"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Kebenaran yang Terpotong
Keheningan yang mencekam dan beracun kembali merayap, menguasai setiap sudut ruang tengah The Obsidian.
Efek menenangkan dan rasa aman dari dekapan hangat serta pelukan protektif Adrian beberapa menit lalu menguap tanpa bekas ke udara malam, digantikan oleh lonjakan adrenalin yang membuat detak jantung Alea kembali berpacu cepat dengan ritme yang liar.
Lampu gantung kristal yang baru saja menyala terang benderang kini memandikan ruangan itu dengan cahaya kekuningan yang kontras, menerangi wajah keduanya yang mendadak mengeras bak pahatan batu kapur.
Adrian membalikkan amplop putih tebal itu di genggaman tangannya dengan gerakan lambat.
Tidak ada prangko resmi, tidak ada cap pos dari kantor ekspedisi, dan tidak ada nama maupun inisial pengirim yang tertera di sana.
Hanya ada untaian ketikan komputer berfont sans-serif standar yang tampak sangat dingin, kaku, dan penuh intimidasi: Untuk Suami Istri Terhormat.
Alea melangkah mendekat dengan perlahan, jubah tidur sutra putih gadingnya berdesir halus menyapu permukaan lantai marmer hitam yang dingin.
Matanya yang tajam mengunci pergerakan tangan Adrian.
"Buka sekarang juga, Adrian. Tapi lakukan dengan hati-hati. Kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya."
Adrian merobek segel amplop itu dengan satu gerakan perlahan namun pasti.
Alih-alih selembar foto cetak seperti teror-teror sebelum ini, jemari tangan Adrian menarik keluar sebuah benda keras berukuran kecil yang terbungkus rapi di dalam kain beludru berwarna hitam pekat.
Begitu kain itu dibuka, sebuah flashdisk logam berkilau warna perak jatuh ke telapak tangannya, bersamaan dengan selembar kertas catatan kecil berukuran saku.
Adrian membuka lipatan kertas putih tersebut, lalu membacanya dengan suara bariton rendah yang bergaung dingin di tengah kesunyian ruangan:
"Kalian pikir kalian bisa bersembunyi dengan aman di balik dinding kaca tebal apartemen mewah ini? Sandiwara mesra kalian di atas karpet merah tadi malam di depan para sosialita itu sangat menghibur, tapi kalian melupakan satu hal penting: fondasi pernikahan kalian dibangun di atas sebuah kebohongan besar yang jauh lebih kotor dari sekadar kontrak domestik dua puluh halaman.
Colisand dan Hutama... kalian berdua tidak tahu apa yang sebenarnya ditandatangani oleh kedua kakek kalian di balik pintu tertutup tepat sebelum mereka meninggal dunia. Pasang benda ini ke perangkatmu, dan dengarkan dengan baik bagaimana takdir hidup kalian dimanipulasi sejak awal."
Alea menahan napasnya di udara, tangannya secara refleks bergerak naik menyentuh dadanya yang kembali terasa sesak.
"Manipulasi? Kebohongan besar? Apa sebenarnya maksud dari semua kata-kata ini, Adrian?"
"Hanya ada satu cara paling logis untuk mengetahuinya," jawab Adrian dengan nada suara yang tegas, dingin, dan penuh determinasi.
Pria itu langsung membalikkan tubuhnya, berjalan cepat menuju meja kerja kayu besar yang terletak di sudut ruangan, lalu menghidupkan kembali layar laptop premiumnya yang sempat mati total akibat pemadaman sirkuit listrik tadi.
Alea mengikuti langkah kaki Adrian dari belakang tanpa membuang waktu, berdiri tepat di samping kursi kerja Adrian, bersandar pada sandaran lengan kursi dengan pandangan mata yang tidak lepas sedetik pun dari layar monitor yang mulai menyala terang.
Adrian menancapkan flashdisk logam perak itu ke dalam port USB laptopnya.
Setelah beberapa detik pemindaian sistem, sebuah folder tanpa nama langsung muncul di bagian tengah layar.
Begitu Adrian mengkliknya, di dalam folder tersebut hanya tersisa satu file audio berformat .mp3 dengan durasi total yang cukup panjang, tertulis dua puluh menit tepat.
Adrian mengarahkan kursor dan mengklik ganda file misterius tersebut.
Suara statis yang mengganggu, desisan, dan derau (noise) khas dari sebuah rekaman rahasia yang diambil menggunakan alat penyadap berkualitas rendah terdengar memenuhi ruangan selama beberapa detik pertama.
