NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Cemburu yang Mulai Terlihat

Sepanjang perjalanan menuju aula utama, suasana di antara Rubi dan Alexander terasa berbeda.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang memulai percakapan.

Namun kalimat yang diucapkan Alexander beberapa menit lalu terus terngiang di kepala Rubi.

"Kau terlihat cukup nyaman berbicara dengannya."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi entah kenapa membuat jantungnya terus berdetak lebih cepat.

Karena untuk pertama kalinya, ucapan Alexander terdengar seperti seorang suami yang sedang cemburu.

Dan itu membuat Rubi tidak tahu harus senang atau justru khawatir.

Mereka akhirnya tiba di meja utama tempat Kakek Dimitri duduk bersama beberapa anggota keluarga senior.

Pria tua itu langsung tersenyum saat melihat Rubi.

"Datanglah ke sini."

Rubi tersenyum lalu mendekat.

"Selamat malam, Kakek."

Kakek Dimitri mengangguk puas.

Tatapannya kemudian berpindah ke perut Rubi yang mulai membesar.

"Cucu kecilku tumbuh dengan baik?"

"Pemeriksaan terakhir semuanya sehat."

jawab Rubi.

"Bagus."

Pria tua itu terlihat benar-benar bahagia.

Di keluarga Dimitri, kehadiran seorang pewaris sangat penting.

Namun berbeda dengan anggota keluarga lainnya yang hanya memikirkan nama keluarga dan kekuasaan, Kakek Dimitri benar-benar terlihat menantikan kelahiran bayi tersebut sebagai anggota keluarga baru.

"Kau harus menjaga dirimu."

pesannya.

"Saya akan berusaha."

Kakek Dimitri tersenyum.

Lalu menoleh ke arah Alexander.

"Dan kau."

Alexander mengangkat alis.

"Jangan terlalu sibuk bekerja."

Beberapa orang di sekitar meja langsung menahan senyum.

Karena hampir semua orang tahu siapa yang paling sulit diberi nasihat dalam keluarga ini.

"Kakek."

ucap Alexander datar.

Namun pria tua itu hanya mendengus.

"Aku sudah tua. Jangan membuatku mengulang hal yang sama setiap tahun."

Rubi hampir tertawa.

Ternyata hanya Kakek Dimitri yang bisa berbicara seperti itu kepada Alexander.

Acara kembali berlangsung.

Para tamu mulai berbincang satu sama lain.

Beberapa pasangan turun ke lantai dansa.

Musik klasik mengalun pelan memenuhi ruangan.

Rubi yang sudah mulai lelah memilih duduk di salah satu sofa dekat jendela.

Kehamilan membuat energinya lebih cepat habis dibanding biasanya.

Ia sedang menikmati segelas jus buah ketika Vanessa kembali muncul.

Wanita itu membawa senyum yang sama seperti sebelumnya.

Cantik.

Sopan.

Namun terasa dingin.

"Kau terlihat lelah."

ucap Vanessa.

"Sedikit."

jawab Rubi jujur.

Vanessa duduk di kursi seberangnya.

"Kehamilan memang tidak mudah."

Rubi hanya tersenyum.

Ia tidak ingin terlalu banyak berbicara dengan wanita ini.

Instingnya mengatakan bahwa Vanessa bukan orang yang bisa dipercaya.

Dan insting Rubi jarang salah.

"Aku mendengar banyak hal tentangmu akhir-akhir ini."

kata Vanessa tiba-tiba.

Rubi mengernyit.

"Banyak hal?"

"Iya."

Vanessa menyandarkan tubuhnya.

"Kau berubah."

Jantung Rubi langsung berdegup sedikit lebih cepat.

Perubahan itu lagi.

Ini sudah bukan pertama kalinya seseorang mengatakannya.

Daniel mengatakannya.

Para pelayan menyadarinya.

Bahkan Alexander juga tahu.

Untungnya Vanessa melanjutkan sebelum Rubi sempat menjawab.

"Dulu kau lebih pendiam."

Rubi tersenyum tipis.

"Mungkin karena sekarang saya lebih bahagia."

Vanessa tampak terdiam sesaat.

Lalu tersenyum.

"Kalau begitu bagus."

Namun entah kenapa matanya terlihat tidak senang mendengar jawaban itu.

Untungnya sebelum percakapan berlanjut, Alexander muncul.

Tatapannya langsung jatuh pada Vanessa.

Dan hanya dalam satu detik, senyum wanita itu berubah sedikit kaku.

"Ada masalah?"

tanya Alexander.

"Tidak."

jawab Vanessa cepat.

