan endingnya gmana.. semoga ceritanya terus berlanjut smpai selesai dan byk pembaca yg menikmati cerita ini🤗
Liza Tan: makasii Kak.. terus ditunggu yaa kelanjutannya 🫰🏻😉
total 1 replies
Davina Aurora
cerita nya bagus semangat ka😊🩷
Liza Tan: thank you Kak 🫰🏻💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!