Namun, atmosfer di dalam ruang kerja itu mendadak membeku ketika sebuah suara bariton yang sangat familiar bagi Adrian terdengar keluar dari pengeras suara laptop.
"...perjanjian merger rahasia ini harus tetap berada di bawah tangan, William. Raymond sama sekali tidak boleh tahu mengenai detail ini, begitu juga dengan Eleanor."
Adrian tertegun di tempat duduknya, cengkeramannya pada tetikus mengencang.
"Itu... itu adalah suara asli Kakek William," bisiknya dengan nada tidak percaya, merujuk pada mendiang kakek kandungnya, sang pendiri utama imperium bisnis Hutama Industries.
Detik berikutnya, sebuah suara batuk kecil yang sangat khas dan berwibawa terdengar membalas ucapan tersebut. Sebuah suara dari orang tua yang sangat Alea kenali hingga ke sela-sela memori masa kecilnya yang paling dalam.
"Aku tahu betul risikonya, George. Jika anak-anak kita sampai tahu bahwa proses merger raksasa ini terpaksa dilakukan karena salah satu dari kita sedang mengalami ambang kebangkrutan tertutup yang kritis, nilai saham kedua perusahaan kita akan langsung anjlok drastis di pasar modal sebelum anak-anak mereka sempat dinikahkan."
Alea membeku seketika di tempatnya berdiri, wajahnya kehilangan seluruh rona darahnya.
Matanya membelalak lebar menatap nanar ke arah visual gelombang audio yang bergerak-gerak di layar monitor laptop.
Suara tua itu tidak salah lagi adalah milik Kakek George, sang patriark tertinggi dan lambang kejayaan masa lalu dari keluarga besar Corisand.
Rekaman audio rahasia itu terus berputar dengan lancar, menampilkan sebuah percakapan rahasia tingkat tinggi antara dua mendiang konglomerat terbesar di Valerika yang diperkirakan terjadi sekitar tiga tahun lalu sebelum keduanya wafat.
Di dalam rekaman yang bocor itu, kedua kakek mereka secara gamblang, dingin, dan kalkulatif mendiskusikan bahwa klausul surat wasiat bersama yang mewajibkan Adrian dan Alea untuk menikah bukanlah sebuah takdir romantis, bukan pula sebuah keinginan murni untuk menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan suci.
Pernikahan itu adalah sebuah skenario penyelamatan darurat tingkat tinggi.
Salah satu dari dua korporasi raksasa ini ternyata sempat mengalami manipulasi laporan keuangan masif dan fraud internal yang sengaja ditutupi rapat-rapat demi menjaga stabilitas ekonomi raksasa keluarga mereka dari endusan otoritas hukum.
Namun, tepat ketika suara Kakek George kembali terdengar di speaker dan hendak menyebutkan nama perusahaan mana yang sebenarnya bertindak menjadi parasit dan berada di ambang kehancuran total...
Zzzzt... krrrkkk... bzzzz...
Suara audio di dalam rekaman itu mendadak berubah menjadi distorsi tajam yang memekakkan telinga, disusul oleh suara desis panjang sebelum akhirnya terputus total menjadi keheningan.
Angka durasi waktu pemutaran di layar laptop Adrian mendadak melompat secara paksa dari menit kelima langsung menuju ke menit ke-20, menyisakan keheningan mati tanpa suara di sisa file tersebut.
Rekaman krusial itu telah sengaja dipotong dan disunting dengan sangat rapi di bagian yang paling penting.
Adrian langsung mengernyitkan dahinya, jarinya menari dengan sangat cepat di atas kibor laptop, memeriksa source code dan metadata dari file audio tersebut menggunakan kemampuan teknisnya yang tinggi.
"Sialan. File ini sengaja dirusak dan dikorup di bagian tengahnya secara digital. Potongan audio asli yang berisi nama perusahaan yang bangkrut itu sengaja disimpan dan ditahan oleh si pengirim teror ini."
Alea melangkah mundur dua tapak, tubuhnya gemetar hebat karena syok yang luar biasa hingga dia harus bertumpu erat pada tepi meja kerja kayu agar tidak terjatuh.
Kepalanya terasa berputar hebat, dipenuhi oleh spekulasi-spekulasi mengerikan yang mendadak muncul di otaknya.
"Penyelamatan darurat? Kebangkrutan tertutup? Adrian... apa sebenarnya arti dari semua konspirasi ini? Apakah salah satu dari keluarga kita sebenarnya sedang memanfaatkan keluarga yang lain melalui pernikahan kontrak sialan ini?"