Alexander tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun kehadirannya saja sudah cukup membuat Vanessa memilih pergi.

Begitu wanita itu menjauh, Rubi menghela napas lega.

"Terima kasih."

Alexander menoleh.

"Untuk apa?"

"Karena menyelamatkan saya."

Alexander mengangkat alis.

"Dari Vanessa?"

"Iya."

Pria itu terlihat berpikir sesaat.

Lalu berkata,

"Kau tidak perlu menghadapi orang yang membuatmu tidak nyaman."

Kalimat sederhana.

Tetapi cukup membuat hati Rubi menghangat.

Menjelang malam, acara mulai mendekati akhir.

Sebagian tamu sudah pulang.

Sebagian lagi masih mengobrol santai.

Rubi memutuskan pergi ke balkon untuk mencari udara segar sekali lagi.

Ia berdiri di dekat pagar balkon sambil memandang lampu-lampu kota yang berkilauan di kejauhan.

Pemandangan itu sangat indah.

Namun pikirannya jauh lebih sibuk.

Terutama setelah percakapannya dengan Alexander sepanjang malam.

Semakin hari pria itu semakin sulit dipahami.

Kadang sangat dingin.

Kadang sangat perhatian.

Dan yang paling membingungkan...

Kadang membuatnya berharap sesuatu yang tidak seharusnya.

"Kenapa aku jadi kepikiran terus sih?"

gumam Rubi pelan.

"Tentang apa?"

Suara berat yang tiba-tiba terdengar membuat Rubi hampir melompat.

Ia langsung menoleh.

Alexander.

Pria itu berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Kaget."

protes Rubi.

Alexander justru terlihat sedikit terhibur.

"Maaf."

Meski wajahnya tetap datar.

Rubi memutar mata.

Lalu kembali memandang kota.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Namun kali ini tidak terasa canggung.

Justru terasa nyaman.

Seolah mereka tidak perlu berbicara untuk menikmati kebersamaan itu.

Sampai akhirnya Alexander membuka suara.

"Kau dekat dengan Daniel?"

Rubi langsung menoleh.

"Apa?"

Alexander tetap memandang ke depan.

Namun ekspresinya terlihat serius.

"Dia terlihat cukup peduli padamu."

Rubi menatapnya beberapa saat.

Lalu perlahan muncul senyum kecil di bibirnya.

"Apakah Anda sedang cemburu?"

Untuk pertama kalinya malam itu Alexander membeku.

Benar-benar membeku.

Dan pemandangan itu sangat langka.

Biasanya pria itu selalu punya jawaban untuk segala hal.

Namun sekarang tidak.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Alexander berkata,

"Tidak."

Terlalu cepat.

Terlalu tegas.

Dan terlalu jelas.

Rubi hampir tertawa.

"Kalau begitu kenapa terus bertanya tentang dia?"

Alexander menghela napas pelan.

Untuk sesaat ia tampak seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

Lalu akhirnya berkata,

"Aku hanya ingin tahu."

"Kenapa?"

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Alexander tidak mengalihkan pandangan.

Karena jawabannya sebenarnya sangat sederhana.

Ia tidak suka melihat pria lain mendekati Rubi.

Namun mengatakannya keras-keras terasa jauh lebih sulit.

"Aku tidak tahu."

jawabnya akhirnya.

Dan anehnya itu adalah jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.

Rubi terdiam.

Karena ia juga melihat kebingungan yang sama di mata pria itu.

Di dalam aula.

Seseorang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.

Vanessa.

Wanita itu berdiri sambil memegang gelas anggur.

Tatapannya dingin saat melihat Alexander dan Rubi bersama di balkon.

"Keterlaluan."

gumamnya pelan.

Selama bertahun-tahun, Alexander tidak pernah terlihat sedekat itu dengan siapa pun.

Namun sekarang semuanya berubah.

Dan Vanessa tidak menyukai perubahan tersebut.

Sama sekali tidak.

Di sisi lain aula, seorang pria lain juga memperhatikan pasangan itu.

Bukan anggota keluarga.

Bukan tamu.

Melainkan salah satu orang yang selama ini mengincar keluarga Dimitri.

Pria itu tersenyum tipis.

"Jadi wanita itu memang kelemahannya."

bisiknya.

Malam itu, tanpa disadari Rubi dan Alexander, semakin banyak orang mulai memperhatikan hubungan mereka.

Dan bagi seseorang seperti Alexander Dimitri, memiliki sesuatu yang berharga sering kali berarti memiliki sesuatu yang bisa dijadikan sasaran.

Sebuah bahaya yang perlahan mulai mendekat.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!