Adrian bangkit berdiri dari kursi kerjanya, membalikkan tubuhnya untuk menatap Alea dengan ekspresi wajah yang sangat campur aduk, perpaduan antara kemarahan yang tertahan, rasa frustrasi, dan kecurigaan yang mulai tumbuh kembali.
Ketegangan baru yang jauh lebih masif dan destruktif kini menghantam fondasi hubungan mereka.
Selama beberapa hari ini, mereka berdua mengira bahwa mereka hanyalah dua orang korban egois dari surat wasiat kuno kakek mereka.
Namun malam ini, sebuah kebenaran baru yang menjijikkan terungkap ke permukaan, pernikahan mereka adalah sebuah kedok hukum dan finansial untuk menutupi sebuah kejahatan korporasi atau kebangkrutan sistemik yang bisa menghancurkan salah satu dinasti mereka jika sampai terendus oleh otoritas bursa efek.
"Thomas adalah orang yang memegang draf pertama wasiat asli itu sebelum disahkan, Alea," ucap Adrian, nada suaranya terdengar sangat berat, dalam, dan penuh dengan analisis kalkulatif.
"Dia tahu persis perusahaan mana yang memalsukan data keuangan tiga tahun lalu. Dan si pengirim pesan misterius malam ini sengaja memotong bagian paling penting dari audio ini dengan satu tujuan yang sangat jelas: untuk mengadu domba kita berdua dari dalam."
Alea mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Adrian dengan pandangan mata yang mendadak dipenuhi oleh kabut rasa curiga yang baru dan tajam.
Dinding es pembatas yang sempat mencair karena drama-drama kecil dan kehangatan dekapan di ruang tengah beberapa menit lalu, kini dalam sekejap kembali membeku, bahkan kali ini tumbuh jauh lebih tebal, kokoh, dan dipenuhi oleh duri-duri defensif.
"Bagaimana jika... bagaimana jika Hutama Industries yang sebenarnya berada di ambang kebangkrutan saat itu, Adrian? Bagaimana jika kakekmu yang licik itu sengaja menjebak keluargaku untuk menyuntikkan dana segar ratusan triliun melalui kedok pernikahan kontrak ini?" tanya Alea dengan nada suara yang bergetar hebat di antara rasa takut akan kenyataan dan insting untuk membela kehormatan keluarganya.
Adrian menyipitkan sepasang matanya yang tajam, rahangnya mengeras dan mengencang mendengar tuduhan langsung dari wanita di depannya.
"Atau bagaimana jika situasinya justru berbanding terbalik, Alea Corisand? Bagaimana jika Corisand Group yang sebenarnya adalah sebuah kapal megah yang sudah bocor di bagian dasarnya, dan ibumu selama ini hanya bersandiwara di depan media seolah-olah dia terharu, padahal dia tahu betul bahwa pernikahan kontrak kita ini adalah satu-satunya cara legal untuk menyelamatkan seluruh aset keluarga kalian dari penyitaan negara?"
Pertanyaan-pertanyaan retoris yang tajam itu menggantung di udara ruang kerja The Obsidian, terasa sangat dingin, beracun, dan mematikan bagi hubungan mereka yang baru saja dimulai.
Pengancam misterius di balik amplop putih itu telah berhasil menjalankan misi utamanya dengan sangat sempurna malam ini.
Tidak hanya sekadar mengirimkan teror psikologis biasa, melainkan berhasil menanamkan benih ketidakpercayaan, kecurigaan mutlak, dan paranoia yang fatal tepat di dalam jantung sandiwara domestik mereka.
Di luar jendela kaca, badai petir yang mengerikan tadi kini telah sepenuhnya mereda, meninggalkan Kota Valerika dalam keheningan malam yang pekat dan basah.
Namun di dalam unit penthouse mewah itu, sebuah badai konspirasi yang jauh lebih besar dan menghancurkan baru saja dimulai, merobek tanpa ampun sisa-sisa benih kepercayaan yang baru sempat tumbuh di antara Adrian dan Alea di tengah kegelapan tadi.
Kini, mereka kembali menjadi dua orang asing yang saling mengawasi, terjebak di dalam satu ruangan mewah yang sama dengan kecurigaan bahwa salah satu dari mereka adalah seorang penyelamat, dan yang lainnya adalah seorang parasit yang sedang menghisap kekayaan pasangannya.
Sandiwara pernikahan ini tidak lagi sekadar tentang mempertahankan warisan, melainkan tentang bertahan hidup dari perang dingin yang baru saja pecah di balik pintu tertutup.